AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
18 | KESEPAKATAN


__ADS_3

"Ges, kamu beneran mau ninggalin aku?" Tanya Siska dengan nada dramanya seolah ia merasa paling tersakiti.


Mereka berdua tepatnya Gesa dan Siska tengah berada di sebuah teras supermarket dimana Gesa yang sengaja mengajak Siska untuk mengatakan agar menjauhi dirinya.


Gesa masih ingat betul perjanjiannya bersama dengan Aira. Dimana Gesa yang berjanji tidak akan bermain wanita lagi dengan syarat jatah ranjang Gesa selalu ready stock setiap waktu yang ia mau.


Aira menyetujuinya begitu saja, karena ia yakin menjadi istri yang baik dengan melayani suami bukanlah perkara yang susah. Ditambah keyakinan Aira dengan Gesa yang membelikan obat pencegah hamil karena memang pernikahan mereka yang hanya akan berjalan dalam kurun waktu satu tahun.


"Lepasin tangan gue!!" Ketus Gesa dengan menarik pergelangan tangannya dari tangan Siska.


"Bukannya dari awal kita nggak ada hubungan spesial apapun itu? Lo'nya aja yang terlalu sok cantik."


"Tapi aku beneran tulus cinta sama kamu Ges. Aku nggak mau kamu dimilikin orang lain." Ucap Siska dengan air mata yang sudah merembes di pipinya.


Gesa memunculkan smirknya begitu saja, "Maaf kalo gue udah bikin lo bawa perasaan sama gue. Tapi gue nggak bisa balas cinta lo."


"Gue nggak tahu perasaan cinta itu apa dan gimana, tapi untuk saat ini.. Perasaan gue udah mulai jatuh sama gadis cantik dan sederhana pilihan gue."


"Bukan gadis lagi sih." Lanjut Gesa tiba-tiba yang membuat Siska mengusap air matanya kasar.


"Maksud kamu apa Ges?! Jangan bilang kamu.." Tuduh Siska terjeda begitu saja namun mulai memukuli dada bidang Gesa dengan berani.


Gesa dengan cepat meraih pergelangan tangan Siska lalu menghempaskannya begitu saja tanpa ragu.


"Maaf kalo gue kasar sama lo.. Tapi kita atau gue dan lo itu nggak ada hubungan spesial sama sekali."


"Semuanya real kegabutan gue dan inilah gue.. Lo bahkan tau banyak berita tentang gue yang main cewek sana-sini tapi lo malah ngedeketin gue. Lo gila apa gimana sih?!"


Siska meraih tangan Gesa, "Aku deketin kamu karena aku yakin Ges kalo kamu akan jatuh sama satu cewek dan cewek itu adalah aku."


Gesa tertawa begitu saja mendengar ucapan yang keluar dari bibir Siska.


"Bukan gue yang bawa perasaan sama lo tapi lo yang terlalu ngarep sama gue." Ketus Gesa dengan menarik tangannya kasar.


Gesa sudah muak dengan semua gebetannya. Mulai hari ini, Gesa akan memutuskan semuanya dan meninggalkan semua gebetannya demi Aira.


Berusaha mencintai Aira tanpa syarat dengan menerimanya setulus hati dan membiasakan diri bahwa dirinya sekarang adalah seorang kepala rumah tangga untuk Aira.


"Demi apapun Ges, cinta aku tulus sama kamu dan aku mohon sama kamu jangan tinggalin aku."


"Gue cowok brengsek asal lo tahu. Bahkan lo yang lagi mohon-mohon sama gue sekarang aja, gue nggak ada rasa kasian sama lo." Lanjut Gesa lalu melangkahkan kakinya menuju motor besarnya.


"Dan masalah gadis gue.. I mean wanita gue. Dia sangat spesial bagi gue setelah mama gue dan nggak akan bisa tergantikan oleh siapapun."


"Dia yang akan mengandung anak gue dan buat lo, jauhin gue. Anggap aja kita nggak pernah bicara sebelum lo jadi sasaran kegabutan gue."


"Lo pasti udah faham lah Sis tanpa gue jelasin kalo arti gadis sama wanita itu berbeda. So, jauhin gue!!" Ucap Gesa dengan sengaja memberhentikan langkahnya karena ingin memeberi peringatan pada Siska.


Siska bahkan bukan gebetan satu-satunya buat Gesa melainkan ke salah satunya yang entah ke berapa. Yang jelas gebetan Gesa sangat banyak bahkan tersebar di daerah mana-mana.


Siska mengepalkan telapak tangannya dengan geram, "Aku akan buat kamu ngemis-ngemis sama aku Ges, apapun caranya aku akan cari tau siapa sebenarnya wanita yang kamu maksud." Gerutu Siska kemudian.


Siska berdiri dari duduknya dengan pandangan licik menatap Gesa yang semakin menjauh, "Harus dapetin Gesa.. Anak tunggal kaya raya si pengusaha ternama."


...🔥🔥🔥...


"Kak Ges, mau nanya?" Ucap Aira tiba-tiba tanpa takut lagi pada Gesa.


Gesa yang awalnya tengah asyik bermain PS dan rokok di depannya dengan cepat mem-pause PSnya begitu saja dan berusaha menyembunyikan bungkus rokok di bawah sofa.


"Ini aku sampai kak harus minum obat pencegah hamil ini? Sampai ini habis atau kalo habis aku harus beli lagi?" Tanya Aira dengan polosnya bersamaan dengan mendudukkan diri di sofa.


"Sebelumnya maaf ya kak aku duduk diatas, pinggang aku sakit soalnya."


Gesa seketika memeincingkan matanya menatap Aira, "Pinggang lo kenapa? Kok sakit? Habis ngapain?" Tanya Gesa beruntun karena penasaran.


Aira gugup sendiri mendapat pertanyaan dari Gesa perihal pinggangnya. Karena pinggangnya yang sakit ia dapat dari kecelakaan kecil waktu bekerja part time di coffeeshop milik kakaknya Dika.

__ADS_1


"Emm.. Cuma nyeri aja kak, udah biasa kalo mau menstruasi ya gini." Jawab Aira kemudian.


Gesa mengusap wajahnya kasar karena kecewa saat mendengar kata menstruasi yang keluar begitu saja dari bibir Aira.


"Harus menstruasi ya my Rara?" Tanya Gesa tiba-tiba dengan mengulurkan tangannya.


Aira dengan ragu mengulurkan tangannya yang disambut Gesa dengan menariknya cepat dan berakhir dengan Aira yang duduk di pangkuan Gesa.


"H-Harus kak.. Pesen aku kalo dapet cewek yang menjalankan puasa penuh satu bulan atau yang nggak bisa menstruasi mending cari lain aja, cewek yang kayak gitu biasanya nggak bisa punya keturunan." Jelas Aira dengan gugup karena posisi dirinya yang kini tengah menduduki tepat di paha Gesa.


"Oh gitu ya?" Tanya Gesa dengan tangan yang mulai jahil mengusap lembut pinggang Aira.


Aira menganggukkan kepalanya dengan mata yang fokus menatap bibir Gesa yang sangat menggoda. Entah sejaka kapan Aira jadi mesum seperti Gesa, yang jelas Gesa membawa pengaruh yang besar pada Aira.


"Kan lo bisa menstruasi nih my Rara. Jadi, gue boleh dong nanem bibit di rahim lo?"


"Boleh kak, lagian juga aku minum pencegah hamil dan kak Gesa harus ingat sama kontrak pernikahan kita." Jawab Aira bermaksud mengingatkan Gesa.


Gesa menghelas nafasnya lesu, "Kenapa lo natap bibir gue mulu? Lo mau?" Tuduh Gesa to the point tanpa basa-basi.


Aira tanpa sadar menganggukkan kepalanya dengan polos yang membuat Gesa tidak dapat menahan tawanya.


"Cium dong kalo mau." Pancing Gesa kemudian.


Dengan pipi yang sudah memerah menahan malu, Aira dengan cepat meraih rahang Gesa dan mulai mengecup berakhir dengan Aira yang sengaja menggigit bibir Gesa karena kesal.


Tidak membiarkan Aira lepas, Gesa dengan cepat menahan tengkuk Aira dan ingin menghabisi bibir pink milik Aira sekarang juga.


Drttt..


Drtt...


"Ponsel kak Ges.." Ucap Aira dengan nafas terengah-engah karena mencari stok udara.


Gesa tak menghiraukan getaran ponselnya, yang ia lakukan malah menenggelamkan wajahnya di seluruh leher Aira.


"Angkat dulu." Geram Aira pada Gesa.


Mata Gesa melotot melihat nama sang pemanggil adalah klien bisnis papanya yang sengaja ia minta beberapa waktu lalu.


Cup


"Baby.. Gue ke ruang kerja dulu, urusan kantor." Ucap Gesa bersamaan dengan berdiri dari duduknya setelah mengecup bibir Aira singkat.


Aira hanya tertawa melihat kelakuan Gesa yang sedikit-sedikit marah dan sedikit-sedikit manja.


"Kak Gesa memang tampan, hangat dan manis.. Tai juga bisa jadi monster dalam waktu yang bersamaan."


"Kalo aku jatuh cinta sama kak Gesa salah apa nggak ya?" Gumam Aira kemudian dan berjalan menuju dapur.


...🔥🔥🔥...


"Obat kayak gini satu ya mbak." Ucap Aira saat dirinya sampai di apotek dekat dengan perumahan mewah yang ia tinggali sekarang ini bersaman Gesa.


Aira harus membujuk Gesa agar tidak mengantarnya, dimana alasan Aira adalah belanja ke supermarket terdekat untuk membeli pembalut.


Gaji pertama yang ia terima di awal bulan dengan segera ia membelikan obat untuk riwayat jantungnya dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Aira tidak mau menggunakan uang Gesa untuk keperluan pribadinya, karena bagi Aira, uang Gesa hanya untuk kebutuhan rumah tangga mereka berdua bukan untuk pribadi Aira.


Sedikit rasa takut yang masih ada pada diri Aira jika ia menggunakan uang Gesa untuk pribadi, mungkin Gesa akan marah-marah lagi padanya.


"Maaf ya kak, ini obat keras.. Apa sudah ada dari resep dokter?"


Aira menganggukkan kepalanya lalu mengeluarkan satu lembar kertas dimana tertulis jelas atas ijin konsumsi obat tersebut.


"Ini kak surat dokternya." Ucapnya kemudian dengan menyerahkan satu lembar kertas tersebut.

__ADS_1


"Baik kak. Tunggu sebentar ya.. Ini bener atas nama Aira Deanova?" Tanya pegawai apotik tersebut yang diangguki kepala oleh Aira.


"Silahkan duduk dulu ya kak, nanti sama bagian kasir pasti di panggil sesuai nama dan urutan antriannya." Lanjut pegawai tersebut mempersilahkan Aira untuk duduk.


"AIRA DEANOVA?" Panggilan kasir yang membuat Aira sadar dari lamunannya dan segera berdiri menuju counter kasir.


"Waktu minumnya tetap sama ya kak, semoga cepat sembuh." Lanjut pegawai tersebut dengan menyerahkan obat yang Aira beli.


Aira berjalan santai diatas trotoar dengan suasana senja sore yang menenangkan.


Memasuki supermarket dan tidak lupa membeli satu pembalut untuk alasan pada Gesa yang telah ia buat saat berpamitan padanya.


"Lo Aira bukan sih? Adiknya Geral." Ucap seseorang yang membuat Aira menoleh.


"I-Iya aku Aira adiknya kak Geral. Kakak siapa?" Tanya Aira kemudian.


"Gue Diki, temen kakak lo." Ucap cowok berpenampilan yang lumayan rapi dengan mengulurkan tangannya.


Dengan ragu Aira membalas uluran tangan tersebut walaupun ia tengah dilanda rasa takut.


Diki atau teman Geral pasti sangat urakan dan seperti preman, keyakinan Aira hanya satu dimana Diki akan melakukan pelecehan terhadapnya, apalagi ditambah dengan Aira yang semakin cantik setelah menikah dengan Gesa.


"Kapan-kapan jalan bareng yuk Ra." Ajak Diki dengan mengedipkan matanya.


Aira dengan cepat menarik tangannya kasar dari genggaman Diki dan berjalan begitu saja menuju kasir.


"Aku duluan kak, permisi." Ucap Aira kemudian.


Diki memunculkan smirk'nya dan mulai mengikuti Aira. Sedangkan Aira sendiri kini tengah berlari secepat mungkin agar dirinya cepat sampai dirumah karena takut pada Diki yang terus saja mengikutinya.


"Sayang kenapa lari-lari?"


"Hey.."


"My Rara.."


Ucap Gesa dengan berlari mengikuti Aira yang menuju dapur.


Rasa sakit yang hinggap di dadanya karena berlari sekencang mungkin membuat riwayat penyakitnya kambuh lagi.


Tidak mempedulikan Gesa yang menatapnya bingung dengan cepat Aira meneguk habis minumnya dan tidak lupa obatnya sekalian.


"Hey.. Kenapa lari-lari? Dikejar siapa?" Tanya Gesa lembut dengan mengangkat pinggang Aira lalu mendudukkannya diatas pantri.


"Dikejar anjing. Takut sama anjing." Bohong Aira lalu memberanikan diri untuk memeluk leher Gesa dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Gesa.


Cup


Gesa mengecup kepala Aira dengan lembut, "Dianter nggak mau, sekarang ginikan jadinya dikejar-kejar sama anjing."


"M-Maaf.." Gumam Aira di pelukan Gesa lirih karena takut.


Tidak menjawab permintaan maaf dari Aira, Gesa segera menggendong tubuh Aira begitu saja menuju kamar.


"Tadi minum obat apa?" Tanya Gesa tiba-tiba bersamaan dengan menurunkan tubuh Aira diatas ranjang.


Efek kantuk yang disebabkan oleh obat penyakitnya membuat Aira memejamkan matanya namun masih mendengar pertanyaan Gesa.


"Pencegah hamil yang kak Gesa kasih. Sekarang aku tidur ya kak.. Ngantuk." Gumam Aira pelan dengan tangan yang masih melingkar sempurna di leher Gesa.


"I love you kak Gesa. Aku sayang juga sama kak Gesa." Ucap Aira setelah menempelkan bibirnya di bibir Gesa dan berakhir dengan jatuhnya tangan Aira karena kantuk yang tengah menyerangnya.


Gesa tersenyum geli mendengar ucapan Aira, dengan cepat Gesa mengecup bibir Aira bertubi-tubi yang membuat sang empu bergumam.


"Entah ini cinta atau apa yang jelas kata pertama lafyu gue setelah mama, gue ucapin buat lo.. My Rara."


Gesa keluar dari kamar bersamaan dengan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Cari tau siapa yang berani ikutin istri gue sampai dia lari ketakutan, bawa ke markas dan tunggu gue!!" Ucap Gesa dengan tegas lalu memutus panggilannya begitu saja.


...🔥🔥🔥...


__ADS_2