
"Ra, gue nanti mau ke coffeeshop abang gue kita kesana bareng sekalian ya? Daripada lo yang jalan naik angkutan umum lebih hemat gue tebengin." Ucap Dika bersamaan dengan membagikan buku matematika Aira di dalam kelas.
Aira sempat takut jika Dika bertanya-bertanya mengenai beberapa waktu yang lalu dimana Gesa membawanya begitu saja ke belakang sekolah.
Dika memang tidak bertanya padanya, namun Aira merasa jika Dika seolah ingin tahu apa hubungan Gesa dan Aira saat ini.
Aira menganggukkan kepalanya, "Boleh deh Dik. Btw, makasih ya kamu baik banget jadi orang." Ucapnya kemudian.
"Lo beneran nggak mau cerita masalah lo sama si kakak kelas songong itu Ra? Lo takut sama dia?"
Aira menggelengkan kepalanya, "Bukannya aku takut atau gimana Dik tapi emang aku nggak ada masalah apapun sama kak Gesa."
"Lagian juga kak Gesa itu kakak kelas kita bukan kakak kelas songong sesuai dengan apa yang kamu bilang tadi." Lanjut Aira kemudian.
Dika menghela nafasnya pelan dan heran saja dengan Aira yang selalu membela Gesa, padahal Gesa selalu berperilaku kasar padanya."
"Dia itu kasar Ra sama lo, masih aja lo belain dia di depan gue.. Gue udah tau kelakuan dia yang kasar sama lo dari pertama gue kenal lo dimana dia yang nurunin lo di halte bus gitu aja. Kayak gitu ngaku cowok." Ucap Dika kemudian.
Aira tidak menjawab ucapan Dika. Yang ada di pikiran hanya Gesa..
Bagaimana ia bisa melawan dan membantah Gesa apalagi dengan menjelekkan nama Gesa pada orang lain itu sangatlah tidak mungkin.
Karena tahta Gesa saat ini adalah suaminya! Suami Aira seutuhnya dimana Gesa yang mendapatkan kesuciaan Aira dan meminta secara terang-terangan bahwa Gesa ingin anak dari Aira.
Berbeda dengan Aira, ia masih mengkonsumsi obat pencegah hamil pemberian Gesa karena selain memikirkan sekolah ia juga memikirkan bagaimana jika ada anak antara dirinya dan Gesa apalagi hubungan pernikahan mereka hanya pernikahan kontrak selama satu tahun.
Aira tidak mau jika kelak ia berpisah dengan Gesa anak mereka akan terlantar begitu saja. Bukannya tidak mau mengasuh dan menyanyanginya tapi Aira tidak mau anaknya kelak merasakan hal sama seperti dirinya yang hidup sebatangkara akibat broken home yang terjadi.
BRAK!!
"Gue kemarin lihat lo sama cowok gue di belakang sekolah. Lo mau ngegoda cowok gue?!" Ketus Gita tiba-tiba setelah menggebrak keras meja Aira.
Aira yang kaget hanya mengedipkan matanya karena bingung, "Cowok kak Gita siapa?" Tanya Aira pelan.
"Ya Gesalah, siapa lagi cowok gue selain Gesa."
Dika berdiri dari duduknya, "Cowok lo kali yang main tarik-tarik temen gue!" Sarkas Dika cepat.
Gita mendorong dada bidang Dika keras, "Lo siapa main ikut campur urusan kita-kita? Anak baru aja belagu!!" Ucap Gita lalu menarik lengan Aira dengan kasar menuju toilet.
"Kak lepasin aku!! Aku bisa jelasin semuanya!!" Ucap Aira dengan menahan tangisnya karena memang ia takut dengan senior-senior yang selalu membully dirinya.
"Gue akan kasih pelajaran buat lo!! Dasar gadis murah!!!" Ucap Gita bersamaan dengan mendorong kasar tubuh Aira ke dalam toilet.
Siska bersama dengan kedua sahabatnya yang kebetulan berjalan menuju kelas tidak sengaja melihat Gita yang menarik Aira menuju toilet segera heboh mengikutinya.
Gita tidak segan-segan mengguyur tubuh Aira dengan air tanpa henti dengan rambut yang ditarik kasar oleh Gita.
"Gue benci lo gadis murah!!"
"Lo itu cuma pembawa sial di semua tempat.. Bahkan keluarga lo aja pergi buat menjauh dari lo!!"
Ejekan dan hinaan yang keluar dari Gita dan teman-temannya beserta Siska dan juga temannya Aira terima dengan pasrah dan mencoba untuk tidak menangis.
Dada yang sakit akibat terbentuk kran air dan kepala yang pening akibat air yang tidak sengaja masuk ke dala bibir dan hidungnya serta seragam yang sudah tidak rupa seragam.
Dika sendiri masih mencoba menggedor-gendor pintu yang dikunci rapat oleh Siska dan teman-temannya.
Siska menarik rambut Aira kasar yang membuat Aira mendongak begitu saja, "Gue benci lo karena lo selalu deket dan berangkat bareng sama Gesa.. Lo buta apa gimana sih? Selama Gesa belum menikah atau apapun itu, Gesa masih milik semua pacarnya."
"Lo itu cuma cewek cupu sok cantik yang nggak tahu malu!! Bisanya cuma ngemis dan sok minta di kasihani sana-sini." Sahut Gita dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
Siska tersenyum sengit menatap Aira lalu mendorong kepala Aira kasar yang membuatnya terbentur pada bak mandi dan mengeluarkan darah begitu saja.
"S-Salah aku apa sih kak?" Tanya Aira dengan suara lirih menahan tangis dan kedinginan.
"SALAH LO BANYAK!!" Jawab Siska keras.
"LO HIDUP AJA SALAH APALAGI SEKOLAH DISINI??! SEKOLAH INI NGGAK PANTES BUAT CEWEK GATEL MODELAN LO!!" Sahut Gita dengan menendang perut Aira keras namun tak sengaja menendang dadanya.
"Akhhh.." Erang Aira pelan dan tangan yang reflek mengusap dadanya.
"Jangan sakit lagi aku mohon.. Jangan sekarang ya Tuhan." Batin Aira berteriak memohon agar jantungnya tidak kambuh dalam waktu yang kurang tepat ini.
"LEMAH!!"
"Gitu doang sok kesakitan. Godain cowok orang nggak sakit giliran gue tendang gitu aja sakit." Sewot Gita kemudian.
Siska mengangkat tangannya begitu saja bermaksud memukul Aira dengan tongkat kain pel berhenti begitu saja saat sadar ada seseorang yang menarik tangannya kasar.
"CEWEK SAMPAH LO SEMUA!! BERANINYA KEROYOKAN DI KAMAR MANDI LAGI.. LO KIRA INI SEKOLAH MILIK NENEK MOYANG LO APA??!!" Marah Gesa lalu mendekat ke arah Aira yang sudah lemas dan kepalanya yang mengeluarkan darah terus-menerus.
Gesa mengulurkan tangannya mengusap lembut pipi Aira yang merah dan ujung bibir yang berdarah.
"SIAPA YANG BERANI BIKIN AIRA KAYAK GINI??!" Tanya Gesa dengan amarah yang menggebu-menggebu dan menatap tajam ke arah Siska dan Gita.
Tidak mau menunggu jawaban Siska dan Gita yang menurutnya tidak penting untuk saat ini, Gesa dengan cepat mengangkat tubuh Aira di gendongan.
"Baby jangan tutup mata okey? Kita ke rumah sakit sekarang." Bisik Gesa pelan lalu mengecup kening Aira dengan lembut.
Aira hanya diam dan ingin menjawab namun tidak bisa. Ia sudah lemas dan kesakitan untuk saat ini.
Kepala yang pening, hidung sekaligus bibir dan pipi yang panas-panas perih ditambah dengan keadaan jantungnya yang sakitnya amat sangat membuatnya putus asa dalam sekejap.
Meninggalkan Gesa bukan pilihannya, namun penyakit yang ada pada dirinya membuat Aira tidak bisa bertahan dalam waktu yang lama lagi.. Itulah alasan utama Aira tidak mau mengandung anak Gesa.
Gesa berlari menuju mobil tanpa mempedulikan semua siswa yang menatapnya. Pikiran kalut Gesa hanya penuh Aira dan Aira.. Gadis sederhana, tulus, cantik dan baik yang selalu nurut padanya.
Tidak pernah membantah, selalu tersenyum dan ceria, berusaha tidak menangis karena Gesa serta hatinya yang tulus pada semua orang.. Itulah Aira! Aira bermarga Deanova sebagai istri Gesa yang sah.
...🔥🔥🔥...
"Keluarga Aira Deanova?" Panggil seorang dokter yang membuat Gesa dengan cepat berdiri dari duduknya.
"Saya Gesa Deanova, suami pasien." Jawab Gesa yang membuat dokter tampak bingung karena Gesa dan Aira masih menggunakan seragam ditambah Gesa yang mengeklaim dirinya sebagai suami Aira.
"Kita menikah atas perjodohan.. Maaf dok mungkin itu sedikit aneh tapi itulah kenyataannya."
"Anda she is not pregnat out of wedlock." Jelas Gesa kemudian yang akhirnya membuat sang dokter tersebut yakin bahwa Gesa memang suami Aira bersamaan dengan menunjukkan cincin pernikahan mereka.
"Bisa ikut saya sebentar.. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan perihal keadaan pasien."
Gesa menganggukkan kepalanya dan tidak lupa melihat Aira yang masih terlelap di ranjang rumah sakit dengan tubuh lemas dan bibir pucatnya.
"Apakah pasien masih rutin mengkonsumsi obatnya hingga saat ini?" Tanya dokter tersebut setelah sampai diruangannya.
Gesa menganggukkan kepalanya karena yang ia tahu Aira memang selalu mengkonsumsi obat penyubur rahim yang ia belikan.
"Kalo bisa diberhentikan sementara ya tuan Deanova. Keadaan jantung pasien semakin melemah akibat sering mengkonsumsi obat keras tersebut.. Kalo bisa lakukan check-up saja nanti saya bantu jadwalkan."
"J-Jantung?" Tanya Gesa semakin tidak mengerti.
Dokter tersebut menganggukkan kepalanya, "Nyonya Deanova mengidap penyakit jantung dan mungkin itu bawaan dari lahir."
__ADS_1
Mata Gesa melotot tidak percaya mendengar penjelasan dari dokter tersebut, "Jantung? Tapi istri saya bilang cuma konsumsi obat yang saya kasih dok, itupun vitamin penyubur rahim." Jelas Gesa.
"Menurut analisa saya nyonya Deanova meminum obatnya secara diam-diam dan mungkin juga berbohong pada anda."
"Kelelahan karena berlebihan dalam beraktivitas juga bisa memicu jantung lemah pada pasien.. Saya sangat berharap di usia anda dan istri anda yang masih muda, tolong perhatikan istri anda sebelum semuanya terlambat." Lanjut dokter tersebut.
Gesa mengusap wajahnya kasar karena marah pada dirinya sendiri yang tidak tahu sebesar apa masalah yang kini di tanggung oleh Aira sendirian.
"Saya minta jadwalkan check-up untuk istri saya.. Berapapun biayanya saya terima asal istri saya bisa sembuh." Tegas Gesa kemudian.
"Penyakit jantung memang sangat berbahaya dan mungkin ini akan banyak mengeluarkan finansial anda.. Apakah anda tidak mau berfikir dulu?" Tanya dokter tersebut.
"Istri saya lebih berarti dari uang saya dan tolong jadwalkan check-up untuk istri saya.. Berapapun biayanya saya oke." Jawab Gesa.
"Dan untuk kejadian hari ini yang menimpa istri saya, apakah ada hal yang perlu diperhatikan?"
"Beberapa kejadian seperti ini biasanya memicu pada mental pasien dan sebisa mungkin anda harus berdekatan dengan istri anda agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali."
"Saya akan buatkan jadwal check-up pasien dengan dokter kenalan saya dan nanti akan saya antar ke ruangan pasien lalu saya serahkan kepada anda." Lanjut dokter tersebut yang diangguki kepala oleh Gesa.
Gesa segera menuju ke ruangan dimana Aira yang masih setia menutup matanya.
Cup
Gesa mengecup kening Aira dengan lembut, "Kenapa nggak bilang? Kenapa nggak cerita sama gue kalo lo sakit?"
"Kenapa lo sembunyiin kesakitan lo dari gue?"
"Kenapa nggak jujur sama gue?"
Gumam Gesa bersamaan dengan dirinya yang tanpa sadar meneteskan air matanya begitu saja.
Melihat wanita yang selalu ia remehkan terbaring lemah di ranjang rumah sakit dan selama ini juga melalui kesakitannya sendirian membuat Gesa semakin benci pada dirinya sendiri.
"Maafin gue Ra.. Maafin gue udah paksa lo buat masuk ke dalam kehidupan gue." Ucap Gesa dengan mengecupi tangan Aira dengan sayang.
Aira mengedipkan matanya perlahan dan nenggerakkan tangannya begitu saja membuat Gesa tersenyum cerah.
"Udah bangun? Mana yang sakit? Gue panggil dokter ya?" Tanya Gesa bertubi-tubi.
Aira menggelengkan kepalanya lalu memijat kepalanya yang sedikit pusing, "Jangan di pijat kayak gitu, nanti tambah pusing." Cegah Gesa dengan menarik tangan Aira pelan.
"Ini dimana? Kak Gesa udah makan? Pilih aku pesenin atau masakan aku aja?" Tanya Aira dan mencoba berdiri begitu saja.
Aira yang masih lemah dan hampir jatuh dari ranjang segera di tangkap oleh Gesa. "Di rumah sakit kan lagi sakit.. Bisa-bisanya lagi sakit malah nanyain gue makan, pikiran lo isinya apa sih Ra sebenarnya? Heran gue." Marah Gesa dengan membenarkan selimut Aira dan tidak akan membiarkan Aira turun dari ranjang tanpa dirinya.
"Gue panggilin dokter bentar." Ucap Gesa tiba-tiba yang membuat Aira panik.
Aira takut jika dokter akan memberitahu dirinya di depan Gesa tentang riwayat penyakitnya. Gesa tidak suka orang lemah apalagi sakit, Aira hanya ingin kuat dan tidak mudah menyerah begiti saja di depan Gesa.. Dibenci oleh Gesa adalah mimpi terburuk bagi Aira.
"Jangan kak!" Cegah Aira cepat dengan menarik lengan Gesa.
Gesa menautkan kedua alisnya lalu menghela nafasnya pelan, "Terus maunya apa? Makan ya?" Tanya Gesa kemudian.
Dengan memberanikan dirinya, Aira memeluk Gesa begitu saja dan menenggelamkan wajahnya di leher hangat milik Gesa.
"Maunya dipeluk kak Gesa.. Sebentar aja nggak bohong." Gumam Aira dengan menutup matanya dan menghirup aroma khas kopi yang menyegarkan khas tubuh Gesa.
"Berani manja ya sekarang sama gue?" Goda Gesa dengan mengusap lembut pipi Aira.
"Aku lagi sakit kak, sekali-kali boleh kan ya?" Jawab Aira pelan.
__ADS_1
Cup
Gesa mengecup kening Aira lembut, "Berkali-kali dan nggak mau lepas juga boleh.. My Rara."