
...IG | FRISKYA___...
"Ges.. Besok ikutan turnamen kan? Tim aku loh yang akan semangatin kamu." Ucap Gita tiba-tiba saat Gesa baru saja sampai di parkiran sekolah.
Pagi yang buruk berawal dari pertengkaran Gesa dan Aira dimana Aira yang tidak mau menuruti Gesa untuk berangkat bersama ke sekolah dengan alasan Aira sudah berjanji dengan Dika untuk membeli bahan kelompok mereka terlebih dahulu.
Disinilah Gesa sekarang dengan rokok ditangannya menunggu kedua sahabatnya dengan wajah yang terlihat dingin karena marah dengan Aira.
"Bodoamat! Mau tim lo kek ataupun tim Siska sekalipun bodoamat gue." Ketus Gesa pada Gita setelah menghembuskan asap rokoknya.
BRUMM..
BRUMMM..
Bunyi knalpot yang membuat Gita mengalihkan pandangan menatap siapa yang menaiki motor tersebut, sedangkan untuk Gesa sendiri dengan wajah dinginnya sudah tahu bahwa yang menaiki motor besar tersebut adalah Dika dan Aira.. Istrinya!
"Katanya kamu ada hubungan khusus sama si cupu kok sekarang si cupu sama Dika si murid baru, ya kali Gesa mantan playboy kelas atas dimainin sama cewek." Ejek Gita dengan mengusap lembut lengan Gesa.
Melihat tingkah Gita yang selalu seenaknya sendiri, dengan cepat Gesa menghempaskan tangan Gita yang membuat sang empu tersungkur.
Gesa memunculkan smirknya menatap Gita, "Bahkan Aira lebih bail dari lo dan Aira lebih segalanya daripada lo di mata gue." Ketusnya kemudian dan membuang putung rokoknya dan tidak lupa menginjaknya lalu pergi begitu saja berjalan menuju kelas.
Di tempat lain, Aira juga mengamati Gesa yang sengaja mengabaikannya pagi ini dengan alasan Aira tidak boleh berangkat bersama Dika. Padahal ada tugas kelompok yang mewajibkan Aira harus bersama dengan Dika.
"Yuk ke kelas." Ajak Dika dengan merangkul bahu Aira seperti biasa.
Aira sendiri tidak risih dengan perlakuan Dika dengan alasan Dika adalah sahabat baiknya sekaligus Aira juga tau masalah percintaan Dika dengan pacarnya.
"Tumben lo diem aja Ra, ngoceh apa gimana kek.. Ada masalah?" Tanya Dika tiba-tiba yang membuat Aira kaget dan melepaskan rangkulan rangan Dika di bahunya.
"Jangan pegang-pegang Dik, nanti kalo ada yang lihat kita di sangkanya ada hubungan yang nggak-nggak."
Dika tahu bahwa akhir-akhir Aira menjauh darinya bahkan mengajukan surat pengunduran diri di kedai kopi milik kakaknya. Entah alasan apa yang membuat Aira seperti ini tapi yang jelas, Dika akan membantu Aira seperti Aira yang selalu membantu dirinya.
"Udah nggak usah dijawab kalo nggak bisa cerita sama gue. Santai aja kali Ra.. Tapi kalo mungkin ada apa-apa atau masalah apapun itu jangan lo simpan sendiri, paling nggak ceritain sama orang yang lo percaya biar pikiran lo bisa tenang." Nasihat Dika kemudian.
Aira hanya menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum kecil menatap Dika.
"Makasih ya Dik, kamu sahabat aku paling baik sejauh ini." Ucap Aira tulus pada Dika bersamaan dengan langkah kaki mereka menapak di dalam kelas.
Aira mendadak kaget saat tau bahwa Siska, teman satu kelas Gesa kini tengah berada tepat di depannya.
"Eh gadis cupu!! Di mata gue walaupun lo secantik ini, lo tetep aja cupu dan murahan." Gertak Siska dengan mendorong bahu Aira.
"Ya tapi murahan lo.. Perasaan gue lihat beberapa waktu lalu Gesa ninggalin lo deh. Dan sekarang lo cari masalah ke Aira dengan tuduhan cewek murahan sekaligus nuduh Aira rebut Gesa dari lo."
"Hello pretty girl tapi murah!! Situ waras?!" Lanjut Dika ketus untuk membela Aira.
Aira sendiri hanya bisa memijat kepalanya pelan, bertengkar dengan Gesa seolah menjadi bencana besar di hidupnya kali ini.
Entah apa yang membuat Aira menjadi seperti ini, tapi yang jelas berdekatan dan ciuman Gesa sudah menjadi candu dan melekat kuat di benak Aira.
"Jangan diladenin Ra.." Bisik Dika pelan yang dijawab anggukan kepala oleh Aira.
Siska mengangkat tangannya bermaksud memukul pipi Aira, namun suara sang guru yang memasuki kelas bersamaan ucapan selamat pagi membuat kelas yang awalnya ricuh menjadi hening seketika.
"Keluar dari sini atau lo gue laporin ke pak Malik kalo lo bikin keributan disini dengan cari gara-gara sama Aira." Bisik Dika tegas yang membuat Siska menggeram marah lalu pergi begitu saja meninggalkan kelas Aira bersama dengan antek-anteknya.
...🔥🔥🔥...
"AKHH!!!"
__ADS_1
"EMMM.."
Teriakan Aira kaget dan erangan yang tertahan dari bibir Aira yang dibungkam begitu saja dari belakang saat dirinya tengah berada di toilet siswi saat ini.
Bel istirahat sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu, Aira belum bertemu Gesa sama sekali dan itu membuatnya bingung sekaligus ingin menangis saja.
Untuk menghindari rasa malu karena tangisan di pipinya, Aira memutuskan untuk pergi ke toilet untuk mencuci wajahnya yang terlihat menahan rindu dengan menangis karena tidak bertemu dengan Gesa.
"K-Kak Gesa.." Lirih Aira pelan saat tahu bahwa yang membungkam bibirnya adalah tangan suami tampannya.
Tidak menghiraukan ucapan lirih dari Aira, Gesa segera mengangkat Aira seperti karung beras ke atas bahunya dan membawa ke gudang belakang sekolah yang sudah lama tidak digunakan.
"Dari wajah lo, lo lebih suka berangkat sama si songong itu ya daripada sama gue.. Suami lo." Ucap Gesa to the point saat mereka berada di dalam gudang.
Aira hanya menghela nafasnya pelan melihat Gesa yang sudah membuka acara omel-mengomel khas dirinya.
"Cuma berangkat doang kak dan itupun karena beli bahan dulu buat belajar kelompok tadi waktu pelajaran." Jelas Aira dengan menampilkan senyum manisnya.
Aira memang cantik dan tergolong sebagai salah satu perempuan yang mempunyai senyum mematikan untuk lawan jenis, alias good smile.
Gesa mengusap wajahnya kasar karena panik melihat senyum Aira yang selalu bisa membuatnya luluh dan tunduk begitu saja.
Entah apa yang membuat Gesa jadi seperti ini. Namun yang jelas, Gesa mulai tergila-gila dengan senyum Aira dan semua yang ada di tubuh Aira tanpa sadar telah menjadi candunya.
"Jangan senyum kayak gitu. Gue masih marah sama lo." Ketus Gesa dengan memalingkan pandangannya untuk menghindari senyuman Aira yang mampu meluluhkannya.
"Aku kan udah jelasin semuanya dan aku juga udah minta maaf dari tadi pagi malahan.. Kak Gesa aja yang masih betah sama marahnya."
"Ya gimana suami nggak marah kalo istrinya lebih pilih berangkat sama cowok lain daripada sama suaminya sendiri."
"Aku udah jelasin kan kak kenapa alasan aku harus berangkat bareng sama Dika?" Tanya Aira dengan lembut dan mengusap lengan Gesa.
Gesa hanya diam karena gengsinya yang membuncah dan hal tersebut sangat terlihat lucu di mata Aira.
Gesa dengan terpaksa menganggukkan kepalanya yang membuat Aira tertawa geli.
"Udah." Jawab Gesa kemudian singkat dengan menundukkan kepalanya.
"Ya tapikan lo lebih pilih Dika daripada gue!!" Lanjut Gesa lagi.
Aira menghela nafasnya pelan dan greget sendiri dengan tingkah Gesa saat ini.
"Yakan udah dijelasin kak Gesa yang ganteng kalo aku harus berangkat sama Dika itu kenapa."
"Kenapa coba?" Lanjut Aira.
"Karena beli bahan buat tugas kelompok." Jawab Gesa dengan sewotnya.
"Apa alasannya?" Goda Aira dengan menahan senyumnya.
Gesa mengusap wajahnya kasar, "KARENA BELI BAHAN BUAT TUGAS KELOMPOK." Jawab Gesa nyolot dengan menyusun satu-persatu kalimat tersebut.
Aira tersenyum puas melihat tingkah Gesa yang marah namun terlihat lucu kali ini dan baru hari ini.
"Yaudah kan udah tau alasannya, sini peluk istrinya dulu."
"Nggak mau! Gue masih marah sama lo." Ketus Gesa.
Tidak kehabisan akalnya, Aira dengan cepat maju satu langkah dengan kedua tangan yang berada tepat di pinggang Gesa.
"Emm.. Mas Gesa sayang, istri cantiknya tapi kecil minta peluk ini loh." Ucap Aira tiba-tiba sengaja menggoda Gesa bersamaan dengan mendongakkan kepalanya menatap Gesa lembut.
__ADS_1
Gesa yang mendengar panggilan mas serta sayang dari Aira mendadak lemah dengan pipi memerah begitu saja.
Tidak menjawab godaan sang istri, Gesa segera menenggelamkan tubuh kecil milik Aira ke dalam dekapannya.
"Apakah pipi kak Gesa memerah?" Goda Aira di pelukan Gesa.
"Nggak tuh!" Jawab Gesa cuek dengan mengecupi kening Aira.
Aira tertawa begitu saja mendengar jawaban Gesa yang bernada sewot dan cuek padahal sebaliknya dengan apa yang ia rasakan di dada bidang milik Gesa.
"Pokoknya nanti pulang harus sama gue, Titik!"
"Kalo nggak pulang sama kak Gesa emang pulang sama siapa? Kan kita serumah." Jawab Aira dengan ringannya.
Gesa memutar bola matanya malas dan mengecup bibir Aira tanpa permisi.
Cup
"Udah kecil, bandel, bikin gue darah tinggi mulu, jago jawab kalo dimarahin, jago desah juga kalo di bawah gue.. Istrinya siapa sih lo?" Gumam Gesa yang membuat Aira tidak mampu menahan tawanya.
Aira mengeratkan pelukannya di pinggang Gesa, "Udah ganteng, anak tunggal kaya raya, kapten basket, pinter, punya perut kotak-kotak, suka marah-marah, suka ngegas kalo ngomong.. Siapanya aku sih kamu kak?"
"Suami lo heh." Jawab Gesa cepat.
Cup
"Suka sama bau lo. Nanti pulang sekolah bikin baby yuk Ra, biar cepet jadi." Ajak Gesa tiba-tiba setelah mengecup singkat bibir Aira.
"Lagi haid kak." Jawab Aira dengan ringannya namun mampu membuat Gesa menggila sendiri.
"Mampus!! Puasa tujuh hari gue??"
"Lo tega Ra sama gue?!"
Aira tersenyum manis dan mulai melangkahkan kakinya berjalan menuju pintu keluar dengan berjalan mundur.
"Sabar ya kak.." Nasihat Aira yang semakin membuat Gesa uringa-uringan sendiri.
"Ra, jangan puasa ya?!"
"Ra.."
"Aira.."
"My Rara.."
Aira tersenyum manis menatap Gesa dengan berdiri di tengah pintu, "Aku ke kelas duluan kak." Pamitnya kemudian.
Gesa mengusap wajahnya kasar serta menarik-narik rambutnya melihat tingkah Aira yang berani mengabaikannya.
"Yang.."
"Nanti jatah pokoknya."
"RARAKU.."
"MY RARA."
"Bisa-bisanya dia abaikan panggilan gue yang udah seromantis itu.. Arghhh!! Gue main solo selama tujuh hari fak.." Gerutu Gesa yang berakhir dengan umpatan kasar dan menendang rak buku yang sudah tidak terpakai.
...🔥🔥🔥...
__ADS_1
...IG : FRISKYA___...