
...FOLLOW IG...
...@npaaaaa_____...
...UNTUK DAPAT INFORMASI UPDATE :)...
...SELAMAT MEMBACA 🤸...
"Kita ini ngapain kak kesini? Kak Gesa nggak ke sekolah emangnya?" Tanya Aira cepat saat Gesa memberhentikan mobilnya tepat di depan kedai.
Gesa berencana akan membuat Aira berhenti dari pekerjaannya dan memberikan pekerjaan tetap yang dikerjakan dirumah.
"Gue udah pinter." Jawab Gesa singkat, jelas dan padat lalu keluar begitu saja dari mobil mewahnya.
Melihat Gesa yang sudah turun dari mobil dan memasuki kedai, Aira dengan cepat mengikuti Gesa di belakangnya.
"Kak Ges, aku nggak harus keluar dari pekerjaan aku dan aku janji deh nanti aku akan bilang ke atasan aku kalo aku hamil dan juga nggak akan lelah-lelah." Cerocos Aira yang tanpa sadar mereka berdua telah sampai di ruang kerja.
"Selamat datang tuan muda." Sapa pak Jo begitu melihat Gesa tepat berdiri di depannya.
Melihat Gesa menganggukkan kepalanya pelan dan tahu bahwa tengah ada Aira di belakangnya membuat Jo mengerti lalu keluar begitu dengan hormat.
"Kak Gesa ngapain duduk disitu? Nanti bosnya aku marah kak."
"Pak Jo tadi cuma manajer di kedai." Lanjut Aira dengan memijat pelipisnya bingung.
"Ahh ya, mungkin karena pak Jo tau kalo kak Gesa banyak duit makanya nurut aja."
Gesa tertawa begitu saja mendengar ucapan Aira, "Sini sayang duduk sini yuk." Ucap Gesa dengan menarik pinggang Aira agar duduk di pangkuannya.
"Nggak mau kak. Aku cuma mau nggak berhenti kerja aja."
Gesa menghela nafasnya, "Duduk sayang.. Kasian baby kalo lo berdiri terus nanti pegel." Ucap Gesa dengan menatap Aira dan sofa empuk yang ada di sebelahnya bergantian.
Aira dengan cepat duduk di sofa dan masih mencoba membujuk Gesa untuk tetap mengizinkannya bekerja.
"Kenapa sih mau kerja mulu? Kerja itu capek sayang."
"Mau kerja pokoknya dan mau punya gaji sendiri."
"Yakan tadi gue udah bilang nggak kerja disini tapi kerja dirumah dan gue yang ngasih kerjaan."
Aira menggelengkan kepalanya pelan, "Nggak mau kak Ges."
Gesa berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati Aira dan duduk di sebelahnya, "Kenapa nggak mau? Alasannya apa?"
"Nggak enak kalo di rumah terus nggak punya temen sama kesepian kalo kak Gesa kerja." Jelas Aira kemudian.
Gesa tersenyum tipis lalu nengusap lembut ranbut Aira, "Nggak akan kesepian sayang."
Aira menghela nafasnya dan memberanikan diri menatap lekat mata Gesa, "Kerjanya apa kalo di rumah? Kak Gesa jelasin dulu."
Gesa meraih map dokumen yang telah disiapkan Jo sejak tadi lalu menyerahkan cepat pada Aira untul dibacanya.
"Tanda tangan dulu sayang.. Sebagai kesepakatan kalo lo udah keluar dari sini dan sekarang kerja sama gue." Ucap Gesa kemudian.
Menatap curiga ke arah Gesa dengan memincingkan matanya Aira berdiri dari duduknya dan meraih bolpoin tepat di atas meja.
"Ini beneran nggak ada apa-apanya kak Gesa?" Tanya Aira untuk meyakinkan dirinya.
Gesa menganggukkan kepalanya cepat dan tersenyum semanis mungkin menatap istri cantiknya.
"Jelasin dulu kenapa kak Gesa boleh duduk disini?"
"Dan kenapa juga pak Jo bisa pergi gitu aja apalagi nurut kayak tadi."
Gesa menutup bibirnya tidak percaya dengan mata melotot menatap Gesa, "Jangan bilang kak Gesa beli kedai ini?!" Tuduh Aira kemudian.
Cup
"Lo bener banget sayangku cintaku.." Jawab Gesa cepat setelah mengecup kening Aira singkat.
Gesa yang tahu bahwa Aira akan mengamuk padanya dengan cepat meraih map dokumen tersebut lalu berlari menuju mobil.
...🔥🔥🔥...
"Udah lah sayang jangan ngambek mulu."
"Gue beli kedai itu juga buat lo."
__ADS_1
"Buat pantau lo biar nggak aneh-aneh walaupun nggak ada gue di samping lo." Lanjut Gesa yang menjelaskan semuanya tepat di samping Aira.
Aira masih tidak percaya dengan Gesa, apalagi dengan membeli kedai kecil milik kakak Dika yang merupakan sahabatnya di sekolah.
"Kenapa masih tetep diem?"
"Sayang.. Gue ini suami lo dan kata pak ustad sebelah kalo mengabaikan suami itu dosa."
Aira menghela nafasnya pelan, "Siapa juga yang mengabaikan kak Gesa? Aku lagi males bicara aja."
"Males bicaranya sama gue, itu kan yang bener?"
"Sekarang gini aja deh sayang.. Gue nggak mau pusing-pusing lagi apalagi dengan lo yang marah-marah kayak gini sama gue." Lanjut Gesa yang membuat Aira menatapnya lekat dengan bibir yang masih terdiam.
"Kerja di rumah aja mau nggak mau harus mau!"
"Tapi kak Ges, aku ma-"
"Lo siapa gue?" Tanya Gesa cepat sebelum Aira melontarkan protes padanya.
Melihat Aira yang bungkam membuat Gesa diam-diam tersenyum bak iblis yang menang dalam hal apapun.
"Jawab gue, Aira Deanova?"
Gesa mendekatkan wajahnya tepat di telinga Aira dan tidak lupa membisikkan sesuatu disana, "Udah jelas kan siapa diri lo sekarang dan tahta lo sekarang apa?"
Cup
"Deanova adalah jati diri lo! Apapun milik lo tanpa kecuali termasuk gue, sayangku." Lanjut Gesa setelah mengecup lembut telinga Aira yang mampu membuat sang empu merinding.
Gesa berjalan begitu saja menaiki tangga meninggalkan Aira yang masih diam tidak berkutik memikirkan semua ucapannya.
"GUE NGGAK SUKA DIBANTAH DAN DITOLAK MY RARA.. APALAGI YANG NOLAK GUE ADALAH LO!!!" Teriak Gesa kemudian yang membuat Aira tersadar kaget lalu mengusap dadanya pelan.
Aira menatap perutnya yang terlibat membuncit, "Kalo udah keluar jangan kayak papa ya keras kepalanya dan jangan kayak papa pacarnya banyak sana-sini."
"Mama sangat menantikan kamu sayang.. Sehat selalu anak mama." Gumam Aira pelan dengan tersenyum bahagia seperti biasa jika berbicara dengan calon buah hatinya.
"Menantikan kamu keluar dan berada di sisi mama memang keinginan mama sayang. Tapi jujur aja, mama sangat tidak siap jika harus berpisah sama kamu ketika kontrak pernikahan papa sama mama itu selesai."
...🔥🔥🔥...
"Lama nggak berjumpa adikku yang manis.." Ucap Geral tiba-tiba yang membuat Aira terlonjak kaget.
Awalnya memang Gesa tidak mengizinkan Aira kemana-mana, namun dengan alasan keinginan sang bayi mau tidak mau Gesa mengiyakan begitu saja.
Sedangkan di sekolah, Gesa tengah melaksanakan ujian kelulusan seperti yang lainnya dan selanjutnya akan memimpin perusahaan Deanova sebagai pewaris utama.
So, Gesa Deanova anak tunggal kaya raya..
Aira yang sudah lama sangat rindu dengan Geral tanpa memikirkan apapun lagi memeluknya erat.
"Kak Geral.." Ucap Aira dengan memeluk Geral hangat dan tidak lupa meneteskan air matanya.
"Kak Geral kemana aja?"
"Kak Geral baik-baik aja kan?" Lanjut Aira kemudian.
DUGH
"Awhh.." Erang Aira begitu perutnya tidak sengaja terbentuk counter sayuran.
Geral sengaja mendorong Aira karena rasa tidak suka yang kembali hinggap di benakknya.
Anggapan Geral tetap sama dengan Novita. Dimana Aira memang anak buangan pembawa sial serta penghancur hidup keluarganya.
"Gue bukan kakak lo! Jadi stop panggil gue dengan kak Geral."
"Geral aja." Lanjut Geral dengan menatap Aira.
Aira yang mencoba berdiri tegak walaupun ia menahan rasa nyeri di area perutnya dengan berani mulai menatap mata Geral.
"Kak Geral nggak sayang sama aku lagi?"
"Kak Geral dulu nggak jahat sama aku kayak gini." Lanjut Aira dengan menahan air matanya.
Geral melipat kedua tangannya di depan dada dan mata yang menatap Aira dengan pandangan benci, "Gue denger lo udah nikah sama Gesa.. Si anak tunggal kaya raya dan palyboy itu."
"Gue harap lo cepet cerai deh dan jangan lupa kuras habis hartanya.. Karena kalo lo udah cerai sama Gesa, gue sama bunda ogah nampung lo lagi."
__ADS_1
Aira mengusap air matanya kasar, "Kalo kak Geral sama aku jadi gini terus kenapa kak Geral muncu lagi di depan aku?" Tanya Aira dengan terisak.
"Gue butuh uang! Dan gue mau minta sama lo."
"Aku nggak punya uang kak." Jawab Aira cepat namun Geral dengan cepat merebut tas paksa milik Aira.
"Jangan kak.. Aku mohon jangan."
Mendengar majikannya yang tidak jauh darinya memohon, membuat asisten rumah tangga yang ikut bersama Aira tadi mendekat.
"Nyonya.. Nyonya kenapa?"
"Siapa kamu?!! Kok berani banget sama nyonya saya?!" Marahnya.
Aira menarik pelan lengan asistennya tersebut, "Udah bi biarin aja.. Itu kakak Aira. Aira bisa selesain semuanya."
Aira menyerahkan tas belanja, "Minta tolong bibi ke counter buah ya, nanti Aira nyusul.. Sama bibi pilihin yang seger-seger."
Merasa percaya bahwa Geral memang kakak dari Aira, akhirnya asisten rumah tangga tersebut menganggukkan kepalanya. "Baik nyonya."
"Lo nggak mungkin nggak punya duit secara suami lo anak tunggal dan hartanya ada dimana-mana."
"Nggak ada suami yang pelit sama istrinya!" Lanjut Geral membentak Aira.
Aira masih berdiri diam dengan menahan rasa nyeri di perutnya dan menahan air matanya agar tidak keluar tepat di depan Geral.
BUGH
"Jangan macam-macam apalagi kasar dengan bos saya, tuan." Ucap pengawal setelah memukul rahang Geral keras.
Aira memang selalu dikawal kemana pun ia pergi dan perintah tersebut langsung dari Gesa.
Semua Gesa lakukan hanya untuk Aira. Menjaga Aira dan calon buah hatinya dari kejahatan yang dilakukan musuh-musuh perusahaannya maupun kakak tiri serta bunda tirinya sekalipun adalah prioritas paling utama saat ini.
"Ini tasnya bu bos.. Bu bos tidak papa?" Tanya pengawal tersebut dengan menyodorkan tas milik Aira yang direbut Geral dengan paksa.
"Pak bos perjalanan kesini bu bos, bu bos yang tenang ya.. Ada kita-kita disini." Lanjutnya untul membuat pikiran Aira tenang dan tidak takut apalagi panik.
"LO SIAPA BERANI PUKUL GUE?!!"
"DIA ADIK GUE DAN GUE BERHAK ATAS ADIK GUE!!" Lanjut Geral tidak terima.
Pusat perbelanjaan tampak ramai dan semua pasang mata terfokus pada kejadian tersebut.
"Kita bisa keluar dari sini dan selesaikan masalah ini di luar." Ajak pengawal Aira dengan sopan.
Geral meludah tepat di depan Aira dan pengawal-pengawalnya, "Gue nggak butuh!! Yang gue butuhin cuma uang dari adik gue."
"Masak iya gue salah kalo gue minta uang ke adik gue." Lanjut Geral kemudian.
"SALAH!! SALAH BANGET MALAH!!" Ucap Gesa yang tiba-tiba datang dengan santainya lalu menatap Aira.
Cup
"Sayang.. Lo gapapa? Ada yang sakit?" Tanya Gesa lembut setelah mengecup lembut kening Aira.
Aira yang sudah mulai lemas karena menahan rasa nyeri di perutnya dengn cepat melingkarkan tangannya di leher Gesa.
"Mau pulang."
"Aku mau pulang kak." Lirih Aira dengan bibir yang pucat pasi dan badannya yang lemas.
Khawatir dengan keadaan istrinya, tanpa menunggu apapun lagi Gesa dengan cepat mengangkat tubuh Aira yang lemas dan berlari menuju mobil.
"Kita pulang sayang.. Oke? Kita pulang." Bisik Gesa lembut yang dijawab Aira dengan senyum tipisnya.
"Bawa Geral ke markas dan jangan sampai kabur.. Apapun caranya malam ini Geral harus sudah ada di markas." Perintah Gesa pada semua anak buahnya sebelum memasuki mobil.
Gesa mengecupi kening Aira tanpa henti dalam perjalanan pulang dengan kemudi sopir yang Aira bawa menuju pusat perbelanjaan.
Aira menarik tangan Gesa ke dalam hoodie tebal yang ia pakai kali ini tepat di atas perutnya.
"Sakit kak." Lirih Aira dengan matanya yang terpejam.
"Apa sayang? Apanya yang sakit? Kita ke dokter ya?" Tawar Gesa dengan kepanikan yang amat sangat.
Aira menggelengkan kepalanya, "Babynya minta di elus-elus sampai nanti di rumah." Gumamnya kemudian.
Gesa tersenyum tipis mendengar gumaman Aira yang entah kenapa membuat hatinya selalu bahagia dan hangat.
__ADS_1
...🔥🔥🔥...
...SEE YOU NEXT PART, BRO 🦖...