
...IKUTI INSTAGRAM :...
...@finarsky__...
...FOLLBACK? DM!!...
...🔥🔥🔥...
"Lo kemarin pulang jam berapa Ndre? Kenapa nggak balik ke pesta?" Tanya Gesa cepat saat Andre muncul tepat di tongkrongan hari ini.
Andre yang tiba-tiba datang segera duduk begitu saja tepat di samping Gesa.
"Gue kemarin ke klinik dan ternyata kliniknya jauh dari rumah lo.. Yaudah deh akhirnya nggak balik gue sama Intan."
"Terus si Intan gimana keadaannya?" Tanya Jefri tiba-tiba.
Andre mengendikkan bahunya pelan, "Mungkin sekarang udah baikan. Gue nggak tau juga."
Gesa mengangkat kedua aslinya menatap Andre yang tepat berada di sebelah dirinya, sedangkan Andre yang sadar akan tatapan tajam Gesa hanya melengos begitu saja.
"Gue lihat lo akhir-akhir ini deket banget sama Intan." Ucap Juan yang tiba-tiba bersamaan dengan Indro.
"Perasaan lo doang kali.. Gue sih ngerasanya biasa aja." Jawab Andre singkat.
Gesa tetap menatap Andre dengan pandangan yng sulit terbaca dan hal tersebut sukses membuat Andre greget sendiri.
"Lo kenapa sih liatin gue kayak gitu? Kayak nggak pernah lihat cowok ganteng aja." Gumam Andre dengan sedikit berbisik tepat di telinga Gesa.
Gesa mengendikkan bahunya, "Entah gue atau cuma Aira yang penasaran sama hubungan lo dan Intan tapi gue harap lo cerita apapun ke gue."
"Gue nggak mau lo salah langkah lagi cuma karena salah cinta." Lanjut Gesa kemudian.
Andre tersenyum tipis, "Siapa juga yang punya hubungan sama si Intan? Dan gue nggak cinta siapapun selain mama gue kali ini."
"Ya mungkin lo lagi suka siapa gitu." Sindir Jefri kemudian pada Andre.
"Lo kali yang suka sama seseorang." Sahut Andre cepat dan bernada sewot.
Jefri tertawa hambar lalu menunjuk dirinya, "Gue? Suka sama orang? Siapa? Nggak tuh."
"Suka sama gue contohnya." Jawab Andre dengan genit bersamaan dengan mengedipkan satu matanya.
"Ogah!! Gue masih suka lubang asal lo tau."
Gesa hanya tertawa mendengar cadaan ribut yng selalu dilontarkan oleh Andre maupun Jefri hingga matanya fokus pada Intan yang berjalan sendirian menuju tongkrongan.
__ADS_1
Reflek saja Gesa menepuk bahu Andre lalu memberi isyarat bahwa Intan kini telah berada di depan mereka.
"Lo jalan kaki?" Tanya Jefri dengan memincingkan matanya menatap Intan.
Intan menggelengkan kepalanya cepat, "Gue nebeng temen gue terus gue turun yang nggak jauh dari sini makanya kesininya jalan kaki." Jelasnya kemudian dengan melirik Andre.
Juan yang melihat Intan telah datang dengan cepat menarik lengannya sedikit kasar menuju ke dalam warung.
"Gue mau bicara penting sama lo!" Ucap Juan kemudian lalu pergi begitu saja.
Sedangkan Andre, Gesa dan Jefri hanya bertukar pandangan seolah bertanya-tanya pembicaraan penting apa dan sepribadi apa hingga Juan berani kasar dengan wanita.
"Lo nggak mau nyusul si Intan?" Tanya Gesa tiba-tiba pada Andre.
Andre yang bingung harus berbuat apa hanya bisa menjawab dengan mengendikkan bahunya singkat untuk saat ini.
Sedangkan di tempat lain, dimana Juan dan Intan sedang duduk untuk membicarakan hal serius disana.
"Gue udah buat lo masuk ke tongkrongan elit ini dan lo masih ada hutang sama gue."
"Yang hutang orangtua gue ke orangtua lo.. Kata mama gue juga hutangnya udah lunas." Jawab Intan kemudian.
"Bodo amat urusan lunas nggak lunas dari orangtua lo, tapi yang jelas hutang orang tua lo belum lunas.. Bunganya belum."
Juan berdiri dari duduknya dan menatap Intan dengan tajam, "Kalo lo sampai nggak mau bayar hutang bapak lo gue pastikan tubuh lo yang akan jadi penggantinya!" Peringatnya pada Intan kemudian.
...🔥🔥🔥...
"Sayang.."
"Aku pulang." Lanjut Gesa sedikit berteriak memasuki rumahnya yang mewah dan megah.
Tidak mendengar jawaban Aira, Gesa segera menuju ruang tengah dan tepat sasaran ia menemui Aira yang kini tengah tertidur pulas di sofa.
Tangan Gesa seperti biasa mengusap lembut perut buncit Aira dan bibir yang mengecup kening Aira dengan lembut sebagi tanda sayangnya pada sang istri tercinta.
"Sayang.. Aku pulang." Bisik Gesa tepat di telinga Aira.
Aira yang merasa tidurnya terganggu dengan perlahan membuka matanya dan berusaha duduk dari posisi sebelumnya.
"Udah pulang? Ini jam berapa?" Tanya Aira kemudian dengan mengucek matanya yang kini dilanda ngantuk yang amat sangat.
"Jam 10 malam sayang."
"Ini aku bawain sotong sesuai pesanan kamu tadi." Lanjut Gesa kemudian bersamaan dengan menunjukkan camilan titipan Aira.
__ADS_1
Aira yang sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya dengan cepat menarik lengan Gesa begitu saja untuk duduk di sampingnya.
Kembali memejamkan matanya dengan bantalan lengan Gesa ditambah tangan Gesa yang mengusap lembut keningnya, membuat Aira semaki nyaman dan pulas.
"Sayang.."
"Bangun dulu yuk, ini sotongnya nggak di makan?" Tanya Gesa.
"Kenyang kak. Udah nggak mau makan apa-apa lagi."
Gesa mengambil sotong tersebut lalu memakannya, "Enak banget loh ini, kamu beneran nggak mau sayang?"
Aira menggelengkan kepalanya yang berada di lengan Gesa, "Nggak mau kak, aku ngantuk berat dan jangan paksa aku." Lirihnya kemudian yang membuat Gesa gemas sendiri.
Tidak berfikiran apapun lagi, Gesa dengan berani mulai menempelkan satu sotong tepat di bibir Aira.
Tanpa dugaannya, Aira membuka mulutnya perlahan bahkan mulai menggigit dan mengunyahnya pelan hingga habis.
"Enak sayang?" Tanya Gesa iseng.
Aira menganggukkan kepala dalam tidurnya, "Enak kak, mau lagi tapi yang nggak pedes." Gumamnya pelan dan sontaknya saja jawaban tersebut mampu membuat Gesa tidak bisa menahan tawanya.
Gesa terus saja menyuapi Aira hingga sotongnya habis tidak tersisa sedangkan Aira sendiri masih setia memejamkan matanya tidur di lengan Gesa.
"Heran aja gue.. Padahal matanya tidur loh, bisa-bisanya diajak ngomong masih nyaut."
Gesa menatap plastik tempat sotongnya yang telah habis, "Baru kali ini gue tau kalo cewek bisa gini."
"Matanya merem.. Kelebihannya di suapin mangap mana di tanya apapun mampu ngejawab lagi."
Cup
"Sayangku emang beda." Ucap Gesa kemudian setelah mengecup singkat kening Aira.
Setelah acara tv selesai, Gesa menggendong Aira begitu saja dengan ringannya seolah tidak ada beban dan berjalan menaiki tangga santai.
"Nemu dimana gue spek ginian?"
"Mana sayang banget lagi gue.."
"Uuu anak papa cepat keluar ya sayang.. Biar mama kalo tidur ada kamu yang nemenin papa ngoceh kayak gini." Ucap Gesa mulai berbicara dengan bayi yang ada di dalam perut Aira.
Gesa selalu membiasakan diri untuk memberi kecupan kecil dan hangat untuk keduanya, baik untuk Aira maupun calon buah hatinya menjelang mereka tidur.
...🔥🔥🔥...
__ADS_1