AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
95 | RESTORAN


__ADS_3

"Besok aku mau berangkat perjalanan bisnis sayang."


"Kamu juga ikut." Lanjut Gesa memberi tahu Aira.


Aira yang awalnya tengah fokus membaca buku resep barunya dengan cepat mendongakkan kepalanya karena kaget.


"Aku ikut? Perjalanan bisnis?" Tanya Aira meyakinkan pendengarannya.


Gesa menganggukkan kepalanya cepat dengan tangan yang masih sibuk memijat kaki Aira.


Sore yang cerah hari ini membuat Gesa pulang lebih awal untuk memanjakan sang istri tercinta sebelum hari esok yang dirinya belum tentu ada kesempatan untuk bermesraan berdua.


"Nggak deh, aku nggak mau ikut."


"Aku di rumah aja." Lanjut Aira kemudian.


"Kamu ikut pokoknya sayang.. Aku nggak mau kamu kenapa-napa di rumah dan nggak ada aku disamping kamu." Jawab Gesa menyuarakan rasa khawatirnya.


"Kenapa gimana maksud kamu? Aku dirumah juga nggak sendirian."


"Kamu sendirian sayang.. Nanti kamu kesepian loh kalo nggak ada aku di sisi kamu." Ucap Gesa lagi untuk meyakinkan Aira agar mau ikut perjalanan bisnis bersamanya.


Aira tertawa kecil mendengar ucapan Gesa, "Kamu aneh-aneh aja ih. Dirumah ada asisten rumah tangga dan masih banyak orang yang kamu suruh jaga rumah kalo kamu lupa."


"Sebanyak itu.. Mana mungkin aku kesepian."


Gesa menghela nafasnya pelan dan mencoba menerima bahwa Aira tidak mau ikut bersamanya.


"Kamu nggak lihat apa perut aku udah segini, nanti yang ada aku kecapekan kalo ikut kamu."


"Mending aku dirumah aja atau nggak aku dirumah mama aja biar kamu percaya terus nggak kepikiran." Lanjut Aira meyakinkan Gesa.


Gesa mau tidak mau menganggukkan kepalanya tanda ia setuju dengan permintaan Aira.


"Minta oleh-oleh apa?"


Aira tampak berfikir lalu menggelengkan kepalanya, "Kamu pulang dengan sehat dan selamat aja udah cukup."


Gesa tersenyum tipis mendengar hal tersebut lalu mendekap Aira ke dalam pelukannya dengan hangat.


"Seriusan nggak minta oleh-oleh apapun?" Tanya Gesa lagi meyakinkan Aira.


Aira mendongakkan kepalanya lalu mencium rahang Gesa tanpa permisi yang membuat sang empu mengerang pelan.


"Nanti kalo aku minta, aku mintanya yang mahal-mahal soalnya lagi ngidam ini dedek bayinya." Jawab Aira dengan bercanda dan tangan yang mengusap perut buncitnya.


"Mahal nggaknya aku nggak peduli."


"Kamu minta apa?"


Gesa bingung sendiri dengan kehidupan dan sifat Aira yang mampu hemat ditengah kehidupan mewah yang selalu Gesa berikan.


Bahkan Gesa tak tanggung-tanggung membuatkan Aira rekening transaksi yang serba pribadi dan tentunya no limit.


Namun kenyataannya, bahkan dari awal mereka menikah hingga sekarang Gesa hanya membayar biasa pajak administrasi tanpa ada catatan Aira menggunakan sepeser pun untuk belanja.


Mata Aira kini terfokus pada layar televisi besar yang menayangkan berbagai banyak makanan disana. Hingga..


"Mau makan itu aja deh, sekarang."


"Boleh?" Tanya Aira dengan tangan yang menunjuk layar televisi.


"Cuma mau makan doang?"


Aira menganggukkan kepalanya cepat dan tersenyum, "Tiba-tiba mau makan yang kayak gitu."

__ADS_1


Gesa dengan cepat berdiri dari duduknya dengan Aira yang masih menempel di badannya seperti koala.


"Berangkat sayang berangkat." Ucap Gesa kemudian dengan mengecup kening Aira lembut.


...🔥🔥🔥...


"Lo ngapain disini?" Tanya Gesa cepat begitu melihat Andre yang tengah duduk sendirian.


Gesa memutuskan untuk pergi ke salah satu restoran bintang lima yang ia tahu menyediakan makanan keinginan Aira.


Matanya memincing sesaat begitu melihat Andre yang duduk sendirian termenung di kursi sebelah pojok.


Andre yang kaget hanya mengusap tengkuknya pelan, "Ngadem aja disini.. Lo berdua ngapain disini?"


"Bini gue ngidam makanan restoran sini."


Andre menganggukkan kepalanya sebagai jawaban mengerti.


"Mau gabung juga gapapa kok." Tawar Aira kemudian.


Andre dengan cepat menggelengkan kepalanya dan tersenyum kaku, "Nggak kok, gue habis ini juga pulang."


"Kalian berdua duluan aja." Suruh Andre lagi.


Tanpa menjawab Gesa dengan cepat menarik pelan pinggang Aira dan mencari tempat VVIP yang sudah ia siapkan sebelumnya.


Dilain tempat, Intan tengah tergesa-gesa memasuki restoran mewah tersebut dengan langkah yang sedikit berlari untuk menemui Andre.


"Kenapa lo suruh gue buru-bur kesini?"


"Lo kira jarak sekolah gue kesini nggak jauh apa gimana?" Lanjut Intan mengomel seperti biasa dengan berusaha mengatur nafasnya.


"Minum dulu." Suruh Andre dengan menyodorkan segelas minumnya kepada Intan.


"Salah lo sih gue jemput nggak mau malah minta ketemu disini, yaudah capek sendiri kan lo."


"Bukannya nggak mau apa gimana.. Tapi anak cewek-cewek sekolah gue pada ngidolain lo dan kedua sahabat lo."


"Berita apapun tentang lo bertiga selalu jadi trending news di sekolah gue."


"Dipikir aja pake logika kalo mereka tau gue berurusan sama lo bisa habis gue." Lanjut Intan kemudian.


Intan duduk begitu saja di samping Andre, "Ngapain lo suruh gue kesini?"


Tanpa menjawab pertanyaan Intan, Andre dengan cepat berdiri dan menarik tangan Intan keluar dari restoran menuju mobilnya.


"Urusan kita udah selesai dari kemarin-kemarin kalo lo lupa.. Dan gue berterimakasih juga lo udah bantu gue waktu gue alergi."


"Biaya rumah sakit pasti gue cicil, tenang aja."


Tidak menghiraukan ucapan Intan, Andre dengan cepat mengambil paperbag yang ada di jok mobil lalu menyerahkannya begitu saja pada Intan.


"Cek dulu." Suruh Andre.


Intan mengerutkan keningnya karena penasaran juga, ia membuka perlahan paperbag tersebut.


"Dress? Buat apaan?"


"Gue nggak butuh pergantian uang rumah sakit dari lo tapi gue butuh lo bantuin gue.. Jadi, secara nggak langsung urusan kita belum selesai." Jelas Andre yang membuat Intan semakin bingung.


"Bantuin apalagi sih?" Tanya Intan dan meneliti kembali dress yang ada ditangannya.


"Ini gue yakin dress mahal Ndre dan gue nggak cocok pake ini.. Gue bantuin lo oke aja asal gue bisa tapi kenapa harus pake dress? Mana dress mahal lagi."


"Orang kaya emang suka buang-buang duit." Gumam Intan pelan dengan menghela nafasnya.

__ADS_1


"Lo setuju bantuin gue?"


Intan dengan ragu menganggukkan kepalanya bersedia karena ia sadar bahwa Andre juga telah menyelamatkan nyawanya saat alergi kacang melandanya.


"Tapi bantuin apa dulu?" Tanya Intan semakin penasaran karena Andre menarik tangannya menuju toilet restoran.


"Ganti dress itu gue tunggu disini." Suruh Andre.


"Tapi Ndre gue ga-"


"Katanya lo setuju bantuin gue.. Tenang aja cuma nyoba cocok atau nggak buat calon pacar gue karena tubuhnya sama kayak lo."


Intan yang mendengar penjelasan Andre dengan cepat percaya begitu saja lalu mulai berganti pakaian.


Selang beberapa menit..


"Kayak gini nggak sih? Jelek kali ya kalo gue yang nyoba?" Tanya Intan bersamaan dengan keluar dari toilet dan berdiri tepat di depan Andre.


Andre diam begitu saja karena terpana dengn kecantikan Intan yang benar-benar natural dan tampak elegan.


"Nggak jelek kok, cocok banget." Jawab Andre cepat.


Mendengar pujian Andre, Intan dengan cepat menundukkan kepalanya karena memerah. Sadar akan dress ini bukan untuknya, ia dengan cepat melangkah kembali menuju toilet.


"Ngapain masuk lagi?" Tanya Andre dengan menarik pelan lengan Intan.


"Nggak udah deh, yuk ikut gue buruan." Lanjut Andre lagi.


"Katanya ini dress buat cal-"


Ucapan Intan berhenti begitu saja dan menatap Andre curiga dengan mata memincingnya.


"Jangan bilang gue bantuin lo buat jadi pacar pura-pura lo terus yang lo maksud calon pacar lo adalah gue?"


Andre tersenyum senang, "Benar sekali sayangku cintakuu." Ucapnya tanpa menunggu jawaban dari Intan yang masih terkejut akan kelakuan Andre.


"Gue nggak mau!!" Ucao Intan dengan menarik tangannya dari genggaman Andre.


"Lo bilang setuju dan gue ada rekamannya disini." Jawab Andre dengan memainkan ponsel mahalnya di tangan.


"Terus ini kita mau kemana dodol? Ada-ada aja ya Tuhan.. Lo gila tau nggak?!"


"Gue emang gila dan kalo nggak gila itu bukan gue."


"Kita mau ketemu keluarga besar gue. So, siapin mental lo dan gue mohon kerjasamanya sayang."


Mata Intan melotot kaget dan mulai sadar bahwa warna kemeja Andre dan dress yang ia gunakan memang sama.


"Ndree gue nggak bisa, gue nggak mau sumpah."


"Kalo lo nggak mau, besok biaya perawatan rumah sakit lo lunasin sama bunganya 50%."


"Lo gila?!!"


"Bodo amat sayang bodo amat. Pokoknya gue mau lo jadi pacar gue kali ini."


"Kalo bisa istri sekalian biar bisa bikin baby sama lo."


Intam yang sudah emosi tingkat dewa dengan cepat memeluk Andre dan menggigit dada Andre dengan keras yang membuat sang empu meringis.


"Sakit sayang.. Lo yang gila disini!!" Erang Andre.


"Bodo amat sayang bodo amat!!" Ketus Intan lalu memasuki mobil Andre begitu saja.


...🔥🔥🔥...

__ADS_1


__ADS_2