AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
60 | LIMPAHAN CINTA DAN SAYANG GESA


__ADS_3

...FOLLOW INSTAGRAM YA GAESS :...


...@finarsky__...


...SELAMAT MEMBACA ✨...


Gesa menatap Aira sebelum turun dari mobil dan memikirkan sesuatu disana.


"Kak Gesa kenapa lihatin aku kayak gitu?" Tanya Aira kemudian.


Gesa mengendikkan bahunya pelan lalu meraih lembut rahang Aira dan mengecup bibirnya dengan lembut.


Cup


"Kenapa selalu cantik sih? Heran gue." Gumam Gesa kemudian yang membuat Aira menahan senyum manisnya.


Menuruni mobil mewahnya dengan elegan walaupun hanya menggunakan celana pendek serta kaos biasa tetap berhasil menjadi pusat perhatian bagi semua pasang mata yang memandangnya.


"Hati-hati sayang." Ucap Gesa bersamaan dengan membantu Aira turun dari mobil.


Aira tersenyum tipis dengan menganggukkan kepalanya pelan, "Terimakasih kak."


Gesa masih tetap menatap Aira dan memikirkan sesuatu yang sudah terlintas di otaknya sejak beberapa hari yang lalu.


"Yang.." Panggil Gesa pada Aira.


Aira yang sadar akan panggilan Gesa dengan cepat menatap matanya seolah bertanya ada apa.


Gesa yang bingung akan bertanya darimana dengan cepat menggelengkan kepalanya dan menarik pelan jemari hangat milik Aira.


"Nggak jadi deh sayang.. Nanti aja." Ucap Gesa kemudian bersamaan dengan mereka berdua berjalan memasuki butik.


"Ada yang bisa di bantu mas?"


Gesa menganggukan kepalanya pelan dengan tangan yang masih melingkar tetap di pinggang Aira.


"Pesanan atas nama Gesa Deanova." Ucapnya kemudian.


Salah satu pegawai butik tersebut menganggukkan kepalanya, "Oh tuan Deanova pelanggan VVIP kami.. Mari ikuti saya ke ruang VVIP."


Gesa bersama dengan Aira berjalan mengikuti pegawai tersebut menuju tempat pelanggan VVIP yang memang sangat berkelas dan elite.


"Untuk dress nyonya Deanova modelnya seperti ini dan masih banyak lagi. Jika yang ini belum cocok nanti akan saya tunjukkan yang lainnya."


"Dicoba dulu mau sayang?" Tanya Gesa tanpa basa-basi dan tentunya dengan suara mesra ala Gesa.


Aira sendiri tampak ragu dengan ukuran dress yang ada di depannya. Matanya mulai menatap dress tersebut bergantian dengan menatap perutnya yang sudah sedikit menojol.


"Di coba nggak papa ya mbak?" Tanya Aira pelan.


"Boleh nyonya.. Silahkan disebelah sini ruang gantinya." Jawab pegawai tersebut dengan mempersilahkan Aira masuk ke ruang ganti.


Gesa sendiri hanya diam menunggu Aira yang tengah mencoba-coba dress pilihannya. Hingga mata elangnya tertuju pada slingbag kecil milik Aira yang ada di sebelahnya.


Tampak ragu untuk membukanya, namun sesuatu hinggap di pikirannya.


"Bodo amat ah gue ambil.. Gue suaminya sekarang." Tegas Gesa pada dirinya sendiri bersamaan dengan mengeluarkan ponsel mahal milik Aira yang telah dibelikan Gesa beberapa waktu yang lalu.


"Kok ada sandinya mana pake angka lagi." Gumam Gesa.


Gesa yang sudah hafal tentang Aira dengan iseng menggunakan tanggal lahir serta bulan kelahiran Aira, namun semuanya gagal.


"Tanggal lahir gue mungkin kali ya sama bulan kelahiran gue." Ucapnya dengan mencoba memasukkan angka ke dalam ponsel Aira.


Gesa mengusap dagunya saat hasilnya tetap saja nihil dan belum terbuka.


"Tanggal sama bulan pernikahan gue sama dia mungkin nggak sih?" Gumamnya bertanya-tanya sendiri lalu mencobanya begitu saja dan terbuka.


Tanpa sadar Gesa tersenyum manis dengan alasan dimana Aira memang mengingat hari pernikahan bersama dirinya.


Tangan lincah serta mata yang fokus mulai menjelajahi di setiap fitur aplikasi yang tersedia di ponsel mahal milik Aira.


"Tenyata Aira kalo di rumah sering foto anjir.. Mana cakep banget ya allah bini gue." Ucap Gesa gemas dan tersenyum girang saat matanya menatap satu persatu foto yang ada di galeri milik Aira.

__ADS_1


Seberapa keras aku melupakan lalu menghilang pusatku untuk kembali akan tetap sama, Afigesa Deanova Putra.


Ya benar, dia suamiku!


^^^-Jakarta, 12 Maret 2022^^^


Tulisan itulah yang ada di salah satu tangkapan layar galeri Aira hingga membuat Gesa terdiam dan terpaku.


Dengan cepat Gesa mengeluarkan ponsel miliknya lalu memotret layar Aira dengan menampilkan tulisan tersebut.


"Gue bikin wallpaper kunci besok setelah wallpaper utama gue foto pernikahan kita." Ucap Gesa dengan tersenyum sendiri.


"Kak Gesa ngapain pegang ponsel aku?" Tanya Aira tiba-tiba yang membuat Gesa kaget sendiri lalu meletakkan ponsel Aira dengan cepat.


Gesa mengendikkan bahunya pelan, "Tadi ada yang telfon nggak tau siapa terus gue angkat eh ternyata orang salah sambung."


"Lo nggak marah kan gue pegang ponsel lo?" Lanjut Gesa dengan bertanya pelan dan penuh hati-hati pada Aira.


Aira menggelengkan kepalanya, "Nggak marah sama sekali kak." Jawabnya kemudian dengan menarik jemari Gesa.


"Bantuin aku benerin dres ini ke kamar ganti kak, sama lihat penampilan aku." Ucap Aira kemudian dengan menarik Gesa ke dalam ruang ganti.


Gesa hanya mampu menelan ludahnya, "Mampus gue! Pasti gue tegang nih.. Yakin gue."


...🔥🔥🔥...


"I-Ini gue harus ngapain?" Tanya Gesa dengan menahan nafasnya karena tepat di depan pandangannya adalah punggung serta leher jenjang nan putih milik Aira.


Aira memang sengaja mengajak Gesa untuk masuk ke dalam ruang ganti dengan maksud agar Gesa bisa melihat langsung serta membantu dirinya menaikkan resleting dress yang ia coba.


Toh Gesa adalah suaminya, maka Aira tidak akan ragu lagi masalah intim dengan Gesa.


"Bantuin naikin resleting aku kak, aku naikin dari tadi nggak bisa."


"Apa gara-gara badan aku yang tambah gemuk ya kak?" Lanjut Aira bertanya pada Gesa.


"Gemuk wajar buat ibu hamil dan itu malah sehat." Jawab Gesa sekenanya dengan memalingkan pandangannya menatap hal lain.


Gesa berusaha mati-matian untuk menahan nafsunya dengan perlahan menaikkan resleting dres yang dikenakan Aira.


"Bagus kok.. Keliatan cantik tetep seperti biasa."


Gesa tanpa ragu mendekatkan tubuhnya hingga menempel tepat di punggung Aira dengan kedua tangan yang mengusap lembut perut buncit Aira dari belakang.


"Sesak nggak?"


"Atau mungkin dress ini kekecilan? Mau ganti yang lain?" Lanjut Gesa pada Aira karena khawatir.


Aira menggelengkan kepalanya cepat, "Nggak kok kak, di pakai pas banget malah."


Aira sendiri tanpa sadar mulai bersender di dada bidang Gesa dengan tangan yang mengusap lembut kedua tangan Gesa yang berada di perutnya.


"Gue nggak akan sentuh lo lagi sebelum lo jawab pernyataan cinta gue." Gumam Gesa tiba-tiba yang membuat Aira dengan cepat berdiri tegak.


Aira menundukkan kepalanya tanpa berani menatap mata Gesa.


"Aku mau ganti baju dulu kak. Kak Gesa sekarang bisa keluar."


"Nanti aku minta tolong pegawai butik aja." Lanjut Aira cepat bermaksud menghindar dari pertanyaan Gesa.


Tanpa menjawab pernyataan Aira, Gesa keluar begitu saja dari ruang ganti dan menyuruh salah satu pegawai butik untuk masuk membantu Aira.


Gesa mengusap wajahnya kasar, "Kenapa gue bisa segila ini sih sama Aira? Apa karena rasa cinta gue yang udah dalem banget dan bikin gue bucin sama dia."


"Kalo gue nggak bisa bareng sama Aira, gue bersumpah nggak akan ada cowok lagi yang berani deketin Aira selain gue."


"Apapun caranya Aira harus tetap sama gue, hidup bahagia sama gue dan cuma dia yang akan jadi ibu dari anak-anak gue." Final Gesa kemudian dengan mengepalkan tangannya.


...🔥🔥🔥...


"Kenapa kita nggak langsung pulang aja kak?"


"Lagian juga aku nggak laper." Lanjut Aira kemudian.

__ADS_1


Setelah selesai dengan acara pembelian baju di butik untuk perayaan ulangtahun Nayla, Gesa sengaja mengajak Aira mampir di sebuah restoran bintang lima dan akan bertanya penting disana.


"Lo nggak laper tapi anak kita yang laper. Udah mau makan apa? Disini enak-enak tau makanannya, mana murah lagi."


Murah kata Gesa tapi tidak dengan Aira. Gesa bukan kelas Aira yang sederhana.


Gesa selalu berpenampilan elite serta berkelas kemanapun ia pergi. Jadi, sangat tidak mungkin jajanan Gesa diluar rumah itu tidak mahal.


Itulah yang ada di pikiran Aira.


Sedangkan Gesa sendiri sudah sedikit-sedikit memahami karakter Aira yang sederhana dan apa adanya. Tidak memandang harta dan apapun materi lainnya.


Gesa mengatakan murah hanya ingin Aira makan tanpa memikirkan harga dan makanannya bagaimana. Kebutuhan Aira serta calon anaknya tercukupi itu sudah merupakan bahagia tersendiri untuk Gesa mulai saat ini.


"Kalo nggak murah awas aja ya, aku nggak mau makan disini." Jawab Aira kemudian bersamaan dengan membuka daftar menu yang diberikan Gesa.


Mata Aira melotot tidak percaya saat melihat daftar harganya, "Ini siomay apaan kak harganya seratus ribu lebih? Orang di luaran aja sepuluh ribu dapet seabrek."


"Teh manis juga lima puluh ribu, ya tuhan ini sama aja pembodohan tau nggak kak." Lanjut Aira yang membuat Gesa terkikik geli.


"Emang segitu sayang kalo disini. Anggap aja kita bayar pajak juga karena tempat restoran ini yang tidak begitu besar."


"Tidak begitu besar itu buat kak Gesa tapi nggak buat aku.. Ini tempat besar banget malahan." Sahut Aira cepat.


Gesa menatap mata Aira lekat, "Lo tau Andre kan?" Tanya Gesa tampak ragu dengan Aira.


Aira menganggukkan kepalanya, "Tau kak, sahabat kak Gesa yang tinggi itukan. Tapi yang bukan ketua osis di sekolah."


"Hemm.. Menurut lo dia gimana?" Tanya Gesa lagi untuk memastikan bahwa Aira tidak tertarik dengan Andre dan Andre tidak akan bisa merebut Aira dari dirinya.


Aira yang mendapat pertanyaan tersebut hanya mengerutkan keningnya bingung. "Gimana apanya kak? Yang gimana apanya?"


"Ya menurut lo dia itu gimana orangnya? Dari penampilan, sifat, sikap dan tutur kata atau lainnya apa gitu."


"Oh itu.." Jawab Aira mulai faham lalu menatap vase bunga yang ada di depannya dengan membayangkan perlakuan Andre tepat di depan Gesa.


"Kak Andre kayaknya baik juga ramah. Aku belum pernah bertegur sapa sama dia kak tapi aku pernah bikinin minum kak Andre sama kak Jefri juga."


"Kalo seandainya kita cerai nih Ra, lo mau nikah sama Andre?" Tanya Gesa dengan ragu sekaligus tidak sanggup untuk membayangkan semuanya.


Mata Aira melotot kaget saat mendengar pertanyaan Gesa, "Ya nggak lah kak. Aku nggak akan kayak gitu.. Lagian juga aku nggak suka sama kak Andre apalagi cinta."


Gesa tersenyum bahagia mendengar jawaban Aira yang semakin membuatnya yakin untuk mempertahankan Aira ke depannya.


"Terus sekarang yang lo sukan siapa? Yang lo cinta siapa?"


"Apa karena itu lo belum kasih jawaban atas cinta gue ke lo?" Lanjut Gesa kemudian tanpa basa-basi pada Aira.


Aira hanya menundukkan kepalanya sedangkan Gesa tanpa keraguan mulai mengulurkan tangannya ke atas meja lalu mengusap lembut jemari Aira.


"Gapapa Ra nggak usah nunduk kayak gitu. Gue sadar diri atas semua masalalu gue yang nggak akan lo terima gitu aja dan mungkin juga lo masih beranggapan kalo gue sama kayak dulu.."


"Tapi semenjak ada calon anak kita, gue udah memutuskan semuanya kok.. Gue udah berfikiran mateng banget buat habisin sisa hidup dan nafas gue sama lo."


"Apapun rintangan dan halangannya ke depannya nanti, gue mau hadepin sama lo. So, gue akan nunggu lo serta jawaban lo.. Apapun jawabannya akan gue terima." Ucap Gesa menjelaskan pada Aira dengan tulus dari dalam hatinya.


"Gue juga sadar kalo gue orangnya rumit. Jadi ya wajar aja lo rag-"


"Lafyu kak." Ucap Aira tiba-tiba yang membuat Gesa tidak melanjutkan bicaranya karena kaget.


"L-Lo bilang apa?" Tanya Gesa meyakinkan pendengarannya.


"Aku mau hidup sama-sama kak Gesa. Besarin anak kita berdua hingga tua dan aku mau hadepin rintangan maupun halangan hidup sama kak Gesa."


Tidak mau menunggu apapun lagi dan menghirukan keadaan sekitar, Gesa dengan cepat berdiri dari duduknya lalu menggendong dan memutarkan badan Aira dengan bahagia.


"Demi apapun gue seneng banget di terima sama lo."


"Cinta sekaligus sayang yang melipah buat lo sayangku cintaku." Lanjut Gesa gemas bersamaan dengan menciumi pipi Aira.


Gesa menatap lekat-lekat mata Aira, "Enggak deh kayaknya ada yang salah."


"Apa kak?"

__ADS_1


"Cinta sekaligus sayang yang melipah buat kamu, istriku sayangku cintaku." Jawab Gesa cepat lalu mengecup lama bibir Aira tepat di keramaian restoran bintang lima tersebut tanpa sedikit pun rasa malu.


__ADS_2