
Tak lama kemudian pesanan kami datang, Mas Ayden segera melahap makanan nya, dan aku masih sibuk dengan alam bawah sadar ku.
Yah... rasa bersalah dan penyesalan itu tidak dapat aku sembunyikan dari nya.
"Ini makanan favorit kamu, tapi untuk pertama kali nya aku melihat kamu tidak berselera, rasanya aneh :) "
Iyah dulu... tepat nya sebelum hari ini, aku selalu bahagia datang ke tempat ini, aku juga tidak pernah bersikap jaim saat makan, aku selalu bersikap apa ada nya dengan makan memakai tangan serta lahap, bahkan Mas Ayden selalu mengatai ku, kata nya aku seperti orang tidak makan selama tiga hari, kemudian di susul oleh tawa renyah nya di akhir kalimat.
"Hm... maaf, tapi... sebaiknya aku pulang"
"Kita pulang, setelah kamu selesai makan?!"
"gimana kalau makanan nya di bawa pulang aja?" usul ku, sebab aku benar-benar tidak nafsu untuk makan.
"makan di sini atau enggak pulang?!" jawab nya tegas, tidak mau di bantah.
Aku terdiam. Hah, bagaimana aku bisa melupakan kamu dengan sikap yang menurut aku baik, tegas, dewasa, berwibawa, berkarisma, di segani, di hormati dan di sayangi. Buat ku kamu itu selalu perhatian dan romantis tentunya dengan cara nya tersendiri.
"kamu kenapa ? kamu kan udah janji mau jadi teman ku, Dan aku mau kamu bersikap seperti biasanya, Nareta yang ceria dan selalu bahagia".
"Hem? kamu kenapa baik banget sih ? aku jadi gak rela kehilangan teman sebaik kamu :) "
Malam itu malam terakhir kita tertawa, bercanda bersama, di tempat favorit kita, yang kemudian akan menjadi sejarah yang tak akan pernah terlupakan.
Seperti janji nya di awal, Mas Ayden mengantarku pulang, dan di sepanjang perjalanan kita kembali berbagi kebahagiaan.
Andai saja kalimat fatal tadi pagi tidak pernah terucap dari mulut ku, mungkin saat ini kita sedang merencanakan cara mendapatkan restu dari Bapak. hehh . . .
waktu berjalan begitu cepat, kita sampai di depan kosan ku, dan saat mesin mobil ia matikan, dengan perlahan aku membuka seatbelt. Iyah aku menunggu dia menghentikan pergerakan ku, atau aku saja memberanikan diri untuk menawarkan segelas teh hangat di cuaca yang dingin ini. Tapi kalimat yang mampu ku ucapkan hanyalah ungkapan... "Terima kasih untuk traktiran nya, tumpangan nya dan canda tawa nya" tutur ku dengan tulus.
__ADS_1
"Sama-sama :) cepetan masuk?!" nada suara nya lembut tapi tegas tapi juga sweet. Ahh aku semakin tak rela kehilangan nya, kau tahu perhatian mu ini yang selalu membuat ku bersemangat untuk menyambut hari esok.
"iyah" Aku masuk ke dalam kosan, setelah kembali ia menyalakan mesin mobil dan melaju perlahan, aku segera kembali keluar ingin memastikan bahwa semua ini memang benar. Dan yahh... begitulah kisah cinta ku dan Mas Ayden berakhir.
***
Setelah kejadian hari itu. Aku, Mas Ayden dan Tania kembali ke tugas masing-masing, jika di pikir-pikir sikap Mas Ayden kini lebih-lebih perhatian, ketimbang kemarin-kemarin saat kita menjalin hubungan. Dan sudah dua hari pula sikap dan tingkah nya selalu saja membuat aku terkagum-kagum, belum lagi kini Mas Ayden selalu berhasil membuat aku tertawa, aku merasa lebih bahagia dengan status baru sebagai "Teman". Begitupun dengan Tania, rasa nya tidak ada yang harus di ributkan atau pun di rebutkan.
Ku ketuk pintu ruang kerja nya perlahan, tidak ada sahutan, aku memberanikan diri untuk sedikit membuka pintu itu, terlihat Mas Ayden masih berkutat dengan berkas-berkas nya, pantas saja dia tidak menyaut. Sementara aku sudah waktu nya pulang.
Mungkin perbedaan yang amat terasa antara dulu dan sekarang adalah saat pulang kerja, di mana dulu aku punya alasan kuat untuk menunggu dia menyelesaikan pekerjaan di ruangan nya, tetapi sekarang jika aku bersikap demikian dengan status teman rasa nya itu terlalu berlebihan.
"Hey? Sedang apa ? kenapa ?". Aku tersenyum kikuk saat tertangkap basah memperhatikan nya.
"Eh, aku mau pamit pulang" seketika dia melihat arloji nya, lalu dia menutup berkas-berkas nya.
jujur saja aku sedikit terkejut dengan penuturan nya, ini memang bukan pertama kali, tetapi saat ini kehadiran ku di hidup nya jelas sudah bukan lagi prioritas bagi nya, tapi kenapa aku merasa dia menspesialkan ku, atau apa ini hanya perasaan ku saja ?
"Ta ? ayok ". Aku tersentak dengan panggilan nya, tanpa ku sadari Mas Ayden sudah ada di samping ku dengan senyum manis nya dan memandangiku yang tengah melamun.
"Hah? Oh, Iyah"
"Hem, ngelamunin apa sih ?" sembari berjalan beriringan.
"Heh, ada deh... kepo" jawabku sembari tertawa, yang kemudian Mas Ayden terus mencoba mengorek-ngorek hingga kita sampai di lobi kantor. Aku dan Mas Ayden masih sama-sama saling melempar canda tawa, lalu datanglah seorang pria.
"Nana?!"
Dan tiba-tiba saja pria itu memanggil nama ku, Nama panggilan yang hanya sebagian kecil orang yang tahu. Bahkan saat aku minta Mas Ayden untuk memanggil ku dengan sebutan "Nana" dia enggan menuruti ke inginan ku, lalu dia orang yang baru mengenal ku, berani-berani nya memanggil ku dengan sebutan itu.
__ADS_1
tapi bukan nya aku yang marah justru sebalik nya,
mata nya menyala, deru nafas nya memburu, dia berjalan menghampiri ku, tanpa ada sepatah kata pun dia memegang pergelangan tangan ku dengan kasar, dan mengajak aku berjalan setengah berlari tanpa ku tahu, apa yang sebenar nya terjadi.
Sementara Mas Ayden tidak bertindak apapun, yang ia lakukan hanya melihat ku di giring pergi oleh pria.. calon suami ku yang tidak sedikit pun aku cintai.
***
Aku tahu dia calon suami ku, tapi saat ini.. dia tidak memili hak atas diri ku, toh aku masih belum bilang "IYAH" kan. Aku berusaha melepaskan diri dari pergelangan tangan nya.
"Aw, sakit.. lepas!". Tapi dia menghiraukan ku.
"Apa sih yang kamu mau ?". Aku masih mencoba bersabar dan bersikap baik, tapi dia masih menghiraukan ku, hingga akhir nya kita sampai di basement.
Dia segera melepaskan genggaman tangan nya dari ku, namun setelah itu ia kembali memerintah ku, dengan suara khas bariton.
"Masuk !"
Ada rasa kesal bercampur takut, aku terdiam sejenak memikirkan bagai mana baik nya.
"apa kamu tuli? aku bilang Masuk!".
"Heh, Apa? apa baru saja kamu bilang aku tuli?"
"Syukurlah kalau kamu tidak tuli, maka seharus nya kamu segera masuk mobil !". Dia meninggalkan ku yang masih mematung tak percaya akan kalimat yang baru saja aku dengar.
Heh, yang benar saja.. pria seperti ini yang akan menjadi suami ku ?
Next?
__ADS_1