
Hari berganti hari, Aksa tumbuhan dengan sangat baik, meskipun selama satu tahun itu aku dan Aksa mengalami berbagai pase kehidupan, kadang kala sakit, bahagia atau kecewa, akan dunia yang penuh dengan drama ini.
Tapi... beruntunglah aku dan Aksa berhasil melewati itu semua, terbukti dengan Ayden yang kini mulai menyerah untuk mendapatkan Aku dan Aksa, perlahan namun pasti kini Ayden mulai membuka hatinya untuk wanita lain, meskipun memang belum sepenuhnya.
Jika ada peluang, kadang kala Ayden masih suka merayu, berusaha meyakinkanku. Tapi... lagi-lagi jawabanku akan tetapi sama, untuk saat ini aku tidak ingin menjalin sebuah hubungan apalagi pernikahan.
Sementara itu Ayden yang sudah berkepala tiga akan terus di desak oleh ibunya untuk segera menikah dan memiliki keturunan.
Iyah, Ibu Ayden sempat datang menemuiku, dia sampai memohon padaku untuk mau menjadi istri dari Ayden, tapi... sebuah pernikahan bukanlah ajang menolong tapi harus di dasari oleh keinginan dan kesiapan jangan sampai aku menjadi Janda untuk ke dua kalinya, Amit-amit, batinku.
Sudah ku jelaskan berulang kali kepada Ayden, bahwa aku tidak bisa menjadi istrinya, dan sudah ku yakinkan pula kepada Aksa bahwa aku tidak akan menikah tanpa restunya.
Iyah, orang yang paling sensitif mendengar kalimat menikah itu sebenarnya Aksa, dia tidak ingin sosok Ayahnya tergantikan oleh pria manapun, apalagi jika pria itu Ayden.
Entah kenapa dia begitu, padahal aku sudah memberikan penjelasan panjang lebar, bahwasanya Ayden adalah pria baik-baik, tetapi ternyata tidak cukup baik di mata Aksa, anak kecil yang kadang kala selalu di berikan keistimewaan itu memang teramat peka, berbeda sekali dengan Ayahnya yang berhati dingin dan anti sosial.
Aksa merupakan anak yang cerdas, berjiwa sosial tinggi, jika persoalan tampang jangan di tanya lagi, dialah juaranya.
Oiya hari ini Aksa mulai masuk sekolah Paud-Tk di Yusman Internasional school Jakarta.
Bagaimana, Aksa begitu tampan buka?
Usianya memang baru tiga tahun tapi... tolong jangan di anggap remeh yah, Anak Zaman now memang berbeda dari kita yang lahir di tahun 90han. Haha...
Aksa sudah bisa memberikan pendapatnya di muka umum, Aksa seringkali mendapat piagam, bahkan mendali atas keikutsertaannya dalam lomba-lomba, ntah itu menggambar, berpidato, atau menulis puisi, cerdas cermat dan lain sebagainya. Tapi tidak di bidang pendidikan saja, Aksa juga unggul di bidang Rohani, Aksa sangat cepat menghafal Al-Qur'an yah meskipun masih surat-surat pendek.
Hari terus berganti hari, Jujur saja banyak yang mengatakan aku dan Junot adalah orang tua yang berhasil akan mengurus dan mendidik anak, tapi yah... tidak dengan pernikahannya, banyak yang menyayangkan kenapa aku harus bercerai dengan Junot.
Tapi itu kan bukan keinginan ku, dan... yah mungkin karena memang sudah takdir. Meskipun begitu Aku maupun Junot tidak ada yang menjalin suatu hubungan lagi dengan lawan jenisnya masing-masing, setahuku Junot sedang sibuk dan asik dengan dunianya sendiri.
Berbagai pekerjaan ia lakukan, dari pagi sampai pagi lagi ia terus bekerja, kadang kala ia sampai lupa akan makan, mandi, tapi beruntungnya ia tidak pernah lupa akan Aksa.
Kemanapun Aksa pergi maka Junot akan meluangkan waktu berharganya untuk selalu ada di samping Aksa. Ia Aku dan Junot memang sudah saling bersepakat di hari-hari terpenting dalam hidup Aksa kita harus selalu ada untuknya tidak peduli dengan urusan lain.
__ADS_1
Sama seperti hari ini...
Akhirnya... hari ini Aksa di wisuda, ia menjadi Murid teladan di Yusman internasional school Jakarta. Aku dan Junot duduk bersanding di bangku yang telah di sediakan.
Saat Nama Aksa Abraham di ucapkan sebagai anak teladan dengan predikat terbaik, Ahh... ntah apa yang harus aku ucapkan... rasa syukur kepada Allah SWT tak dapat terkira.
Nikmat mana lagi yang engkau dustakan? Nareta.
Yah... Aksa naik ke podium yang telah di sediakan, untuk mengucapkan satu atau dua patah kata, yang di saksikan oleh jutaan pasang mata tertuju padanya, mulai dari teman-teman sebayanya, adik tingkatnya, guru-gurunya, orang tua murid, sampai tamu khusus Yusman Internasional school Jakarta.
Dan yah kebetulan Bunda dan Ayah merupakan Donatur di sini, begitu juga Kak Juwita dan Mas Marsel maka beruntunglah kita dapat melihat secara langsung penampilan Aksa pada hari ini, sebab tamu dari luar yang tidak berkepentingan tidak dapat masuk.
Setelah acara wisuda selesai, sebagai bentuk rasa syukur maka Bunda dan Ayah mengadakan acara makan malam di hotel mewah bintang lima di salah satu Jakarta.
Dan di sini ada keluargaku juga yang sudah menunggu sedari tadi bersama Akbar dan Zahra. Tidak hanya keluarga inti tapi juga Ayah-ayah sambung Aksa juga ikut hadir.
*note
Ayah sambung itu adalah tiga kawan Junot, siapa lagi jika bukan, Akram, Bagaskara dan Zain.
Semua orang ikut senang melihat keberhasilan Aksa. Tapi... tak pernah ku pikirkan sebelumnya, ternyata di sinilah Aksa ingin membicarakan sesuatu hal yang penting di depan semua orang yang menurutnya keluarga.
Kebahagiaan seketika berubah menjadi kesedihan untukku pribadi. Seperti tersambar petir di siang bolong.
Aksa menyampaikan niatnya untuk...
"Mah dan semuanya kecuali Ayah". Ucap Aksa menatap satu persatu wajah kami dan yang terakhir adalah Junot kemudian kembali kepadaku.
"Terima Kasih telah melahirkan Aksa yah Mah, terima kasih atas kehadiran semuanya di hari ini". Ucapnya lagi kemudian terdiam sejenak.
"Heh? hey kenapa? kok tiba-tiba ngomong kek gitu?". Tanyaku yang seketika terasa aneh.
"Hah...". Kemudian Aksa menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan namun terlihat gusar.
"Hey? kenapa sayang?". Tanyaku lagi.
__ADS_1
"Maafin Aksa Mah, karena gak minta pendapat Mamah". Ucapnya sembari menundukkan kepalanya.
"Hah? mengenai apa?". Tanyaku lagi penasaran.
"Aksa akan sekolah di luar negeri Mah".
"APA?".
Iyah, satu kalimat itu berhasil membuat aku terkejut, bukannya aku tidak setuju atau tidak bangga, karena aku tahu sekolah di luar negeri tidaklah mudah, akan tetapi.. satu hal yang ada di benakku saat mendengar kalimat itu adalah ... Aku dan Aksa akan berpisah berkilo-kilo mil
Padahal jarak dari apartemenku ke rumah Bunda saja bagiku itu sudah amat sangat jauh
... dan berat rasanya, aku tidak setiap hari dapat bertemu Aksa, apalagi sekarang ini, pikirku.
"Mah? it's okay?".
"Heh?".
"Aku tahu Mamah pasti terkejut, dan yang lainnya juga, tapi Aksa mohon...".
"Kamu udah tahu Mas?". Tanya Nareta kepada Junot, sebab dari yang lain wajah Junotlah yang terlihat biasa saja.
"Hah? Aku... Ah.. Iyah aku udah tahu". Jawab Junot pada akhirnya.
"No, jangan salahin Ayah, Ayah awalnya juga gak tahu kok, aku... dua Minggu yang lalu aku iseng-iseng coba daftar ke Eton College Inggris, aku kira aku gak akan keterima... eh ternyata aku keterima dan dua hari yang lalu Ayah juga baru tahu".
"APA? Eton College Inggris?".
"Emmm... Ehe".
"Enggak cuma di Eton College Inggris Aksa juga keterima di United World College of South East Asia, Singapura". Ujar Junot.
Yap, semua orang terkejut dengan pernyataan Junot barusan, tidak terkecuali Ayah dan juga Bunda.
Yah meskipun Aksa tinggal bersamanya setiap hari, tapi... mereka tidak pernah menyangka, bahwa Cucunya sejenius itu.
__ADS_1
Next?