
Zain dan Bagaskara segera pergi ke rumah Junot, dan benar saja saat tiba di sana, ketuban Nareta sudah pecah. Akhirnya mereka bertiga segera pergi ke rumah sakit tempat biasa Nareta check-up.
Sementara itu Junot tidak dapat berpikir dengan jernih yang ada di pikirannya hanya pulang dan menemui Nareta secepatnya. Junot segera pergi ke bandara dan meminta Alex untuk membeli tiket untuk pulang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 09:00 WIB Junot tiba di Bandara Soekarno-Hatta dan segera di sambut oleh Bagaskara dan Zain sementara itu di rumah sakit Juwita, Bunda, Ayah dan Mas Marsel tengah menunggu cemas. Sementara keluarga Nareta sedang di perjalanan dari Bandung menuju Jakarta.
Junot benar-benar tidak dapat berpikir apa-apa, satu hal yang pasti ia merasa bersalah terhadap Nareta, bagaimana tidak di saat Nareta tengah mempertaruhkan hidup dan matinya, Junot malah asik tidur bersama wanita lain.
"Aku minta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi?". Tutur Aqila pada Akram.
"Seperti apa yang telah kamu dengar, Junot sudah menikah dengan wanita lain ia bernama Nareta dan saat ini ia tengah hamil, bahkan detik ini ia sedang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anak dari Junot".
"Heh, ini gak mungkin, kamu sedang berbohong bukan?". Elak Aqila meskipun ia tahu apa yang baru saja ia dengar adalah kenyataannya.
"Maafkan aku! tapi inilah kenyataannya".
"Lalu sekarang bagaimana dengan aku? aku telah melakukan segala hal mustahil untuk Junot, Aku harus pergi ke Jakarta sekarang juga, dan meminta pertanggung jawaban".
"Kumohon berhenti di sini Aqila! aku tahu kamu terluka tapi Nareta akan lebih-lebih lagi terluka, bukankah kalian sama-sama perempuan?".
"Heh, lalu aku harus berdiam diri saja, setelah di campakkan, setelah apa yang telah aku berikan pada Junot".
"Aku mengerti jika kamu sakit hati, maka cacimakilah aku! karena penyebab semua ini adalah aku, andai saja saat itu aku tidak mengenalkamu pada Junot mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi".
"Enggk, ini semua salah wanita itu".
"Tidak! ini semua tidak ada hubungannya dengan Nareta dia wanita baik-baik dan dia tidak tahu apa-apa akan semua masalah ini, maka buang semua hal buruk yang akan kamu lakukan terhadapnya".
"Heh? jadi sekarang kamu lebih membela dia? wanita yang bernama Nareta itu? apa hebatnya dia?".
"Dia tidak ada tandingannya, wanita yang tidak pernah marah, tidak pernah bersedih apalagi mengeluh".
"Berisik! aku gak mau dengar apa-apa lagi tentang wanita itu". Aqila marah dan pergi entah kemana.
__ADS_1
***
flashback
*Hari dimana Akram ke Hongkong
Aku benar-benar marah terhadap Junot, bisa-bisanya dia menikah di saat masih berstatus sebagai pacar dari Aqila, menurutku itu tidak masuk akal. Jika memang tidak dapat membantah akan keinginan kedua orang tuanya maka dia harusnya melepas Aqila, bukannya sok menjadi anak berbakti tapi brengsek dengan melukai hati wanita lain.
Aku tiba di depan pintu apartemen Aqila, saat ingin menekan bel, tiba-tiba saja seorang pria keluar dari pintu kamar Aqila, aku segera bersembunyi di balik pintu, kulihat dari celah pintu Aqila bermesraan dengan pria itu. Apa yang sebenarnya terjadi? apa yang sebenarnya tidak aku ketahui?
Apa mungkin Aqila berselingkuh dari Junot? sejak kapan? tapi rasanya tidak mungkin, Aqila begitu mencintai Junot rasanya mustahil Aqila berselingkuh. Tapi jika memang benar maka selama ini ... Aish... brengsek, kenapa gua bodoh banget sih dan selama ini gua ada di pihak yang salah.
***
*Hari dimana Akram bertemu Nareta
Kebetulan perusahaan ku dengan perusahaan Ayden bekerja sama tapi sepertinya Nareta tidak mengingatku. Jujur saja saat pertama kali aku melihatnya aku sempat terpikat oleh senyumnya oleh tutur katanya yang santun, sopan dan berwibawa terlepas aku ini adalah klien atau bukan, sebab kulihat Nareta memang baik, ramah dan suka tersenyum kepada semua orang salah satunya OB, Satpam dan pegawai kantor lain yang jabatannya lebih rendah sekalipun dari dirinya.
Flashback off
***
10 menit kemudian Dokter keluar dari ruang bersalin.
"Dok apa yang terjadi? Nareta baik-baik saja bukan?"
"Iyah, Istri anda saat ini sudah melewati masa kritisnya, dan sudah bisa di pindahkan ke ruang inap".
"Alhamdulillah, terima kasih Dok".
Semua orang bahagia terutama Bunda ia menangis tak henti sembari mengucap syukur, tak lama kemudian Bapak, Ibu dan Nadim datang ia segera menanyai kabar dari putri dan cucu pertamanya.
"Bagaimana keadaan Nareta? apa semua nya berjalan lancar?"
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan kondisi cucu nya?"
"Alhamdulillah Pak, Bu kondisi Nareta sudah bisa di pindahkan ke ruang inap, sementara kondisi bayi nya sedang di bersihkan".
"Syukur Alhamdulillah, MasyaAllah". Ibu juga menjadi ikut menangis tak terkendali.
Sampailah di momen yang tak bisa ku lupakan hingga akhir hayat, ia aku berkesempatan untuk mengadzani telinga sebelah kanan anakku, dan komat di telinga sebelah kirinya, rasa haru tak dapat ku tahan lagi sebutir cairan bening berhasil keluar dari pelupuk mataku.
Selesai melakukan tugas pertama sebagai seorang ayah, aku segera keluar ruangan untuk segera melihat keadaan Nareta, Istri dan Ibu dari anakku.
Kulihat wajahnya yang teduh, ku hampiri dan duduk di kursi yang telah di sediakan, sembari memegang tangannya.
"Aku kini telah menjadi Ayah berkatmu, terima kasih sayang".
"Sayang, Aksa sedang menunggu kamu menjenguknya, kamu cepat bangun yah jangan terlalu lama istirahatnya".
"Sayang maaf...". hanya kata maaf yang mampu keluar dari mulutku. Meskipun aku tahu rasanya tak adil, aku hanya mementingkan akan kebahagiaan diriku sendiri, maaf aku tidak akan mengulanginya lagi, kini tidak hanya Nareta yang akan terluka tetapi juga Aksa, dan jika ada apa-apa kepada mereka berdua akulah orang pertama yang harus di hukum atas keegoisanku sehingga menyebabkan mereka terluka dan menderita.
sebab lambat-laun semua kebohongan atas dosa-dosa ku akan terungkap dan saat hari itu tiba aku harus menerima konsekuensi seburuk apapun itu.
Namun jika Nareta berbaik hati bisa memaafkan semua kesalahanku, aku akan berjanji tidak akan pernah mengecewakannya lagi, tidak akan ku biarkan sebutir pun air mata keluar dari kedua matanya yang indah itu.
Tiba-tiba saja sebuah suara lemah lembut membuyarkan semua pengakuan atas dosa-dosa yang telah Junot lakukan.
"Suami? bagaimana keadaan anak kita?"
"Dia baik-baik ajakan?" pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulutnya yang pucat.
"Sutt... kata Dokter kamu harus banyak istirahat!".
"Tapi, bayi kita mana? anak kita baik-baik ajakan?".
"Junot? jawab?! dimana anak kita?".
__ADS_1
bersambung....