
"Katakan apa yang kamu inginkan?".
"Heh? gak ada".
"Hah? Yakin?".
"HM, apa yah ? apa dong?".
"Yah terserah kamu!".
"Apa aja?"
"HM apa pun".
"Aku mau makan mie".
"Hah? mie?"
"Iyah, aku pengen banget makan mie tapi gak boleh sama kak Juwi, Bunda juga".
"Haha... hanya itu?"
"Iyah, kenapa? kok kamu malah ketawa". Ucapku cemberut.
"Heh, Iyah maaf-maaf, Ehemm... Iyah boleh kok sepuasnya kamu boleh makan mie".
"Serius? kalau kak Juwi atau Bunda marah kamu yang tanggung yah?".
"Iyah". Setelah mendapatkan persetujuan dari Junot, Nareta segera membuat mie instan cup. Dan Junot dengan setia menemani Nareta membuat mie sampai ia melahapnya dengan sangat bahagia.
"Hah? Asik... mie nya udah jadi, makasih yah papah". Ucapku sedikit malu.
"Heh... sebahagia itu kamu mau makan mie? Iyah sama-sama sayang, selamat menikmati makan malamnya, sehat selalu". Junot terus menatap Nareta hingga lupa untuk berkedip.
"Hehe iya dong, eh besok kamu pulangkan?.
"Iyah". Ucap Junot singkat.
"Ya udah, kamu istirahat gihh?!". Ucapku dengan tulus tanpa ada maksud apa-apa.
"Hem, Iyah, sampai ketemu besok?!".
"Hem". Sambungan telephon pun terputus.
***
*)Dua jam sebelumnya...
"Alex, meeting hari ini sampai jam berapa?"
"Sampai pukul 18:30 Pak".
"Heh? kalau begitu tolong pesankan tiket ke Jakarta malam ini juga".
"Tapi Pak? bukannya kepulangan Bapak seharusnya besok pagi yah?".
"Iyah, tapi saya ingin pulang lebih cepat".
Hah? apa yang aku harapkan? ku kira Nareta akan meminta aku untuk segera pulang, ternya dia hanya menginginkan sebuah mie instan. Hehh...
***
*)Bandara
"Tiket Penerbangan Bali - Jakarta sudah ada di genggaman, yang menunjukkan pukul 20:20, sementara itu sekarang baru pukul 19:30, Hah ok... aku harus menunggu". Batinku.
__ADS_1
"Junot?"
"Heh?"
"Ya ampun, kok bisa sih kamu ada di sini?". Ucap seorang wanita kegirangan sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya tak percaya.
"Heh? kamu sendiri kenapa bisa ada di sini?" Ucap Junot heran tanpa ekspresi berarti.
"Aaa... I Miss You!". Ucap wanita itu sembari merentangkan kedua tangannya ingin memeluk.
"Kamu gak kangen sama aku?". Ucapnya merengek.
"Aku gak habis pikir, kenapa kamu ada di sini?".
"Heh? aku... aku baru saja datang dari Hongkong sayang, kamu gak kangen aku, Hah?".
"Tentu saja tidak, orang yang saat ini aku pikirkan hanya Nareta, Nareta dan Nareta". Batinku.
"Sayang? kok kamu diem aja? aku lagi ngomong sama kamu loh".
"Heh? Ah Iyah, tapi... bukannya belum ada satu bulan lalu kamu baru aja pulang?".
"Heh, Iyah... ceritanya panjang sayang, intinya... aku memutuskan untuk berhenti kuliah".
"APA?". kali ini suaranya sedikit meninggi, Junot benar-benar terkejut.
"Iyah". Ucap Aqila sembari tersenyum.
"Why?". Tanya Junot dengan kerutan di dahi nya.
"Yah, aku... aku gak bisa jauh dari kamu sayang". Ucap Aqila dengan nada bicara manja.
"Heh... Ayolah Aqila kita ini bukan lagi anak remaja, bukankah ini yang selama ini kamu mau? kuliah di luar negeri dan menggapai semua keinginanmu, tanpa pernah memperdulikan perasaanku?".
"Maksud kamu apa?"
"Heh? kamu ngomong apa sih? aku gak ngerti".
"Intinya, Aku minta kamu balik lagi ke Hongkong!".
"Apa? heh... apa aku gak salah dengar? kamu minta aku balik ke Hongkong? orang lain itu akan seneng pacarnya pulang, pasangan lain itu bakalan bahagia pacarnya lebih memilih kekasihnya di banding mimpi-mimpinya, sementara kamu? malah ke balikan nya, aneh". Ucap Aqil sedikit kesal.
"Iyah, aku akan sangat bahagia andai saja satu atau beberapa bulan yang lalu, hal ini terjadi". Batinku.
"Kamu kenapa sih diem aja? Hah?".
"Heh, jadi sekarang, kamu mau aku berbuat apa?".
"Aku mau 24 jam selalu ada di samping kamu".
"Apa?". Heh, itu hal yang gak mungkin terjadi, kamu jangan mimpi. Batinku.
"Hem? kenapa diem lagi?".
"Heh? kamu sepertinya mengalami beberapa kesulitan, lebih baik... sekarang kamu cari penginapan dan istirahat!".
"Heh? aku? mengalami kesulitan?".
"Iyah".
"Iya? heh... Iyah aku mengalami berbagai macam kesulitan, dan itu semua gara-gara kamu!". Ucap Aqila seperti orang linglung kurang kesadaran.
"Duduk! Ayo!". Perintah Junot.
"Alex, kamu bisa tolong ke alamat ini sekarang juga ?!".
"Baik Tuan". Ucap Alex selalu siap siaga.
__ADS_1
Sembari menunggu Alex datang Junot dan Aqila duduk di sebuah mini bar tak jauh dari bandara.
***
*)Hotel
20:50 Jadwal pemberangkatan ku untuk pulang sudah terlewati 30 menit yang lalu, dan saat ini aku sedang berbaring di atas ranjang berselimutkan Aqila, Heh... apa yang terjadi?
Setibanya di hotel Aqila beraksi menerkam ku, selayaknya macan mendapatkan mangsanya, tak ingin lengah bahkan hanya satu detik saja.
Aqila benar-benar sadar, ia tidak sedang dalam pengaruh obat terlarang atau minuman beralkohol, hanya saja sisi lain dari Aqil memang beringas, dan aku sudah tahu sejak awal, hanya saja selama aku menjalin hubungan dengannya baru kali inilah Aqila menampakkan wujud aslinya padaku.
Terkejut? tentu saja, terlebih saat ini Nareta tengah berbadan dua, yang di sebabkan olehku, aku takut hawa nafsuku lebih kuat dari pada imanku sehingga bisa jadi mengakibatkan Aqila berbadan dua seperti yang saat ini tengah Nareta alami.
Semalaman Aqila terus memelukku dengan erat, tidak ada percakapan apapun yang terlontar, hanya deru nafas yang tak menentu dari kita berdua saling bertautan.
Hingga kita berdua terlelap dalam hening yang syahdu.
04:30 Sebuah panggilan masuk dari handphone genggam ku, kulihat nama yang terlihat pada layar "Istriku" aku segera mengambil handphone itu dan pergi ke luar balkon.
"Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam".
"Ada apa?".
"Suami, perutku sakit...".
"Apa? apa yang terjadi?"
"Aku gak tahu, sedari satu jam yang lalu aku terus pulang pergi kamar kecil".
"Dimana Kak Juwi? di sana ada Kak Juwi bukan?".
"Aku gak tahu aku udah panggil Kak Juwi tapi gak ada sahutan, AW... suami sakit banget... hik... hik". Ucap Nareta meringis.
"Oke, tunggi di sana! jangan kemana-mana ! aku cari bantuan!".
"Iyah, hik...hik..".
*)Berdering....
Tidak ada pilihan lain selain menghubungi salah satu dari ketiga kawannya.
"Lu dimana?"
"Apartemen Bagas" Ucap Zain dengan santai.
"Gua minta tolong bantuin Istri gua, sekarang juga! kayanya dia mau lahiran". Ucap Junot panik.
"Apa? Hah... oke". Ucap Zain singkat padat dan segera bergegas pergi.
"Apa barusan kamu bilang? Istri? apa aku salah dengar?". tiba-tiba saja Aqila datang dan mendengar percakapan Junot dengan Zain.
"Enggak! apa yang barusan kamu dengar itulah kenyataannya!".
"Heh, kamu bercanda yah? mau ngeprank? gak lucu tahu... udahan ah!".
"Aku serius! apa yang baru saja kamu dengar itu nyata! itu faktanya, maaf tapi aku harus buru-buru pergi, kamu berhak mendapatkan penjelasan tapi tidak sekarang". Ucap Junot terburu-buru tanpa jeda, sementara itu... Aqila masih terdiam membeku tak percaya atas apa yang baru saja ia dengar.
"Istri?"
"Junot sudah menikah?"
"Istri Junot akan melahirkan". Ucap Aqila berulang-ulang dengan lesu dan tak percaya.
Next?
__ADS_1
🙏 Taqobbalallah min'na waminkum, mohon maaf lahir batin.(1442/2021)