Aksa

Aksa
part 25


__ADS_3

Aku tengah tersenyum melihat betapa bahagianya Akbar dan Zahra bisa makan di restoran yang terbilang mewah ini, yang sebelumnya mungkin tidak pernah mereka bayangkan.


"Mau nambah lauknya?". Tanyaku pada Zahra, dan dia mengangguk namun di larang oleh Akbar.


"Zahra, gak boleh serakah! habisin dulu makanannya".


"Tidak apa Akbar". Seketika Zahra jadi murung mendapati teguran dari sang kakak.


"Kamu mau apa?". Tanyaku dengan lembut, namun Zahra sudah tidak lagi mau bicara.


"Hm, sudah Kak jangan di manjakan". Pinta Akbar, dan aku hanya mampu mengangguk.


"Ya udah, ayo di makan lagi yah". Tiba-tiba saja handphone ku berbunyi, dari nomor baru.


"Sebentar, Kakak angkat dulu telpon, kalian lanjut makan yah?!"


"Iyah Kak". Jawab keduanya bersamaan.


***


"Halo? maaf ini siapa yah?".


"Ini Mas Marsel dapat nomor kamu deri handphone Juwita". Ah iyah, hari pertama aku bertemu Kak Juwita kita sempat bertukar nomor handphone.


"Ah, iya Mas ada apa?"


"Sekarang juga, kamu bisa ke rumah sakit?". Seketika aku panik, orang yang pertama aku pikirkan adalah Bunda.


"Iyah Mas, sekarang juga aku kesana".


***


"Akbar, Zahra sekarang juga Kakak harus pergi, kalian gak apa-apakan Kakak tinggal?".


"Iyah, gak apa-apa kok Kak".


"Ini... kamu pegang uang ini, untuk kamu pulang jangan jalan kaki yah kasian Zahra dan nanti beli beberapa makanan di jalan, makanan ini udah Kakak bayar, kamu habisin makanannya gak usah buru-buru"


"Tapi Kak"


"Akbar ini rezeki dari Allah, jangan di tolak yah! Kakak pergi dulu, Assalamualaikum".


"Makasih Kak, Waalaikum'salam". Aku hanya tersenyum sebagai jawaban, lalu pergi menuju kasir.

__ADS_1


***


Tanpa pikir panjang aku segera membayar makanan yang tengah di lahap oleh Akbar dan Zahra, serta segera memesan ojol.


"Mbak Anis" aku membaca nama yang ada di name tag nya.


"Iyah Bu ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau bayar untuk meja nomor 017 yah, kembaliannya untuk mbak, dan saya mau minta tolong, pastikan dua anak itu menghabiskan makanannya yah!"


"Iyah makasih Bu". Aku segera keluar restoran dan kebetulan ojol pesananku baru saja datang.


Beruntunglah jalanan sudah tidak begitu macet, lagi pula saat ada macet driver nya sudah sangat lihai untuk segera menyalip. Hanya butuh 25 menit saja aku sampai di rumah sakit, aku segera berlari menuju ruang rawat bunda, di sana aku melihat pria yang biasanya tegap berwibawa menjatuhkan pundak lebarnya ke bawah, kuhampiri dia yang tengah tertunduk lesu, aku berdiri tepat di depannya.


Menyadari adanya kehadiranku akhirnya Junot menengadahkan wajahnya... "Nareta?". Tanpa di sangka air mata menetes di pipinya, aku menatapnya dengan sendu, dia segera menghapus air matanya.


Ada rasa pilu yang tidak dapat aku utarakan, tetapi gerak tangan ini membuktikan, bahwa aku ingin ada di sampingnya, bukan untuk menjadi pahlawan ataupun penghiburnya, karena ku yakin dia tidak membutuhkan hal itu. Aku menangkup kedua pipinya, ku katakan "It's okay, semuanya akan baik-baik saja!". Meskipun sebenarnya aku tidaklah yakin akan sekuat dia saat aku mengalami peristiwa yang serupa.


Dia menarik tubuhku, kini wajahnya sudah bersandar di perutku, kemudian suara tangisan yang tertahan mulai terdengar olehku.


"Aku takut...". Ucapnya pelan, nyaris tidak terdengar.


"Hey? tenanglah ada aku di sini". Tapi bukannya berhenti justru tangisannya malah semakin menjadi, dan yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah mengelus-elus rambutnya dengan lembut, meskipun memang tidak ada jaminan hal itu akan membuatnya sedikit lebih tenang tetapi tetap saja aku lakukan.


"Heh, iyah gak apa-apa". Jawabku dengan kikuk.


***


Akhirnya kita sama-sama duduk di bangku tunggu dengan perasaan gelisah, 30 menit kemudian dokter keluar, aku dan Junot segera bangkit menyambut kedatangan dokter.


"Dok, bagaimana keadaan Ibu saya?". Aku dan Junot menunggu jawaban yang terasa menegangkan, seperti pengumuman hasil ujian.


"Anda bisa ikut saya keruangan?!". Junot dan Dokter yang terlihat berbeda dari sebelumnya segera pergi menuju ruangan, sementara itu aku di tugaskan Junot untuk menjaga bunda.


***


"Jadi gimana Dok? Bunda saya kenapa?".


"Ibu anda mengalami masalah pada katup jantung dan harus segera mendapatkan tindakan serius"


"maksud Dokter?"


"Ibu anda harus segera menjalani operasi".

__ADS_1


"APA?"


"Iyah, jika tidak segera di tangani, di takutkan kondisi Ibu anda akan semakin memburuk".


"Lakukan apa pun yang terbaik untuk Bunda saya Dok! saya mohon".


"Baik, tapi kami memerlukan persetujuan operasi dari suami dari Ibu anda".


"Hm, untuk yang satu itu, gak bisa saya aja Dok?".


"Maaf Pak Junot, tidak bisa, karena saya dengar Ayah anda masih ada maka orang yang paling bertanggung jawab atas Ibu anda yah suaminya".


"Tapi Dok, Ayah saya sedang di luar kota".


"Hm, kalau begitu tolong segera di hubungi, karena ini sudah menjadi ketentuan di rumah sakit ini". Iyah, karena Dokter yang menangani bunda kali ini bukanlah Dokter pribadi keluarga kita, maka tidak heran jika orang yang saat ini ada di hadapanku, tidak memberikan sedikit keringanan.


"Baik, Dok. Terima kasih, saya permisi". Aku kembali terduduk lesu di kursi rumah sakit depan ruangan bunda, tak lama kemudian Nareta datang.


"Apa yang terjadi? Dokter bilang apa?". Aku tidak mampu berkata apa-apa, dan aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, tubuhku bergetar dan sekali lagi Naretalah yang ada di sampingku, menguatkanku dengan pelukan hangatnya selayaknya seorang Ibu kepada anaknya.


***


Aku keluar ruangan bunda, pirasat ku mengatakan Junot tidak sedang baik-baik saja, dan dia butuh seseorang di sampingnya, dan benar saja Junot tengah terduduk lesu. "Apa yang terjadi? Dokter bilang apa?". Tak ada jawaban apa-apa, tubuhnya bergetar berbarengan dengan suara isak tangis yang kembali tertahan.


tiba-tiba saja tubuhku bergerak secara refleks, di luar kendaliku dengan memeluk Junot, aku tidak lagi bertanya apa-apa, pada akhirnya kita sama-sama terdiam dalam keheningan, dan tiba-tiba saja suara isak tangis keluar dari mulutku, tak mampu lagi ku tahan.


"Gak perlu di tahan, nangis aja!". Ucapku sembari sesenggukan.


"Meskipun memang tidak membuat masalah begitu saja selesai, tapi dengan menangis rasanya sedikit melegakan". Ucapku meyakinkan.


"Menangis gak buat kamu lemah kok, justru dengan tidak menangisnya kamu di situasi seperti ini, aku meragukan rasa sayang yang kamu miliki untuk Bunda". Perlahan namun pasti akhirnya Junot menumpahkan rasa sedih dan air mata yang sejak tadi ia tahan, mengalir dengan deras tak tertahankan lagi.


"Aku akan melakukan apa pun untuk Bunda bisa kembali sehat". Ucap Junot penuh dengan tekad yang kuat.


"Iyah, dan aku akan selalu ada di sampingmu". Ucapku tepat di telinganya.


Iyah, aku tahu... menjawab pertanyaan malam kemarin di situasi seperti ini, memang tidak tepat. Tetapi tidak ada alasan lain lagi untuk aku menunda apalagi tidak menerima Junot sebagai suamiku, sebab beberapa detik lalu tiba-tiba saja aku teringat akan ucapan bapak.


Kata bapak kalau ada pria yang mencintai ibunya sedalam itu (*berani mempertaruhkan hidupnya untuk sang ibu), maka dia pun akan mencintai kamu sedalam itu, sama seperti dia yang menyayangi ibunya.


Lalu, wanita mana di dunia ini yang tidak ingin di cintai sedalam itu?


Next?

__ADS_1


__ADS_2