Aksa

Aksa
part 19


__ADS_3

Tiba-tiba saja Junot memberhentikan langkahku. "Em, gak ada maksud apa-apa, tapi sebaik nya kamu juga ikut pulang ke rumahku, Ibu dan Bapak juga pasti ingin melepas rindu dengan mu". Yang kemudian mendapatkan sebuah anggukan dari Ibu.


"Iyah, untuk beberapa hari ke depan, kamu mau yah?". Pinta Bunda dengan wajah teduh setengah memohon.


"Iyah, persoalan baju dan yang lain nya kamu gak usah khawatir, di kamar tamu udah Kakak siapin baju ganti dan yang lain nya khusus untuk tamu wanita, semua nya masih baru tapi sudah di cuci kok" Timpal Ka Juwita.


Yah, jika begini aku jadi tidak enak hati untuk menolak nya. Akhir nya aku mengikuti kemauan semua orang. Aku, Ibu, Bapak dan Junot pun berpamitan untuk pulang.


***


Aku duduk di kursi penumpang belakang bersama Ibu, sementara itu Bapak yang bertugas menemani Junot agar tidak di bilang supir. Haha ....


Di sepanjang perjalanan Bapak dan Junot tak henti-henti nya kehilangan topik, ada saja bahan untuk jadi pembicaraan, dari olahraga hingga politik, entah itu musik atau film, kedua nya terlihat sama, saling melempar pertanyaan dan juga jawaban, atau berpendapat dan mengoreksi.


Bagaikan pinang di belah dua, mereka benar-benar terlihat sama, aku tidak dapat membedakan nya. Entah itu tawa nya, suara dan kalaimat yang di lontarkan nya ketika terkejut mereka menyebut kata "Wah". Sementara itu Ibu tengah sibuk memberikan pesan-pesan beruntun pada Nadim, yang harus di tinggalkan sendiri di Bandung, sebab sedang menghadapi ulangan tengah semester.


Satu jam berlalu kita masih belum juga sampai ke tempat tujuan. Jalanan ibu kota memang akan lebih padat di jam-jam pulang kantor, tapi rasa-rasa nya Bapak maupun Junot tidak lelah untuk berbicara.


Seperti dua manusia yang sudah lama tidak bertemu lalu saling melepas rindu, padahal ini kali pertama mereka bertemu, yah mungkin baru beberapa jam yang lalu, tapi mereka berdua sudah seakrab ini.


Dan tiba-tiba saja aku kembali teringat akan Mas Ayden. Andai saja aku lebih cepat memperkenalkan Mas Ayden kepada Bapak, apa mungkin bapak akan memperlakukan Mas Ayden, dengan sama?


Tiba-tiba saja lamunanku terhenti saat Bapak memasukan ku ke dalam sebuah topik, yang memang sering juga kita bahas bersama di rumah.


"Na, sekarang pendapat kamu bagaimana mengenai menikah muda?


"Hah?". Aku terkesiap atas pertanyaan yang Bapak ajukan.


"Mmm, pendapat Nana, tidak setuju, karena bagaimana pun menikah itu butuh kesiapan, tidak asal menikah, butuh kematangan pemikiran atau pun yang lain nya. Terutama keyakinan untuk menikah hanya satu kali".


"Kamu sendiri, sekarang sudah siap untuk menikah?". pertanyaan itu terlontar dari mulut Junot dan dia menatap ku di balik kaca spion". Aku sempat ragu untuk menjawab dan tiba-tiba saja di sambar oleh Ibu yang ternyata diam-diam mendengarkan.

__ADS_1


"Jangan ditanya Nak Jun, Nana sudah bukan lagi anak di bawah umur secara Agama atau pun Negara". Aku lihat di balik kaca spion, ada guratan melengkung ke atas dari nya, Junot tersenyum.


"Nana sudah 22 tahun Nak Jun, usia yang sudah dewasa, pas untuk menikah, dan setelah itu segera beri Bapak, Cucu, malah teman-teman Bapak ada yang sudah punya Cucu 2-3". Timpal Bapak sembari tertawa di akhir kalimat.


"Tapi kesiapan menikah tidak memandang umur Pak, orang target menikah Nana di usia 25 tahun kok". Jawab ku protes.


"Hus, jangan asal ngomong kamu, ingat! kamu bentar lagi 23 tahun". Aku memanyunkan bibir tanda tidak suka atas ucapan Ibu.


"Mm, memang nya kamu punya keinginan apa yang masih belum kesampaian?". Deg ... tiba-tiba saja aku teringat akan sesuatu, beberapa bulan yang lalu saat aku masih menjadi kekasih dari Mas Ayden. Aku sempat mencari-cari sebuah artikel mengenai ke seriusan pria terhadap wanita nya.


Dan muncul lah sebuah artikel mengenai tujuh pertanyaan sederhana yang diucapkan pria saat ingin serius denganmu :


"Kamu ada waktu kapan? Aku ingin cerita"


"Besok keluarga lagi kumpul di rumah, mau gak aku kenalin ke Ayah, Ibu?"


"Kamu kalo mau beli barang lihat apanya dulu?"


"Gimana tadi di .... lancar?"


"Kalo udah nikah nanti, kamu pengin kita tinggal di mana?". Dan yang terakhir adalah, pertanyaan yang baru saja Junot pertanyakan. "Kamu punya keinginan apa yang masih belum kesampaian?". Dan tiga di anataranya sudah pernah Junot ucapkan padaku.


"hey? ehh .... kabiasaan sok ngalamun, itu di taros". Tegur Ibu.


(Hey? ehh .... kebiasaan suka bengong, itu di tanya)


Aku segera mengumpulkan nyawa yang sebelum nya tengah berkelana.


"Em, aku ingin punya rumah mewah, mobil, sawah, dan masih banyak yang lain nya". Jawabku asal, tapi memang menginginkan nya juga, walaupun sebenar nya bukan prioritas hidupku memiliki itu semua, tapi salah satu di antaranya.


"Ohhh ....". Dia terdiam sejenak sebelum akhir nya melanjutkan apa yang ingin di ucapkannya.

__ADS_1


"Aku tidak punya apa-apa, kamu tahu senidiri, yang kaya itu Bunda dan Ayah, tapi kalau kamu mau. Kita bisa sama-sama mewujudkan impian itu semua bahkan lebih dari itu". Heh, andaikan yang bicara demikian Mas Ayden, aku akan bilang MAU dengan suara lantang, yang di saksikan oleh Bapak dan Ibu ku, orang yang paling ingin aku bahagiakan, dan pastinya juga mereka ingin melihat anak nya di bahagiakan.


"Ey? jawab atuh!". Sahut Bapak.


"Emm... memang nya, Nana di perbolehkan untuk menolak?". Suasana di dalam mobil seketika hening.


"Jadi, kamu mau atau tidak?". Tanya Junot kembali, terlihat di raut wajah nya ada ke khawatiran.


Apa mungkin Junot sungguh-sungguh mencintaiku? menginginkan aku sebagai Istri dan Ibu dari anak-anak nya nanti, terlepas ini semua, di jodohkan atau tidak ?


"Nana? Jawab atuh!". Kata Ibu, sembari tersenyum. Aku tak tega harus melukai hati nya, wanita yang telah melahirkan ku, tapi ....


"Hm, untuk saat ini, Aku belum sepenuh nya yakin, kamu bisa kasih aku waktu?!". Aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa, jika boleh jujur, egoku ingin mengatakan tidak mau, tapi mengingat ada Ibu dan Bapak aku tak sampai hati berkata demikian.


"Iyah tidak masalah, jangan terlalu buru-buru". Jawab Junot dengan nada yang terlihat sendu.


"Kamu butuh waktu berapa lama?". Sahut Ibu


"Hem, tidak tahu Bu". Jawabku singkat.


"Jangan terlalu lama, tolong beri jatuh tempo nya Nak Jun?". Kata Ibu kembali.


"Tidak apa Bu, Junot akan menunggu, kapan saja Nana siap untuk memberi jawaban". Lirihnya.


"Hm, begini saja gimana kalau satu bulan dari sekarang, kan besok sudah tanggal satu maka kamu harus sudah punya jawaban nya pada tanggal satu bulan Mei". Kata Bapak memberi solusi.


"Gimana menurut kamu? kalau aku sih setuju". Jawab Junot.


Dengan ragu-ragu akhirnya aku menjawab "Iyah".


Next ?

__ADS_1


__ADS_2