
Sebelumnya ...
Tiba-tiba saja sebuah suara lemah lembut membuyarkan semua pengakuan atas dosa-dosa yang telah Junot lakukan.
"Suami? bagaimana keadaan anak kita?"
"Dia baik-baik ajakan?" pertanyaan demi pertanyaan keluar dari bibirnya yang pucat.
"Sutt... kata Dokter kamu harus banyak istirahat!".
"Tapi, bayi kita mana? anak kita baik-baik ajakan?".
"Junot? jawab?! dimana anak kita?".
"Alhamdulillah, anak kita baik-baik aja sayang, hanya untuk sementara waktu memang harus di inkubator karena waktu lahiran yang tidak sesuai dengan usia janin".
"Aku mau lihat anak kita?! please!"
"Iyah sayang tapi setelah kondisi kamu membaik, okay?!"
"Aku mau sekarang?!". Ucap Nareta tak dapat di bantah.
"Okay, kalau itu mau kamu, tunggu disini aku ambil kursi roda dulu yah?!". Nareta tak berkata apa-apa hanya mengangguk pelan tanda mengerti.
Sementara itu semua keluarga besar tengah menggandrungi tempat inkubator melihat dari jarak jauh yang terhalang oleh kaca.
"Yah, lihat cucu kita?!". Ucap Bunda kepada Ayah.
"Iyah, Bun mulai sekarang kita jadi Oma dan Opa". Seketika Juwita tersenyum ada rasa bahagia tapi juga kecewa dalam waktu bersamaan.
"Apa kamu baik-baik aja?". Tanya Marsel yang mengetahui akan raut wajah Juwita yang tiba-tiba terlihat berubah.
"Heh? Hemm, aku baik-baik aja kok".
"Bu, lihat bayi nya kok mirip aku yah?". Celoteh Nadim yang asal bicara.
"Naon ari kamu, jelas-jelas ini anak teteh sama suaminya bang Junot naha jadi mirip kamu, ah ngaco". Jawab Ibu yang tak terima.
"Hehe... tapi enya Bu, mirip aku tuh lihat irungna mancung kos Nadim, warna kulit na bodas dai, Nadim pisanlah pokok namah".
"Ahh, teuing kumaha didinya weh". Jawab Ibu yang mulai kesal dengan tingkah Nadim.
"Haha...". tetapi orang sekitar yang mendengar akan pertengkaran antara paman dan nenek nya itu membuat semua orang tertawa.
"Ibu, Bunda?!". teriak Nareta, dan seketika itu juga, berhasil membuat semua orang berhenti tertawa.
"Sayang...". Teriak Ibu tak kalah kencang kemudia di susul dengan teriakan Bunda.
"Anak Bunda". Keduanya berbarengan menghampiri Nareta.
"Selamat sayang kini kamu sudah menjadi Ibu". Ucap Bunda berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan Nareta yang tengah duduk di kursi roda.
"Ibu teu nyangka, anak Ibu poe ayeuna atos jadi Ibu".
"Hem, semua berkat doa Ibu dan Bunda, makasih :)". Ucap Nareta sembari mencium tangan Ibu dan Bunda bergantian.
"Ya udah, gak usah banyak drama, ayok kita lihat bayinya Teh, Teteh pasti udah gak sabar kan? tahu gak? wajahnya mirip pisan Nadim Teh, Ahh... apa pas hamil Teteh teh ngidam atau naon kitu make bisa mirip aku Teh?".
__ADS_1
"Hah? masa sih mirip kamu, orang Teteh gak mikirin kamu sedikitpun kok".
"Hahah... dengerin tuh, sok ngarang ah si Nadim mah". Sahut Ibu, sementara yang lain tertawa.
"Lihat itu?!". Tunjuk Bunda pada salah satu inkubator.
"Heh? itu anak Nareta?".
"Iyah atuh". jawab Ibu.
"Bu, anak Nana ganteng banget". Ucap Nareta berkaca-kaca.
"Iyah atuh, mirip pisan sama Ayah nya". Ucap ibu sembari menatap kearah Junot.
"Heh?". dan detik berikutnya Junot tersenyum.
"Iyah, mirip banget sama kamu waktu bayi". Tutur Bunda.
"Iyah bener pisan, saya memang gak salah pilih mantu". Ucap Ibu.
"Heh? maksud Ibu aku jelek?". Protes Nareta cemberut.
"Eh, siapa yang bilang ? kamu anak Bapak yang paling cantik".
"Heh, ya-iyalah orang anak Bapak perempuan satu, laki satu". Celoteh Nadim.
"Ganteng itu bonus, yang penting bayi nya sehat dan gak ada kekurangan satu pun". Ucap Ayah melerai.
Sementara itu sedari tadi tak ada satu orang pun yang memperdulikan akan kondisi Juwita dan Marsel, dan tiba-tiba saja Juwita mengundurkan diri tanpa sepengetahuan siapa-siapa, yang kemudian di susul oleh Marsel, namun saat Mas Marsel hendak ingin pergi tak sengaja terlihat oleh Nareta.
"Juwi? kamu mau kemana?".
"Aku mau pergi, kemana pun, aku gak kuat berada di sini Mas".
"Okay, ayo kita pergi. Kemanapun kamu mau, kamu harus ingat, kamu gak sendiri, ada aku disini". Ucap Marsel dengan tulus.
"Makasih yah Mas, kamu selalu ada buat aku".
"Itu memang sudah menjadi tugasku".
"Tapi kenapa? kenapa kamu masih mempertahankan ku? di saat aku tidak...".
"Sutt. Stop! stop nyalahin diri kamu sendiri, ini semua bukan salah kamu".
"Hik... hik.. aku gak tahu mesti gimana Mas, haruskah aku mengucap syukur karena memilikimu, atau justru menangis karena tidak bisa memberikan keturunan kepadamu".
"Hem, yang aku lakukan mengucap syukur karena telah memilikimu, jika kamu mau ? hal serupa bisa juga kamu lakukan, karena mungkin kita memiliki kebahagiaan berbeda dari orang lain".
"Hem, hik.. hik... terima kasih ya Allah, engkau telah memberikan malaikat tak bersayap untukku".
***
"Sayang udah lebih dari 30 menit kamu disini, balik ke kamar yah!". Ucap Junot.
"Iyah, kamu gak usah khawatir bayi kamu aman kok, Bunda akan ada disini".
__ADS_1
"Ibu juga". Sahut Ibu tak mau kalah dengan Bunda.
"Enggak, sebaiknya Bunda dan Ibu juga istirahat, sekarang biar Junot yang jagain baby Aksa".
"Aksa?".
"Heh, Iyah, Junot dan Nana udah sepakat akan memberikan nama Aksa pada anak pertama kita".
"MasyaAllah nama nya terdengar indah sekali, tapi apa artinya?".
"Hem lebih tepat nya Muhammad Alaska Abraham tapi aku mau memanggilnya Aksa. Artinya sendiri? awalnya Junot gak tahu, nama ALAKSA tiba-tiba terlintas saja di benak ku, tapi karena aku penasaran akhirnya aku cari-cari dari berbagai sumber dan hasilnya tidak mengecewakan. Karakter dan sifat, orang dengan nama Alaksa tergolong percaya diri, ia cenderung memimpin dengan berwibawa dan selalu mencari petualangan, ia sangat tertarik dengan kehidupan dan memiliki sifat mandiri. Orang ini juga bicara apa adanya dan tertarik secara fisik pada orang lain, sementara itu menurut studi numerologi, nama "Alaksa" mempunyai kepribadian Peduli sesama, dermawan, tidak mementingkan diri sendiri, patuh terhadap kewajiban, ekspresi dan kreatif".
"Wow, mantap betul". Celoteh Nadim, sementara yang lain terdiam akan tetapi ada rasa hangat terpancar dari setiap sudut bibir.
"Oke, Bunda suka dengan apapun nama yang akan kalian berikan, Bunda yakin kalian tidak akan asal-asalan memberikan nama bukan".
"Hem, makasih Bunda". Ucap Nareta.
"Ya udah sekarang kamu istirahat yah?!". Perintah Ayah dan Bapak bersamaan.
"Heh, kompak betul ini kakek-kakek baru". Celoteh lagi Nadim.
"Sutt...". Ucap Nana sembari menyentuh lengan Nadim.
"Heh? hehe.. iyah maaf".
"Iyah Pak, Yah, sekarang juga Nana istirahat". Seru Nana sembari tersenyum kemudian penahan kursi rodanya di buka, dan Junot segera mendorong nya.
"Nadim, tolong jaga sebentar yah Abang antar Teteh dulu ke kamarnya".
"Siap, laksanakan Bang". Dengan gaya humornya yang mengangkat tangan selayaknya prajurit kepada komandannya.
"Haha... makasih yah". Ucap Nana dengan sedikit tawa yang ia tahan karena perutnya masih terasa sakit.
***
"Sayang, kamu istirahat yah, biar baby Aksa aku yang jaga". Nareta tak berucap apa pun hanya mengangguk sebagai tanda setuju.
"Bun, Bu titip Nana yah?!".
"Iyah sayang, gak perlu kamu suruh juga Bunda pasti bakalan jagain Nana kok". Ucap Bunda.
"Hem, jangan khawatir Nana ada di tengah-tengah ibu-ibu yang sudah profesional". Canda Ibu.
"Hem, makasih yah Bu, Bun. Junot pergi dulu".
"Iyah". Jawab Ibu dan Bunda berbarengan.
Sementara itu sebelum Junot benar-benar pergi ia sempatkan mencium kening Nana.
***
Baru saja Junot menutup pintu kamar inap Nana, sebuah panggilan masuk, dan bertuliskan Akram.
"Halo, Jun sorry gua gak bisa cegah Aqila untuk gak ke Jakarta".
bersambung ...
__ADS_1