
Hari ini jadwal Aksa bertemu dengan Dokter Psikolog juga Psikiaternya, tetapi karena Aku ada urusan jadi pertemuan itu di mundurkan satu jam dari jadwal yang seharusnya.
Kebetulan tempat itu tidak jauh dari tempatku barusan meeting dan tidak jauh juga dari apartemen yang kuberikan kepada Nareta. Ahh... ngomong-ngomong soal Nareta, satu minggu ini Aku dan juga Aksa belum sempat lagi bertemu karena satu dan lain hal.
~
Tapi... Entah itu di sengaja atau hanya kebetulan saja, akhir-akhir ini sikap Aksa seolah lebih agresif, jika berdekatan dengan wanita, seakan-akan sengaja ingin menjodohkan-jodohkanku. Padahal aku sangat tahu, bahwa Aksa sangat berkeinginan Aku dan Nareta kembali bersama. Atau mungkin itu efek dari pertemuan terakhir, Nareta yang terang-terangan menolak ke inginannya. I do not know...
~
Juga... Entah Nareta sengaja atau tidak sengaja, beberapa kali kulihat dia selalu melihat aktivitas ku di instastory, saat Aku, Aksa dan Diana bersama. Padahal dulu-dulu Nareta benar-benar tidak pernah membuka storyku.
Sebenarnya... jika boleh jujur, ada rasa senang juga sedih dalam waktu bersamaan. Pasalnya aku khawatir Nareta salah paham akan kedekatan ku dengan Diana, tapi senang karena untuk sekian lama Nareta melihat aktivitasku, meskipun itu tidak dapat di artikan Nareta perhatian, atau penasaran. Mungkin saja itu hanya kebetulan atau ketidak sengajaan. Jempolnya terpeleset melihat storyku. Yah... mana aku tahu.
~
Sebenarnya Foto itu di ambil oleh Diana atas permintaan Aksa, Sebelum masuk keruangannya. Dan yang memposting itu semua, tentu saja Aksa. Aku tidak melarang nya sama sekali, karena pikirku itu hanya sebuah foto biasa, yang tidak mengartikan apa-apa. Tapi... tak kusangka respon dari orang-orang di luar dugaan ku, tak sedikit yang mendoakan semoga aku dan Diana bersama atau yang menjodoh-jodohkan seperti hashtag kawal sampai halal.
Lucu sekali tingkah Netizen +62 ini. Tak ku tanggapi doa dan harapan mereka. Tapi jika memang aku dan Diana berjodoh maka pintaku hanya satu, Semoga Nareta lebih dulu bahagia dan mendapatkan jodohnya juga. Baru setelah itu aku akan mencari kebahagiaanku. Pikirku.
~
Dua jam sudah berlalu, entah apa yang Aksa ceritakan kepada Diana selaku Dokter Psikolognya. Iyah bahkan aku sendiri selaku Ayahnya tidak tahu apa yang saat ini tengah Aksa rasakan. Ntah itu rasa kekecewaan atau sedih yang mendalam dan tidak berkesudahan atau apa? yang pasti Aksa keluar dengan mata sembab, itu sudah pasti Aksa menangis.
__ADS_1
Aku tidak bertanya apapun, sungguh. Kepada Diana apalagi kepada Aksa. Karena Aku tahu pertanyaanku, pada akhirnya tidak akan mendapatkan jawaban apa-apa. Hanya akan menimbulkan rasa penasaran yang menjadi-jadi. Jadi lebih baik aku diam.
~
Setelah berkonsultasi dengan Diana Dokter Psikolog, kini giliran Aksa masuk ke ruang Psikiaternya untuk menyembuhkan gangguan kecemasannya. Biasanya hal itu memakan waktu satu jam atau mungkin bisa lebih, tergantung kepada suasana hati Aksa. Tapi bisa kupastikan, terapi hari ini pasti akan memakan waktu, sebab keluar dari ruangan Psikolog saja mata Aksa sembab.
~
Kutarik nafas berat dan frustasi, apa tidak masalah jika Aku biarkan Aksa ke luar negeri? walaupun disana semua-muanya sudah terjamin, tapi tetap saja kekhawatiran seorang Ayah kepada anaknya tidak dapat di ku pungkiri.
~
Kulihat Awan kini sudah berubah warna, Aku putuskan untuk pergi menunaikan kewajibanku terlebih dahulu, tiga raka'at sholat magrib.
Mataku terbelalak saat melihat Ayden ada di depan pintu apartemen Nareta, seketika hatiku terasa sakit, tanpa pikir panjang kaki ku bergerak menuju basemen dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Aku seakan tak rela jika Nareta memasukkan lelaki lain selain aku dan Aksa kedalam apartemen itu. Walaupun sebenarnya Bagaskara dan temanku yang lainnya sudah pernah Nareta masukkan ke dalam apartemen itu, masih bisa ku maafkan, tapi tidak dengan Ayden.
Tidak butuh waktu lama, hanya 20 menit aku sampai di basemen Apartemen Nareta, tak kusadari aku berjalan setengah berlari menuju apartemen.
Segera aku menekan pintu lift, aku tidak tahu tindakan ku ini salah atau benar, yang pasti aku tidak sudi jika Nareta dan Ayden berada di bawah atap yang sama.
Walaupun aku sangat sadar, aku bukan lagi siapa-siapa dari Nareta, hanya mantan suami, tidak memiliki hak dan kewajiban untuk melarang Nareta bersama siapa dan sedang apa. Tetapi tetap saja aku melanjutkan perjalanan ku menuju apartemen Nareta.
__ADS_1
Aku berjalan dengan gusar, lagi-lagi aku berpikir dengan keras, mencoba meredam emosi, karena tidak ingin mengambil resiko yang tinggi, semisal Ayden datang ke apartemen atas undangan dari Nareta, maka apa yang harus aku lakukan?
Apa yang harus aku katakan jika Nareta bertanya, apa maksud dan tujuanku datang? Tidak mungkin kan jika aku jawab aku cemburu.Tidak mungkin aku jawab aku kesal melihat Ayden ada di depan apartemen mu.
Karena jika aku jawab begitu, secara tidak langsung Nareta akan tahu, bahwa selama ini aku telah memata-matainya. Dengan begitu tidak menuntut memungkinkan hubungan ku dengan nya akan semakin merenggang.
"Ahhh... sial, apa yang harus aku lakukan?". Ucapku frustasi. Padahal kini aku sudah tepat berada di depan pintu apartemen nya. Masa aku harus kembali pergi, dan membiarkan Nareta bersama Ayden hanya berdua di dalam apartemen yang aku beli.
"Baiklah-baiklah untuk saat ini aku harus mengalah untuk menang". Pikirku setelah beberapa kali mondar-mandir di depan pintu apartemen Nareta dan tidak mendapati suara apapun.
Aku sedang berdiri dengan lesu menunggu lift terbuka, tak lama pintu lift terbuka, belum sempat aku masuk, aku mendengar suara teriakkan Nareta minta tolong.
Entah itu nyata, atau hanya perasaanku, keinginanku yang besar, berharap Nareta berteriak minta tolong memang benar adanya, tanpa pikir panjang aku segera berjalan setengah berlari menuju pintu apartemen Nareta.
Beruntungnya, aku masih menyimpan kunci berbentuk kartu duplikat apartemen itu, dan selalu aku bawa kemanapun aku pergi. Tanpa pikir panjang aku segera membuka pintu itu dan mendapati Ayden tengah mendobrak pintu kamar yang kuyakin di dalamnya terdapat Nareta.
~
Suara isak tangis Nareta tak dapat aku lupakan, rasanya seperti nyata. Tapi... kenyataan nya kini aku tengah berbaring di salah satu ruangan di rumah sakit.
Perlahan namun pasti kubuka kedua mataku, ku edarkan pandangan ku ke sumber suara, tangis pilu sembari memanggil namaku.
"Nareta?".
__ADS_1
Next?