
"Aksa?". Ucapku juga Junot bersamaan, kita sama-sama terdiam membisu, terpaku di ambang pintu, tempat kita berpijak.
"Aduh mamah speechless, kok kamu bisa ada disini?". Ucap Nareta dengan jujur, kemudian segera menghampiri Aksa.
"Bisa dong, Aksa gak bisa tidur, mau tidur bareng mamah". Ucap Aksa sembari memeluk tubuh Nareta.
"Boleh ikutan gak?". Ucap Junot dengan santai tapi sungguh-sungguh. Terbukti dengan tindakan yang ia lakukan selanjutnya tanpa persetujuan ku ataupun Aksa.
Junot memelukku dari belakang, terasa hangat dan juga awkward dalam waktu bersamaan. Hal yang rasanya tidak mungkin terjadi pada kehidupan orang yang sudah berpisah.
"Aksa kamu kok belum tidur inikan udah jam satu malam". Ucapku untuk mengalahkan deru nafas yang terlihat tidak beraturan.
"Iyah, Aksa mau tidur, tapi sama mamah". Ucapnya sembari menguap.
"Oke, yaudah kita masuk kamar yuk?!". Ucapku lagi-lagi tidak melibatkan Junot. Ngomong-ngomong sedari tadi, sedikipun tangan Junot tidak beralih dari lingkar pinggangku. Baru setelah aku mengatakan masuk kamar, lantas Junot melepaskan tangannya dari tubuhku.
Terlihat helaan nafas kekecewaan tapi detik berikutnya senyuman kembali terbit dari kedua sudut bibirnya.
"Bersama Ayah juga!". Ucap Aksa sembari meraih tangan Junot dan membawanya ke dalam kamar, mendahului langkah kakiku.
Mau tidak mau, akhinya aku terpaksa menyetujui keinginan Aksa.Tak tega jika harus membuatnya kecewa.
Akhirnya malam ini kita tidur bersama, selayaknya pasangan suami-istri beserta satu anak di tengahnya.
***
Keesokan harinya aku terbangun karena mencium aroma makanan yang sangat menggugah selera.
Aku segera menyingkap selimut dan tak lupa untuk mencium kening Aksa, sebelum aku benar-benar beranjak pergi.
Aku segera melangkahkan kaki menuju sumber aroma wangi makanan berada.

Mataku nyaris keluar saat mengetahui yang memasang ternyata Junot. Kukira yang memask Ibuku ternyata Mantan suamiku.
"Sudah bangun?". Tanyanya padaku, meskipun tatapannya tidak sedikitpun beralih dari wajan.
"Heh? Iyah". Ucapku kemudian segera duduk di meja makan.
"Tunggu sebentar lagi, masakannya matang". Ucapnya kemudian.
"Hmm". Ucapku kemudian menuangkan segelas air putih kedalam gelas yang sudah tersaji di meja makan.
"Oh iyah, sejak semalam Aku tidak melihat kedua orang tua dan adikku, kamu tahu tidak?". Tanyaku pada Junot, yang seharusnya tidak aku tanyakan, sebab dia datang bersama denganku.
__ADS_1
"Hem, sepertinya Mereka lebih memiliki tidur di hotel, memang nya kenapa?".
"Hotel? loh kenapa?". Tanyaku lagi heran.
"Iyah, mereka tidak ingin mengganggu atau merecoki rencana yang telah di buat oleh Aksa". Ucap Junot dengan santai.
"Maksudmu Mas?".
"Aksa ingin kita bersatu lagi". Ucapnya tanpa ragu kemudian menghampiriku.
"Heh? kenapa? apa Aksa merasa kekurangan kasih sayang?". Tanyaku yang sungguh terkejut atas penuturan Junot barusan.
"Tidak sama sekali, hanya saja. Dia terlihat risau saat memutuskan untuk bersekolah keluar negeri".
"Apa? heh... seharusnya aku yang risau kenapa harus dia yang merisaukanku?". Ucapku masih tidak mengerti.
"Mungkin karena Ibunya terlalu cantik, dia risau jikalau Ibunya tergoda akan pria lain". Ucap Junot terlihat tulus dan jujur dari hatinya.
"Ahh.. yang benar saja". Ucapku dengan tawa renyah yang terkesan meremehkan, sebab rasanya terlalu mustahil.
Kemudian Junot bangkit berdiri dan menaruh makanan yang telah ia buat.
"Apa keinginan Aksa terlalu sulit untuk kamu kabulkan?". Tanyanya dengan tatapan dingin.
"Ayolah Mas memangnya apa yang salah dengan hubungan kita? kita sudah sepakat untuk selalu ada di momen penting untuk Aksa, apa itu tidak cukup?".
"Maksudmu?".
"Aku dan Aksa menginginkan kita tinggal satu atap, bisa sepanjang malam tidur satu kamar dan selalu bersama dalam segala hal, apa kamu tidak mau?".
"Mas, Aku kira hubungan kita sekarang sudah jauh lebih baik, ketimbang dulu, saat kita masih bersama, tapi aku merasa kamu tidak pernah ada". Ucapku Jujur. Seketika raut wajah Junot berubah menjadi sendu.
"Aku tahu, luka yang ku buat terlalu fatal, terlalu dalam dan tidak termaafkan". Ucap Junot.
"Tidak Mas, Semua hal dimasa lalu sudah aku maafkan, hanya saja... aku tidak ingin kita mengungkitnya lagi".
"Mah, Ayah". Suara khas bangun tidur terdengar nyaring di telinga kita.
"Aksa? udah bangun sayang?" Tanyaku basa-basi. Sementara itu Aksa hanya mengangguk sembari mengucek-ngucek kedua kelopak matanya.
"Aksa, Cuci muka sana, setelah itu kita sarapan!". Seru Junot memerintah yang tidak dapat di bantah.
"Mas, Kamu marah?". Tanyaku, setelah kupastikan Aksa benar-benar tidak ada.
"Tidak, Wajar saja jika kamu menolakku, Aku paham, di luaran sana... pasti banyak pria yang lebih segalanya, ketimbang aku bukan?". Ucap Junot dengan nada sinis terkesan cibiran di telingaku, namun belum sempat aku menjawab, Aksa sudah lebih dulu kembali, dan duduk di tengah-tengah kami.
__ADS_1
"Ayo, sayang dimakan?!". Ucapku mengabaikan Junot. Suap demi suapan nasi goreng buatan Junot kulahap hingga tandas tak tersisa.
"Enak". Gumamku.
"Mau tambah lagi?". Ucap Junot entah itu padaku atau kepada Aksa, persoalannya piring kita, sama-sama telah kosong.
"Ayoh di tambah lagi?! jangan sungkan". Ucapnya lagi, kemudian menatapku.
"Hm, Enggak Aku udah kenyang". Jawabku berbohong. Iyah masakannya memang benar-benar enak, tapi aku tidak ingin membuat dia merasa terbang di atas awan.
"Sejak kapan kamu bisa masak?" Tanyaku kemudian, sebab setahuku... dulu untuk memasak mie instan saja dia kebingungan.
"Sejak kita resmi berpisah". Ucapnya singkat.
"Hm, Kenapa kamu belajar memasak?". Tanyaku lagi semakin penasaran.
"Tidak ada alasan lain, selain Aksa menginginkan makanan yang sering kau buat". Ucapnya, kemungkinan bangkit dari duduk, menyimpan piring kotor dan segera mencucinya.
Apa ini hanya akal-akalan Junot saja, supaya aku bersimpati? atau inilah Junot yang sesungguhnya, setelah perpisahan kita dia banyak berubah.
"Mah, Aksa mau bicara?". Ucap Aksa membuyarkan lamunanku.
"Ohh, yah boleh, mau bicara apa sayang?". Tanyaku dan segera meliriknya.
"Tidak disini!". Ucapnya kemudian berjalan menuju kamar. Aku tidak banyak berpikir, aku segera mengikuti langkah kakinya.
"Apa? Apa yang mau di bicarakan?". Tanyaku setelah di dalam kamar.
Aksa menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya secara perlahan, lalu ia mulai bersuara.
"Mamah tahukan, Aksa akan sekolah keluar negeri? prosesnya sedang berlangsung, Om Alex atas perintah Ayah, sedang menyiapkan segala hal keperluan Aksa nanti". Ucapnya panjang lebar.
"Hm, lalu?".
"Mah, tidak bisakah kita pergi bersama? memulai semuanya dari awal?".
"Maksudnya Sayang?". Tanyaku masih bingung, kemana arah pembicaraan ini.
"Mamah, Aksa dan juga Ayah, kita tinggal bersama di luar negeri!". Ucapnya dengan penuh harapan.
"Heh... Maaf sayang, Mamah gak bisa!". Ucapku yang sepersekian detik berhasil membuat Aksa kecewa, wajahnya berubah menjadi sendu dalam seketika.
"Entah perasaan apa ini, ada rasa kesal juga sesal dalam waktu yang bersamaan".
Bersambung...
__ADS_1
-Windowsyua-