
12:30 Aku baru saja mendapatkan informasi dari ayah bahwa bunda sudah mulai siuman dengan menggerakkan salah satu jari-jarinya dan beberapa menit yang lalu tiba-tiba saja Nareta memberiku sebuah pesan singkat yang kembali membuat aku geleng-geleng kepala.
from : Nareta
Selamat siang, jangan lupa makan ya :)
Aku baru selesai meeting, lagi di jalan mau balik kantor.
jangan kecapean, tetap semangat 💪
Jujur saja aku tidak terbiasa di perhatikan seperti ini, dan aku tidak berniat membalas pesannya, tapi setelah mendapat kabar dari ayah bahwa bunda telah siuman, maka hal yang membahagiakan untuk bunda adalah kedatanganku bersama Nareta.
Seperti janji-janji dan niatku di saat bunda menjalani operasi, jika operasi bunda berjalan lancar maka aku akan menjadi anak yang baik dan akan melakukan apa pun keinginan bunda, termasuk menjadi suami untuk Nareta. Meskipun aku tidak yakin jika Nareta tahu bahwa sebenarnya aku tengah berpura-pura melakukan itu semua, Nareta akan menyetujuinya.
***
from : Suami
Iyah, kamu juga! nanti sore pulangnya aku jemput, tunggu di lobi!
kamu tahu salah satu impian yang terwujud itu seperti mendapati sebuah lotre, yang kemungkinan terwujudnya 1 dari 100.
Hah, Tuhan tahu saja cara membuat hambanya bahagia tak terkira :)
dengan cepat segera aku balas pesannya.
to : Suami
Iyah, aku tunggu :)
sent
Aku yang tengah menulis pesan singkat sembari senyum-senyum sendiri tertangkap basah oleh mas Ayden yang kini tengah menatapku dari seberang sana dengan raut wajah yang terlihat penasaran.
Sementara Lisda yang mengetahui bahwa aku dan mas Ayden pernah menjalin hubungan menatap aku heran.
__ADS_1
"Gua tahu lo sakit hati, gak usah pura-pura, Nangis aja! atau mau curhat? gua siap dengerin cerita lo". Ucap Lisda sembari menepuk-nepuk pundak ku.
"Heh? gak perlu, gua baik-baik aja kok". Ucapku sembari senyum tulus pada Lisda, yang aku tahu dari sudut mataku, mas Ayden masih setia menatapku tanpa berkedip sedikitpun.
"Yakin? gua serius kalau lo mau cerita apa pun, gua siap dengerin cerita lo, jangan sungkan!".
"oke, thanks!". Aku dan yang lainnya pun bergegas untuk kembali ke kantor.
Waktu berlalu dengan begitu cepat, aku sudah menunggu Junot seperti yang ia pinta di lobi, dari sekitar 20 menit yang lalu, dan selama itu juga aku duduk di antara kursi-kursi tunggu yang memang disediakan.
Silih berganti penghuni dari kursi yang ada di sebelah kiri-kanan ku, tetapi seseorang dari arah depan tengah tersenyum saat melihat akan keberadaan ku lantas berjalan perlahan terlihat ingin menghampiriku. Iyah, siapa lagi jika bukan mas Ayden.
Jujur saja aku merasa risih, dengan tatapan yang tak biasanya dan tak dapat aku artikan itu dari mas Ayden, Ahh... beruntungnya tak jauh dari keberadaan mas Ayden kulihat ada Tania yang berjalan berusaha untuk mensejajarkan langkah kakinya. Kemudian di susul oleh Lisda yang berjalan tak beraturan sembari membawa tas dan beberapa map serta buku-buku tebal di genggamannya, dan tak sengaja menabrak Tania yang kemudian, Tania juga tak sengaja menabrak mas Ayden.
Hahaa.... tingkah laku Lisda berhasil membuat gelak tawa. Tidak hanya aku, tapi juga semua orang yang ada di sekitaran itu, dan tak ku sadari bahwa Junot sudah ada di belakangku.
"Hem, udah ketawanya? bisa kita pergi sekarang?". Suara khas, yang Junot miliki seketika kembali menggema di telingaku, aku yang terkejut segera berbalik badan.
"Yah, gak lama kok, dari Ayden datang sampai kejadian konyol itu". Jawab Junot sarkasme.
"Hem? dia Lisda temen kerja aku, yah meskipun tingkahnya konyol dan ceroboh tapi dia baik".
"Yaudah, tunggu apa lagi ayok pergi?! atau masih mau ketawain temen baiknya?". Seketika itu juga aku terdiam.
Aku berdiri di samping pintu mobil, iyah ekspektasi ku Junot akan membukakan pintu untukku, tapi aku keliru...
"Cepetan, atau aku tinggal?". Teriaknya sembari membuka pintu mobil untuknya sendiri.
Di sepanjang perjalanan laju mobil yang tidak agul-agulan membuat aku salting sesekali ku buka aplikasi yang ada di handphone, dan tiba-tiba saja suara Junot memecah keheningan di antara kita.
"Kita ke rumah sakit, Bunda udah siuman". Ucapan Junot seketika itu juga berhasil membuat aku kegirangan.
"Apa? serius? Alhamdulillah". Ucapku benar-benar tulus, yang kemudian mendapatkan tatapan tajam dari Junot.
__ADS_1
"Sesenang itu kamu denger Bunda siuman?".
"Iyah, karena Bunda udah baik banget sama aku". Ucapku dengan tatapan serius.
"Hem, terserah tapi satu hal yang aku minta, nanti saat kita di rumah sakit bersikap baik selayaknya suami istri".
"Maksudnya? kita kan memang suami istri".
"Heh? Iyah, maksudku bersikap selayaknya suami istri pada umumnya jangan terlalu kaku". Tiba-tiba saja pipiku memerah.
"Ah, iyah". Ucapku pelan sembari berbalik menghindari tatapan Junot.
Kita sampai di rumah sakit dan segera menuju ruangan bunda, di depan ruangan sana kulihat Ka Juwita sedang menangis tersedu-sedu di pelukan ayah.
Aku bisa mengerti jika Ka Juwita kecew, sedih, kesal, bahkan jika sampai marah sekalipun, tidak di beri tahu apa-apa mengenai bunda dan jika tiba-tiba bunda tiada maka penyesalan mendalam akan di rasakan oleh Ka Juwita, meskipun Alhamdulillahnya bunda baik-baik saja, akan tetapi rasa kecewa saat ini pastinya tengah menggelayuti pikirannya.
"Hem, bagaimana keadaan Bunda?". Tutur Junot saat tiba.
"Hey, selamat atas pernikahan kalian, meskipun aku sangat kecewa, sedih dan bahagia mendengar kabar itu". Ucap Ka Juwita menatapku, aku yang merasa terintimidasi hanya mampu menunduk, sementara Junot mengabaikan ucapan kakak nya dan tengah penasaran menunggu jawaban dari ayah.
"Bunda sudah memberikan reaksi yang sangat baik, di dalam ada Marsel yang menjaga". Ucap ayah kemudian.
"Ah, syukurlah". Ucap Junot.
Aku di persilahkan duduk di antara ayah dan Ka Juwita, sementara itu Junot tengah memberikan kode kepada mas Marsel untuk segera keluar dan bergantian menunggu bunda, tak lama kemudian Mas Marsel keluar kebetulan mas Marsel ada urusan sementara ayah sedang istirahat di ruangan sebelah sembari di beri infus vitamin, tinggallah aku dan Ka Juwita menunggu di luar ruangan Bunda, dan selama itu juga kita banyak bercerita, seperti air mengalir dengan sendirinya.
Ka Juwita tak ragu untuk menceritakan segala hal tentang privasinya, yang sudah tujuh tahun menikah tapi belum juga di karuniai keturunan, mengenai Bunda dan Junot, karena Ka Juwita yang memulai bercerita dengan sangat terbuka maka aku pun tak ragu untuk menceritakan semua hal tentangku, bahwa aku mencintai CEO di perusahaanku namun berakhir tragis hanya dalam tiga hari iyah orang itu adalah mas Ayden, mengenai keluargaku dan berakhir di sini menikah dengan Junot.
Kurasa Ka Juwita mengerti jika aku belum mencintai adiknya, tapi tak sampai di situ masih banyak hal lain lagi yang kita ceritakan dan kurasa aku dan Ka Juwita memiliki banyak ke samaan, tak terasa waktu dua jam berlalu dengan sangat cepat, mas Marsel baru saja tiba dengan beberapa makanan di tangannya.
Mas Marsel dan Ka Juwita mengajakku untuk masuk ke ruangan ayah sembari makan malam, tapi aku menolak ku pikir lebih baik aku menunggu Junot terlebih dahulu.
Iyah aku memang terkesan cuek tapi kini beda cerita Junot bukan lagi orang asing untukku akan tetapi dia suamiku.
Next?
__ADS_1