
Ke esokan harinya aku menghubungi bapak dan ibu, dan menceritakan semua hal, atas apa yang menimpa keluarga Abraham, meskipun sebenarnya berat untukku meninggalkan rumah sakit, tetapi aku harus pergi mengingat bahwa aku masih terikat kontrak dan sudah menjadi tugas dan kewajibanku sebagi seorang karyawan dari perusahaan Astra Lestari untuk pergi bekerja setiap pagi, beruntungnya ibu dan bapak sudah ada di sini menggantikan aku untuk menjaga bunda.
Sementara ayah dan Junot sejak pagi buta tadi, mereka berdua sudah pergi, tidak tahu mau pergi kemana, yang pasti itu hal yang amat sangat penting dan tidak bisa di tunda.
Aku segera pergi ke kantor dengan pakaian yang masih sama dengan kemarin, tetapi tentu saja aku sudah mandi, dan sedikit memoles wajahku yang terlihat sembab serta lingkar hitam di bawah mata karena kurang tidur.
***
"Jun secepatnya kamu harus menggantikan posisi Ayah di kantor". Heh... aku sempat terkejut akan penuturan ayah yang tiba-tiba.
"Hem, tapi Yah, kita sudah sepakat aku akan menggantikan posisi Ayah jika...". Aku tak sampai hati meneruskan kalimat selanjutnya.
"Ayah tahu, tapi bagi Ayah rasanya nyawa Ayah sudah tidak ada Jun". Aku benar-benar nelangsa mendengar ucapan Ayah yang tidak lagi bersemangat untuk hidup.
"Ayah gak boleh ngomong gitu, Bunda pasti sembuh kok, Dokter Reza adalah Dokter terbaik dan masih muda juga, dia rekomendasi langsung dari Dokter Radit yang harus ke Semarang karena Istrinya sedang sakit". Ucapku menyemangati ayah, meskipun pada akhirnya semua penghiburan apapun tidak berhasil.
Pukul 09:00 pagi tadi aku sudah resmi di lantik melalui proses yang cukup panjang sebagai CEO dari Cakrawala Industri Abraham. Sementara ayah kini hanya menjabat sebagai Direktur Utama, tanpa mencampur tangani semua proses yang akan terjadi di dalam perusahaan.
Tak bisa di pungkiri banyak sekali desas-desus dari orang-orang yang akhirnya sampai pada telingaku dari karyawan bahkan eksekutif sekalipun yang meragukan akan ke mampuanku. Tak heran, aku memang baru saja masuk ke perusahaan beberapa bulan yang lalu, sebagai General Manajer tapi dengan kekuasaan yang di miliki ayah, maka semuanya dapat terjadi secepat ini, akhirnya aku menggantikan posisi ayah dengan berbagai pertimbangan dan alasan ayah meyakinkan orang-orang bahwa aku bisa dan mampu menjadi CEO. Maka detik ini juga aku bertekad tidak akan pernah mengecewakan ayah.
__ADS_1
Pukul 10:30 tadi aku sudah menyusun rencana baru, dan apa-apa yang sekiranya masih banyak yang salah detik ini juga harus ku tuntaskan hingga ke akar-akarnya. Sementara ayah segera pergi ke rumah sakit, karena Nareta juga harus bekerja, maka yang menjaga bunda adalah kedua orang tuanya, tak enak hati jika menitipkan bunda terlalu lama ucap ayah.
Menjadi seorang CEO itu tidak mudah, jangan harap kamu bisa pulang dan pergi seenaknya seperti yang di gambarkan oleh sebuah cerita di film atau buku fiksi. Justru di dunia nyata keadaan sebaliknya, harus bangun lebih awal dan tidur lebih akhir, begitulah yang di lakukan ayah selama ini.
Pikiran sedang kacau sekalipun, masih tetap di pakai untuk berpikir, harus bersikap berwibawa apalagi di depan karyawan dan mengenyampingkan urusan pribadi, begitupun aku saat ini, kita di tuntut untuk menjadi manusia perfect.
***
Aku tahu, sejak tadi pagi kedatanganku sudah menjadi perbincangan orang-orang, karena untuk pertama kalinya aku datang terlambat, belum lagi aku memakai pakaian yang sama sehingga menimbulkan spekulasi yang kurang baik oleh mereka, seperti ; "Bu Nareta seperti tidak pulang ke rumah? terus pulang kemana? ke hotel? tapi sama siapa? dengan pria? pacarnya?". Dan pemikiran-pemikiran lainnya yang mungkin lebih parah, belum lagi wajahku ini yang tidak bisa di bohongi terlihat kacau, sedari tadi aku juga sering menguap. Sempurnalah untuk merusak imageku yang selama ini baik, yang ku bangun susah payah selama tiga tahun hancur hanya dalam satu hari saja.
Akhirnya waktu istirahat pun tiba, aku berencana pergi keluar, tidak ku pakai untuk makan siang, akan tetapi ku pakai untuk pergi ke rumah sakit, meskipun dengan konsekuensi harus pergi dan pulang kembali dengan terburu-buru.
Sebab sejak awal ibu Lestari, ibu dari mas Ayden sepertinya tidak menyukaiku, yang terlalu akrab dengan anaknya, apalagi untuk menjadi menantunya.
Terlalu banyak orang-orang yang tidak merestui kita, aku tidak bisa mengorbankan semuanya, hanya untuk satu pria, yang tidak bisa menjamin akan kehidupanku ke depannya.
Bukan hanya harta semata, akan tetapi kejujuran dan kesetiaan. Jika salah satu dari dua hal itu di langgar, maka aku tidak bisa hanya berdiam diri saja.
"Mau ke lantai berapa?". Lamunanku terhenti ketika suara dari mas Ayden menggema di dalam lift.
__ADS_1
"Lantai satu". Ucapku.
"Mau kemana?". Wajahnya datar, tapi aku tahu sekali bahwa saat ini ia tengah khawatir entah tentang apa, aku tidak tahu pasti.
"Rumah sakit".
"Hah? siapa yang sakit?". Aku bingung harus menjawab apa kalau aku bilang bunda dari Junot, apa dia akan baik-baik saja? atau aku jawab dengan apa adanya, toh sekarang mas Ayden sudah ada Tania, dia tidak mungkin cemburu padakukan?.
"Ahh, itu Bunda dan Ka Juwita". Seketika keningnya mengerut, mungkin dia belum paham dan terdengar asing dengan orang yang baru saja aku sebutkan.
"Keluarga Junot". Ucapku, kemudian kita sampai di lantai satu, ada sedikit perasaan lega, sebab sebentar lagi kita akan segera berpisah, tentu saja ada rasa sesak tiap kali dia menatap mataku, karena mungkin kita sudah tidak lagi sama-sama, sehingga auranya terasa berbeda.
"Aku juga mau ke rumah sakit, gimana kalau kita sama-sama saja". Itu ide yang tidak buruk, tetapi ada sedikit ke khawatiran di benakku seketika saja terlintas, karena ada ibu dan bapak sehingga aku takut bapak murka.
Aku tahu betul sifat dan sikap bapak, kalau sudah tidak suka, jangankan untuk berjabat tangan dan berkenalan, untuk hanya sekedar berpapasan saja rasanya bapak tidak akan sudi, tapi bagaimana caranya aku menolak? untuk tidak membuat hatinya tersinggung atau terluka, terlebih dalam kondisi seperti ini aku justru semakin takut kalau mas Ayden akan salah sangka.
"Hm, boleh". Ucapku pada akhirnya, dan seperti biasa mas Ayden membukakan pintu penumpang untukku.
Next?
__ADS_1