
"Maksud kamu apa?". Tanya Junot lagi.
"Bukan apa-apa". Elak Nareta menundukkan kepalanya.
"Eh, aku lagi ngomong sama kamu, lihat mataku?!". Perintah Junot sembari menyentuh dagu Nareta.
Mau tidak mau akhirnya kedua mata mereka saling bertemu, dan ada sesuatu yang akhirnya terungkap meskipun hanya melihat sorot mata Nareta pun sebaliknya.
Mereka sama-sama saling Sayang, meskipun kata "Sayang" bisa di artikan banyak hal, yang pasti saat Nareta bicara bahwa dia pernah merasakan sakit yang lebih sakit dari saat ini, seketika itu juga Junot merasa terluka.
Tiba-tiba Aksa pulang bersama Bagas, Nareta dan Junot masih terpaku berada di posisinya, hingga teriakkan Aksa menyadarkan keduanya.
"AYAH?!" Teriak Aksa sembari berlari kecil menghampiri Junot.
"Hei sayang?". Ucap Junot sembari tersenyum.
"Ayah, kapan pulang? Ayah datang bukan untuk jemput Aksa kan?". Tanya Aksa dengan raut wajah sendu.
"Heh, baru saja, Iyah Ayah datang untuk jemput kamu, Oma terus nanyain kamu katanya rindu".
"Yah, Aksa disini kan baru sebental belum lama". Ucap Aksa dengan lesu sembari duduk di samping Nareta".
"Sayang, pulang dulu yah?! Oma udah kangen sama Aksa, nanti kita bisa ketemu lagi kok".
"Apa Mamah akan baik-baik aja?". Tanya Aksa seperti orang dewasa.
"Heh? Tentu, tentunya Mamah akan baik-baik aja kok". Ucap Nareta berbohong.
Junot yang melihat kebohongan dari sorot mata Nareta akhirnya menyudahi percakapan itu.
"Aksa, benar kata kamu... mungkin Mamah akan tidak baik-baik saja, maka untuk malam ini kamu sama Mamah aja yah, besok Ayah datang lagi untuk jemput kamu". Ucap Junot sembari berdiri.
"Benelan Ayah?".
"Iyah dong beneran". Ucap Junot meyakinkan.
Nareta amat bahagia mendengar ucapan Junot, meskipun sebenarnya masih ada rasa curiga. Kenapa dengan Junot? Dia seperti orang yang berbeda.
"Oiya, Ayah bawa oleh-oleh loh buat kamu sayang". Tak tanggung-tanggung Junot membelikan oleh-oleh yang sangat banyak hingga satu koper besar penuh.
"Wahhh, makasih Ayah". Ucap Aska sembari berlari dan memeluk Junot.
"Sama-sama sayang, tapi nanti di bagi-bagi yah sama Kak Akbar dan Zahra". Ucap Junot mengingatkan.
"Oke Ayah". Ucap Aksa kemudian tak sabar ingin segera membuka koper itu dengan di bantu oleh Nareta.
Sementara itu ice cream yang sebelumnya ia mau dan di belikan oleh Bagas sekarang sudah mencair tak Aksa lirik lagi.
Tinggallah Junot dan Bagas di ruang tamu, Bagas segera Duduk di sofa tanpa dosa.
__ADS_1
"Ehem... gimana kerjaan lu? baik-baik aja kan?".
"Heh? baik kok, kenapa lu tumben-tumbenan nanyain kerjaan gua". Tanya Bagaskara.
"Hem, syukurlah kalau baik-baik aja, enggak gua cuma takut kerjaan Lo ke ganggu gara-gara lu sering antar jemput Nareta dan jagain anak gua, yah meskipun sebenarnya gua gak pernah nyuruh sih tapi... makasih". Ucap Junot agak sensi.
"Heh? Hehe... Iyah soalnya gua suka anak kecil, lu sendiri tahukan kalau gua suka sama anak kecil". Tutur Bagas beralbi.
"Hah? sejak kapan lu suka anak kecil? setahu gua justru sebaliknya". Ucap Junot.
"Iyah, itu kan dulu".
"Hem, whatever itu alasan yang sebenarnya, gua sungguh-sungguh berterimakasih sama lu". Ucap Junot yang berhasil membuat Bagas bungkam.
"Ayah, Ayah... Aksa suka sama kapal-kapalan apalagi pesawat terbangnya". Ucap Aksa gemas sembari membawa pesawat terbang.
"Ohh, syukurlah kalau Aksa suka, ini maininnya pake remote sayang". Ucap Junot mempraktekan.
Sementara itu Nareta menatap Bagas dengan sinis, lebih kecewa karena telah di bohongi.
"Gas, aku mau bicara?" Ucap Nareta sembari berjalan menjauh dari Aksa dan Junot.
"Heh, Oke". Ucap Bagas pasrah.
"Gua ngaku gua salah, sorry!". Ucap Bagaskara, berucap terlebih dahulu.
"I know". Ucap Bagas lesu.
"Tapi bisa gak, jangan di bahas!". Pinta Bagas.
"Thanks you". Ucap Nareta kemudian.
Terima kasih untuk segalanya, untuk antar jemputan nya, menjaga Aksa dan juga pengertian atas cinta yang tak mungkin untuk Nareta balas.
"Yaudah udah malem, Ayah sama Om Bagas pulang yah?!". Ucap Junot kepada Aksa.
"Oke, Ayah Istilahat, Daddy juga". Ucap Aksa polos.
"Heh? Daddy?". Ucap Junot kemudian melirik Bagas dengan dingin. Tapi bukannya takut Justru Bagas merasa di atas angin.
"Kenapa lu, iri? bilang Boss!". Ledek Bagas kemudian tersenyum.
"Gua tunggu di luar". Ucap lagi Bagas.
"Hmm, Besok Ayah jemput yah, dan... apartemen ini udah jadi hak milik kamu, jadi gak usah pergi lagi dari apartemen ini. besok aku kasih surat-suratnya udah atas nama kamu juga kok". Ucap Junot.
"Hem, Makasih Mas, tapi kayanya aku gak bisa terima ini semua".
__ADS_1
"Heh? Di persidangan aku udah tulis akan memberikan satu unit apartemen ke kamu, ke Aqila juga, jadi tolong di terima!".
"Yaudah anak Ayah jangan nakal terus tidur yang nyenyak...." Kemudian Junot membisikkan sesuatu di telinga Aksa.
"Peluk Mamah untuk Ayah, jangan di lepasin". Kemudian Aksa tertawa...
"Ayah geli". Ucapnya sembari tertawa.
"Hem... tapi kamu dengar kan?".
"Iyah Ayah Siap!". Ucap Aksa benar-benar anak yang penurut.
"Yaudah Ayah pergi". Kemudian tak lupa Junot mencium kening Aksa.
"Kok Mamah enggak di cun?". Ucap Aksa dengan gemas.
"Hah?". Ucap keduanya bersamaan.
"Ehem, yah enggak dong kan Mamah udah gede". Elak Nareta agar Junot tidak menuruti apa yang menjadi kemauan Aksa.
"Hem, tapi Oma sama Opa seling kok cun kening". Jawab Aksa polos.
"Heh, Iyah intinya...".
"Aksa dengerin Ayah!". Ucap Junot tegas.
"Mamah dan Ayah udah gak bersama jadi hal itu gak perlu untuk di lakukan lagi".
"Mas?". Ucap Nareta terkejut.
"Aksa kan masih kecil dia gak perlu tahu".
"Enggak, justru dia harus tahu, sejak kecil jangan pernah membohonginya! lagian Aksa sebenarnya udah tahu kok, tepat saat kutukan palu. Aku juga sudah menyiapkan dokter Psikiater dan Psikolog". Ucap Junot panjang lebar.
"Heh, kenapa aku tidak pernah berpikir sejauh itu..." Ucap Nareta merasa dirinya gagal sebagai seorang ibu.
"Maafin Mamah ya sayang selama ini Mamah udah banyak bohong sama kamu, padahal di bohongi adalah hal yang paling Mamah benci". Tutur Nareta sembari memeluk Aksa.
"Yaudah kalian istirahat, Assalamuallaikum".
"Waalaikumsalam". Ucap Nareta yang kemudian di ikuti oleh Aksa.
"Nareta, jangan menyalahkan diri kamu sendiri!". Ucap Junot kemudian benar-benar pergi.
"Mah, Aksa baik-baik aja kok, Asalkan Mamah happy! Aksa juga akan ikut Happy!". Ucapnya benar-benar seperti orang dewasa.
"Heh, makasih yah sayang! kamu selalu nguatin Mamah, ngehibur Mamah dan juga ngejagain Mamah!". Ucap Nareta tulus.
"Iyah, Aksa lebih beltelimakasih karena Mamah udah ngelahirin Aksa!". Ucapnya berkaca-kaca.
__ADS_1
Bersambung...