Aksa

Aksa
part 68


__ADS_3

Alhamdulillah acaranya berjalan dengan lancar, satu persatu tamu undangan pulang termasuk Keluarga Kak Juwita dan juga Bunda, kebetulan Ayah sedang di luar kota makanya gak ada.


Setelah semuanya benar-benar pergi tinggallah aku, Junot dan Aksa. Jujur saja aku bingung harus berbuat apa, tapi kehadiran Junot di acara ulang tahun Aksa ini berhasil membuat aku dan Aksa bahagia, sejenak ke kesalan ku selama ini seakan-akan sirna begitu saja, sembari dalam hati berdoa semoga tidak hanya tahun ini, tapi tahun-tahun selanjutnya pun akan terus begini.


Tiba-tiba saja suara yang sangat aku rindukan keluar membuyarkan lamunanku.


"Aksa kayanya ngantuk, aku tidurkan dulu ke kamar yah". Ucapnya dengan lembut.


"Hm, iyah".


Setelah kepergian Junot dengan Aksa ke dalam kamar aku di kejutkan dengan kehadiran seorang wanita yang tidak di undang.


Wajahnya terlihat kesal memerah menahan amarah, seketika aku berpikir... haruskah aku bersyukur karena Junot lebih memiliki aku ketimbang wanita muda nan cantik yang saat ini ada di depan mataku.


"Maaf anda siapa dan ada keperluan apa?". Tanyaku seolah-oleh tidak tahu.


"Kamu tanya aja langsung ke suami kamu, pelakor". Ucapnya yang berhasil membuat aku ingin tertawa seketika.


"Heh, iyah dia memang suami sah saya, lantas kenapa anda ada di sini? dan maaf siapa yang anda sebut pelakor".


"Gak usah sok bego deh, mbak tahukan kalau Junot itu pacar saya, kenapa mbak mau di nikahi dia". Ucap wanita itu sedikit berteriak yang berhasil membuat Junot datang.


"Aqila? ngapain kamu kesini?".


"Kenapa? kamu kaget? kamu marah aku datang ke rumah kamu heh?".


"Aku kan udah bilang jangan ikutin aku".


"Kenapa aku gak boleh kesini? dulu rumah ini adalah rumah yang kamu bangun untuk kita, bukan kamu huni dengan dia". Aku hanya bisa terdiam membisu mendengarkan kalimat barusan.


"Heh, maaf sepertinya kehadiran aku disini tidak di butuhkan, aku permisi undur diri". Ucapku dengan nada pilu.


"Kamu mau kemana?! jangan berani beranjak selangkah pun dari rumah ini". Ucap Junot sembari menarik pergelangan tanganku.


"Kenapa? bukankah aku tidak pernah sedikitpun kamu butuhkan? lantas untuk apa aku masih ada disini?".


"Kamu ngomong apa sih? Aksa butuh kamu?! dan sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi ibu dari anakku".


"Lalu bagaimana dengan aku?". Tanya wanita bernama Aqila itu dengan tak percaya.


"Dan kamu tetap akan menjadi istri sirih ku". Ucap Junot dengan santai nya.


"Aku gak mau". Ucap Aqila murka

__ADS_1


"Aku mau jadi istri sah kamu, dan satu-satunya dalam hidupmu Jun". Ucapnya dengan lantang.


"Kamu dengar itu?". Ucapku dan segera berlalu pergi menuju kamar, sebab aku tak sanggup harus menjadi pilihan yang kalah. Tapi sebelum aku benar-benar pergi Junot lebih dulu berbicara dengan lantang dan tak ingin di bantah kepada Aqila dengan suara nyaring.


"Kamu masih mau menjadi istri sirihku atau kita berakhir di sini?! pilihan ada di tangan kamu".


"Junot?!". Ucap Aqila tak percaya


***


Aku sedang merenung di dalam kamar, apa yang telah aku ambil ini yang terbaik untukku dan Aksa atau ini adalah kesalahan besar yang aku ambil, sebab di dalam lubuk hatiku yang paling dalam sebenarnya aku tidak ingin kehilangan Junot sebab aku telah mencintai nya.


perlahan namun pasti suara Junot dan Aqila tiba-tiba menghilang, mungkin Junot dan Aqila telah pergi, batinku.


***


Setelah dapat ku pastikan Nareta pergi ke dalam kamar, aku segera menarik pergelangan tangan Aqila untuk pergi dari rumah itu, dan tak lupa untuk mengunci pintu, aku takut Nareta nekat lari membawa Aksa pergi.


Aku segera membawa Aqila masuk kedalam mobil, dan rentetan kekesalan ku ungkapkan.


"Kamu jangan ngelunjak jadi orang, harus nya kamu bersyukur karena Nareta tidak marah dan menyuruh aku menceraikan kamu, ngerti?!".


"Karena kalau sampai Nareta meminta hal itu, aku tidak bisa membantahnya, aku memang bersalah telah mengkhianati pernikahan ini".


"Kamu hanya memberikan aku nafkah tapi tidak pernah memberiku nafkah batin, apa itu yang di sebut suami istri".


"Kita sudah lima bulan menikah dan kamu gak pernah sentuh aku". Ucap Aqila terisak-isak.


"Hentikan, kamu tahu betulkan apa yang membuat aku gak bisa menyentuhmu".


"Aku gak bisa menyentuhmu sebelum Nareta memberikan izin untuk aku menikah lagi".


"Lantas untuk apa kita menikah diam-diam, tanpa seorang pun yang tahu? jika pada akhirnya kamu tetap tidak akan menyentuhku sampai mendapatkan izin dari istri mu itu, hah?".


"Untuk menjaga ketakwaan ku, aku tahu apa yang aku lakukan ini salah, tapi paling tidak aku tidak berdosa di hadapan Tuhan".


"Heh... konyol".


"Bukankah ini semua mau mu? kamu sendiri yang terus memaksa aku untuk menikahimu".


"Hah? jadi maksud kamu,. . . kamu tidak pernah ingin menikahi aku?".


"Tentu saja tidak".

__ADS_1


"Apa?"


"Asal kamu tahu di hatiku hanya ada Nareta".


"Heh... apa yang kamu ucapkan barusan itu bohong kan, jawab itu semua bohong Jun".


"Apa yang kamu dengar barusan itulah kenyataannya Aqil, aku tidak pernah mencintaimu, tidak sedikitpun".


"Aku menikahimu karena terus di hantui rasa kasihan, kamu sendirian".


"Seketika itu juga tangisan Aqila pecah".


***


Yah, aku sendirian karena sejak kecil kedua orang tuaku pergi meninggalkan aku sendiri, mereka pergi mencari kebahagiaan nya masing-masing tanpa pernah memperdulikan ku.


Sejak kecil aku tinggal bersama nenek dan beranjak dewasa nenek pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya.


***


Aku tahu apa yang aku ucapkan barusan telah menghancurkan hati Aqila,... tapi dia seharusnya lebih tahu diri sebelum pada akhirnya aku ungkapkan apa yang sebenarnya ingin aku ungkapkan sedari lama.


Maaf Aqila karena kamu harus mendengarkan ucapan yang tidak pernah ingin kamu dengar.


Dan untuk Nareta ...


Maaf atas kesalah pahaman yang telah terjadi selama ini.


Seribu kata maaf mungkin tidak akan pernah cukup untuk membayar kesalahan yang telah aku lakukan padamu... tapi aku mohon berikan aku kesempatan kedua untuk menebus semua kesalahan yang telah aku perbuat padamu.


Maaf atas segalanya...


***


Aku tidak tahu harus berbuat apa... saat ini, hati dan jiwaku bagaimana layangan putus terombang ambil tak tahu harus kemana.


Aku merasa tidak pantas berada di rumah ini, tak pantas mendapatkan kebahagiaan dari keluarga Junot dan tak pantas mendapatkan sebutan Istri Junot juga Ibu dari Aksa.


Sebab seharusnya aku tidak pernah ada dalam keluarga Abraham.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2