Aksa

Aksa
part 82


__ADS_3

Malam tiba, untuk pertama kalinya setelah bercerai dengan Junot, Nareta bisa kembali tinggal bahkan tidur bersama anak semata wayangnya.


"Mah, Aksa mau di bacain buku dongeng dong bolehkan?".


"Heh? boleh dong... tapi".


"Gak ada buku dongengnya yah Mah".


"Heh? Iyah sayang, atau... bentar Mamah cari di internet deh, kamu mau dongeng apa?".


"Aku mau dongeng yang seling Ayah celitain ke Aksa Mah".


"Heh? Ayah sering bacain dongeng buat Aksa?".


"Iyah, Aksa sama Ayah seling melakukan apapun bersama". Ucap Aksa dengan polosnya.


"Heh... ". Syukurlah Batinku, aku tidak perlu khawatir tentang Aksa, terbukti Aksa baik-baik aja bersama Ayahnya.


"Cerita yang sering Ayah bacain tentang apa sayang?".


"Mmm... kancil dan buaya atau semut dan belalang". Ucapnya sembari berpikir.


"Hm, oke... udah ketemu". Akhirnya Nareta memulai membacakan cerita dongeng yang Aksa mau hingga Aksa terlelap tidur.


***


Pagi harinya Aku sudah menyiapkan sarapan untukku dan juga Aksa, tak berapa lama setelah Aku membangunkan Aksa, suara bel pintu apartemen berbunyi.


"Heh? siapa yang bertamu sepagi ini". Pikirku dan segera melihat siapa gerangan yang bertamu.


"Bagas?". Ucapku sedikit terkejut.


"Hehe... Pagi?".


"Hem, Pagi, masuk Gas?!". Ucapku dengan sedikit kikuk.


"Hem, beneran nih boleh masuk?". Tanyanya tidak percaya.


"Iyahhh... terserah kamu mau nunggu di luar juga boleh". Ucap Nareta dengan santai.


"Eh, mau di dalem aja, hehe".


"Hem, silahkan".


"Ada apa Gas sepagi ini udah datang kesini". Tanya Nareta to the point.


"Heh? Mau anterin kamu ke kantor, dan sementara kamu kerja Aksa biar sama aku aja".


"Heh? Junot yang nyuruh?". Tanyaku dengan sedikit kecewa, sebab jika benar... itu artinya Junot tidak percaya padaku, batinku.


"Hm, Iyalah siapa lagi".


"Ohh yaudah, kamu kalau mau? sarapan dulu aja, aku mau mandiin Aksa". Ucap Nareta sembari pergi memangku Aksa.


07:45


Kita baru saja sampai di depan kantor ku, kemudian aku berpamitan kepada Aksa.

__ADS_1


"Aksa Mamah kerja dulu yah, kamu sama Om Bagas dulu jangan nakal ya?!".


"Iyah Mah". kemudian Nareta mencium kedua sisi pipi Aksa begitupun sebaliknya.


Tak lama setelah Bagaskara dan Aksa pergi, datanglah Lisda dengan tatapan curiga.


"Cie... di anterin siapa tuh? calon papah baru untuk Aksa yah?".


"Hus, apaan sih Lis, itu kan Bagaskara temennya Junot". Ucapku menjelaskan kepada Lisda, walaupun sebenarnya agak sedikit kesal karena ucapannya suka ngasal.


"Hah? Ohh... kirain".


"Iyah, makanya di lihat dulu dong jangan asal bicara atau menyimpulkan sesuatu yang belum pasti". Ceramah Nareta.


"Tapi apa lu gak ngerasa?".


"Apa lagi".


"Kalau menurut gua, Bagaskara itu kelihatan banget suka sama lu, lu gak ngerasa apa?".


"Hah? masa sih, enggaklah gak mungkin". Bantahku, meskipun sebenarnya terkadang Bagas memang sering ke gap lagi ngeliatin gua.


"Hem, yah menurut gua sih Bagas keliatan suka sama lu, bahkan disaat lu masih jadi istri dari Junot".


"Heh, tahu deh... udah ah kita fokus kerja aja!". Ucap Nareta untuk menyudahi kecurigaan Lisda yang berlebih.


***


Lima hari berlalu... aku benar-benar tidak menyangka waktu berlalu secepat ini. Tadi siang saat aku di kantor, Junot mengabariku kalau dia akan pulang, entah sore atau malam yang pasti besok pagi aku akan kembali sendiri lagi.


10 menit yang lalu aku dan Aksa sampai di apartemen dengan bantuan Bagaskara tentunya, namun sesampainya di apartemen Aksa merengek minta di belikan ice cream, sesuai janji Bagas dia akan melakukan apapun asalkan Aksa memanggilnya dengan sebutan Daddy.


Maka Bagas dan Aksa pun pergi ke supermarket atau Drive thru, hanya untuk membeli ice cream.


Kebetulan aku tidak enak badan maka kali ini aku tidak ikut, namun baru saja Aksa dan Bagas pergi tiba-tiba pintu bel kembali berbunyi, pikirku mungkin ada sesuatu yang tertinggal.


"Ada apa Gas? kok balik lagi?". Ucapku sembari membuka pintu.


"Bagaskara ? Bagas sering kesini?". Tanya Junot penasaran, dan berusaha sekeras mungkin menyembunyikan ke kesalannya.


"Hm, Iyah setiap hari". Ucap Nareta lesu.


"Ohh, sedekat itu kamu dengan Bagas, Udah ngapain aja?".


"Maksudnya?".


"Yah, cowok sama cewek dalam satu ruangan yang sama kayanya gak mungkin gak terjadi apa-apa".


"Tunggu-tunggu, aku gak paham atas apa yang kamu tuduhkan sama aku barusan, bukannya kamu yang menyuruh Bagas untuk antara jemput aku!?".


"Hah? sejak kapan, aku gak pernah nyuruh Bagas untuk antara jemput kamu, kalau Aksa... Iyah pernah itupun sekali".


"Jadi? selama ini Bagas bohongin aku?".


"Maybe". Ucap Junot acuh kemudian berbaring di sofa.


Sementara itu Nareta merasa malu, bisa-bisanya aku di bodohi dan di bohongi oleh Bagas pria yang aku anggap baik. Ucap Nareta dalam hati.

__ADS_1


"Oiya, Aksa kemana?". Tanya Junot.


"Lagi ke luar sama Bagas, beli Ice cream". Jawab Nareta kemudian berlalu pergi.


***


"Aduh apa yang harus aku lakukan, keluar kamar atau enggak?". Akhirnya Nareta memutuskan keluar.


"Ehem, Kamu mau makan?". Tawar Nareta kepada Junot yang tengah berbaring di sofa.


"Heh? gak usah aku udah makan di pesawat".


"Ohh, yaudah".


"Tapi kalau gak keberatan boleh buatkan kopi?!".


"Heh? Ohh Iyah".


Nareta segera ke dapur dan memasak air, tak disangka Junot ternyata mengikutinya dari belakang.


"Heh? ada apa?".


Junot memperhatikan lekuk tubuh Nareta dari atas kepala hingga ke ujung kaki. Heh... tubuhnya semakin seksi. Pantas saja Bagas menyukai Nareta, batin Junot.


"Hey? kamu ngeliat apa?".


"Hah? enggak... bukan apa-apa".


"Mas, kalau boleh untuk malam ini aja Aksa sama aku yah". Ucap Nareta dengan sorot mata yang berbinar.


"Heh? bukannya gak boleh tapi Bunda udah nanyain terus Aksa dari kemarin".


"Heh... gitu yah". Seketika wajah Nareta sendu.


"Tapi..."


"Gak apa-apa Mas, aku ngerti kok". Ucap Nareta sembari menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah berisikan kopi.


Karena Nareta agak kurang fokus sehingga terus menuangkan air panas itu padahal sudah penuh alhasil tangannya terkena air panas.


Junot yang melihat kejadian itu, secara refleks segera membawa tangan Nareta menuju wastafel dan mendinginkan dengan menyalakan kran air.


"Kamu mikirin apa sih? tahu gak apa yang barusan kamu lakuin itu bahaya, lihat tangan kamu jadi melepuh". Cerca Junot.


"Heh?". Entah apa yang terjadi dengan Nareta, ia sama sekali tidak memperdulikan tangannya yang saat ini tengah melepuh, justru Nareta merasa bahagia sebab Junot saat ini tengah mengkhawatirkannya.


Junot segera membawa Nareta ke ruang tengah, menyuruhnya duduk di sofa sementara itu dia tengah sibuk mencari P3K, kemudian dia berjongkok lalu mengoleskan krim untuk mengobati luka bakar Nareta.


"Ini mungkin agak sakit, tahan sebentar!". Ucap Junot memperingati.


"It's okay, aku pernah merasakan hal yang lebih sakit dari pada ini kok". Ucap Nareta ketir.


"Heh? Maksud kamu?". Tatapan Junot menusuk kedua mata Nareta.


Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2