Aksa

Aksa
part 71


__ADS_3

Aku tidak tahu harus berbuat apa? dalam waktu yang bersamaan Aku merasa kesal juga sedih.


Pada akhirnya kita berdua saling menatap tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.


Sebenarnya aku hendak ingin memulai percakapan kepada Mas Junot, namun ku urungkan lagi dan lagi, aku tak sampai hati untuk memaki, tapi rasanya... kekesalan itu sudah terwakilkan oleh Kak Juwita.


"Sayang kamu gak usah pikirin apa yang barusan Junot katakan yah?!" Ucap Bunda tiba-tiba kembali datang, lalu menatap Junot murka.


"Ayo, sebaiknya kita keluar!". Ucap Bunda lagi.


Aku patuh dengan apa yang di minta Bunda, pergi meninggalkan Junot sendiri, di sepanjang jalan menuju lantai dua, Bunda terus memeluk sembari mengelus-elus pundakku dengan lembut, dapat kurasakan rasa sayang Bunda untukku yang begitu dalam dan tulus.


"Kenapa selama ini kamu diam saja?".Tanya Bunda padaku.


Lantas sepatutnya aku harus berbuat apa? batinku.


"Na? kalau ada apa-apa sebaiknya kamu cerita ke Bunda, kamu gak usah sungkan, karena apa yang mau kamu ceritakan itu adalah kelakuan jelek anak kandung Bunda". Ucap Bunda lagi dengan lembut.


Aku hanya mampu mengangguk dengan berat hati, aku merasa tindakanku selama ini salah, apa mungkin jika sedari awal aku mengadukan prilaku Junot kepada Bunda hal ini tidak akan terjadi?


"Kamu gak usah pikirin apa yang barusan Junot katakan yah! sampai kapanpun cuma kamu menantu Bunda".


"Dan satu lagi, mulai sekarang kamu tinggal saja di sini bersama Bunda". Ucap Bunda dengan tegas tanpa ingin di bantah.


"Bun, apa sebaiknya aku dan Mas Junot berpisah saja?" Ucapku dengan datar seakan tidak di pikirkan dengan matang.


"APA? kamu kenapa?". Tanya Bunda dengan ekspresi kaget.


"Karena ... selama kita menikah, Nana rasa cinta tidak pernah ada dalam pernikahan kita".


"Gak mungkin gak ada cinta, buktinya Aksa tercipta dalam pernikahan kalian". Tutur Bunda sembari tersenyum.


"Sepertinya tidak Bun". Ucapku lagi dengan datar.


"Maksud kamu?".


Aku bingung harus berkata yang sebenarnya terjadi mulai dari mana, yang pasti aku tak sampai hati jika harus berkata kehadiran Aksa adalah kecelakaan atau kesalahan.

__ADS_1


"Ah, enggak... bukan apa-apa kok Bun". Aku urungkan untuk menceritakan semua hal yang bersifat pribadi dalam rumah tangga ku.


Karena meskipun begitu... Junot adalah suamiku, Ayah dari anakku, aib rumah tangga harus aku jaga, termasuk kepada Bunda apalagi dari keluargaku.


Setelah mengantar Nareta ke dalam kamar berisi Aksa yang tengah terlelap, tiba-tiba Junot datang dengan wajah gusar.


"Ayo, kita pulang?!". Ucap Junot menarik tangan Nareta kasar.


Tidak ada penolakan apapun dari Nareta, akan tetapi dia memberanikan diri untuk berbicara sebelum akhirnya benar-benar pergi.


"Mas, sebentar aku gendong dulu Aksa". Ucap Nareta dengan santai, kemudian Junot berbalik dan melihat Aksa yang sedang terlelap.


"Biar aku saja!". Tanpa lama lagi, Junot segera menggendong Aksa ke dalam dekapannya. Anehnya Aksa bukannya terbangun justru ia terlihat semakin nyenyak karena di gendong Junot.


"Tunggu apa lagi? kenapa kamu diam? cepat bawa barang-barang yang kamu perlukan".


"Heh? kenapa bawa barang-barang? Kitakan mau pulang kerumah, semua hal yang kita butuhkan ada di sana".


"Enggak, kita gak pulang ke rumah, kita pergi ke hotel".


"Hah?". Seketika aku bingung, dan mengernyit apa yang dimaksud Mas Junot, kenapa kita tidak pulang kerumah, lalu kenapa kita pergi diam-diam seperti pencuri.


"Kamu sedang apa? cepat ! dan tolong bukakan pintu". Ucap Junot membuyarkan lamunanku.


"Hah? Iyah Mas". Ucapku dengan ling-lung dan segera membukakan pintu mobil seperti apa yang di perintahkan Junot tadi, kemudian berdiri di samping mobil.


"Kamu kenapa? Cepat Masuk!". Kali ini nada suaranya agak meninggi. Tetapi seperti biasa aku tidak bereaksi apa-apa.


Aku duduk di kursi depan penumpang, kemudian Junot menyerahkan Aksa kepadaku, lalu ia berlari dan duduk di kursi pengemudi, dan menutup pintu depan pelan, mungkin karena takut Aksa akan terbangun, meskipun sebenarnya sangat jelas terlihat ia tengah emosi.


"Kamu kenapa sih? dari tadi aku perhatikan kamu kaya orang bingung". Ucap Junot sembari menatapku dengan lekat.


"Aku mau pulang!". Ucapku tanpa ekspresi masih menatap ke arah depan.


"Heh? Baiklah kalau itu mau mu". Ucap Junot pasrah sembari menyalakan mesin mobil.


"Pulang kerumah orang tua ku". Ucapku lagi, kali ini berhasil membuat Junot terdiam tidak melanjutkan apapun.

__ADS_1


Jujur saja, aku tidak menyangka dengan jawaban yang akan di berikan Junot.


"Heh... jangan harap, aku akan mewujudkan keinginanmu". Ucapnya dingin, matanya menggelap, kemudian melajukan mobil dengan kencang.


***


Dua jam berlalu aku tidak tahu akan dibawa kemana, jalanan perlahan mulai sepi dan gelap tidak ada pencahayaan sama sekali, aku memberanikan diri untuk bertanya.


"Kita mau kemana?". Tapi tidak ada jawaban apapun, hanya ada suara jangkrik dan kicauan burung hantu yang aku terima.


Tiba-tiba Aksa terbangun dan menangis karena laju mobil yang memang sangat menggangu karena jalanan yang mulai tidak mulus.


Aku mencoba menenangkan Aksa di tengah-tengah kegelisahan ini, sementara itu Junot tidak bergeming sama sekali, seketika aku melihatnya seperti orang asing.


5km dari kita terlihat pencahayaan kecil dari sebuah rumah, kurasa kini kita berada di hutan, suasananya benar-benar sunyi dan gelap, dan ku rasa hanya ada satu rumah dan tempat itulah tujuan Junot.



Dan benar saja Junot berhenti tepat di pekarangan rumah itu, dia segera turun dari mobil dan membuka pintu mobil arahku kemudian mengambil Aksa dariku yang sudah kembali terlelap lima menit yang lalu.


Aku sama sekali tidak takut akan kegelapan atau karena kini kita sedang di tengah hutan, akan tetapi aku takut terhadap Junot yang saat ini sama sekali tidak aku kenali.


Junot pergi membawa Aksa kedalam rumah itu, dia sama sekali tidak mengajak aku untuk masuk kedalam, sepertinya kini dia tahu harus bagaimana menyikapi sikapku, aku akan pergi kemanapun asalkan bersama Aksa.


Ia aku akan melakukan apapun demi Aksa, anak yang telah aku kandung selama tujuh bulan, ku beri ASI selama 1,5 tahun, dan akan aku jaga melebihi apapun.


Aksa adalah hidupku jika tidak ada Aksa maka untuk apa aku hidup, kurasa semua ibu akan berbicara seperti itu tidak hanya aku.


Junot menidurkan Aksa di atas kayu jati yang terlihat masih kokoh meskipun telah berusia lebih dari Aksa, kemudian ia mencari-cari sesuatu untuk dijadikan alas kepala Aksa.


Tak lama kemudian Junot kembali sembari membawa bantal dan selimut dari dalam mobilnya.


Aku tidak bicara apapun kepada Junot hanya melihat-lihat sekeliling di sana tertulis nama Junot Abraham lengkap dengan foto masa kecilnya, tempat ini terlihat terawat terbukti dengan tidak adanya hal-hal yang menjijikkan seperti bau atau kotor.


Sementara itu Junot sudah terlelap, berbaring tepat di sebelah Aksa.


Seketika aku berpikir, keberadaan kita disini tidak terlihat buruk juga, dua pria yang aku sayangi ada di hidupku.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2