
Disepanjang perjalanan menuju rumah Junot terus menerus teringat akan Nareta, apa tidak sebaiknya Aksa aku berikan kepadanya, hanya untuk sementara waktu, selama aku pergi keluar negeri, pikirnya.
Tapi... saat ini Nareta pasti tengah di kantor, apa tidak perlu.
"Bun, Bunda". Teriak Junot kepada Bunda.
"Iyah sayang, kenapa? kok pulang lagi, ada yang ketinggalan?".
"Enggak..enggak, Junot lupa kalau hari ini Junot harus ke Singapore".
"Apa? terus ?".
"Bun, selagi aku gak ada, apa enggak sebaiknya Aksa di perbolehkan tinggal bersama Nareta saja". Ucap Junot.
"Heh? Boleh aja, tapi apa engga sebaiknya Nareta saja yang datang dan tinggal di sini".
"Bun, Nareta pasti akan merasa canggung".
"Iyah, Bunda tahu tapi...".
"Bun, hanya seminggu tapi bisa jadi lebih cepat dari pada itu".
"Sebenarnya Bunda gak masalah, tapi tempat tinggal Nareta itu...". Bunda tidak sampai mengucapkannya, tapi Junot sudah paham akan maksud Bunda.
"Itu bisa di atur, jadi bolehkah?".
"Iyah, Boleh".
"Hm, makasih yah Bun, kalau gitu aku temui Aksa dulu sembari bawa pospor".
"Iyah, kamu hati-hati yah".
***
09:50
Aku segera pergi ke bandara, segala hal mengenai Aksa sudah Junot urus.
Tentu saja tidak ia kerjakan seorang diri, ia harus melibatkan Bagaskara, untuk mengantarkan Aksa ke Apartemen yang sudah ia beli untuk Nareta.
Sementara itu 5 menit yang lalu ia sudah memberikan pesan singkat kepada Nareta.
Meskipun hingga detik ini pesan itu masih belum juga Nareta lihat. Junot sangat memakluminya, mungkin saat ini dia tengah sibuk.
***
Tepat pukul 12.00 siang, aku menyelesaikan kerjaan ku, lalu segera memeriksakan handphone.
Dan benar saja, beberapa notifikasi, pesan singkat bermunculan, namun nama Junotlah yang menggelitik hatiku.
Ada apa gerangan, tumben-tumbenan, pikirku.
Junot : "Aku titip Aksa yah, beberapa hari kedepan aku harus ke luar negeri". Seketika itu juga aku berterima kegirangan.
"Hei, kenapa?". Tanya Lisda terkejut.
"Aku... aku akan tinggal bersama Aksa beberapa hari kedepan". Ucapku dengan tatapan berkilauan.
"Ahh, kirain ada apa, Iyah syukurlah kamu beruntung punya mantan suami yang baik dan pengertian". Ucap Lisda.
"Heh, beruntung?". Masih pantaskah kalimat itu di tujukan padaku? bukankah semestinya Aku hidup bahagia dan tidak perlu melewati kesediaan yang bertubi-tubi, jika memang aku beruntung.
"Ahh... Iyah". Ucapku dengan pelan.
"Yaudah yuk ke kantin, kita makan". Ucap lagi Lisda.
"Hm oke, biar gua yang traktir".
__ADS_1
"Hah? seriusan nih?".
"Iyah".
"Asikkkk... boleh pesan apa ajakan?".
"Heh, apa saja".
"Thanks you".
"Hmm".
***
17:30
Aku baru saja selesai, dan segera mematikan layar komputer, aku benar-benar sudah tidak sabar lagi untuk segera pulang.
"Oiya, aku jemput Aksa di rumah Bunda atau Aksa di antar ke kosanku yah?". Tanyaku dalam hati, baru terpikirkan.
Sembari berjalan akhirnya aku mencoba menghubungi Junot...
"Halo?".
"Iyah, kenapa?".
Belum sempat aku berucap Aksa sudah lebih dulu berlari menghampiriku, aku benar-benar bahagia sekaligus terkejut.
"Mamah".
"Aksa, kamu kesini sama siapa?".
"Sama Daddy". Ucap Aksa polos.
"Hah? Daddy siapa?". Tanyaku bingung.
Dan Junot yang mendengar perbincangan itu, berhasil membuat ia naik darah.
"Wah, berani-berani nya dia ngajarin Aksa yang gak bener, awas aja nanti". Ucap Junot dalam hati.
"Udah selesai kerjaannya?". Tanya Bagaskara ramah.
"Udah". Jawabku singkat.
"Ehem". Dehem Junot di seberang sana, seketika menyadarkan Nareta.
"Ahh, maaf Mas aku tutup telpon nya dulu yah". Ucap Nareta.
"Tunggu, aku mau bicara dengan Aksa".
"Oh, baiklah".
"Sayang, ini ayah mau bicara". Ucap Nareta kepada Aksa.
"Halo, Aksa disini, ada apa Ayah?".
"Hem, jangan rewel yah, kamu gak boleh nakal dan jangan terlalu dekat dengan orang baru, oke?".
"Baik Ayah".
"Em, satu lagi... jaga Mamah kamu kan anak laki-laki!".
"Iyah Ayah". Ucap Aksa lalu memberi handphone itu kepada Nareta.
"Sudah?". Tanya Nareta kepada Aksa.
"Udah, tapi Ayah ingin sekali lagi mendengal suara Mamah".
__ADS_1
"Hah? Ahh... Iyah".
"Halo, Mas?".
"Aku titip Aksa yah, kalau kamu kerja nanti akan ada baby siter dan supir yang akan menjemput dan menjaga Aksa".
"Apa? Emm, Mas... kamu percaya padakukan? selama kamu gak ada Aksa aman kok bersamaku, kamu jangan risau, aku pastiin Aksa akan baik-baik aja, selama aku kerja sekalipun, jadi kamu gak perlu suruh baby siter ataupun supir, aku mohon?!" Ucap Nareta.
"Heh, yaudah kalau itu mau kamu, tapi... kalau ada apa-apa dengan Aksa kamu harus ngomong sama aku, ngerti?!".
"Iyah, makasih Mas". Ucap Nareta sumringah.
"Yaudah aku tutup dulu telponnya".
"Hm... yah, Assalamu'alaikum".
"Waalaikumsalam". Jawab Junot kemudian mematikan sambungan teleponnya.
***
Nareta dan Aksa tiba di apartemen yang sudah di siapkan Junot. Maksudnya Apartemen yang di beli untuk Nareta tapi tidak pernah ia tempati.
Nareta tidak perlu membawa barang apapun dari kosannya, karena Junot sudah menyiapkan segala hal keperluan Nareta maupun Aksa.
Peralatan rumah tangga, pakaian, makanan dan minuman semua sudah lengkap tersedia, tinggal menempati saja.
"Bagaskara, terima kasih sudah menjemput Aksa dan mengantarkan kita sampai apartemen". Ucap Nareta tepat di depan apartemen itu.
"Heh, Iyah sama-sama, kamu jangan sungkan untuk meminta bantuan apapun itu, Aksa sudah seperti anak aku sendiri". Tutur Bagaskara dengan senyuman menawannya.
"Iyah, sekali lagi makasih, kita masuk dulu yah, ayoh Aksa bilang apa?". Ucap Nareta kepada Aksa.
"Makasih yah Om?". Ucap Aksa gemas.
"Apa, Om? kamu kan udah janji tadi sama Om, kalau mulai hari ini dan seterusnya kamu akan manggil Om dengan sebutan, Daddy!". Protes Bagaskara kepada Aksa.
"Ups... Aksa lupa Om, maaf yah".
"Tuhkan malah di ulangi lagi". Ucap Bagaskara dengan wajah yang di cemberut-cemberutkan.
"Hehehe... Iyah Daddy".
"Nah, gitu dong... Yaudah masuk gih!". Ucap Bagaskara dengan sumringah.
"Oke, night Daddy".
"Night...".
Sementara Nareta sedari tadi tidak berhenti-berhenti dibuat tertawa oleh dua manusia yang menggemaskan ini.
Aksa dengan kecerewetannya dan Bagaskara dengan kemanjaannya terus saja membuat topik yang tidak penting menjadi penting untuk di perbincangkan sepanjang perjalanan tadi hingga detik ini.
Ahh... mungkin hari ini adalah hari terbahagia Nareta pasca bercerai dengan Junot, Karena hari ini Nareta banyak tertawa.
Belum sempat Nareta masuk kedalam apartemen, Bagaskara lebih dulu menghentikan langkah kaki Nareta.
"Nareta?".
"Hem? Iyah".
"Emm, sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini, tapi... aku sudah tidak tahan lagi, aku harus pergi ke kamar kecil".
"Apa? hahaha... tentu saja, kamu boleh memakai kamar mandinya". Ucap Nareta menahan tawa karena melihat ekspresi wajah Bagaskara yang tidak tahan menahan sesuatu.
"Thank you". Ucapnya sembari berlari memasuki apartemen.
Nareta yang melihat hal itu, kembali di buat tertawa... Kemudian menyusul nya masuk kedalam apartemen.
__ADS_1
Bersambung...