
Selesai menghubungi Nareta, gua langsung menghubungi bunda, tidak lain hanya untuk menanyakan perihal Zain apa dia sudah pulang atau masih di rumah, dan bunda bilang...
"Baru saja pulang, kenapa?"
"Oh, gak apa-apa Bunda, gak bisa di hubungi mungkin gak denger apalagi kalau lagi di jalan, yasudah aku tutup dulu yah Bun".
"Tunggu Jun! sampai detik ini Nana belum juga pulang, Bunda jadi khawatir".
"Gak usah khawatir Bun, Nana baik-baik aja kok, dia udah minta izin juga katanya memang mau pulang telat".
"Oh gitu yah, syukurlah kalau dia udah bilang dan minta izin sama kamu".
Ah, syukurlah mereka udah balik, tapi gak tahu juga, bunda sama Zain ngobrol apa aja yah? tapi kalau ada obrolan yang gak harus terjadi, Zain pasti hubungin gua sih minta konfirmasi, yasudah lah sekarang kerjaan gua jadi bertambah harus jemput Nareta.
***
"Lu udah nikah? sama siapa? kok gua gak tahu?". Setelah gua bilang yang barusan telpon adalah suamiku, Lisda benar-benar syok dan minta penjelasan dengan pertanyaan beruntun.
"Iyah, yah sama cowok lah, jelas lu gak tahu... tapi lu yang pertama tahu kok".
"Hah? maksud lu".
"Bukan karena lu hamil di luar nikah kan?".
"Hah? boro-boro hamil di luar nikah, udah nikah aja gua belum di sentuh". Batinku.
"Woyy, malah bengong? gua nanya ini?! Iyah juga gak apa-apa".
"Hah? yah enggaklah, masa iya gua hamil di luar nikah, kalau lu gak percaya lihat saja tiga atau sembilan bulan ke depan perut gua membesar atau enggak".
"Iyah bisa aja kan lu ke guguran".
"Astagfirullah bisa-bisa nya lu ngomong begitu".
"Heh, yah terus kenapa lu bisa nikah diam-diam kalau bukan karena hal itu?"
"Yah oke gua bakalan ceritain semuanya". Alhasil aku menceritakan semua prosesnya, dimulai dari kenapa aku bisa putus dengan mas Ayden, sampai kenapa bisa terjadi pernikahan yang tidak di inginkan ini.Tetapi aku tak sampai hati jika harus menceritakan bahwa pernikahan ini mungkin hanyalah sebuah permainan untuk Junot.
"Oh gitu ceritanya, emang yah sejak awal gua udah curiga kalau Tania itu wanita ular".
"Hah? wanita ular, maksudnya?".
"Licin".
"Hahaha...". Aku benar-benar tidak bisa menahan tawa, saat itu juga tanpa memperdulikan orang-orang sekitar kita berdua tertawa terbahak-bahak sepuasnya.
"Terus suami lu yang mana sih? pasti ganteng, kaya juga kan?".
"Hem, bisa di bilang seperti itu".
" Udah satu jam lebih, suami lu mana sih? kok belum datang juga?". Apa yang di bicarakan Lisda memang benar, aku sendiri tidak tahu apa dia benar-benar akan menjemput ku?
"Iyah, mungkin kena macet". Jawabku menenangkan diriku sendiri.
"Coba lu hubungin?!". Pinta Lisda.
__ADS_1
"Heh? gak usahlah dia pasti datang kok". Jawabku meyakinkan.
"Kenapa, lu buru-buru mau pergi?". Tanyaku pada Lisda, sebab sedari tadi duduknya terlihat tidak tenang.
"Heh? hehe... iya nih ada urusan mendadak".
"Oh, ya udah lu bisa pergi duluan".
"Tapi lu?".
"Enggak apa-apa, paling bentar lagi suami gua nyampe".
"Iyah, sebenarnya gua pengen banget sih ketemu suami lu, tapi gua buru-buru udah di tungguin orang".
"Hem, Iyah lain kali gua kenalin lu ke suami gua".
"Janji yah? ya udah gua pergi duluan yah sorry ".
"Mmm, bye! hati-hati di jalan". Lisda pun pergi dengan terburu-buru.
~bruk
tak sengaja Lisda tersenggol oleh seorang pria.
"Sorry... sorry gak kenapa-kenapa?".
"Heh? Ah iya gak apa-apa kok".
"sekali lagi maaf yah".
"OMG, mimpi apa gua semalam? ketemu cogan (Cowok Ganteng)".
"Permisi? boleh duduk di sini?".
"Iyah? Heh... boleh".
"Kenalkan nama saya Robby pemilik dari Coffee Shop ini".
"Hah? jadi...". Aku benar-benar terkejut di datangi oleh pemilik dari tempat ini.
"Hem, boleh tahu Nama Kakak nya siapa?".
"Heh? Namaku Nareta".
"Nareta?".
"Iyah?".
"Hah, nama yang unik dan juga cantik sama seperti pemiliknya". Heh? jujur saja aku benar-benar terkejut dengan penuturan Robbi pemilik dari coffee shop ini, aku pikir dia mendatangiku ingin menegur karena sudah membuat rusuh dengan tawa aku dan Lisda tadi.
"Ehem, Permisi... wanita yang saat ini anda dekati adalah istri saya, jadi tolong untuk menyingkir!". Ucap Junot dengan tatapan menusuk.
"Ayo sayang kita pulang?!". Aku benar-benar terkejut dengan kedatangan Junot yang tiba-tiba, adegan ini seperti aku tengah berselingkuh dan ketahuan, orang-orang sekitar pun segera ricuh menatap ku tak suka, dan bergosip ria.
"Dih gak tahu diri banget sih tuh cewe, udah punya suami ganteng juga masih aja selingkuh". Cibir seseorang.
__ADS_1
"Iyah, gak bersyukur banget, punya wajah gak cantik-cantik banget juga". Jawab temannya
"Tapi yah kira-kira juga kali, selingkuh itu harusnya ke cowok yang lebih baik, bukan sebaliknya". Ucap orang di meja yang lain.
Tetapi aku tidak peduli, justru tindak tanduk Junot lah yang saat ini telah mencuri perhatianku, Junot membawaku pergi dengan memegangi tanganku. Apa ini mimpi? Sementara Robbi kini wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
Perlahan genggaman Junot yang sebelum nya lembut, pada pergelangan tanganku berubah, seiring tempat kita berdiri yang juga berubah.
"Seneng kamu?". Ucap Junot dengan nada sinis.
"Heh?" Jun, AW... sakit". Protes ku, dan Junot pun segera melepaskan genggaman pada tanganku.
"Cepat masuk!" Perintah nya dengan nada yang lebih lembut.
Tanpa bantahan aku segera masuk ke dalam mobil, dan lagi seperti biasanya kita berdua saling diam tenggelam dalam pemikiran masing-masing, 20 menit kemudian aku perhatikan jalanannya terasa berbeda.
"Kita mau kemana? ini bukan arah jalan pulang ke rumah Bunda?". Tanyaku sembari mengingatkan, barangkali dia lupa karena pekerjaannya yang banyak.
"Kita pulang ke rumah".
"Heh? rumah kamu maksudnya?".
"Ya". Ucapnya singkat.
"loh kenapa? aku suka tinggal di rumah Bunda".
"Karena lebih mewah?". Tanyanya.
"Hah? tentu saja alasannya, bukan karena itu".
"Lalu apa?"
"Seperti apa yang pernah aku bilang, aku merasa lebih di butuhkan di sana".
"Hanya itu?". Tanya Junot sembari menatap ku tajam.
"Jika ada alasan lain, mungkin karena aku bosan berbuat apa-apa sendiri, dan selalu di abaikan".
"Heh? kan ada aku!".
"Iyah, andai saja kamu bisa aku ajak bicara, andai saja kamu bisa lebih menghargai bahwa aku ini ada, aku pasti akan sangat bahagia".
" Baiklah aku akan melakukan apa pun yang kamu mau".
"Hah? benarkah? aku gak salah dengar nih?".
"Enggak, tapi dengan satu syarat".
"Hem, syarat apa?". Ucapku penasaran.
"Rahasiakan hubungan suami istri kita ini dari semua orang, kecuali keluarga dan para saksi saat kita menikah".
"APA? tapi kenapa?"
Next?
__ADS_1