Aksa

Aksa
part 22


__ADS_3

"Bu, Pak, Nana berangkat kerja dulu yah?!". Ucapku, sembari mencium tangan ibu dan bapak bergantian.


"Iyah, ha..". Ucapan ibu terhenti saat Junot menuruni anak tangga dengan hati-hati, sembari menjinjing tas leptop dan kunci mobilnya.


"Nana, pergi yah :)". Ibu masih saja tidak menimpaliku, malah sekarang ibu tengah menganga dan lupa berkedip. Melihat Junot dengan pakaian yang modis dan elegan, belum lagi wanginya yang khas beraroma maskulin memenuhi indra penciuman. Tetapi hal itu tidak akan berpengaruh terbadapku, bagiku Mas Ayden tetap nomor satu.


"Tunggu?!". Langkahku terhenti di ambang pintu, saat mendengar ucapan Junot.


"Apalagi sih?". Gerutuku, sembari kembali berjalan dengan perlahan.


"Bu, Pak, aku juga pamit pergi kerja yah! Assalamualaikum".


"Iyah, hati-hati Nak Jun". Sahut ibu.


"Waalaikum'salam warohmatullahi". Jawab bapak.


"Kita berangkat bareng!". Serunya setengah berlari mengejarku.


"Apaan sih? gak usah! lagian kantor kita beda arah".


"Siapa bilang aku mau ke kantor? aku mau ketemu client dan kita searah". Aku menghembuskan nafas berat mendengar penuturannya.


"Ayo, masuk!". Aku tidak suka dengan sikapnya yang terkesan friendly, karena aku tahu dia tidak begitu, tapi aku juga tidak bisa menolak, sebab lima menit kemudian ibu keluar seperti sengaja ingin memastikan bahwa aku akan menerima tumpangan dari Junot.


Mobil yang kita tumpangi baru saja keluar dari perumahan, kira-kira berjarak 1,6 km dari kediaman Junot. "Berhenti di depan". Pintaku, tapi tidak ia gubris.


"Aku mau naik kendaraan umum saja, turunkan aku di depan". Pintaku lagi.


"Kamu denger tidak?". Sampai di sini aku berusaha untuk sabar menghadapinya.


"Tentu saja, aku dengar, tapi... ". Aku menarik nafas dalam dan memotong perkataannya.


"Syukurlah kalau kamu dengar tidak tu...". Belum sempat ku ucapkan kalimat tuli, dia kembali memotong perkataanku.


"Tapi jangan harap aku mau menuruti ke inginanmu". Aku meliriknya, menatap matanya dengan tajam.


"Apa salahnya dengan tawaran baikku ini?". Aku masih menatapnya, sedikit tak percaya akan apa yang ia katakan, tawaran baik katanya? Heh....

__ADS_1


"Aku benar-benar akan bertemu client, tidak ada maksud lain selain itu". Oh yah? kita lihat apa dia jujur atau sedang beralasan.


"Kamu pikir aku percaya itu? tentu saja tidak".


"Kamu tidak harus percaya, karena aku bukan Tuhan". Dia menjawabnya dengan candaan, di situasi yang bukan untuk bercanda, heh... dia salah besar.


"Haha... kamu pikir itu lucu? sama sekali tidak".


"Kamu pikir aku sedang bercanda? Aku seribu kali lipat tidak sedang bercanda". Tukasnya, tiba-tiba saja ia berbalik menatapku dan memberhentikan mobilnya.


"Apa kamu punya masalah denganku? apa aku telah membuat kesalahan terhadapmu?". Tiba-tiba saja suasana di dalam mobil terasa panas.


"Aku tidak tahu salahku apa? tapi jika kata maaf bisa sedikit mendamaikan hatimu, aku minta maaf". Hah? tidak dapat ku percaya, dengan begitu mudahnya dia mengatakan maaf, nyaris tidak mungkin rasanya.


Aku terdiam membisu, entah kenapa kata maaf yang ia lontarkan berhasil membuat aku berdamai dengan hatiku sendiri, sebenarnya aku tahu dia tidak sedang berbohong, tetapi aku menolak akan kenyataan itu.


***


beberapa menit lalu saat aku di kamar menyiapkan barang-barang keperluanku, aku mendengar dia berjalan ingin menuruni anak tangga sembari berbicara dengan seseorang di seberang sana melalui telpon genggam, mungkin itu sekretarisnya, aku sama sekali tidak menguping tapi salah dia sendiri berbicara dengan nada yang keras sampai aku dengar.


Seseorang di seberang sana mungkin sedang memberikan informasi, yang kembali di ulang oleh Junot, bahwa hari ini Junot yang merupakan CEO dari perusahan Cakrawala Industri Abraham, harus bertemu client di Restoran Kenanga, kebetulan itu salah satu tempat favoritku, tidak... tidak, itu tempat yang penuh memories tempat bersejarah untukku, bersama Mas Ayden karena memang tidak begitu jauh dari kantor. back to the topic siapa yang menjamin jika itu sungguhan? bisa saja kan itu hanya akal-akalannya saja untuk bisa mengantarku. Tetapi kenyataan yang ku terima kini seakan-akan mengkhianati instingku yang selama ini selalu tepat.


***


Sesekali aku melihat kearahnya, melihat pemandangan yang tidak pernah sekalipun terbayangkan, bahwa aku akan duduk di depan dan di supiri oleh pria lain selain Mas Ayden.


"Kamu boleh memandangiku sesuka hatimu, tapi satu pintaku, jangan lupa untuk berkedip". Aku segera memalingkan wajahku, dan entah kenapa rasanya kini pipiku terbakar.


"Siapa yang memandangimu? aku hanya tertarik dengan pemandangan yang ada di sebelah kanan". Dia tersenyum, tapi buatku itu terkesan seperti ejekan.


"Hm, iyah, apa mau ganti posisi?". Aku memicingkan mataku menatapnya sembari berpikir.


"Maksudmu?".


"Kita bisa putar balik". Ucapnya dengan santai.


"Apa?". Ahh, menyebalkan sekali manusia satu ini, aku kembali memalingkan wajahku.

__ADS_1


***


"Sudah sampai! Tidak perlu ku antar sampai lobikan?"


"Tidak perlu, terima kasih atas tumpangannya". Aku segera keluar dari mobil.


Tunggu, rasanya ada sesuatu yang perlu aku sampaikan padanya. Aku segera kembali dan mengetuk kaca mobil.


"Apa, sudah rindu?". What??? apa aku salah dengar? sejak kapan rasa percaya diri itu datang?


"Heh, jangan harap hal itu akan terjadi". Seruku dengan tatapan tajam.


"Hem, jika bukan itu, lalu kenapa kembali?". Tanyanya.


"Sore nanti kamu tidak perlu jemput!".


"Heh, siapa juga yang mau jemput". Aku menganga tak percaya dengan penuturannya. What? ada apa dengannya? sikapnya seperti anak SMP yang mudah berubah alias labil, dia berlalu pergi dengan kecepatan tinggi.


***


Waktu berlalu dengan begitu cepat, mungkin karena kini tugasku lebih banyak dua kali lipat dari sebelumnya. Sementara itu aku tidak melihat batang hidung Mas Ayden sejak pagi tadi.


Tania bilang sih Mas Ayden sudah ada di ruangannya sejak pagi tadi, sebelum aku datang ke kantor. Tapi hingga kini, Mas Ayden tidak keluar ruangannya, tidak mungkinkan jika Mas Ayden jatuh dari kamar mandi dan pingsan? Ah, tidak... tidak itu terlalu drama.


Tetapi kemungkinan itu masuk akalkan? Meskipun memang terasa mustahil Mas Ayden jatuh tepi seharian tidak keluar dari ruangannya itu lebih mustahil. Aku segera bangkit hendak ingin melihat keadaan Mas Ayden, tapi belum sempat mengetuk pintu, orang yang aku khawatirkan sudah lebih dulu muncul di hadapanku.


"Ehm, ada apa?" . Entah kenapa, aku merasa nada bicaranya berubah, tidak sehangat dulu.


"Mm, aku mau pamit pulang!". Dia menatapku dengan kosong.


"Pulanglah! tidak perlu minta izin". Heh? ucapannya dingin, menyakitkan! seperti belati menusuk hati.


Aku mengangguk sebagai jawaban, berjalan setengah berlari meraih tas dan beberapa map yang sebelumnya memang sudah ku siapkan di atas meja.


Harus yah bersikap sekejam ini padaku? Aku masih mencintaimu Mas, masih sangat mencintaimu, rasanya mustahil untukku melupakanmu, tapi kini aku tengah bingung, ... bingung harus bagaimana bersikap, saat kamu menatapku penuh dengan kebencian.


Next?

__ADS_1


Hai? ^^ terima kasih sudah berkenan mampir membaca cerita ini, dan jejak kalian sangat berarti bagi Author :) see you


__ADS_2