
Cinta membuat seseorang lebih kuat, itu benar.
Beberapa waktu yang lalu...
"KAMU, sejak kapan Bunda jatuh sakit?". Terlihat dari sorot matanya, ayah sangat marah padaku, akan tetapi ia urungkan, karena sekarang keadaan bunda jauh lebih penting dari apa pun, rasa cintanya yang begitu dalam untuk bunda, berhasil meredam segala amarah.
"Maaf Yah, Junot benar-benar takut kalau Ayah akan syok dan ikut jatuh sakit juga, lagi pula....". Tetapi dalam situasi seperti ini, alasan selogis apa pun, pasti tidak akan pernah dapat ayah terima.
Ayah segera keluar dari mobil, berjalan setengah berlari mencari ruangan bunda, karena tidak mau mendengar penjelasan ku terlebih dahulu. Aku menarik dan menghembuskan nafas berat, ia kini aku mengerti maksud dari berbohong demi kebaikan, itu memang tidak pernah ada, aku segera berlari mengejar ayah.
Ayah hendak menaiki lift, tetapi segera aku cegah. "Ayah, ruangan Bunda ada di lantai satu, ruang ICU VIP sebelah kanan". Ayah segera keluar dari lift, dan berlari menuju ruangan yang baru saja aku sebutkan. Ayah segera memakai pakaian khusus begitupun dengan aku, terlihat jelas bahwa ayah amat takut akan kehilangan bunda.
Ayah segera masuk keruangan dengan tergesa-gesa, yang kemudian di sambut oleh Nareta, yang terlihat terkejut serta kebingungan begitupun dengan ayah, sekilas ayah melirikku, kemudian memeluk Nareta.
"Terima kasih sayang, sudah menjaga Bunda untuk Ayah". Air mata ayah menetes seketika, saat melihat keadaan bunda, bukan karena bunda tidak lagi cantik, tetapi karena rasa cintanya yang begitu besar untuk bunda, sehingga jika melihat bunda terluka atau jatuh sakit maka ayah akan terlihat lebih terluka dan sakit dari yang sebenarnya sakit.
"Bunda, Ayah pulang!". Air mata ayah menetes semakin deras, begitupun dengan Nareta.
"Bunda cepat sembuh! kita pergi kemanapun Bunda mau, Ayah janji gak akan pernah lagi ninggalin Bunda sendiri". Sedalam itu cinta yang ayah miliki untuk bunda, sekilas aku melirik Nareta, bisakah aku mencintai wanita yang di pilihkan oleh bunda dan ayah sedalam itu juga? 30 menit kemudian tangisan ayah mulai mereda, tapi sekarang tangisan yang lain mungkin akan segera tiba.
"Jun, Juwita dan Marsel mana? sejak tadi, Ayah tidak melihat mereka berdua?". Tidak mungkinkan kalau aku berbohong lagi, mau tidak mau aku harus jujur meskipun berat dan mungkin ayah akan terluka lebih dalam lagi.
"Juwita ada di rumah sakit ini, sama-sama sedang di rawat juga". Sejenak ayah terdiam, mungkin sedang menelaah apa-apa yang terjadi, rasanya seperti mimpi buruk yang terjadi dalam waktu bersamaan. Hahh... awal bulan ini, rasanya berat banget cobaan untuk keluargaku hadapi.
__ADS_1
"Dimana? Ayah mau kesana?". Suara ayah terdengar lemah, dan kedua matanya kembali berkaca-kaca.
"Mas Marsel bilang ada di ruang IGD lantai dua". Ayah bergegas pergi.
"Sayang, tolong jagain Bunda untuk Ayah?! Ayah gak akan pergi lama kok".
"Iyah, Bunda aman sama Nana, Ayah gak perlu khawatir".
"Jun, kamu ikut Ayah!". Aku sempat heran dengan ucapan ayah yang meminta aku untuk ikut dengannya, tapi aku sudah sangat siap, mungkin ayah akan memarahiku atau hal yang jauh lebih buruk bisa saja terjadi. Memukulku misalnya, aku segera berbalik badan hendak mengikuti langkah kaki ayah.
"Jun?". Suara lembut namun lemah serta terdengar takut, keluar dari mulut Nareta, mungkin karena rasa penasarannya yang lebih besar, akhirnya ia memberanikan diri untuk bersuara, aku kembali berbalik badan.
"Apa?".
"Aku gak tahu kalau Ka Juwita juga sakit? sejak kapan?". Mendengar suaranya saja aku sudah sangat yakin, bahwa dia akan segera menangis.
"Aku harus pergi, menyusul Ayah dan kamu... jangan terus menerus menangis! simpan untuk nanti, meskipun itu melegakan, tapi aku gak suka melihat mata cantik kamu jika harus sembab". Aku segera pergi tanpa melihatnya lagi, sebelum apa yang ada di kepala terealisasi, untuk memeluk dan menghapus air mata Nana seperti layaknya drama.
***
Aku segera mengejar langkah ayah yang cukup jauh, dan tak begitu lama kita menaiki lift, aku berdiri satu langkah di belang ayah.
"Apa yang sebenarnya terjadi?". Meskipun kini aku tahu tidak ada namanya kebohongan demi kebaikan, akan tetapi masi saja aku lakukan, aku tidak tega menghancurkan perasaan ayah dalam waktu yang bersamaan.
__ADS_1
"Bunda jatuh dari kamar mandi". Iyah, kenyataannya memang seperi itu, aku datang di teriaki Juwita karena bunda sudah tergeletak di kamar mandi, meskipun memang pemicu utamanya adalah pertengkaran antara bunda dan Juwita, yang aku sendiri tidak tahu pasti apa yang di bicarakannya.
"Mm, makasih yah!". Ucap ayah sembari menepuk pundakku.
Kita sampai di ruangan Juwita, aku dan ayah melihat mas Marsel tengah terduduk lesu, sembari memegangi tangan Juwita serta merapalkan doa-doa. Ayah segera menghampiri dan merangkul pundak mas Marsel cukup lama.
"Ayah, kapan datang?". Wajah mas Marsel tampak terkejut melihat kedatangan ayah yang tiba-tiba, ia segera melepaskan genggaman tangan dari Juwita dan berdiri kemudian beralih mencium tangan ayah.
"Baru saja, gimana keadaan Juwita?". mas Marsel melihat ke arahku sekilas.
"Hm, kata Dokter Juwita butuh bed rest". Hal itu wajar terjadi pada Juwita, terlepas dari Juwita tidak sedang hamil dan tidak bisa hamil, hal ini memang sering terjadi tiap bulannya, apalagi saat ia tengah banyak pikiran.
"Kamu yang sabar yah, Ayah mohon!". Mungkin yang saat ini sedang di pikirkan oleh ayah adalah takut bahwa mas Marsel akan meninggalkan anak perempuannya.
Meskipun ayah dan mas Marsel memiliki fase dan cobaan yang berbeda dalam perjalanan rumah tangga, tetapi persoalan cinta dan kesetiaaan, tidak perlu di ragukan lagi, keduanya sama-sama sangat setia dan pecinta yang luar biasa, tidak pernah aku melihat bunda ataupun Juwita menangis karena pasangannya.
Padahal dulu menurut cerita dari Kakek, bunda merupakan wanita pujaan dan banyak di rebutkan, hal yang lebih menyebalkannya lagi bunda itu plin-plan, satu hari sebelum acara pernikahan bunda kabur, padahal semua terjadi berdasarkan kesadaran dengan cinta tulus dari keduanya tanpa perjodohan apalagi paksaan.
Beruntungnya ayah adalah sosok pria penyabar dan pantang menyerah sebelum kata sah terucap dari para tamu undangan, maka ayah berusaha mati-matian untuk meyakinkan bunda, bahwa ayah benar-benar mencintai bunda tanpa melihat apa-apa. Bahkan ayah rela kehilangan keluarga dan marganya demi bunda. Maka detik-detik menegangkan itu pun berhasil ayah lewati dengan hadirnya bunda di tempat pelaminan, proses memang tidak akan pernah menghianati hasil.
Begitupun dengan proses yang terjadi pada Juwita dan mas Marsel, kurang lebih hampir sama, yang membedakan adalah bunda tidak merestui pernikahan Juwita dan mas Marsel bukan persoalan keyakinan, akan tetapi persoalan strata sosial yang jauh dari keluarga kita, padahal dulu Ka Juwita sampai harus berbohong kalau dia tengah hamil, hanya untuk mendapatkan restu dari bunda.
meskipun pada akhirnya bunda merestui mereka berdua bukan karena alasan itu, akan tetapi mas Marsel yang berusaha meyakinkan bunda bahwa dia tidak akan pernah meminta bantuan sepeserpun dari bunda dan ayah, dan nyatanya mas Marsel berhasil membuktikan itu semua, hanya dalam jangka waktu satu tahun, mas Marsel berhasil memiliki usaha kopi, restoran dan membeli rumah dua lantai serta kendaraan mewah dan yang lainnya.
__ADS_1
Dan kalian tahu? aku pun ingin begitu! memperjuangkan cinta yang ku miliki untuk wanita yang aku cintai, dan orang itu adalah Aqila bukan Nareta.
Next?