Aksa

Aksa
delapan


__ADS_3

Satu jam berlalu setelah kejadian itu, aku memberanikan diri datang dan duduk di meja kerja ku, bersikap biasa saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


perlahan aku mengatur deru nafas ku yang kembali tak menentu, saat aku melihat Tania baru saja keluar dari ruangan Mas Ayden. Sakit, rasa nya sakit sekali.


Tania menatap ku dengan sungkan, ia tersenyum sambil menundukkan kepala, yang kemudian ku balas hanya dengan anggukan. Tak lama kemudian Mas Ayden keluar dari ruangan nya, dan perlahan namun pasti langkah nya menghampiri ku.


***


"Bukankah aku sudah pernah bilang, untuk memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan?"


Aku tahu dia terluka, tapi... ia berusaha menyembunyikan nya, iyah ... begitulah dia. Pekerjaan selalu di atas segala nya.


"Maaf, saya tidak akan mengulangi nya lagi"


"Pekerjaan kamu sudah di ambil alih oleh Tania, kamu bisa mengerjakan yang lain nya".


Ia pergi dengan tenang, sementara aku... ? hati ku hancur bagai debu yang bertebaran tak berbentuk lagi. bagaimana aku bisa menghadapi mu besok, lusa dan seterusnya?


***


Waktu bergerak begitu lambat, sejak ke pergian Tania dan Mas Ayden, dengan susah payah aku berusaha untuk fokus dalam bekerja, Namun kecurigaan dan ke kecemburuan ku terhadap Tania tak dapat ku pungkiri, belum lagi.. hingga detik ini mereka berdua belum terlihat kembali, yang mengakibatkan fokus ku semakin terbagi-bagi.


***


Jam kerja ku sudah selesai, tapi hingga detik ini Tania dan Mas Ayden masih belum juga kembali, aku ingin marah tapi tak tahu harus pada siapa? Dan mengetahui akan kenyataan ini, bahwa aku tidak berhak lagi untuk marah dan cemburu pada Mas Ayden, kemarahan ku semakin menjadi-jadi. Jujur saja aku kesal, menyesal, sedih, kecewa dan tak rela, kini sedang berkecamuk dalam pikiran ku.


Entah apa yang aku tunggu, langit sudah berubah kelabu, memang sejak tadi sore ibu kota di guyur hujan deras dan sejak itu pula air mata tak henti-hentinya membanjiri pipi ku.


***


selesai menunaikan sholat magrib, aku memutuskan untuk pulang, tentu nya dengan rasa hancur-sehancur nya. Namun tak di sangka-sangka aku bertemu dengan Mas Ayden di depan pintu mushola, terlihat goresan lelah dan amarah.


"Belum pulang?"


"Hm, Ini mau pulang"


"Tunggu di sini sebentar, biar aku antar"

__ADS_1


aku sama sekali tidak menolak, karena jika boleh jujur saat ini aku memang ingin ada di dekat nya, bukan untuk apa-apa hanya ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja.


Ia saat itu aku sama sekali tidak memikirkan keadaan ku sendiri. Keadaan ku yang bisa dikatakan tidak lebih baik dari nya.


Aku menunggu dengan rasa cemas, berpikir apa yang harus aku obrolkan nanti di perjalanan? selagi Mas Ayden sedang beribadah, tapi belum sempat aku menemukan topik yang pas untuk di bicarakan nanti, Mas Ayden sudah lebih dulu selesai.


"Ayo? aku antar kamu pulang"


Tatapan nya sudah jauh lebih tenang, tapi tetap saja nada bicaranya tidak seperti biasanya, jika di pikir-pikir wajar saja... pria lain mana ada yang akan bersikap seperti dia ? masih peduli pada orang yang sudah melukai hati nya sendiri.


"Hm, iyah"


seperti biasa dia membukakan pintu penumpang untuk ku, lagi... sikap nya yang tidak romantis tapi perhatian berhasil membuat aku terkesan dan kembali menyesal telah memutuskan nya.


"kamu sudah makan?"


"Belum" Jawabku jujur, ia sejak sarapan tadi pagi aku belum makan apa pun lagi, dan dia tahu sekali bahwa aku punya penyakit lambung yang sudah akut.


"kita makan dulu yah?!" sekali lagi tak ada penolakan dari ku, aku hanya mengangguk sebagai tanda setuju.


"boleh" jawabku singkat.


"kamu kenapa? irit banget bicaranya?" Aku terdiam, menghiraukan pertanyaan nya, aku lebih memilih menatap wajahnya, karena setelah ini mungkin aku akan lebih sering merindukan nya.


"kamu sakit? apa lebih baik kita ke rumah sakit aja?" dia menatap ku cemas.


"Tidak usah, aku tidak butuh obat" segera aku memalingkan wajah, takut dia mengetahui bahwa kini aku tengah menyesali apa yang terjadi.


"oke, aku tahu kamu butuh makan, haha..." dia tertawa kecil, aku tahu dia sedang berusaha menghiburku, tapi itu tidak berhasil... sebab rasa penyesalan di diri ku ini tidak bisa mengembalikan lagi dirimu.


setelah itu kita saling diam, Mas Ayden berusaha fokus melihat ke depan, sementara aku sedang mengatur kata-kata, dan berusaha memberanikan diri untuk kembali membahas kejadian tadi pagi.


"Hm... Mas ? kamu ..."


"Aku baik-baik saja, tidak usah merasa bersalah, karena keputusan kamu sama sekali tidak salah, aku memang.."


Dia memotong pembicaraan yang belum sempat aku tanyakan, tapi jawaban nya tepat. Seakan-akan dia tahu apa yang kini sedang aku pikirkan.

__ADS_1


Tapi sekali lagi, aku tidak mau jawaban itu, aku berusaha memotong pembicaraan nya, sebab aku tidak ingin mendengar pengakuan bahwa ia memang bersalah.


"Aku tidak mau perjodohan ini terjadi, tapi... aku juga tidak dapat menolak"


Sesungguh nya aku ingin bilang, Aku tidak mau perjodohan ini terjadi, aku mau kamu memperjuangkan ku kembali, dengan cara apa pun.


"It's okay, aku bisa mengerti gimana posisi kamu sekarang"


"Mm... makasih" hanya itu yang dapat aku ucapkan, atas kelapangan hati nya.


"Heh? Aku yang harus nya bilang makasih, kamu janji yah kita masih bisa jadi temen?"


"Hah? kenapa?" aku terkejut bercampur senang, ternyata masih ada yah manusia seperti kamu di Zaman sekarang.


"Hm, kita berawal dari rekan kerja kan ? dan di luar itu kita adalah teman... so, kita udah melewati semua hal bersama dan aku gak mau kehilangan teman sebaik kamu, kamu mau kan jadi teman ku ?".


"Mmm... tentu :) " Tentu, aku mau. Bahkan aku mau lebih dari teman. Jawabku dalam hati.


***


Kita sudah sampai di Restoran tempat biasa kita makan, saksi bisu atas cinta yang aku pelihara selama tiga tahun untuk Mas Ayden. Dan di tempat ini pula Mas Ayden akhirnya memintaku menjadi Sekretaris untuk hidup nya.


Tapi sekarang, di tempat yang sama dengan orang yang sama, aku justru lebih sering melamun dari pada menikmati momen yang mungkin, ini akan menjadi momen terakhir untuk ku dan Mas Ayden bersama.


"Selamat malam Mas, Mbak :)" sapa pelayan dengan ramah.


"Malam..." jawab kita bersamaan


"Pesan seperti biasa ?"


"Iyah". Pelayan itu sudah sangat paham akan menu apa yang akan kita pesan, ia sesering itulah kita makan di sini.


Sembari menunggu pesanan datang, biasanya kita membahas progres kebahagiaan kita, menceritakan hal-hal yang di anggap lucu meskipun sebenar nya tidak lucu, tapi entahlah saat itu semua hal yang ia ceritakan selalu menjadi fokus utama ku.


Tapi sekarang kita saling diam, berusaha menyibukkan diri dengan gadget masing-masing. Dan tak pernah sedikitpun terpikirkan oleh ku, kisah cinta yang aku pelihara, berakhir di tempat ini.


Next ?

__ADS_1


__ADS_2