
Satu minggu berlalu dan selama itu juga aku dan Junot sudah seperti selayaknya suami istri, hanya saja masih belum untuk berhubungan intim, karena aku dan Junot lebih sering bermalam di rumah sakit menjaga bunda, selain itu karena aku baru selesai menstruasi yang dimana artinya aku sedang masa subur, ia kita berencana untuk menunda dulu memiliki momongan secara aku dan Junot masih sibuk dengan urusan masing-masing.
Terlebih aku masih ragu Junot mencintaiku, buatku memiliki anak itu tanggung jawab yang sangat besar tidak hanya sekedar membesarkan tapi kita mengharuskan mendidiknya dengan benar sebagai penerus yang berkualitas di masa depan.
Aku dan Ka Juwita semakin akrab sudah seperti adik dan kakak kandung, ia akhirnya penyatuan kedua keluarga memberikan aku dua ibu, dua ayah dan dua kakak, aku sangat bersyukur akan hal itu.
***
"Teh lapar?!". Rengek Nadim, ia satu hari yang lalu Nadim datang ke Jakarta untuk mengisi hari libur semester satunya, rencananya sih hanya satu minggu sementara itu ibu dan bapak akan pulang ke Bandung nanti siang dan sebelum pulang kita berencana menjenguk sembari berpamitan kepada bunda.
"Mau makan apa?". Tanyaku.
"Hem, bosen ah gak mau masakan teteh, deliverynya?!".
"Hah? awas we kalau kamu makan masakan teteh gak akan di kasih". Ucapku kesal.
"Eh si teteh mah baper, lain kitu teh apanan teteh buru-buru mau ke rumah sakit jadi gak usah masaklah lami, nya?". Rayu Nadim dengan tatapan memohon.
"Hem, bisa we ngarayu nateh, emang mau pesan makanan apa sih?". Ucapku pada akhirnya.
"Ah, Naon nya teu arapal sih, kela urang teangan hela"
(Ah, apa yah tidak tahu sih, tunggu sebentar aku cari dulu).
"Nareta?! Nana?". Sebuah sapaan yang lebih ke teriakan menggema di telingaku.
"Iyah?". Ucapku tak kalah berteriak.
"Kamu belum siapin dasi untukku?". Tanya Junot. Ia satu minggu terakhir ini menyiapkan pakaian dan semua hal yang menjadi kebutuhannya sudah menjadi tugasku.
"Udah kok". Jawabku.
"Dimana? aku gak lihat?". Hah, aku segera menaiki anak tangga dan menghampiri sumber suara.
"Ini apa?". Ucapku sedikit kesal.
__ADS_1
"Yah, aku gak lihat maaf". Ucapnya lebih lembut dari sebelumnya.
"Kamu ngantor? padahal kan sekarang hari minggu".
"Iyah, kamu pikir aku mau main dengan pakaian seperti ini?". Jawabnya dengan tatapan tajam.
"Yah tapi kan sekarang weekend gak bisa apa kamu ambil libur? lagi pula Bapak sama Ibu nanti siang mau pulang".
"Aku juga mau nya gitu, tapi aku gak bisa".
"Apa yang bisa buat kamu untuk tetap tinggal?". Ucapku sedikit memohon.
"aku usahain yah pulang sebelum Bapak sama Ibu pulang".
"Hmm". Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menerima apa yang sudah menjadi keputusan Junot.
Selama satu minggu ini aku semakin tahu sikap Junot dari tingkah lakunya yang diam-diam sering aku perhatikan, belum lagi menurut penuturan Ka Juwita dan sekilas menurut catatan yang bunda berikan untukku sebelum masuk ruang operasi, yang baru sempat ku baca dua halaman, di buku itu tertulis bahwa Junot itu orangnya one time, Iyah selama aku bersamanya satu kali pun Junot tidak pernah telat untuk menunaikan sholat subuh berjamaah di masjid. Junot itu selalu menepati janjinya, waktu itu Junot pernah berjanji akan menjemput ku padahal aku tahu betul dia tengah sibuk-sibuknya di kantor tapi ia muncul di hadapanku dengan senyuman yang menyejukkan.
"Heh? enggak kok, kalau kamu udah bilang di usahakan meskipun nanti gak sempet yang penting kamu udah berusahakan".
"Yaudah, aku berangkat yah?!".
"Iyah, hati-hati di jalannya". Tak lupa aku mencium punggung tangannya, yang kemudian di balas oleh elusan lembut di kepalaku. Iyah, hanya itu tidak ada kecupan kening, apalagi kecupan di bagian tubuh yang lain.
10:30
Aku sedang duduk di ruang tunggu rumah sakit bersama Nadim sementara ibu dan bapak sedang berpamitan di ruangan bunda, seperinya Junot benar-benar sibuk sampai-sampai gak sempat jawab panggilan dari ku.
Aku dan Nadim berencana memesan taxi online namun belum sempat memesan Junot datang dengan terburu-buru.
"Hah, aku belum telat kan?". Tanya Junot dengan nafas yang tersenggal-senggal, dan seketika saja senyuman ku terbit, apa yang di katakan bunda dan Ka Juwita mengenai Junot memang benar adanya, dan ku harap selamanya akan tetap seperti itu.
"Enggak kok, ini!". Jawabku sembari menyodorkan sebuah botol air mineral.
__ADS_1
"Ah, syukurlah". Ucap Junot sembari mengambil air yang ku sodorkan dan segera duduk serta meminumnya.
Akhirnya aku, Junot, Nadim, Bapak serta Ibu sedang di perjalanan menuju bandara, dan di sepanjang perjalanan gelak tawa tak pernah pudar dari setiap orang, semua itu karena Nadim yang humoris di tambah dia yang duduk di depan sebelah Junot tangan nya yang usil berhasil membuat Junot geleng-geleng kepala.
Setahuku Nadim memang sangat mendambakan seorang kakak laki-laki, katanya aku terlalu cengeng dan tidak bisa di ajak bermain permainan pria salah satunya ialah main PS, untuk yang satu itu aku memang tidak suka tapi jika melihat permainan sepak bola aku dan bapak sudah sangat kompak.
Sayangnya momen indah itu harus terhenti saat mobil yang kita tumpangi sampai di tempat tujuan, Bandara Seokarno Hatta. Momen haru pun tak bisa terelakan, seperti apa kata Nadim bahwa aku itu memang cengeng, terlebih kini aku sudah menikah, aku merasa akan semakin jarang bertemu ibu dan bapak, meskipun jarak Jakarta-Bandung tidak begitu jauh akan tetapi pesan bapak yang sering di ucapkannya padaku untuk menjadi seorang istri yang baik dan menuruti segala perintah dari suami akan selalu aku ingat, melihat kesibukan Junot aku sudah dapat membayangkan tidak bisa sesuka hati pergi.
"Udah atuh tong nangis wae". Ucap bapak padaku yang sedari tadi tak henti-hentinya menangis.
"Bapak jangan terlalu kecapean yah!". Iyah, kita terbilang keluarga pekerja keras kebetulan bapak miliki pabrik Tahu Sumedang tidak besar tapi dari sanalah aku dan Nadim bisa tumbuh besar dengan sehat dan segala kebutuhan kita selalu terpenuhi.
"Ibu juga jangan sering-sering kumpul arisan gak jelas". Yah, ibu merupakan anggota arisan yang sangat loyalitas tanpa batas, saking loyalnya sampai sering lupa jalan pulang.
"Hmm, kamu urusin suami kamu yang bener! suami kamu itu bibit unggul, ingat pesan Ibu jangan sampai suami gak betah di rumah, lihat tuh Bapak kemanapun Ibu pergi, Bapak selalu setia menunggu Ibu di rumah". Ucap ibu setengah berbisik.
Hah?... aku hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi sikap ibu, sekaligus merasa iri, karena ke beruntung ibu memiliki bapak yang penyabar meskipun di beri rupa yang terlihat garang.
Kemudian aku melihat momen yang tak bisa di gambarkan dengan kata-kata, bapak dan Junot saling berpelukan dengan cukup lama, entah pesan apa yang di ucapkan bapak kepada Junot yang pasti berhasil membuat Junot membisu.
"Kabarin kalau udah sampe rumah yah Bu!".
"Iyah, kalian yang rukun-rukun yah!". Ucap ibu.
"Nadim jangan ngerepotin teteh, Nak Jun kalau nakal jewer aja! Bapak titip Nadim dan Nareta yah!". Ucap bapak pada Junot.
"Haha... iya Pak, Bapak jangan khawatir". Jawab Junot meyakinkan.
"Assalamualakium". Ucap ibu dan bapak.
"Waalaikum'salam". Jawab kita bersamaan.
Pesawat yang bapak dan ibu tumpangi akhirnya lepas landas. Aku, Junot dan Nadim pun segera menaiki mobil menuju rumah.
Next?
__ADS_1