Aksa

Aksa
part 26


__ADS_3

Kamu pernah menangis, tapi... dalam waktu yang bersamaan kebahagiaan juga menghampirimu tanpa terduga? mungkin rasa itulah yang saat ini tengah ku rasakan.


Separuh hatiku rasanya hancur, saat mendengar penuturan Dokter, bahwa bunda harus segera di operasi. Kalian tahu bukan, operasi tidak menjamin 100% kesembuhan, hal-hal yang tidak terduga bisa saja terjadi saat sedang berlangsungnya operasi, begitupun saat ini, di situasi hatiku yang separuhnya terasa hilang, tiba-tiba saja separuh hati yang lain datang.


meskipun aku tidak tahu, atas dasar apa Nareta berucap demikian? entah karena rasa iba, dan semata-mata hanya untuk menghiburku saja atau dengan tulus ingin ada di setiap langkahku, meskipun harus tertatih-tatih, dengan kondisi yang sudah ia tahu, perjalanan hidupku tidaklah mudah, harus melalui banyak rintangan dan cobaan. Kita tidak pernah tahu sebanyak apa air mata yang akan terjadi nanti, atau mungkin sebaliknya akan lebih banyak tawa dari pada tangis, sekali lagi kita tidak pernah tahu.


Aku tidak menanggapi apa yang baru saja Nareta ungkapkan, terlebih aku rasa kita sama-sama dalam situasi yang tidak baik-baik saja.


Beberapa menit kemudian air mata mulai mengering, aku segera menghapus sisa butiran bening di pipiku, begitupun dengan Nareta ia tengah sibuk mengeluarkan ingus yang sedari tadi minta di keluarkan.


"Aku mau hubungi Ayah, tolong jagain Bunda untukku!". Dia hanya mengangguk, kemudian aku segera berlalu pergi mencari tempat yang lebih sepi.


***


Sebenarnya ada rasa takut untuk menghubungi ayah, bukan apa-apa, akan tetapi karena ayah mempunyai riwayat penyakit yang kurang lebih sama, yaitu penyakit jantung. Tetapi memang tidak ada pilihan lain, selain segera menghubungi ayah agar secepatnya bunda di tangani.


"Tutt... tutt... Hallo?". Ucapku, saat panggilan terangkat.


"Ada apa Jun, tumben telpon Ayah, mau minta uang?". Tebak ayah. Iyah aku memang terbilang jarang menghubungi ayah, dan tebakan ayah barusan akan selalu benar jika di waktu-waktu lalu, tapi sekarang tidak yah.


"Butuh berapa? sekarang juga Ayah transfer".


"Ehm, enggak Yah, aku telpon bukan mau minta uang".


"Hah? lalu ada apa?". Haduhh... berat banget rasanya untuk bilang kalau bunda sedang sakit. Aku gak bisa, gak bisa buat ayah khawatir.


"Hm, Junot kangen Ayah, kapan pulang?". Ucapku pada akhirnya.


"Heh? Ayah gak salah denger nih?". Ledek ayah, atas ucapanku yang terasa aneh.


"Iyah, Junot serius Yah, malah di ledekin" .Yah, aku butuh Ayah.

__ADS_1


"Hehe... iyah deh, Ayah juga kangen Kamu, Juwita, dan Bunda, eh Marsel juga". Ucap Ayah dengan nada bicara yang terdengar bahagia serta tawa khasnya.


"Jadi kapan pulang?". Tanyaku sekali lagi, dengan sedikit ragu.


"Sekarang".


"Heh? bukannya Ayah lagi di luar kota? urusan bisnis".


"Iyah, Ayah sedang di Surabaya, tapi ini sedang di bandara sudah beli tiket untuk pulang". Syukurlah ayah sudah merencanakan untuk pulang sebelum aku memintanya pulang.


"Oh kalau gitu, nanti Junot jemput ya?!".


"Gak usah, nanti Ayah telpon supir kantor".


"Enggak, enggak... biar Junot aja yang jemput, kabarin kalau udah di bandara, Junot berangkat sekarang juga".


"Hem? Yaudah, hati-hati jangan ngebut!".


***


Aku tiba di bandara soekarno-hatta pukul 21:00 WIB, dan harus menunggu selama 20 menit kedatangan ayah, membuat aku tidak tenang. Selama itu juga pikiranku melayang-layang, banyak hal yang tengah aku pikirkan, terutama mengenai Nareta. Semudah itukah merubah pemikirannya?


20 menit berlalu dengan cepat, dan pertanyaan-pertanyaan beruntun mengenai Nareta masih menjadi misteri. Meskipun begitu, aku sangat yakin Nareta tidak berubah pikiran karena uang. Nareta wanita berbeda, yang selalu berpenampilan sederhana namun begitu mempesona.


"Jun, sudah lama menunggu?". Pikiranku terhenti saat ayah datang dengan wajah sumringahnya, dan aku segera memeluk ayah.


"Ayah, enggak kok, Junot baru saja datang". Jawabku dengan nada yang tak kalah ceria, namun sayangnya semuanya bohong.


"Gimana, Nareta?". Aku tengah sibuk mendorong koper berukuran sedang menuju bagasi mobil, dan tiba-tiba saja ayah membahas persoalan Nareta, wanita yang beberapa saat lalu, memang tengah aku pikirkan.


"Gimana? gimana maksud Ayah?".

__ADS_1


"gak usah pura-pura gak tahulah Jun, dia ayu tenankan? pilihan Ayah sama Bunda gak mungkin salah Jun". Ucapan ayah memang ada benarnya juga, beberapa hari terakhir ini pikiranku memang selalu di penuhi tentangnya. Sosok Nareta yang memiliki kulit sawo matang dengan warna rambut hitam membuat ia terlihat sangat manis, dia berhasil mencuri perhatianku, dan untuk satu hal ini aku sependapat dengan ayah.


"Hem, ayah mau?".


"Tentu saja, maka dari itu dulu Ayah nikahin Bunda, karena sebelas dua belas dengan Nareta, bahkan sampai sekarang loh, Bunda masih ayu tenan". Ucap ayah dengan mengingat-ingat sosok bunda di masa lalu, sembari tersenyum mengagumi kecantikan wanita yang telah 39 tahun lalu ia nikahi, dan rasa cinta ayah untuk bunda dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah, tidak pernah sedikitpun berkurang, hal itu terlihat sangat jelas saat ayah menceritakan bunda dengan sorot mata yang selalu berbinar-binar.


"Jun, kamu salah jalan ini bukan arah ke rumah". Barulah ayah menyadari, bahwa aku tidak membawa ayah pulang ke rumah melainkan ke tempat lain, yaitu rumah sakit.


"Sebenarnya kita mau kemana sih Jun? Ayah capek, kalau bisa besok saja mainnya, lagi pula Ayah sudah sangat merindukan Bunda". Pinta ayah, masih dengan pembahasan tentang bunda.


Ya Allah, aku harus bagaimana? aku benar-benar tidak sanggup membuat ayah terluka dengan memberi tahu kondisi bunda yang sebenarnya.


"Ayah?".


"Hem?". Ayah terlihat sibuk menghubungi bunda, tapi selama itu juga panggilan yang ayah lakukan selalu sibuk.


"Ayah, kangen banget sama Bunda?". Heh, Pertanyaanku yang teramat bodoh.


"Iyah jelas, satu minggu Ayah tinggalin Bunda, karena Bunda gak enak badan makanya gak ikut, biasanya Bunda kamu selalu ikut kemanapun Ayah pergi". Ayah masih sibuk menghubungi bunda, belum menyadari bahwa aku tengah membawanya untuk segera menemui bunda.


"Tetapi akhir-akhir ini Bunda susah di hubungi, kamu tahu kenapa? kamu sering temani Bundakan selagi Ayah gak ada?". Pertanyaan beruntun yang mengkhawatirkan bunda mulai hadir, dan aku mulai tidak sanggup lagi harus bersikap baik-baik saja, dada ini rasanya sesak.


"Yah, kita sudah sampai". Ucapku lemah, ayah terlihat menurunkan kecamatanya.


"Rumah sakit? siapa yang sakit?". Aku tidak mampu lagi menjawab dengan kebohongan.


"Masuk ke dalam yuk?". Pintaku, ayah terdiam sejenak, dan sepertinya ayah mulai menyadari akan tingkahku yang janggal sedari tadi, dan firasat yang mulai bermunculan atas ke khawatirannya terhadap bunda.


"KAMU, dari kapan bunda sakit?". Ayah terlihat ingin marah padaku, tapi ia urungkan, karena sekarang keadaan bunda jauh lebih penting dari apa pun.


Next?

__ADS_1


__ADS_2