Aksa

Aksa
part 29


__ADS_3

Selama perjalanan berlangsung, salah satu di antara kita tidak ada yang berani bersuara, walaupun sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan, tapi aku urungkan, mengingat kini wajah mas Ayden sedang tidak bersahabat.


Sesekali kulihat mas Ayden yang tengah fokus menyetir dan beberapa kali aku merasa ia menatapku dengan cukup lama, kita seolah sedang berbicara melalui telepati, tetapi jika di pikir-pikir lagi sekarang, rasanya aneh sekali aku dan dia bisa satu mobil menuju tujuan yang sama, apa kamu juga punya pikiran yang sama? untuk apa mas Ayden ke rumah sakit? apa memang ada yang di tuju sedang sakit juga atau semata-mata hanya mengantarku saja?


***


Aku sudah menyelesaikan apa-apa yang tidak beres di kantor hari ini juga, dan tiba-tiba saja ayah memberi kabar bahwa bunda sudah siuman, aku benar-benar senang mendengar kabar demikian, tanpa pikir panjang aku segera pergi menuju rumah sakit , dan untuk sementara segala macam permasalahan yang mungkin akan terjadi di kantor ku serahkan kepada Alex.


Alex adalah tangan kiri ayah yang kini juga akan menjadi tangan kiri ku, usia Alex tujuh tahun lebih tua dariku dan sudah hampir sepuluh tahun ia bekerja di perusahaan ini, persoalan ke jujuran dan loyalitasnya sudah tidak perlu di ragukan lagi.


***


Kita sampai di rumah sakit, kupikir kita akan berpisah di sini, akan tetapi sampai depan ruangan bunda, mas Ayden terus menerus ada di sebelahku.


"Maaf Pak, sebenarnya Bapak mau kemana?". Sepertinya tidak ada alasan lagi untukku harus memanggilnya dengan sebutan mas di luar kantor.


"Kamu bilang keluarga Junot tengah sakit bukan? Ah, mungkin kamu gak tahu kalau aku dan Junot itu berteman". Benarkah? tapi seingatku selama tiga tahun aku bersamanya, sekalipun mas Ayden tidak pernah menyebutkan nama Junot.


"Hem, begitu yah". Tidak ada pilihan lain jikalau begitu, mas Ayden akhirnya akan bertemu juga dengan ibu dan bapak, tapi bukan lagi sebagai kekasih dan pria yang aku agung-agungkan.


Kita sedang memakai pakaian khusus dan satu sama lain seling membantu, tiba-tiba saja Junot datang. Aish... suasana yang terjadi semakin runyam, kenapa datang di situasi yang seperti ini sih? gerutu ku dalam hati.


"Ehm, mau kemana?". Kulihat tingkah mas Ayden berbeda dengan sebelumnya, kenapa ia terlihat terkejut mendengar suara Junot?

__ADS_1


"Mau masuk". Jawabku apa ada nya.


"Di dalam sudah ada tiga orang yang menunggu, dan kalau di tambah tiga orang lagi, rasanya ruangan akan terasa sesak". Ucap Junot sembari memakai pakaian khusus, dan tanpa menunggu jawaban salah satu dari kita, ia segera masuk ke dalam ruangan. Tinggal aku dan mas Ayden, jadi siapa yang lebih layak untuk masuk kedalam? meskipun begitu, aku tidak enak hati jika harus mengusir mas Ayden.


"Mm, silahkan Pak, Bapak saja yang masuk?". Ucapku pada akhirnya.


"Enggak usah, saya pulang saja". Jawabnya dingin dan terlihat sekali saat ini mas Ayden tengah kesal dan mungkin tersinggung atas ucapan Junot barusan.


***


Sesampainya di rumsh sakit, aku segera berjalan setengah berlari menuju ruangan bunda, dan pemandangan yang tidak pernah ku duga sedang terjadi, Nareta dan Ayden silih berganti memakaikan penutup kepala, dan entah kenapa aku merasa tidak suka. Dan akan ku pastikan Ayden tidak bisa masuk ke dalam ruangan bunda. Setelah mengucapkan beberapa kalimat aku yakin dia tidak akan masuk, tetapi jika dia masih saja masuk, itu artinya dia memang tebal buka.


"Assalamualaikum, Bunda?". Ucapku saat membuka ruangan bunda, kulihat kedua orang tua Nareta juga sedang duduk tak jauh dari tempat bunda, dan tak lama kemudian Nareta pun datang sembari mengucap salam dengan pelan dan berdiri satu langkah di belakangku.


"Akhirnya orang yang sedang kita bicarakan datang". Ucap ibu Nareta.


"Kemari Nak!". Ucap ayah, sembari melayangkan gerakan tangan kemari. Sementara bunda dengan selang infus dan oksigen yang terpasang di tubuhnya tengah menatap kami dengan senyuman mengembang, kemudian satu butir air mata keluar dari pelupuk matanya. Aku segera berjalan menghampiri bunda, sementara Nareta berjalan menghampiri ayah.


"Apa yang sebenarnya terjadi?". Ucapku, sebab dengan kondisi yang seperti ini, bisa-bisanya bunda masih tersenyum.


"Bunda bahagia, melihat kamu datang bersama Nareta". Ucap bunda pelan, tapi masih dapat aku dengar.


"Maaf Bunda, aku tadi buru-buru gak sempet beli apa-apa, bunda mau apa biar nanti Nana beliin". Ucap Nareta.

__ADS_1


"Gak apa, Bunda cuma mau kamu sama Junot bisa terus sama-sama". Hah, permintaan macam apa ini? dari sekian banyak permintaan, kenapa harus minta itu sih bun, gerutuku dalam hati.


"Jun, Bunda sudah Ayah daftarkan untuk segera operasi". Ucap ayah dengan suara yang bergetar menahan tangis.


"Tetapi sebelum operasi itu terjadi, hanya satu permintaan Bunda, dan yang bisa mengabulkan itu semua hanya kamu dan Nareta". Ucap ayah kembali, sementara ibu dari Nareta sudah menangis, dan bapak segera menenangkannya.


Ayah tidak perlu memperjelas, aku dan Nareta saling menatap, ku yakin apa yang ada di pikiranku saat ini sama dengan apa yang ada di pikiran Nareta. Apalagi kalau bukan menikah.


Aku terdiam membisu, tidak tahu harus berkata apa, ini adalah keputusan besar yang tidak bisa aku ambil sendiri, masih ada Aqila yang sedang menjaga hati untukku dan Nareta? apa dia mau menikah denganku? dengan kenyataan, aku yang tidak mencintainya.


***


Aku harus menjawab apa? sepenuhnya ke putusanku ada di tangan bapak. Bukankah anak perempuan adalah tanggung jawab besar untuk bapaknya dari lahir hingga menikah nanti. Maka sering kali ku diskusikan terlebih dahulu sebelum ku putuskan final aku ambil, tentang berbagai hal bersama bapak.


Lagi pula sejauh ini kulihat Junot termasuk ke dalam kriteria calon imam yang baik untukku, dan lagi ini pilihan orang tua, kamu pernah dengar bahwa ucapan orang tua tidak pernah salah? ia meskipun tidak selalu benar juga, tapi sejauh ini apa-apa yang terjadi dalam hidupku jika sudah melalui proses restu ibu dan bapak, segala hal urusan dunia selalu di permudah, dan aku yakin kali ini juga, jika memang Junot adalah takdirku.


Tetapi semua keputusan final ada di tangan Junot, dan saat ini dia masih perlu waktu untuk memikirkan hal ini, dan ku dengar dari ibu, hari ini juga Junot telah di lantik menjadi CEO di perusahaan ayah, itu tanggung jawab yang sangat besar apalagi persoalan menikah, jauh lebih tidak mudah, ini menyangkut dua keluarga tidak hanya dua kepala saja.


Dan buatku pernikahan adalah satu langkah besar, bukan ajang uji coba, satu kali untuk seumur hidup, jadi seharusnya tidak perlu di buru-buru. Tetapi untuk situasi saat ini yang sedang kami hadapi, memang terkesan di buru-buru, karena di takutkan hal yang tidak di inginkan terjadi, saat berlangsungnya operasi bunda nanti, yang mengakibatkan terjadinya sebuah penyesalan.


Tapi jika kalian tanya jawabanku apa, maka aku akan menjawab "Iyah, aku mau menikah dengan pria bernama Junot Abraham, bukan karena ada apa nya, tetapi karena dia adalah pria yang taat atas perintah Tuhan-nya dan ia juga begitu menyayangi bundanya".


Next?

__ADS_1


__ADS_2