
Jakarta 05 April 2017 pukul 10:17 WIB. Aku dan Junot akhirnya menikah, jauh dari kesan mewah, sebab kita menikah dalam situasi genting di rumah sakit, jadwal operasi bunda keluar tadi pagi dan nanti malam bunda akan menjalani operasi. Memang sudah dua hari ini bunda di minta untuk berpuasa, yah bisa dibilang semuanya serba dadakan, tidak pernah terencana, tidak lain alasan utamanya, karena bunda takut sesuatu hal buruk yang tidak di inginkan terjadi saat berjalannya operasi nanti, tidak ada lagi waktu, maka dari itu bunda meminta aku dan junot menikah hari ini juga.
Kita menikah secara agama, bahasa yang sering di ungkapkan orang-orang saat ini, iyalah nikah siri. Kenapa kita memilih proses menikah dengan syari'at Islam? ia karena mudah tidak mempersulit tapi juga tidak mempermudah, syarat-syaratnya iyalah :
Ada calon mempelai laki-laki dan perempuan. Sudah jelas, syarat sah nikah dalam Islam proses akad tidak bisa diwakilkan, dan tentunya sudah ada Junot dan aku, ada wali untuk mempelai perempuan, sepertinya bapak sudah sangat siap menikahkan ku, dan tentunya ada ibu juga.
Syarat selanjutnya harus ada saksi dari kedua belah pihak, dari pihak Junot saksinya iyalah Dokter Radit kebetulan beliau sudah kembali tetapi proses operasi tetap akan dilakukan oleh Dokter Reza karena kondisi Dokter Radit yang tidak memungkinkan, ada pak Hendar sebagai kuasa hukum ayah, dan mas Marsel, ka Juwita tidak hadir, ia ada di lantai dua, karena benar-benar harus bed rest, bahkan ka Juwita tidak di beri tahu kalau nanti malam bunda akan menjalani operasi.
Sementara dari pihak ku selain bapak dan ibu ada juga pak Dewo dan istrinya ibu Lidia mereka adalah sahabat ibu dan bapak yang tinggal di Jakarta, iyah bahkan Nadim adikku, juga tidak bisa datang karena masih ada ujian, padahal Nadim satu-satunya keluarga yang aku punya, dia sampai tidak bisa datang menghadiri acara yang hanya satu kali untuk seumur hidup bagiku, saking dadakannya maka dari itu wajar bukan jika aku kecewa?
Selain itu syarat nikah adalah adanya mahar, untuk itu Junot memberikan mahar yang tidak pernah aku duga, berupa cincin berlian entah sebesar tiga karat, aku tidak tahu pasti berapa harganya karena tidak disebutkan dan aku tidak begitu peduli juga, tapi yang pasti ini asli bersertifikat kan dari Gemological Institute of America (GIA). Sebuah lembaga dengan laboratorium professional yang dipercaya di dunia dalam mengeluarkan sertifikat berlian, yang mengeluarkan penelitian dan laporan terpercaya tentang informasi berlian secara akurat, untuk yang satu itu aku sama sekali tidak tahu, toh waktu dia pernah bertanya, aku tidak menjawab dengan nominal atau harta benda apa pun kan.
Dan syarat yang terakhir adanya ijab dan qabul yang dimaknai sebagai janji suci kepada Allah SWT di hadapan penghulu, wali dan saksi. Dan penghulu yang menikahkan kita adalah pak Ahmad.
meskipun pada akhirnya aku mau menikah dengan Junot bukan karena paksaan, akan tetapi justru kini Junot lah yang terkesan murung, apa mungkin karena ini serba dadakan dan tanpa rencana, makanya dia bersikap demikian.
karena... kalau boleh jujur, aku pribadi sempat terbersit rasa kecewa, sebab pernikahan ini jauh dari ekspektasiku, bukan karena tidak mewah, tidak ada baju pengantin, seserahan atau pun yang lainnya, akan tetapi karena tidak di hadiri oleh orang-orang terkasih, kerabat, saudara, teman ataupun rival, atau orang berjasa di hidup kita, rasanya benar-benar hampa, apa mungkin hal serupa tengah di rasakan juga oleh Junot? maka dari itu dia bersikap murung tidak seperti hari-hari sebelumnya.
__ADS_1
***
Aku perlu waktu untuk keputusan terbesar dalam hidupku, meskipun hanya dengan memikirkannya saja sudah membuat aku lelah, belum lagi permasalahan yang terjadi di kantor, dengan terpaksa harus aku bawa sampai ke rumah, ia ayah memberikan aku waktu untuk berpikir dengan jernih maka dari itu aku pulang ke rumah, sementara yang menjaga bunda ayah dan Bi Ijah.
Sementara itu ibu, bapak dan Nareta, masih tinggal di rumahku, sepulang dari rumah sakit pukul 21:00 aku segera masuk ke dalam kamar, niatnya sih ingin mengistirahatkan pikiran, tapi bukannya istirahat justru pikiranku malah berkelana kemana-mana.
Tentang Aqila aku tidak bisa memutuskannya secara tiba-tiba, alasan pertama karena aku mencintainya, alasan kedua karena aku tidak mau melukai hatinya, lagi pula Aqila pasti tidak mau, dia hanya akan menganggap aku bercanda, persoalannya hubungan kita baik-baik saja, tidak pernah diterpa masalah.
Sementara Nareta? aku harus meyakinkan terlebih dahulu, jika dia mau menikah denganku hanya kerena harta semata, maka itu tidak jadi masalah, toh hidup denganku memang tidaklah mudah. Tetapi jika bukan tentang itu, maka akulah yang bersalah.
Aku tidak bisa memilih salah satu dari wanita yang paling aku sayangi, bunda dan Aqila. Maka dari itu dengan sangat terpaksa aku harus mengorbankan Nareta, tapi akan ku yakinkan dia mau atas suka rela, sama sekali tidak terpaksa, dan akan aku berikan ia kesempatan untuk berpikir ulang, sebelum hari sakral itu datang.
Hari ini aku pulang lebih awal dan ku sempatkan pergi ke toko berlian, untuk membeli salah satu cincin berlian yang harganya lumayan merogoh kocekku. Berlian yang bentuknya kecil ini tetapi sungguh menyilaukan mata para kaum hawa sudah di genggamanku.
Rencananya besok pagi aku akan memberikan jawaban atas keputusan final terbesar yang ku ambil sendiri tanpa campur tangan dari bunda dan ayah.
Jakarta, sabtu 05 April 2017 pukul 07:00 WIB. Sudah dua hari ini aku, ibu dan bapak selalu di kumpulkan di ruang makan oleh Nareta, untuk breakfast buatan tangannya sendiri yang rasanya luar biasa, berhasil di terima oleh lidahku bahkan sampai membuat aku ketagihan, padahal aku termasuk orang yang pemilih soal makanan.
__ADS_1
Tetapi, pagi ini saat aku turun ke bawah, di meja makan masih terlihat kosong kurasa Nareta bangun sedikit kesiangan, ku dengar suara langkah kaki menuruni anak tangga dengan terburu-buru.
"Hem, maaf Nana kesiangan". Ucapnya penuh penyesalan, ku lihat dari ujung kaki hingga ujung kepalanya, ada sesuatu yang terasa berbeda, mungkin karena ia mengenakan pakaian santai, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu mengenakan pakaian formal.
Sungguh cantik batinku, hanya dengan pakaian seadanya tenk top putih dan celana bahan putih serta polesan make-up sederhana saja, ia berhasil mengalihkan perhatianku.
"Iyah gak apa-apa kamu pasti lagi gak solat kan? makanya sengaja bangun siang". Ucap ibu Nareta menyindir.
"Hehe, ibu tahu aja".
"Jangan dibiasakan, gak baik solat atau tidak sedang solat bangun subuh itu bagus, untuk kesehatan menghirup udara segar". Ucap bapak penuh dengan kelembutan tapi sungguh mendalam.
Sementara orang yang sedang di beritahu memperhatikan dengan begitu serius tanpa berkedip dengan menopang dagu.
"Iya, Pak".
__ADS_1
Next?