Aksa

Aksa
part 84


__ADS_3

Dan benar saja, keesokan harinya Junot datang ke apartemen Nareta pagi sekali.


"Mas?" Nareta terdiam sejenak di balik pintu menatap Junot dengan lekat.


"Ehem...". Deheman Junot seketika mengembalikan kesadaran Nareta.


"Euh.. Masuk, Mas !". Ucap Nareta kemudian dengan suara yang terdengar gugup.


"Aksa belum bangun?". Tanya Junot kemudian.


"Hm... udah, aku mandiin dulu yah".


"Ehh... enggak usah, biar aku aja". Ucap Junot sembari menggulungkan lengan bajunya.


"Hem? enggak usah Mas, biar aku aja".


"Aku aja!". Ucap Junot lagi, tak ingin di bantah, kemudian masuk ke dalam kamar.


"Ayah?".Ucap Aksa sembari mengucek-ngucek kelopak matanya.


"Pagi Sayang?".


"Aku belum siap, Ayah kok udah dateng aja?". Ucap Aksa dengan suara khas bangun tidur.


"Hm, iyah dong Ayah kan mau mandiin kamu".


"Hem, Hole...". Teriak Aksa riang gembira.


"Yaudah ayok bangun, jalan sendiri ke kamar mandi bisa?". Tanya Junot.


"Oke, bisa dong".


Sementara itu Nareta segera menyiapkan sarapan pagi untuk Junot dan Aksa tentunya. Kemudian sedikit memoles wajahnya dengan make-up Natural.


Selesai merias diri, tak lupa Nareta menyiapkan pakaian untuk Aksa, kemudian menunggu keduanya di ruang tamu.


20 menit berlalu Aksa dan Junot baru saja keluar dari dalam kamar, dan... kini keduanya sama-sama tengah terpesona dengan penampilan Nareta pagi hari ini.


"Eh udah selesai?". Tanya Nareta basa-basi, sembari menyimpan handphone nya, namun ia tidak mendapatkan jawaban apapun dari keduanya.


"Mm, kita sarapan yuk?!". Namun lagi-lagi keduanya masih terdiam, sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


"Hm, yaudah kalau kalian gak mau sarapan, aku sarapan sendiri deh". Ucap Nareta sedikit jengkel dengan tatapan Junot maupun Aksa yang tak berkedip namun senyum-senyum sendiri.


"Hah, Anak sama Ayah sama aja gak ada bedanya, sama-sama nyebelin". Ucap Nareta setengah berbisik, sembari menghela nafas berat kemudian berlalu pergi menuju meja makan. Namun tak lama kemudian Aksa berjalan mengikuti langkah kaki Nareta.


"Ohh... Aksa ikut".


"Ayah juga". Ucap Junot tak kalah riang gembira.


Sarapan pagi pun selesai, kini giliran Junot membawa Aksa pulang kerumah, tapi sebelum itu... Aksa memohon untuk mengantarkan Mamahnya terlebih dahulu ke kantor.


Hal itu tidak dapat di bantah oleh Nareta ataupun Junot, Alhasil kini mereka bertiga berada di dalam satu mobil yang sama menuju tempat kerja Nareta.

__ADS_1


Tak di sangka-sangka di perjalanan mereka bertiga bertemu dengan Ayden di lampu merah, kemudian berjalan beriringan sampai di lobi kantor.


Ayden dengan ramah menyapa Junot terlebih dahulu, yang tentunya tidak di sambut dengan hangat oleh Junot.


"Hem pagi Pak". Ucap Nareta.


"Pagi".


"Mah, Aksa mau pipis". Ucapnya dengan imut.


"Hah? Oh yaudah ayok".


"Gak usah, Aksa biar sama aku aja". Ucap Ayden.


"Gak usah repot-repot, ada aku, AYAH nya!".Ucap Junot penuh dengan penekanan di kalimat Ayahnya.


"Heh,... oke". Ucap Ayden sembari tersenyum kecut.


"Tapi kamu kan gak tahu Mas toilet nya di sebelah mana".


"Iyah, kamu anterinlah!". Ucap Junot.


"Heh? Ohh... yaudah ayok sayang!?" Ucap Nareta sembari meraih genggaman tangan Aksa.


Sementara itu Junot tidak segera mengikuti Nareta dan Aksa, melainkan ia sempatkan untuk mengucapkan sebuah kalimat yang menohok kepada Ayden.


"Kamu jangan seneng dulu, pada akhirnya kita sama-sama hanya jadi mantan untuk Nareta, bedanya kamu mantan pacar sementara aku mantan suami, tapi satu hal yang harus kamu ingat, tidak pernah ada mantan Ayah buka?!". Kemudian Junot pergi meninggalkan Ayden seorang sendiri, dan mengejar langkah kaki Nareta juga Aksa.


"Heh... Iyah untuk sekarang mungkin kalian bertiga masih bisa berjalan bersama, seperti tidak pernah terjadi apa-apa, tapi lihat saja nanti, Nareta hanya akan berjalan di sampingku seorang". Ucap Ayden sembari mengepalkan kedua tangannya.


"Hm, Iyah Mah, tapi kalau jalannya cepet-cepet justlu Aksa makin gak tahan".


"Hm, sini biar Ayah gendong?!". Ucap Junot kemudian segera berjongkok dan menggendong Aksa.


Tanpa ada penolakan Aksa pun di gendong oleh Junot hingga masuk ke toilet, sementara itu Nareta hanya dapat menunggu di depan toilet wanita saja.


"Hey, udah sayang pipisnya?".


"Udah kok Mah, Yaudah sana Mamah pelgi ke ruang kelja Mamah, nanti pulang nya Aksa jemput lagi, oke?".


"Hah? haha...". Tawa Nareta seketika pecah.


"Loh, kok Mamah malah ketawa?".Tanya Aksa bingung.


"Iyah, abisnya ucapan kamu barusan itu kaya orang dewasa sih".


"Hm, ihh benelan, iyahkan Yah? nanti pulang kerja kita jemput lagi Mamah?!".


"Heh? Ahh... Iyah dong". Ucap Junot, tanpa ia sadari mengiyakan apa yang Aksa inginkan.


"Tuhh, denger sendirikan? pokoknya nanti pulang kelja jangan kemana-mana! Aksa sama Ayah yang jemput". Ucap Aksa dengan gemas tapi kalimat yang di ucapkannya benar-benar seperti orang dewasa bukan anak kecil berusia Dua tahun.


"Heh, Okey". pada akhirnya Nareta pasrah dengan apapun itu yang menjadi keinginan dari Aksa.

__ADS_1


Tak lupa Aksa memberi ciuman di kedua pipi Nareta pun sebaliknya.


"See you!".Ucap Aksa lagi.


"Hm, Hati-hati!". Ucap Nareta sembari melambaikan tangan, kemudian berlalu pergi menuju ruang kerjanya.


Sementara itu, di sudut pandang yang berbeda seorang pria tengah murka.


"lakukan apapun caranya untuk membuat Mereka berdua renggang!".


"Baik Bos".


***


Waktu bergulir begitu cepat secepat kilat. Aksa dan Junot sedang dalam perjalanan, menuju kantor Nareta. Demi memenuhi apa yang Aksa janjikan kepada Ibunya, Junot bela-belain pulang lebih cepat dari seharusnya.


"Nareta? Belum pulang?".


"Eh, Pak, Iyah lagi... nunggu jemputan".


"Ok, boleh saya temani?".


"Hah? enggak usah Pak, gak enak di lihat sama yang lain". Tolak Nareta dengan sopan.


"Hm? Jangan terlalu peduli dengan pandangan orang lain, rileks aja!". Ucap Ayden kemudian duduk di kursi kosong sebelah Nareta.


Dan benar saja beberapa orang berlalu-lalang sembari berbisik-bisik, membicarakan kita berdua.


"Nareta, aku mau ngomong sesuatu sama kamu".


"Em... maaf Pak, aku potong! Tapi... alangkah baiknya jika kita membatasi interaksi kita".


"Heh? kenapa?".


"Aku bukan lagi Nareta yang dulu, Bapak tahu itu, dan sebagai seorang single, keberadaan saya akan selalu negatif di pandangan orang yang tidak pernah menyukai akan keberadaan saya".


"Jadi saya mohon!".


"Oke, jika itu mau kamu".


"Tapi... izinkan saya untuk menyukaimu !".


"Hah?".


"Please! jangan menghindari saya! beri saya kesempatan untuk membuktikan sebesar dan setulus apa cinta yang aku punya untuk mu Nareta!".


Nareta terpaku di tempatnya, tanpa keduanya sadari sedari tadi Aksa dan Junot telah berada di sana mendengar percakapan intens dari keduanya.


"Mah, ayoh kita pulang?!". Ucap Aksa protektif sembari meraih tangan Nareta sedikit kasar.


"Heh? hey... udah datang? Oke... sebentar sayang...". Ucap Nareta terkejut akan kehadiran Aksa dan Junot yang terkesan tiba-tiba tanpa aba-aba.


Sementara itu Ayden kembali murung, dengan kehadiran Aksa yang melihatnya tidak bersahaja, itu sangat jelas tergambar akan rintangan yang tidak mudah untuknya lewati.

__ADS_1



__ADS_2