Aksa

Aksa
part 55


__ADS_3

Sudah ku coba untuk tidak berpikir yang tidak-tidak, tapi bagaimana bisa aku tidak berpikir yang tidak-tidak jika pria lain yang tidak begitu penting kedudukannya untuk istriku Nareta masih setia menunggu di kursi yang sama. Ditambah lagi dengan kehadiran Bagaskara yang sama-sama keras kepala ingin ikut juga, dan tak begitu lama seorang suster datang.


"Suami dari Ibu Nareta, silahkan masuk?!". Dan yang lebih menyebalkan nya lagi Suster itu tidak menatap ku, melainkan ia malah menatap Ayden.


"Hem, saya suaminya". Ucapku sedikit ketus kemudian bangkit berdiri.


"Oh, maaf, silahkan". Suster itu sedikit terkejut dan sekaligus suasana menjadi terasa kikuk.


"Bagaimana keadaan Istri saya Dok?". Ucapku sedikit khawatir.


"Istri anda baik-baik saja, dia hanya perlu istirahat yang cukup kalau bisa jangan terlalu banyak beraktifitas, sebab kehamilan di usia yang masih muda sangat rentan".


"Apa? Hamil? Istri saya hamil?". Ucap ku terkejut.


"Hem, benar Istri anda sedang hamil".


"Sejak kapan?". Tanyaku dengan perasaan yang teramat bingung


"Saya perkirakan kehamilan Istri anda baru dua minggu, dan saya harap itu adalah kabar baik untuk anda". Ucap Dokter itu dengan tatapan selidik penuh curiga.


"Hah? Oh yah tentu saja, itu kabar baik". Jawabku masih dengan ekspresi yang tak percaya.


"Oke, ingat Istri anda harus bad rest dan peran anda sebagai suami dan juga calon Ayah sangatlah penting!". Ucap Dokter Jonathan dengan tegas.


"Hem, baik, kalau begitu saya permisi". Ucapku kemudian berlalu pergi.


Di setiap langkah demi langkah menuju rawat inap Nareta, aku masih tak dapat percaya dengan apa yang baru saja di katakan Dokter, ada rasa aneh yang menjalar di sekujur tubuhku dan tak dapat aku terjemahkan dengan kata-kata, apa mungkin ini yang dinamakan bahagia? atau sebaliknya.


Tiba di depan kamar Nareta kulihat dari balik pintu kaca ternyata dua pria yang sedari tadi terus membuntuti ku sudah ada setia menemani Nareta dengan senyuman dan tawa yang menggema entah topik apa yang mereka bahas.


"Hem, gimana perasaan kamu sekarang?". Tanyaku pada Nareta.


"Dokter bilang apa?". Tanya Bagaskara saat melihat kedatanganku.


"Heh? Nareta baik-baik saja dia hanya perlu istirahat karena katanya kehamilan di usia mudah sangatlah rentan". Ucapku dengan santai.


"Apa? Kehamilan?". Ucap Nareta tak percaya sembari menutup mulutnya.

__ADS_1


"Iyah, bukankah kamu sudah tahu".


"Enggak, aku gak tahu, Dokter gak bilang apa-apa sama aku". Ucap Nareta kesal.


"Jadi Nareta sedang hamil?". Tanya Ayden dengan ekspresi bingung tapi detik berikutnya senyuman terpancar dari kedua pipi lesungnya.


"Hem, Ya".


"Selamat". Ucapnya dengan tulus padaku kemudian kepada Nareta, dan lalu di susul oleh Bagaskara.


"Wah, ini berita yang sangat dahsyat dan eksklusif gua harus live Instatoon nih". Ucapnya dan kemudian membuka aplikasi di handphonenya.


"Halo guys...". Jujur saja aku merasa heran dengan tingkah laku dua manusia yang terlihat jelas mencintai Nareta, tetapi saat mendengar bahwa Nareta tengah hamil keduanya sama-sama saling bahagia melebihi aku.


"Gimana perasaan lu yang bentar lagi bakalan menjadi seorang Ayah?". Tanya Bagaskara sembari menyorotkan sebuah kamera handphonenya padaku.


"Hah? eeeu... rasanya bahagia, benar-benar excited". Ucapku dengan ekspresi bingung dan senyum simpul di akhir kalimat.


"Oke, pastinya, kalau kamu? bentar lagi bakalan jadi Ibu? gimana perasaannya". Ucap Bagaskara dan sekarang tengah menyorot Nareta.


"Jujur aku masih benar-benar gak nyangka sih, tapi yang pasti aku sangat bahagia dan bersyukur, Alhamdulillah Allah ngasih kepercayaan sama aku untuk menjadi seorang Ibu, tanggung jawab dan kesempatan yang sangat besar ini akan aku pergunakan dengan sebaik mungkin". Tutur Nareta dengan senyum bercampur air mata kebahagiaan tentunya.


Hari demi hari perut Nareta semakin membesar dan aku semakin enggan untuk berada di dalam rumah apalagi kini bunda sering menginap di sini, dan yang paling membuat aku kesal pria-pria lain justru semakin memperhatikan Nareta.


Ada pemikiran kalau... mungkin saja Nareta hamil anaknya Ayden bukan aku, tapi... aku masih kurang bukti maka aku urungkan untuk mengatakan apa yang ada di benakku saat ini, yah paling tidak sampai anak itu lahir dan aku akan melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan Nareta, untuk membuktikan sebuah kebenaran.


***


"Sayang, gimana kalau kamu resign?". Tutur bunda tiba-tiba.


"Hah? kenapa Bun?". Tanyaku sedikit bingung.


"Kamu kan lagi hamil, ingat kata Dokter apa? kamu gak boleh kecapean kan?!".


"EMM, iya sih Bun, tapi aku baik-baik ajakan?".


"Iyah, tapi Bunda takut kamu kenapa-kenapa, lebih baik kita mencegah kan?". Tutur bunda dengan tulus tapi lesu.

__ADS_1


"Hem, Iya deh Bun nanti aku obrolin dulu yah sama Junot".


"Iyah, harus!". Ucap bunda, kembali bersemangat.


"Hem... Iyah Bun".


"Oiya, bentar lagi kan kehamilan kamu mau memasuki empat bulan, kita harus buat acara pengajian kamu gak usah bingung-bingung atau kecapean biar Bunda sama Kakak aja yah yang mengurus semuanya?!". Ucap kak Juwita excited.


"Heh? tapi kak...".


"Iyah bener banget, kamu gak usah mikirin apa-apa... kamu terima beres aja, oke?!". Yah kalau sudah bunda yang berbicara aku tidak bisa menolak, aku hanya dapat mengangguk dan tersenyum.


"Terimakasih yah Kak, Bun".


"Sama-sama sayang".


***


Hari H acara pengajian empat bulanan pun akhirnya tiba, yang digelar dengan sangat istimewa melebihi acara resepsi pernikahan kemarin, aku benar-benar bersyukur di kelilingi oleh orang-orang baik seperti mereka.


"Kamu udah siap?". Tanya kak Juwita.


"Hem, Insyaallah udah kak".


"Ya sudah, ayo kita keluar". Aku pun keluar dengan di dampingi oleh Bunda juga Ibu serta kak Juwita, kita berjalan menuruni anak tangga dengan perlahan-lahan semua mata memandangiku, katanya aku benar-benar cantik luar biasa dan bersinar mungkinkah itu bawaan bayi yang sedang aku kandung.


Selayaknya acara pengajian empat bulanan yang lain, maka kita pun melakukan hal yang sama, hanya saja kerena bunda berasal dari Jawa maka Bunda menyebutnya mapati istilah tersebut diambil dari kata papat yang berarti empat.


Menurut Hadits Riwayat (HR) Imam Muslim, di usia 4 bulan, bayi di dalam kandungan sudah punya bagian-bagian tubuh yang lengkap sebagaimana layaknya seorang manusia.


Artinya: “Sesungguhnya setiap orang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari (berupa ******), kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu empat puluh hari pula, kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu empat puluh hari juga. Kemudian diutuslah seorang malaikat meniupkan ruh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menuliskan empat hal; rejekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah dia menjadi orang yang celaka atau bahagia.” (Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi, Shahîh Muslim).


Menurut hadits tersebut, di usia kandungan 4 bulan, Allah juga memerintahkan satu malaikat untuk melakukan dua hal. Pertama meniupkan ruh ke dalam janin. Kedua, malaikat diperintah untuk mencatat empat perkara yang berkaitan dengan rezeki, ajal, amal, dan bahagia atau celakanya janin ketika ia hidup dan mengakhiri hidupnya di dunia kelak.


Masya Allah :)


Kegiatan yang dilakukan yaitu membaca Al-Quran, zikir bersama, menyantuni anak yatim, bahkan aku tidak sampai menyangka kalau Bunda akan menghadirkan ceramah Ustaz yang sering ceramah di televisi.

__ADS_1


Yah kegiatan ini memang tradisi akan tetapi selagi kegiatan itu positif kenapa tidak? Adanya hadits tersebut kemudian dijadikan salah satu pedoman diperbolehkannya melakukan tradisi-tradisi baik yang dilakukan turun temurun di masyarakat.


Next?


__ADS_2