Aksa

Aksa
part 75


__ADS_3

Pagi ini saat aku membuka jendela kamar, awan terlihat lebih cerah dari hari-hari sebelumnya.


Aku tidak tahu ini awal yang bagus atau justru sebaliknya, sebab kenyataan memaksa aku harus memulai hidup yang baru dengan tidak mudah.


Iyah, pagi ini aku kembali memakai pakaian rapi lengkap dengan beberapa barang-barang yang sudah sepatutnya aku bawa.


Meskipun awalnya aku sempat menolak untuk kembali bekerja di perusahaan Ayden, tetapi kebutuhan yang amat mendesak tidak dapat di ajak kompromi.


Iyah, mulai saat ini apa-apa yang Aku dan Aksa butuhkan tidak tersedia dengan begitu saja.


Meskipun sebenarnya aku masih mempunyai tabungan yang cukup, akan tetapi jika aku tidak mulai bekerja maka uang itu akan habis dengan begitu saja karena tidak ada pemasukan.


Beruntungnya Ayden mengerti dengan kondisiku saat ini yang merupakan seorang Ibu, dia mengizinkan aku membawa Aksa ke kantor dengan syarat pekerjaan terselesaikan dengan seharusnya.


pagi sekali aku sudah menyiapkan apa-apa saja yang sekiranya Aksa dan Aku butuhkan, membuat sarapan dan memandikan Aksa dengan rapi.


Air mata kebahagiaan sekaligus kesedihan lolos dari kelompok mataku, saat selesai mendandani Aksa.


Bahagiaan karena melihat Aksa yang begitu tampan nan rupawan, dia begitu menggemaskan karena tingkah lakunya.



Tetapi kebahagiaan itu tidak semata-mata kebahagiaan, akan tetapi berbarengan dengan kesedih, sebab dengan terpaksa aku harus melibatkan Aksa saat mencari nafkah.


Maafkan Mamah yang tidak bisa memberikan apa-apa yang terbaik untuk kamu Nak, Karena ketidak punyaan Mamah kamu terpaksa harus melalui hari yang sulit ini.


Aku segera menyeka air mataku sebelum riasan yang ada di wajahku luntur. Aku harus kuat gak boleh nangis apalagi di depan Aksa, batinku.


***


Hari-hari bergantian dengan begitu cepat, dan hari ini aku tidak berhias dengan pakaian rapi seperti hari-hari sebelumnya, sebab hari ini aku akan mendatangi ruang pengadilan atas surat undangan perceraian yang telah di ajukan oleh Junot.


Heh, meskipun aku telah tahu bahwa Junot memang akan menceraikanku, tetapi... jujur saja, aku tidak menyangka prosesnya akan secepat ini.


Jujur saja sampai saat ini aku masih belum memiliki keberanian untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi terhadap pernikahanku dengan Junot kepada keluargaku.

__ADS_1


Tetapi Aku rasa Junot sudah berterus terang terhadap keluargaku sehari sebelum hari ini.


Terbukti dengan kehadiran nya di pagi hari ini, jangan ditanya bagaimana reaksiku, Aku sangat terkejut dengan kehadiran mereka yang sama sekali tidak aku harapkan.


Entah apa yang di katakan Junot, yang pasti Bapak dan Ibu tidak banyak bertanya mengenai perceraian ini, mereka lebih mendampingiku dan sesekali menguatkan ku.


Saat tiba Ibu dan Bapak memelukku bergantian dengan erat lalu membisikkan kalimat yang sama.


" Setelah acara ini selesai, Ayo kita pulang ke Bandung?!". Kalimat itu seolah menandakan aku akan kalah mengenai hak asuh Aksa.


Padahal sebelum Bapak dan Ibu hadir, aku sangat yakin akan memenangkan hak asuh Aksa, walau bagaimana Aksa masih terlalu belia untuk di pisahkan dengan Ibunyakan?


***


Pukul 10:30 kita semua berangkat di antar oleh Ayden. Dia tahu karena acara ini di adakan di hari biasa maka dengan terpaksa aku harus izin kerja dengan alasan yang sebenarnya.


Aku sudah mengatakan untuk tidak usah ikut campur dalam urusan pribadi ku tetapi Ayden memaksa dan sama sekali tidak mendengarkan perkataanku.


Setibanya di sana, Aku masih dengan kebiasaan ku, mendatangi Bunda dan Ayah terlebih dahulu kemudian menyalami dan mencium telapak tangannya.


Pukul 11:00 tepat acara dimulai, semua orang masuk ke dalam ruangan dengan tertib, satu persatu sahabat Junot duduk di bangku sebelah kanan beserta keluarganya, sementara aku dan keluargaku serta Mas Ayden duduk di bangku sebelah kiri.


Sementara Aksa dia memang tidak diikutsertakan di acara persidangan ini, ia di titipkan di tempat yang aman dengan Babysitter yang sudah di siapkan Junot.


Hakim membacakan gugatan perceraian dari Junot, dan tak lupa memberi saran serta waktu untuk Junot barangkali ia berubah pikiran.


Sudah tiga kali Hakim memberikan penawaran untuk rujuk atau membatalkan perceraian ini, tetapi hasilnya nihil, Junot tetaplah Junot, dia sangat teguh dengan keputusannya.


Dan apa yang menjadi kekhawatiran ku terjadi, heh... sejak awal aku memang akan kalah terhadap keluarga Junot yang memiliki koneksi dari mana-mana.


Belum lagi dengan keadaanku yang serba kekurangan ini, akan menjadi senjata Junot untuk meminta hak asuh Aksa agar jatuh ke tangannya.


Hah, Iyah... meskipun kedepannya memang akan terasa berat untukku menjalani kehidupan tanpa Aksa, tetapi... akan jauh lebih berat dan sengsara untuk ku jika harus melihat Aksa hidup serba kekurangan dan melalui hari-hari yang melelahkan seperti yang selama ini aku berikan padanya bukan?


Aku cukup bahagia dengan keputusan Hakim yang tidak melarang aku untuk menemui Aksa kapan saja dan dimana saja.

__ADS_1


Terlebih Bunda menjanjikan akan menghadirkan aku di acara-acara penting Aksa. Bagiku itu sudah lebih dari cukup.


Aku sama sekali tidak membantah apapun itu putusan Hakim, dan tepat pukul 13:30 WIB ini ketukan palu Hakim mengakhiri pertemuan aku dan Junot. Aku resmi berpisah dan menjadi seorang Janda di usiaku yang ke 25tahun.


Air mata tak dapat aku sembunyikan lagi, aku menangis sejadi-jadinya di pelukan Bapak dan di hadapan semua orang.


Tidak hanya aku, akan tetapi Ibu dan Bapak, serta Bunda dan Kak Juwita pun ikut menangis, atas putusan Hakim.


Rasa sakit nan pilu itu teramat kuat aku sampai tidak sanggup melihat keluarga Junot.


Aku tidak tahu harus berbuat apa, detik berikutnya Bunda, Kak Juwita datang menghampiriku, sembari menangis sesegukan mereka memelukku dengan erat.


Bunda meminta maaf begitupun dengan Ayah, kepada Bapak dan Ibu, mereka merasa menyesal telah meminta perjodohan antara aku dan Junot terjadi.


Yah, meskipun sebenarnya mereka juga sangat bersyukur karena penyatuan aku dan Junot menghadirkan Aksa di tengah-tengah kehidup kami.


Kedua orang tuaku tidak dapat berkata apapun, di satu sisi orang tuaku merasa marah terhadap Junot, tetapi di satu sisi, itu merupakan hak Junot untuk menceraikanku dengan alasannya yang tidak mencintaiku.


"Nareta, sampai kapanpun .... kamu akan tetap menjadi menantu Bunda, kamu jangan sungkan untuk datang ke rumah Bunda yah?!". Ucap Bunda berlinang air mata.


Aku tak mampu menjawab apapun, hanya mampu mengangguk sebagai jawaban, Iyah.


"Iyah, kapanpun kamu mau bertemu Aksa datanglah?!". Ucap Ayah menimpali.


"Ya Tuhan kenapa bukan Nareta yang menjadi Adikku?". Ucap Juwita sembari menangis di pulakanku.


"Heh... Nareta di perbolehkan untuk menyebut Kakak dengan sebutan Mbak kan?". Tanyaku sembari sesegukan.


"Heh... bodoh, seharusnya mbak yang bertanya, masih sudikah kamu menganggap aku sebagai Kakakmu". Ucap lagi Juwita dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi.


Sementara itu di seberang sana, Junot terpaku dengan ke angkuhannya.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2