
"Kamu ngapain kesini, mau ngintip?"
"Hah? enggak kok, maaf aku bener-bener gak sengaja". Ucapku, dan segera berbalik badan.
"it's okay, kamu gak perlu minta maaf, ada apa?".
"Ah, aku lagi cari saklar".
"Saklar? ada di sebelah kiri pintu".
"Udah aku coba, tapi gak bisa?"
"Masa? yaudah, nanti biar aku yang coba".
"Em". Aku segera pergi tanpa berani menoleh sedikitpun.
***
Aku sudah memakai baju tidur, dan segera menyusul Nareta, kulihat dia sudah terlelap tidur, tidak perlu untuk ku matikan lampunya kan?
Jangan berpikir yang tidak-tidak! aku tidur dengan tenang di sebelahnya, lagi pula Nareta tengah Menstruasi, meskipun tidak ada halangan aku tidak mungkin melakukan hal itu tanpa cinta.
Keesokan harinya saat aku terbangun dari tidurku, aku tidak melihat ke beradaannya. Mungkin dia sudah terbangun dan selayaknya istri pada umumnya, dia tengah sibuk menyiapkan sarapan untukku dan orang tuanya.
"Selamat pagi". Ucapku, yang kemudian mendapati jawaban hangat dari ibu dan bapak.
"Pagi Nak Jun, ayo sarapan!". Jawab ibu ramah.
"Iya, Bu. Nareta mana?". Sebab aku tidak mendapati ke hadirannya.
"Anak itu... pagi sekali sudah menyiapkan sarapan, lalu pergi ke kantor katanya ada meeting penting". Jawab bapak sedikit kesal.
"Oh, iyah Pak gak apa-apa". Jawabku sekenanya.
__ADS_1
Pagi itu pun berhasil aku lewati dengan semestinya, tidak ada percakapan yang berarti, apalagi perlakuan istimewa dari seorang istri. Aku segera pamit dan berangkat ke kantor.
Tidak ada alasan untukku untuk berleha-leha, meskipun begitu pikiran mengenai bunda, Juwita dan Aqila belum lagi Nareta memenuhi isi kepalaku.
Bunda masih belum siuman tapi keadaannya perlahan memberikan tanda-tanda yang lebih baik, aku cukup lega mendengarnya, sementara Juwita sudah mulai merengek meminta untuk segera beranjak dari ruangannya, setelah aku kirimi uang Aqila memberikan ucapan terima kasih dengan emoticons love bertebaran, heh... sungguh menggemaskan dan Nareta? aku tidak tahu kenapa dengannya, tingkah lakunya seketika berubah hanya dalam waktu semalam, dia lebih terbuka, perhatian, dan bersikap manja.
***
04:20 WIB aku terbangun dari tidur nyenyak yang teramat nyenyak, seperti berhari-hari tidak tidur lalu tidur, jujur saja aku terbangun karena pergerakan pelan yang Junot lakukan, perlahan namun pasti aku membuka mata tanpa ia sadari, aku melihat dia menaruh peci di atas nakas, lalu berbaring di sebelahku secara perlahan tak ingin membuatku terbangun karena pergerakannya, dan seketika itu juga degup jantungku berdetak tak beraturan, what's wrong? beberapa detik yang lalu jantungku rasanya baik-baik saja.
Kau tahu hembusan nafas yang tak menentu, bisa menimbulkan suara berisik karena ruangan yang kita tempati begitu tenang, dan hal demikian itu semakin membuat aku takut akan membangunkan Junot dari tidurnya yang baru saja akan di mulai, huh... sebisa mungkin aku tidak melakukan pergerakan yang tak begitu penting, tapi detik berikutnya dengkuran halus keluar dari mulut Junot.
Hah, dia pasti sangat lelah, ku tatap wajahnya yang rupawan itu. Tunggu... rupawan? Iyah dia memang rupawan, bagaimana mungkin bisa kini pria rupawan itu adalah suamiku.
Jujur saja, aku tidak habis pikir dengan jalan takdirku ini, wanita yang biasa-biasa saja bisa di nikahi oleh pria sesempurna Junot, tentu saja aku sungguh sangat bersyukur dan beruntung, meskipun aku meragukan Junot menikahiku karena cinta, tapi sama halnya dengan Junot aku pun sampai detik ini belum mencintainya, tapi... aku akan mencoba membuka hatiku untuk Junot.
Seperti apa yang selama ini dikatakan oleh bapak dan ibu, bahwa tak kenal maka tak sayang atau mungkin berjalannya waktu cinta akan tumbuh dengan sendirinya dan terbukti selama 25 tahun ibu dan bapak menikah sampai detik ini mereka berdua rukun-rukun saja. Jika ada sedikit cek-cok yah wajar, karena rasa tidak hanya manis bukan? maka dari itu, pagi ini aku putuskan untuk memulai hari dengan bahagia dan ceria sebagai istri dari Junot Abraham.
Aku bangkit dari selimut tebal yang menyelimuti tubuhku dan Junot, sebelum benar-benar pergi ku tatap wajahnya yang tenang dan ku ucapkan "selamat pagi" dengan pelan, tapi niat baik tidak melulu berbuah baik, selesai dari toilet dan menyiapkan sarapan tiba-tiba saja, mas Ayden menghubungiku.
to : Suami
Aku ada meeting mendadak, aku pamit pergi kantor yah.
sent
maaf, aku gak sempet siapin baju kerja kamu 🙏
sent
Oiya, tapi aku udah buat sarapan, semoga kamu suka :)
sent
__ADS_1
Hati-hati berangkat kerjanya, jangan ngebut!
sent
Semangat 💪
sent
Dan semua pesan ku baru dia read pukul 09:40 WIB di mana aku sudah menunggu sekitar 2 jam 40 menit balasan dari nya, dan selama itu juga sepertinya dia memang tidak berniat membalas pesanku.
"Nareta? kamu kenapa?". Ucap mas Ayden di tengah-tengah meeting.
"Hah? gak apa-apa". Iyah, aku kena teguran dari mas Ayden karena selama meeting berlangsung tatapan mataku tak pernah pergi dari layar handphone.
"Aku harap kamu bisa lebih fokus! oke?!". Ucap mas Ayden kembali, setengah berbisik di telingaku.
"Baik, Pak". Ucapku tak kalah berbisik, oh iyah pertemuan kali ini tidak hanya ada aku, di sana juga ada Tania, dan beberapa rekan lainnya dari kantorku.
11:20 Akhirnya meeting itu selesai juga, Aku dan beberapa karyawan kantor yang lain segera merapikan berkas-berkas yang berceceran di atas meja kerja. Dan ku lihat Tania terlihat kesal, melihat kedekatanku dengan mas Ayden tadi.
Rumor bahwa mas Ayden telah menjalin hubungan di luar kerja dengan Tania beredar dengan sangat cepat tanpa pernah ku duga, dan lebih banyak juga yang mengetahui akan hal itu, sementara itu beberapa orang yang tahu bahwa aku dan mas Ayden juga pernah memiliki kedekatan, saat bertemu denganku ia menepuk-nepuk bahuku perlahan, menguatkan, menyemangati, yang jika diartikan artinya "sabar" dengan senyuman yang di paksakan melihatku kasihan.
Andai saja saat ini aku belum menikah dengan Junot, mungkin aku akan merasa terluka, bahkan sangat-sangat terluka, tapi... entah kenapa aku tidak merasakan akan hal demikian, perlahan cintaku untuk mas Ayden memudar, hilang begitu saja entah kemana.
Justru, kini hati dan isi kepalaku semua di penuhi oleh Junot, mungkinkah cintaku untuk mas Ayden memang tidak sebesar itu? tiga tahun kebersamaanku dengan mas Ayden, lenyap begitu saja, seolah tiada arti, sama seperti tiga hari mas Ayden pergi bersama Tania dan melupakanku.
Meskipun aku tidak bisa mengatakan telah jatuh cinta pada Junot, tapi aku telah bertekad untuk membuka hati dan membuka lembaran baru bersama Junot yang sudah jelas-jelas kini dia adalah suamiku.
Pria yang pantas untuk mendapatkan perhatianku, mendapatkan cintaku dan pantas mendapatkan apa-apa yang sebelumnya belum pernah aku berikan pada pria mana pun termasuk mas Ayden.
Begitu banyak rencana yang ingin aku lakukan jika sudah menikah, yah meskipun pria itu bukan lagi mas Ayden orangnya, tapi semua keinginanku masih tetap sama, salah satunya adalah pulang-pergi kerja bersama.
aku punya hak dong untuk memanjakan, memperhatikan, melayani dan mencintai, toh dia suamiku! :) pun aku berhak mendapatkan semua itu dari suamiku, maka saat orang lain mencoba menyemangatiku, tanpa mereka tahu, di dalam lubuk hatiku yang terdalam, justru aku tengah tersenyum bahagia, sebab nanti sore salah satu ke inginanku akan terwujud.
__ADS_1
Next?