
Aku segera keluar ruangan, yang kemudian di sambut oleh tatapan yang tidak dapat aku artikan.
Dia sedang berdiri setengah bersandar di dinding yang menghadap pintu, dengan kedua tangan yang di lipat di atas dada, tatapan nya teduh nan gelap.
"Sudah pamitannya?". Suara khas bariton, pelan dan berat tapi lembut menggema di telingaku. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban dan tidak ada jawaban apapun lagi, dia berdiri tegak dan berjalan lebih dulu.
***
Di sepanjang perjalanan kami menuju basement banyak pasang mata yang memperhatikan kita, bukan.. maksudku wanita yang melihat Junot hingga lupa untuk berkedip atau bahkan pria yang hanya sekedar melirik, akan tetapi dengan demi kian terbukti bukan jika kehadiran Junot itu akan selalu menjadi pusat perhatian.
tidak ku pungkiri postur tubuh Junot itu nyaris sempurna bak Dewa Yunani. Kata-kata yang terdengar hiperbola tapi yah memang begitu ada nya.
aku yang memiliki tinggi badan 1,66 m dan mengenakan sepatu heels 5cm hanya sepundak nya belum lagi kulit nya yang putih bersih tanpa ada sedikit pun jerawat atau pun bekas jerawat, komedo atau flek hitam, di berbagai macam kesempatan tubuh nya selalu wangi, tidak hanya itu aroma dari mulut nya juga selalu segar beraroma mints, tentu nya dengan barisan gigi putih dan bersih dan sudah dapat di pastikan dia bukanlah perokok. Satu poin lebih unggul jika di bandingkan dengan Mas Ayden.
Kita sampai di basement dan untuk pertama kali nya dia membuka kan pintu penumpang depan untuk ku. Aku tidak banyak berkata apapun, aku segera menuruti apa yang dia mau dengan isyarat yang artinya cepat masuk.
Aku segera memakai seatbelt dan ku sibukan diri dengan pikiran ku sendiri, tak lama kemudian mobil mulai melaju dengan lambat entah apa yang terjadi dengan nya, perubahan sikap nya berubah dengan sangat drastis.
Hening, kita sama-sama sibuk dengan pemikiran masing-masing, lalu tiba-tiba saja dia bertanya yang berhasil membuat aku terkejut.
***
"apa yang kamu minta sebagai Mahar?". Bagaimana aku tidak terkejut ? dengan pertanyaan yang to the point tanpa ada nya awalan yang mengarah ke hal demikian.
"Kenapa diam?". Aku melirik nya dengan tajam, ingin memastikan dia sedang bercanda atau serius? Takut-takut dia hanya bercanda aku sudah kegirangan menjawab.
"enggak banyak dan gak neko-neko". Jawab ku singkat dan misterius.
"Iyah, apa?". Tanya nya sedikit jengkel
__ADS_1
"andai saja ke jujuran dan kesetiaan bisa jadi Mahar aku akan meminta itu". Aku menjawab dengan serius tapi berhasil mendapat tatapan tajam dari Junot.
"Kenapa? mungkin itu terlalu berat untuk orang semacam kamu?"
"Semacam?". Dia mengucapkan kembali kalimat yang sempat aku ucapkan, mungkinkah dia tersinggung atas perkataan ku? sebab saat ini dia tengah mengerutkan dahi dengan lirikan tajam menusuk netra ku.
"Heh, biar aku ingatkan siapa yang pernah dan berani berbohong pada Ibu ku, dan ku jamin itu bukan kali pertama kamu berbohong". Dia tersenyum congkak menatap ku, aku yang merasa bersalah terdiam membisu kemudian membuang muka.
"Pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?. Lagi dia bertanya mengenai proses pernikahan, padahal dia tidak bertanya mau atau tidak aku menikah dengan nya.
"Kamu seneng banget yah buat orang lain nunggu". Dia melirik ku dengan tatapan kesal, sementara itu bukan nya menjawab, aku malah memberanikan diri untuk balik bertanya.
"Hm, kenapa kamu menanyakan hal itu? siapa yang mau menikah dengan mu?". Ku tatap wajah nya dengan lekat, jawaban apa yang sekira nya akan ia berikan.
"Kamu". Dia berhasil membuat aku bungkam, padahal dalam hati kecil ku ingin mengatakan "Tidak" aku tidak mau.
"Kenapa diam? kita berdua sudah di jodohkan bukan? dan salah satu di antara kita, tidak ada yang keberatan". Yah, apa yang di katakan nya memang benar, tapi aku masih meragukan, akhir nya aku memberanikan diri untuk menanyakan satu hal lagi, yang akan membuat aku yakin dia sungguh-sungguh atau mungkin.. yh hanya pura-pura.
"Kamu benar, aku bisa saja mendapatkan wanita yang lebih, tapi bukan wanita begitu yang aku cari"
"lalu? wanita seperti apa yang kamu cari?"
"yah wanita seperti kamu, seperti yang kamu bilang, tidak neko-neko dan yang pasti kamu sudah mengantongi restu dari Ayah dan Bunda ku". Sesederhana itu jawaban nya, entahlah dia berhasil membuat aku sedikit goyah akan cintaku pada Mas Ayden.
Pasalnya, dulu saat aku pernah bertanya mengapa Mas Ayden memilih aku sebagai pacar dan dia malah melebihkan calon istri, jawaban nya tidak masuk di akal pikiranku, dia bilang aku adalah wanita tercantik yang pernah dia kenal, padahal kenyataan nya berbanding terbalik, apa mungkin saat itu Mas Ayden berbohong?
"Hm... hanya itu?". Dia terdiam sejenak, sebelum akhir nya memberikan jawaban telak.
"Heh. Aku tahu, kamu tidak akan percaya akan jawaban apapun yang aku berikan, maka kamu tidak perlu percaya. Aku cuma minta satu hal, kamu cukup rasakan!". Benar, aku memang tidak akan percaya, tidak semudah itu. Apalagi membuat aku jatuh cinta.
__ADS_1
Kita berhenti di situ, tidak ada lagi obrolan mengenai pernikahan atau pun yang lain nya.
***
25 menit kemudian kita sampai di depan kosan ku, belum sempat aku membuka seatbelt Junot lebih dulu menghentikan pergerakan ku.
"Besok kamu berangkat kerja jam berapa?". Tidak ada pemikiran apapun aku segera menjawab dengan singkat.
"07:30". Aku segera melanjutkan aktivitas ku dan membuka pintu mobil.
"Makasih atas tumpangan nya". Ucapku kemudian, namun aku tidak mendapatkan jawaban apapun, aku segera menutup pintu mobil dan membuka kunci pintu kosan, tapi selama itu juga aku tidak mendengar dia menyalakan mesin mobil dan pergi.
Pikirku mungkin dia sedang memeriksa handphone atau yang lain, aku tidak begitu memperdulikan nya, akhirnya aku putuskan untuk segera masuk ke kosan dan tak lama kemudian setelah aku menaruh tas dan berbaring di kasur, aku mendengar dia menyalakan mesin mobil dan pergi.
Apa mungkin sedari tadi dia menunggu aku untuk masuk? Ahh tidak mungkin, pastinya itu hanya kebetulan.
***
Malam ini aku tidur dengan nyenyak, tentu nya lebih nyenyak dari malam sebelum nya, dan seperti biasa aku melakukan rutinitas pagi ku, selesai solat subuh biasa nya aku tidak tidur lagi sebab dari dulu Bapak selalu mengingatkan akan hadis ini :
Dalam riwayat sahabat Ibnu Abbas sebagaimana diriwayatkan Imam Thabrani, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِذا صَلَّيْتُمُ الفَجْرَ فَلَا تَنامُوا عَن طَلَبِ أرزاقكم
"Idza shalaytumul-fajra fala tanamuu 'an thalabi arzuqakum,".
Yang artinya: "Ketika kalian sudah selesai melakukan shalat subuh, janganlah (mementingkan) tidur yang menjadi penyebab hilangnya rezekimu,".
maka aku seringkali melakukan apa-apa yang membuat aku bahagia, semisal ; masak untuk sarapan, olahraga ringan atau baca buku, yh meskipun kadang kali, buku yang ku baca bukan buku pelajaran tapi lebih ke hiburan, hehe... tapi setidak nya aku sudah berusaha. Meskipun lebih bagus nya lagi sih mengaji, menghafalkan surat-surat Al-Quran.
__ADS_1
Next ?