Aksa

Aksa
part 33


__ADS_3

Semua wanita yang aku sayangi kini tengah di rawat, ditambah satu orang lagi, iyah orang itu adalah Nareta,


rasa bersalah karena sebelumnya aku pikir Nareta pergi meninggalkan bunda, seketika menyeruak saat aku tahu, justru dia habis mengambil darahnya untuk bunda, di saat ia tengah menstruasi pula, hal yang tidak di anjurkan untuk mendonor darah, karena efeknya akan seperti yang sekarang terjadi.


Ia pingsan tak sadarkan diri, tak ada pilihan lain selain meminta ibu dan bapak segera ke rumah sakit untuk menjaga Nareta.


Adzan subuh berkumandang yang bertepatan dengan kedatangannya bapak dan ibu, aku segera pamit meminta izin untuk melihat kondisi bunda. 04:30 Ayah baru saja kembali, mungkin karena telah menyelesaikan sholat subuh.


"Nareta mana?". Tanya ayah.


"Sedang di rawat juga Yah". Wajah ayah seketika berubah.


"Kenapa bisa?".


"Tadi saat aku menyusul Ayah, Nareta memberikan darahnya untuk Bunda, karena stok darah B kebetulan habis, dan lagi dia tidak menyadari kalau kondisinya yang tengah menstruasi, maka dari itu kondisinya melemah dan sekarang sedang tidak sadarkan diri". Ayah mengusap wajahnya gusar.


"Astagfirullah, cobaan apa lagi ini?". Tutur ayah frustasi, dan tidak ada yang bisa aku lakukan, selain mengelus-elus pundak ayah seperti apa yang pernah Nareta lakukan padaku sebelumnya.


"Ayah, harus kuat! Bunda pasti bisa melawan masa-masa sulitnya". Meskipun itu amat sangat sulit, tidak untuk ayah tapi untukku juga.


"Lalu Nareta sendiri disana?".


"Enggak kok Yah, dengan terpaksa aku meminta Bapak dan Ibu untuk menjaga Nareta".


"Ahh. Iyah, yasudah sebaiknya kamu sholat subuh dulu!".


"Ayah gak apa-apa aku tinggal sendiri?". Kulihat kondisi ayah semakin memburuk, dengan mendengar berita yang terus bertubi-tubi membuat jantungnya terkejut.


"Ayah baik-baik saja". Aku segera pergi, setelah mendengar ucapan meyakinkan dari ayah.


05:00 aku baru saja kembali dari mushola dan tak lama kemudian Dokter keluar dari ruang operasi, aku dan ayah segera bangkit menyambut kedatangan Dokter Reza dan jajarannya.


"Dok bagaimana?" Ucap ayah.


"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar tapi untuk saat ini Ibu Maharani masih dalam keadaan koma, tapi sudah dapat di pindahkan ke ruang ICU".


"Alhamdulillah" Ucapku dan ayah bersamaan, meskipun bunda masih belum sadarkan diri, tapi setidaknya masih ada harapan untuk bunda sembuh, setelah melewati perjalanan operasi.


Dan tak lama kemudian suster-suster yang lain membawa bunda menuju ruang ICU, ada sedikit perasaan lega dari rasa gundah gulana sebelumnya. Aku dan ayah ikut mengantar bunda ke ruang ICU dan setelah itu, ayah menyuruhku melihat kondisi Nareta.


***

__ADS_1


Aku terbangun dengan rasa yang sangat pusing, perlahan-lahan ku buka kedua mata yang menampilkan bapak dan ibu, sejak kapan bapak dan ibu ada disini? Tuturku dalam hati penasaran.


"Ibu, Bapak?". Ibu yang terlihat masih mengantuk segera terbangun sementara bapak yang seperti baru tiba segera mendekat.


"Nana? kamu baik-baik saja kan?". Ucap bapak khawatir, sementara ibu selalu santai menyikapi apa-apa yang terjadi padaku.


"Mau minum?". Tanya ibu.


"Entong di tawaran, nya bere cai nginum atuh!"


(Jangan di tawarin, iya kasih air minum dong!). Ucap bapak terlihat heran dengan kelakuan ibu yang sama sekali tidak ke ibuan.


Aku di bantu bangun oleh bapak dan di beri air minum, setelahnya aku kembali berbaring, karena kepalaku rasanya masih pusing, sementara itu ibu izin untuk sholat subuh dulu.


Ke dekatanku dengan bapak memang terkesan jarang bicara, tapi ketahuilah bapak paling mengerti akan mau ataupun ke resahanku.


"Bapak percaya Junot anak yang baik, terlepas dari dia tampan, anak orang kaya, pintar ataupun anak dari teman bapak". Aku memang tengah meragukan Junot tapi perkataannya sebelum akhirnya aku pingsan, berhasil membuat aku sumringah.


"Kenapa? apa alasan Bapak mempercayai Junot, apa yang membuat ia pantas menjadi menantu bapak". Sebenarnya sebelum aku berhubungan dengan mas Ayden, sudah pernah ada yang beritikad baik ingin meminangku, dan setahuku dari Nadim ataupun ibu, orang tua dari lelaki itu ataupun pria yang berani itu, merupakan orang yang cukup terpandang, tapi bapak tolak. Dengan alasan aku sudah ada yang punya, padahal saat itu aku masih sendiri.


"Karena dia sering ke masjid, bacaan Al-quran nya juga bagus, fasih yang menandakan dia sering membacanya, lalu dia punya banyak teman baik, dan yang terakhir dia penyayang anak kecil". Heh, aku sedikit mengernyitkan dahi, mana bisa bapak tahu akan apa-apa yang baru saja bapak ucapkan.


"Kamu pernah lihat bapak berbohong atau asal bicara?". Iyah... tidak pernah. Selama 22 tahun aku menjadi anaknya bapak, selama itu juga bapak selalu menjadi panutan ku, apa-apa yang bapak ucapkan selalu di dasari dengan bukti atau fakta, jika tidak begitu bapak tidak akan berani bicara.


"Kamu percayakan sama bapak?". Tanya bapak padaku, meskipun aku masih tidak habis pikir bagaimana cara bapak tahu akan semua hal tentang Junot, akhirnya ku jawab...


"Percaya kok Pak". Seperti apa-apa yang ku percayai pada bapak sebelumnya, kuharap kali ini juga pendapat bapak benar, dan tidak mengecewakanku.


***


Kulihat dari kejauhan Nareta sudah sadar, aku segera menghampiri dan menyampaikan kabar baik tentang bunda.


"Benarkah? aku mau ke sana boleh gak?". Kenapa dengannya mengapa ia berubah menjadi wanita manja.


"Gak bisa, lagi pula bunda masih koma, dan yang menjaga hanya di perbolehkan satu orang saja". Tutur ku, dan wajahnya seketika berubah jadi masam.


"Yasudah nanti kita ke sana yah, tapi setelah kondisi kamu membaik". Ucapku kemudian.


"Yasudah Bapak tinggal dulu, mau ke toilet".


"Iyah Pak hati-hati". Ucapku. Setelah bapak pergi, kulihat Nareta tengah mengambil handphone dan memberikannya padaku.

__ADS_1


"Mau ngapain?". Tanyaku.


"Supaya gak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan seperi tadi, aku minta nomor handphone kamu". Ucapnya padaku.


Akhirnya ku ambil handphonenya dan menyimpan nomor teleponku, lalu ku coba panggil supaya nomornya ada juga di handphoneku, setelah itu ku kembalikan pada pemiliknya.


"Gimana keadaan kamu udah mendingan?". Tanyaku kemudian


"Masih sedikit pusing". Jawabnya dengan suara serak.


Tak lama kemudian datanglah seorang Dokter, hendak ingin memeriksa Nareta.


"Permisi, saya Dokter Regil, maaf Ibu boleh pinjam tangannya?". Ucapnya dengan lemah lembut.


"Oh, iyah boleh Dok"


"Detak nadi nya sudah mulai stabil, saya tensi dulu yah Ibu, apa aliran darahnya sudah normal kembali atau belum".


"Gimana Dok?". Tanyaku pada akhirnya.


"Alhamdulillah, sudah normal kembali hanya butuh istirahat yang cukup saja".


"Tapi katanya dia masih pusing?".


"Iyah, itu efek samping dari pengambilan darah apalagi keadaan Ibu Nareta yang kurang fit sehingga menimbulkan rasa lemas dan pusing mata juga rasanya berkunang-kunang bukan?"


"Iyah, Dok".


"Hanya butuh istirahat yang cukup saja nanti juga normal kembali, kalau ada apa-apa segera hubungi saya!". Ucap Dokter itu terkesan menggoda atau hanya perasaanku saja.


"Infusnya bisa di lepas tidak Dok?"


"Kenapa Ibu? apa sakit? mau di pindahkan ke tangan satunya?".


"Hah? enggak usah Dok".


"Hem, sebaiknya jangan dulu di lepas yah, karena Ibu juga kurang fit maka tadi saya masukan obat vitamin ke dalam infusnya, biarkan sampai habis".


"Oh, baik Dok, terima kasih". Apaan sih Dokter itu gak sopan, terus aja ngeliatin Nareta dengan senyuman yang tak lekang pudar.


Next?

__ADS_1


__ADS_2