Aksa

Aksa
part 18


__ADS_3

"Assalamualaikum". Ucapku bersamaan dengan Junot. Dan kemudian di sambut hangat oleh penghuni dari ruangan ini.


"Waalaikum'salam warahmatullahi". Satu suara itu menjawab dengan berbeda, yang sudah dapat di pastikan itu Bapak.


Ku pikir setelah masuk ke ruangan ini, aku tidak akan lagi dapat tertawa, ternyata aku salah. Aku bahagia, sangat bahagia melihat Ibu dan Bapak bahagia dan orang-orang baru yang mungkin akan menjadi keluarga ku.


Sedari tadi kita bercerita tentang masa kecil ku sesekali masa kecil Ka Juwita bahkan Junot, yang berhasil membuat kita semua tertawa.


"Kamu jangan ambil hati dengan sikap Junot yang selalu cuek, tapi sebenar nya dia denger kok, dia juga pintar menjawab sedari usia 4 tahun"


"Hah? 4 tahun"


"Iyah, 4 tahun saat Taman Kanan-kanak saat itu Bunda tanya belajar apa hari ini?" Junot jawab menulis Bun, terus Ayah nya tanya apa yang kamu tulis ? dan kamu tahu apa jawaban Junot pada saat itu?"


"Apa Bun? :)". Jawab ku antusias.


"Junot jawab, tidak tahu Yah, aku belum belajar membaca". Hahaha semua tertawa mendengar kisah Junot, sedari kecil ternyata dia memang cuek tapi cerdas.


"Wah itu sih jawaban membanggakan walaupun memang agak menyebalkan, Hahaha". Ucap Bapak dan semua orang kembali tertawa.


"Sayang nya Ayah gak tahu kita lagi ngobrol-ngobrol kaya gini, Ayah masih di luar kota". Jawab Bunda kemudian.


"Hem, iyah kapan-kapan kita cerita kaya gini lagi saat ada Ayah". Ucapku, Aku sempat bertemu dengan Ayah saat di pesta ulang tahun Junot, meskipun pada saat itu aku tidak sempat berbincang. Pasalnya aku sudah akan pulang.


Apa mungkin, ini memang sudah di gariskan menjadi takdir ku? sebab aku mulai merasa nyaman.


***


"Sudah dulu yah bincang-bincang nya! kita biarkan Nana dan Junot makan malam dulu?!" Ucap Ka Juwita kemudian


"Cuma tinggal kita berdua?" Tanya Junot.


"Iyah, kita semua sudah makan, tinggal kalian berdua" jawab Bunda.


"Ayo sana?! udah Kakak siapin di ruangan sebelah". Ka Juwita memberi isyarat kepada Junot untuk segera mengajak aku pergi.


Aku dan Junot pun tidak membantah, kalau aku sih memang sudah mulai merasa lapar, sebab siang tadi tidak makan apapun hanya air putih saja, tidak tahu kalau Junot, mungkin karena tidak ingin merusak suasana.


Kita bangkit dari duduk kita masing-masing, mata kita saling bertemu, kemudian Junot membukakan pintu dan menyuruh ku masuk lebih dulu.

__ADS_1


Di sana, di meja yang cukup besar di bandingkan dengan meja ku yang ada di rumah, sudah tersedia berbagai macam hidangan lezat yang menggiurkan, aku tidak ingin basa-basi, aku segera duduk dan menaruh nasi dengan ukuran yang cukup banyak di piring, dengan beberapa tambahan lauk pauk yang sering aku lihat di televisi atau di riview oleh blogger makanan. Haha... tidak juga aku bercanda, aku cukup sering kok memakan makanan seafood seperi ini.


Ada lobster dengan bumbu asam, manis, pedas lengkap dengan sayuran-sayuran sebagai pelengkap nya, ada jagung manis, ada juga udang dan masih banyak menu lainnya yang terlihat pedas. Sementara itu aku melihat Junot tidak melakukan apa yang saat ini sedang aku lakukan.


Dia menatap ku dengan tatapan yang... terlihat jijik, yah kalau makan kaya gini enak nya memang pakai tangan.


Sudah di pastikan kini dia ingin segera bangkit dari tempat duduk nya dan meninggalkan aku sendiri. Tapi... tidak dia lakukan, mungkin karena takut mendapatkan teguran dari Ka Juwita terutama dari Bunda.


"Tidak lapar?" Tanya ku memberanikan diri.


"Tentu saja aku lapar". Jawab nya dengan lemas.


"Terus? kenapa gak makan?"


"Aku gak bisa makan pedas". Jadi sedari tadi dia melihat ku merasa jijik atau sebenar nya dia sedang menahan lapar?


"Haha...". Dia mengernyitkan wajah nya tanda tidak suka.


"Kenapa ketawa? ada yang lucu hah?" Nada bicara nya ketus, tapi semakin dia galak entah kenapa aku malah semakin ingin tertawa sepuas nya.


"Hm, iyah maaf... ini gak terlalu pedas kok, mau coba?". Dia tidak menjawab malah memalingkan wajah nya dari ku.


"Enggak, makasih". Jawab nya dengan nada dingin dan akhirnya dia bangkit dari duduk nya, meninggalkan aku sendiri. Entah mau pergi kemana, aku tidak terlalu peduli, justru merasa senang aku bisa nambah tanpa ragu dan rasa malu, hehe...


Tapi sebelum pergi dia bertanya akan waktu luangku kapan? kata nya dia ingin berbicara, entah mengenai apa. Lagi-lagi aku tidak begitu memperdulikan nya karena makanan ini sudah mengalihkan fokus ku.


***


10 menit kemudian Junot kembali datang, dan aku masih asik dengan makanan ku.


"Masih belum juga selesai? kamu lapar atau kesurupan?"


"Hehe, ke dua nya". Jawabku sembari memperlihatkan gigi-gigi ku, yang mungkin saat ini tengah kotor. sementara itu dia terlihat menggeleng-gelengkan kepala tanda heran.


"Aku kan masih dalam masa pertumbuhan". Jujur saja aku sendiri bingung kenapa berkata demikian, yang kemudian mendapatkan tatapan tajam dari Junot.


"Heh, masa pertumbuhan? kamu sudah lebih dari masa itu, lihat tubuh mu?!". Aku cemberut mendengar apa yang baru saja Junot katakan.


"Maksud kamu apa? kamu mau bilang aku gendut hah? tahu gak itu body shaming?!". Aku marah bukan lagi kesal.

__ADS_1


"Siapa yang ngomong? aku gak ngomong gitu yah". Jawab nya berdalih.


"Udah deh gak usah bela diri, jelas-jelas kamu salah, udah ah aku jadi gak nafsu makan". Aku segera berdiri, tapi bukan nya menerima kata maaf, Junot malah kembali mencibir.


"Gak nafsu? sudah habis dua piring juga, masih mau nambah lagi?". mata kita kembali beradu tatapan berkilat penuh emosi.


***


Seperti nya ada sesuatu yang ingin Junot sampaikan tapi ia urungkan karna kini aku masih marah akan perkataan nya, meskipun dia sudah meminta maaf.


Aku dan Junot kembali ke ruangan Bunda, yang langsung di sambut oleh beberapa pertanyaan dari Ka Juwita.


"Udah makan nya?"


"Udah Ka" Jawabku sembari tersenyum.


"Enak?"


"Enak parah Ka". Jawabku lagi, sementara itu Junot masih terlihat kesal, Ka Juwita yang menyadari akan hal itu pun bertanya hal yang sama dengan sorotan mata yang tajam.


"Hm, aku udah kenyang juga ngeliat Nana makan Ka". Jawab nya dengan nada pelan tapi terkesan sindiran. Beruntung nya Ka Juwita ada di pihak ku, Junot kembali mendapatkan tatapan tajam dari Ka Juwita ataupun Bunda.


"Kakak kan tahu aku gak bisa makan pedas?!". Ka Juwita menganga tanda kaget.


"Ya ampun sayang, maafin Kakak. Kakak benar-benar lupa". Ka Juwita segera menghampiri Junot dan memeluk nya.


"Hm... iya gak apa-apa, Nanti sehabis dari sini aku bisa makan beli sendiri". Ya walaupun mulut nya berkata tidak apa, tapi dia tidak bisa menyembunyikan rasa kesal nya.


"Ehm, yasudah kalau gitu aku pulang dulu yah Bun, Ka, Mas :)". Semua nya beralih menatap ku.


"Pulang kemana?" Tanya Bunda.


"Ke kosan dong Bun, kemana lagi :) lagi pula Ibu dan Bapak pasti lelah iyakan?". Semua nya menatap ku bergantian.


"Mm, gini Na, sebenar nya Bapak sama Ibu mau nginep di rumah Junot, barang-barang nya juga sudah di sana". Perkataan Ibu berhasil membuat aku sedih seketika. Hmm... mungkin karena tempat kosan ku yang sempit, aku mengerti jika alasan nya itu.


"Oh gitu yah, yaudah kalau gitu Nana pulang ke kosan sendiri :) Ibu sama Bapak pulang bareng Junot kan?". Aku berjalan menghampiri Bunda hendak ingin bersalaman.


Hm, sebenar nya aku ingin sekali berduaan dengan keluarga ku terutama dengan Bapak. Karena banyak hal yang ingin aku ceritakan, terutama mengenai perjodohan ini.

__ADS_1


Next ?


__ADS_2