Aksa

Aksa
part 44


__ADS_3

Selama aku tinggal di rumah bunda, Junot tidak pernah menolak apa pun yang aku berikan, dan tidak pernah pula menunjukkan ke tidak cinta an nya padaku. Pemandangan yang sangat indah, andai saja itu semua bukanlah tindakan pura-pura, aku pasti akan menjadi wanita yang paling bahagia.


Dan waktu sarapan adalah waktu yang paling aku tunggu-tunggu, dimana aku merasa sangat bahagia, karena saat itu aku, Junot, ayah serta bunda berada dalam satu meja yang sama, dengan canda dan tawa, hanya pada saat itulah aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini, di nikahi oleh pria yang nyaris sempurna.


"Pagi Bunda, Ayah". Ucapku dengan ceria, sembari sibuk menyiapkan sarapan.


"Pagi". Jawab ayah, sembari memapah bunda menuruni anak tangga dengan hati-hati.


"Pagi sayang, semalam tidurnya nyenyak?". Tanya bunda.


"Heh? nyenyak... sangat nyenyak". Ucapku tanpa berpikir yang tidak-tidak.


"Junot mana?" Tanya ayah kemudian.


"Heh? mungkin masih di kamar, sebentar biar Nana panggil Yah". Ucapku dengan santai.


"Gak usah, biar Bunda aja".


"Heh? ya... yasudah". Jawabku dengan ragu.


"Mbok tolong papah saya mau ke kamar Junot". Pinta bunda kepada IRT.


"Oh, baik Nyonya". Jawab Mbok Ijah.


"Hati-hati Mbok". Pinta Ayah.


"Baik, Tuan".


Aduh gimana nih, kok aku jadi resah yah? semoga saja Junot gak ngomong yang enggak-enggak. Batinku.


"Mbok tunggu di sini! saya ke dalam dulu".


"Baik, Nyonya hati-hati".


~Ceklek


"Na, kamu udan siapin baju kantor aku belum?".


"Udah bikin sarapan belum? aku mau roti tawar pakai selai coklat yah!".


"Na, Nareta?". Kenapa gak jawab yah?


Karena Junot penasaran akhirnya ia keluar dari toilet hanya dengan memakai handuk setengah badan.


"Kamu ke... Bunda? Bunda ngapain di kamar aku?". Seketika wajah Junot berubah menjadi pucat pasi.


Karena benda terdekat nya adalah selimut, maka tanpa pikir panjang Junot mengambil selimut itu untuk menutupi tubuh bagian atasnya.


"Hem, kamu kenapa? malu sama Bunda sendiri? kalau ke Nareta enggak?". Goda bunda dengan sangat puas.


"Bunda ngapain sih di kamar aku? tanpa izin lagi?".


"Siapa bilang? Bunda udah izin kok, sama Nareta".


"Apa? yah....terus? Bunda mau ngapain?".


"Hem, cuma mau bilang di tunggu Ayah untuk sarapan".


"Ya ampun, Iya". Jawab Junot sembari menahan kesal bercampur malu.


"Ada titip pesan? oh yah roti tawar pakai selai coklat, oke nanti Bunda sampaikan ke Nana". Sindir bunda dengan girang.


"Bunda? sejak kapan sih Bunda ada di sini?". Aish... beruntunglah tadi gua gak ngomong yang aneh-aneh, kaya nya sih? gak ada.


Junot pun segera menyelesaikan mandi nya dan segera ke bawah untuk sarapan.

__ADS_1


"Pagi?".


"Pagi sayang". Jawab bunda sembari senyum-senyum sendiri.


"Bunda kenapa?". Tanya Nareta.


"Hem, gak apa-apa"


"Bunda kayanya lagi seneng banget?". Tanya Nareta kembali.


"Iyah jelas dong Bunda seneng banget, setiap hari ketemu menantu kesayangan Bunda, belum lagi di buatin sarapan, dan yang paling membahagiakan, kayanya sebentar lagi kita akan di kasih cucu deh Yah". mendengar ucapan terakhir bunda berhasil membuat aku dan Nareta tersedak seketika.


"Apa? serius Bun, loh kalian kenapa? kompak banget".Celoteh ayah.


"Aduh, pelan-pelan dong sayang makan nya". Ucap bunda sembari memberikan minum untuk Nareta.


"Aku gak di kasih minum?". Protes ku.


"Heh? kamu kan bisa ambil sendiri, lagian itu samping kamu juga ada".


Pagi itu pun berlalu dengan sangat cepat, andai saja Bunda tahu kalau aku belum pernah di sentuh oleh Junot sedikitpun, heh? bagaimana perasaannya? akan kah bunda bisa sebahagia saat ini?


Aku dan Junot akhirnya berangkat kerja bersama, meskipun memang beda arah, tapi rasanya itu sudah menjadi suatu keharusan, ia itu pun kalau Junot tidak buru-buru.


Seperti biasa kita sama-sama saling diam, padahal saat bersama bapak atau pun Nadim, Junot adalah pria periang, banyak bicara dan menyenangkan.


Aku pernah memberanikan diri, memulai percakapan tapi hasilnya nihil, Junot hanya menjawab dengan gerakan badan, seperti mengangguk untuk iya, dan menggeleng untuk tidak. Heh, kalau sudah begitu aku merasa bicara dengan patung batu, yang tampan.


***


16:30


"Jadikan kita ke rumah Nyokap Junot?".Tanya Zain.


"Iya, lagian gua gak bisa hubungin dia".


"Heh, sibuk banget kayanya jadi CEO".


"Kalau Akram gimana?" Tanya Zain pada Bagaskara.


"Iyah sama aja, dia bilang gak bisa alasan klise sibuk".


"Ya udah sih, kita kan bisa cuma berdua aja". Jawab Zain menenangkan.


"Hem, ya juga sih".


Akhirnya Zain dan Bagaskara pun pergi berkunjung ke rumah Ibu dari Junot.


***


Akhirnya waktu pulang pun tiba, aku segera menaiki lift tak sengaja bertemu dengan Lisda dan...


"Bu Nareta?". Teriak Lisda


"Hey, ada apa?". Tanyaku


"Sibuk tidak?".


"Heh? enggak, kenapa?".


"Hem... itu...".


"Itu apa? ngomong yang bener, gak usah sungkan?!"


"Aku mau cerita, itu pun kalau Bu Nareta mau denger 🙁 sih".

__ADS_1


"Hah? oh... yah boleh dong".


"Seriusan?".


"Iya, tapi sebentar aku hubungi su..."


"Aku juga kebelet pengen pengen pipis". Ucapnya sembari berlari.


"Su...ami, heh... anak itu". Ucapku sembari geleng-geleng kepala.


to : Suami


Aku minta izin, kaya nya aku bakalan pulang telat.


sent


10 menit berlalu pesanku masih belum centang biru, padahal dia sedang online. Aish... positif thinking mungkin di sedang sibuk Nana. Batinku.


"Sorry ya nunggu lama? ngantri soalnya".


"Hem udah? it's okay".


Aku dan Lisda pun memutuskan untuk berbincang-bincang santai di sebuah cafe coffee yang tak jauh dari kantor, tempatnya menyenangkan banyak spot untuk berfoto, meskipun untuk ukuran cafe ini bisa di bilang tidak terlalu besar, mungkin lebih cocok di sebut coffee shop tidak hanya itu untuk penampilan dan rasa dari kopi nya sendiri rasanya itu berbeda punya ciri khas tersendiri, belum lagi ada live musik dan untuk harganya itu sangat terjangkau di kantong kok, akan tetapi hal yang paling penting dari itu semua adalah pelayanannya yang amat sangat ramah, gak heran kalau semakin malam tempat ini semakin ramai di kunjungi orang-orang, aku rasa tempat ini cocok untukku.


"Jadi lu mau cerita apa?". Tanyaku memulai percakapan.


"Jadi gini loh Bu".


"Tunggu jangan panggil gua Ibu! ini kan di luar kantor, panggil gua Nareta atau Nana aja".


"Hah? oke, jadi gini gua suka sama..."


Aku dan Lisda pun terhanyut dengan suasana yang ada, kita bercerita ke sana - ke mari, meskipun aku lebih banyak mendengarkan ceritanya di banding ikut bercerita.



Aku benar-benar sangat sibuk, jangankan untuk memegang handphone hanya sekedar pergi ke toilet saja aku urungkan, dan betapa terkejutnya aku saat mendapati pesan dari Zain yang katanya akan berkunjung ke rumah Nyokap, iyah karena di sana mungkin sudah ada Nareta, dengan cepat aku segera menghubunginya.


"Halo?".


"Assalamualaikum?". Katanya, karena terburu-buru gua sampai lupa mengucapkan salam.


"Hem, Waalaikum'salam, kamu ada di mana?".


"Heh? aku kan udah izin pulang telat".


"Iyah, aku cuma nanya kamu lagi dimana kan?". Aish... sial gua gak buka chat dari nya lagi, tahu gitu gua gak perlu khawatir yang gak penting.


"Aku di coffee shop dekat kantor, bentar lagi aku pulang kok".


"Tunggu? jangan dulu pulang! biar aku jemput". Heh, gua harus pastiin dulu Zain udah balik dari rumah nyokap.


"Oh gitu, yasudah".


"Assalamualaikum".


"Waalaikum'salam".


"Siapa?". Tanya Lisda


"Suami gua".


"WHAT?"


Next?

__ADS_1


__ADS_2