
Di usia yang masih dua puluh itu memang usia yang bisa dikatakan belum dewasa dia masih mencari jati diri, maka tak heran Junot maupun Nareta masih sama-sama egois.
Lalu ketidak percayaan satu sama lain juga menjadi hal penting dalam sebuah pernikahan, dan yang terpenting di atas segalanya adalah komunikasi.
Seperti yang telah kalian baca, Nareta dan Junot amat sangat kaku dalam hal komunikasi, keduanya memiliki pandangan sendiri-sendiri yang tidak di ungkapkan, maka hasil dari pemikiran itu menghasilkan keputusan yang salah.
***
Hari berganti hari tibalah di akhir pekan, Nareta sudah tak sanggup menahan kerinduannya terhadap Aksa.
Meskipun dalam hatinya mungkin ia akan canggung, tetapi... pikirnya akan lebih sulit lagi jika ia terus-menerus menahan diri untuk bersikap baik-baik saja.
Akhirnya kali ini Nareta bersikap nekat, ia tak peduli lagi dengan gengsi atau malu, ia pikir rasa rindunya kepada Aksa sudah tidak dapat di bendung lagi.
Nareta pun mengambil handphonenya lalu mencoba mengetikan beberapa kalimat kepada Junot.
"Assalamualaikum, maaf mengganggu waktunya, Minggu ini Aku boleh ketemu dengan Aksa?". Ini bukan kalimat pertama yang Nareta ketikkan, namun beberapa kali ia hapus kemudian ia mengetik lagi terus begitu sampai ia merasa kalimat itu pas kemudian ia segera menekan tombol send.
Cukup lama Nareta menunggu, dan dalam penantiannya menerima balasan pesan itu, muncul pikiran-pikiran Negatif dari kepalanya.
"Hm, mungkin Junot sedang sibuk? lama banget balesnya". gerutu Nareta dalam hati.
"Atau... dia tidak berniat membalas pesanku?". Tanyanya lagi kepada dirinya sendiri.
"Hahh... apa yang harus aku lakukan jika Junot melarang aku untuk bertemu Aksa?".
"Haruskah aku memberontak, lalu melaporkannya?". Nareta menunggu dengan risau dan terus berpikir negatif.
10 menit berlalu, Nareta putus asa menunggu, akhirnya ia menyimpan handphone yang sebelumnya ada di genggamannya.
Tak lama dari saat Nareta menyimpan muncullah notifikasi, Nareta segera mengambil handphone itu dan melihat siapa gerangan yang mengirimi ia pesan.
Dan benar saja, orang yang di tunggu-tunggu akhirnya membalas pesannya. Seketika senyuman terpancar dari bibirnya. Nareta pun segera membuka pesan itu.
-~-
Sabtu ini adalah akhir pekan kedua setelah Junot resmi bercerai dari Nareta, Jujur saja ada rasa penasaran akan keadaan Nareta pasca bercerai dengannya bagaimana? tapi... tidak ada alasan untuk nya menghubungi Nareta terlebih dahulu.
Maka, ia urungkan lagi untuk menanyakan perihal kabar Nareta.
Tak di sangka-sangka pesan singkat dari orang yang sedang ia pikirkan muncul. Meskipun pesan itu terlihat kaku, tak apa... setidaknya Minggu ini ia bisa bertemu dengan Nareta. pikirnya... Junot pun segera membalas pesan itu dengan hati-hati supaya tidak menimbulkan kecurigaan bahwa Junot ingin bertemu.
Junot : "Tentu saja, kamu Ibunya".
Seketika setelah membaca pesan singkat itu, rasa sesal menggeluti hati Nareta, ia menyesal karena telah berpikiran negatif terhadap Junot.
__ADS_1
lalu rasa syukur setelahnya, karena Junot tidak seperti mantan suami kebanyakan, yang ia lihat di televisi.
Tanpa berpikir panjang, Nareta pun segera kembali membalas pesan itu.
"Terima kasih sebelumnya, Aku bisa menemui Aksa dimana?". Tanyanya Nareta, kemudian menyimpan lagi handphonenya di atas meja.
Kali ini tidak berapa lama pesannya segera mendapat balasan.
"Dimana yang kamu mau, kamu bisa datang ke rumah atau... aku yang menemuimu?". Saat mendengar nada notifikasi Nareta kembali mengambil handphonenya dengan kegirangan.
Lalu seketika ia berpikir, jika bertemu di rumah, sudah pasti ia akan bertemu dengan Ayah dan Bunda, Ahh... rasanya pasti akan canggung, tapi... jika Junot dan Aksa yang datang kesini... seketika ia melihat-lihat sekitar ruangan kosannya, rasanya tidak layak.
Akhirnya Nareta segera membuat kesimpulan, Nareta : "Jika bertemu di luar, seperti di cafe tidak apa?".
"Tentu saja, tapi... biar aku yang menentukan, nanti aku kirim alamat cafe nya".
"Oke". Balas Nareta mengakhiri perbincangan.
Hah, Nareta benar-benar bahagia, tak lama lagi ia bisa melepas kerinduannya terhadap Aksa.
Tapi semakin ia pikirkan rindunya terhadap Aksa semakin menjadi-jadi, dan hari ini waktu berjalan seakan melambat.
***
"Apa mungkin Junot lupa yah?". Pikirnya.
Hah... Nareta menarik nafas dalam-dalam dan mencoba menenangkan hati juga pikirannya.
"Tenang Nareta, jangan dulu berpikir yang tidak-tidak".
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07:30 WIB, di saat Nareta benar-benar sudah kesal barulah orang yang di tunggu-tunggu, mengiriminya alamat.
Tanpa pikir panjang, Nareta segera berangkat, ia amat tidak sabar lagi untuk menunggu, Nareta pergi bersama ojol.
Dan benar saja sesampainya di cafe, suasananya terlihat masih hening, ia Nareta adalah orang pertama yang berkunjung di sebuah cafe sepagi ini.
Karena jarak dari kosan dengan cafe ini tidak terlalu lama, di tambah jalanan yang tidak macet sama sekali, membuat ia lebar cepat sampai kurang dari 30 menit, alhasil Nareta harus kembali menunggu.
satu jam berlalu, jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan tepat, "Hah... harus berapa lama lagi aku menunggu?". Keluhku dalam hati.
Untuk sedikit mengurangi kejenuhan dan kebosanan, aku putuskan untuk melihat Aksa di handphoneku.
Saat aku tengah asyik melihat-lihat foto, tanpa kusadari seseorang datang dengan grasak-grusuk dari arah belakangku.
"Ehem, maaf menunggu lama". Ucapnya dengan nafas yang kurang beraturan.
__ADS_1
Aku segera berbalik badan dengan senyuman lebar, dan berharap itu Junot dengan Aksa.
Benar itu Junot, tapi tanpa Aksa, seketika senyumanku memudar.
"Mas kamu datang sendiri?". Tanyaku dengan kecewa.
"Hah? tentu saja tidak, Ah.. Aksa sedang ke toilet bersama Akbar". Ucap Junot dengan wajah datar khasnya.
"Ohh, Iyah". Seketika aku kembali tersenyum memikirkannya saja sudah berhasil membuat aku bahagia.
"Heh, sudah berapa lama kamu menunggu?". Tanya Junot sembari melihat gelas kosong. yang ada di atas meja.
"Hah? Ahh.. itu... tidak penting berapa lama aku menunggu, jika Aksa benar-benar akan datang berapa lama pun aku pasti akan menunggu". Jawab Nareta tegas.
"Heh... itu Aksa". Ucap Junot sembari melihat kedatangan Aksa dengan Akbar.
"Aksa?".
"Mamah". Ucap Aksa tak kalah berteriak sembari berlari.
"Jangan berlari sayang, nanti jatuh". Ucap Nareta panik.
Dan tibalah Nareta dengan Aksa bertemu sembari berpelukan. Kemudian Akbar datang dan menyalami tangan Nareta.
"Apa kabar sayang?". Ucap Nareta kepada Aksa, serta kecupan bertubi-tubi mendarat di pipi Aksa.
"Akbar?". Panggil Junot sembari melambaikan tangan isyarat untuk mendekat.
"Iyah, Om?".
"Sini duduk, mau pesan apa?".
"Heh, apa aja deh om". Ucap Akbar.
"Mau sandwich atau nasi goreng?". Tanya Junot lagi.
"Hem, sandwich aja deh".
Junot pun segera meminta pelayanan untuk menghidangkan beberapa sandwich.
dan sandwich keju telur, Junot pesankan untuk Aksa.
bersambung...
__ADS_1