
Hari berganti hari, kini kehamilanku menginjak usia 7 bulan dan semenjak kejadian waktu itu aku tidak pernah lagi melihat suamiku marah-marah, setiap harinya ada saja tingkah lakunya yang berhasil membuat aku tertawa.
"Suami? kamu kenapa?". Tanyaku khawatir.
"Iyah?!". Ucap Junot masih dengan nafas yang tersengal-sengal
"Habis dari mana? kok lari-lari gitu?". Tanyaku dengan raut wajah heran.
"Dari kantor, sekarang jadwal kamu check-up kehamilan bukan? aku ikut yah?!". Ucapnya dengan sumringah dan amat sangat bersemangat.
"Heh? kamu serius? bukannya lagi ada acara di kantor?".
"Iyah, gak apa-apakan kalau aku lebih memilih nemenin kamu periksa kehamilan di banding menghadiri acara kantor yang tiap tahun selalu ada".
"Hah? yah boleh dong". Ucapku dengan sumringah.
"Ya udah tunggu apa lagi?".
"Heh? tadinya aku mau pergi sama Bunda dan Kak Juwi".
"Lalu?".
"Iyah, aku nunggu di jemput katanya aku gak boleh pergi sendiri".
"HM, yasudah kalau gitu biar aku telpon". Belum sempat Junot menghubungi bunda atau Juwi, sebuah klakson mobil berbunyi.
"Kayanya itu deh".
"Heh? ya udah yuk kita keluar".
Semenjak aku dinyatakan tengah berbadan dua setiap pergantian bulan aku selalu check-up perkembangan kehamilan di antar oleh bunda dan kak Juwi, pernah sekali aku meminta Junot meluangkan waktunya sehari saja untuk mengantarku, tapi kala itu Junot malah harus pergi ke luar kota, dan semenjak itu aku tidak pernah meminta apa-apa lagi.
Meskipun sebenarnya aku sangat menginginkan hal itu, pergi ke rumah sakit memeriksakan kondisi kandunganku, seperti di sebuah film-film dan di dunia nyata, apalagi ini kali pertama untuk kita berdua, semestinya Junot lebih worried sama seperti apa yang tengah aku rasakan bukan.
Beruntungnya aku selalu ingat pesan bapak, kata bapak "mintalah kepada penciptanya ketimbang meminta kepada hambanya (manusia)". Dan benar saja hari ini apa yang bapa katakan lagi-lagi selalu benar.
Tidak hanya aku yang merasa tak percaya akan keberadaan Junot di tengah-tengah kami, bunda dan kak Juwi juga merasakan hal yang sama, ini semua terasa mimpi atau halusinasi. Haha...
Di saat ke hamilan ku menginjak empat bulan sebenarnya kak Juwita sudah menyarankan ku untuk melakukan USG 3D hanya saja aku menolaknya dengan alasan aku ingin itu semua menjadi rahasia dan surprise saat mengetahuinya nanti, tapi kali ini suamiku, calon ayah dari anak yang tengah aku kandung yang meminta, ternyata dia sangat khawatir akan kondisi sekaligus penasaran akan jenis kelamin si jabang bayi kita, laki-laki atau perempuan.
Alhasil kita akhirnya melakukan USG 3D itu, dan inilah hasilnya, sangat menggemaskan bukan? haha... apalagi yang ketiga kenapa bayinya bisa menjulurkan lidah seperti itu, haha...
Air mata tak dapat terelakkan lagi dari kita semua para perempuan, rasa bahagia juga haru menjadi satu, rasa yang tak dapat tercurahkan oleh kata-kata, rasa syukur kepada sang pencipta tak henti-hentinya kita panjatkan, sebab sebentar lagi di tengah-tengah kita akan ada sebuah bayi yang sangat di nanti-nantikan.
__ADS_1
"Wah, selamat Baby Boy!". Ucap sang Dokter dengan senyuman yang mengembang di kedua pipinya.
"Makasih Dok". Ucapku
Selesai dari rumah sakit kita semua pergi ke tempat perbelanjaan untuk membeli barang-barang perlengkapan bayi dan ibu melahirkan juga menyusui.
Terutama setelah kita tahu jenis kelamin si jabang bayi adalah laki-laki, kita langsung membeli warna yang identik untuk anak laki-laki, seperti warna biru,
Iyah, aku, kak Juwita dan bunda benar-benar excited akan berbelanja keperluan bayi terutama kak Juwi seperti yang sudah kita ketahui bahwa kak Juwi tidak dapat memiliki keturunan hal yang sangat memilukan, tapi dengan adanya kejadian itu terbukti dan aku akui kak Juwi dan Mas Marsel merupakan pasangan suami-istri yang mencintai dengan tulus tanpa ada syarat apapun.
Sesekali kadang aku merasa iri terhadap kak Juwi yang mendapatkan suami setia seperti mas Marsel, tapi aku sangat yakin jauh di lubuk hatinya yang paling dalam mereka berdua jauh lebih iri terhadapku saat ini, yang tak berapa lama telah di karunia keturunan.
"Sesekali bolehlah kita merasa iri, tapi ingat jangan jadi manusia kufur yah! :)".
"Kamu kenapa? capek yah? udah Kakak bilang kamu duduk aja! biar kakak yang belanja yah?!". Ucap kak Juwi.
"Iyah, ide bagus". Ucap Junot di sambut dengan gembira, sebab sedari tadi Junot pasti lelah membawa beberapa belanjaan yang sudah ada di tangannya yang terus mengekor ke sana-sini.
"Ya udah kamu bawa istri kamu makan atau ke salon atau kemana kek, urusan belanja keperluan bayi, keperluan melahirkan dan menyusui biar Bunda dan Juwi yang urus, kalian terima beres aja yah". Ucap Bunda dengan semangat.
"Heh? gak apa-apa nih? gak ngerepotin?". Ucapku sungkan.
"Aish... ngerepotin? yah enggaklah justru kami seneng banget ya kan Bun?".
"Makasih yah Bun, Kak". Ucapku dengan tulus.
"Iyah, udah sanah pergi jalan-jalan". Ucap bunda.
Ya Allah terimakasih engkau telah memberikan keluarga dari pihak suamiku yang amat sangat baik. Mulai dari acara resepsi pernikahan, empat bulanan dan sekarang, bunda dan kak Juwita lah yang melakukan itu semua.
"Hey, kamu ngapain sih? malah ngelamun". Ucap Junot.
"Heh, enggak apa-apa kok".
"Jadi sekarang kita mau kemana?".
"Kemana aja asalkan sama kamu!".
"Hah?".
"Em? aku lapar, makan aja yuk?!". Ucapku dengan cepat.
"Oh Okay". Perasaan tadi gak bilang gitu?
Aduh bodoh banget sih, Junot denger gak yah? semoga enggak. Batinku.
__ADS_1
"Mbak?!". Ucap Junot pada seorang pelayan.
"Iyah Mas, mau pesan apa?". Ucap pelayan itu terkesan caper.
"Saya mau seafood asam manis, ikan bakar tambahkan sambal kecap, dan teh manis dingin". Ucap Junot pada pelayan itu.
"Hah?". Sejak kapan Junot tahu banyak tentang seleraku?
"Jangan ge'er, itu untukku".
"Heh? Iyah, saya pesan seafood..." Dih malu banget, beruntung aku gak ngomong apa-apa.
"aku bercanda, itu untuk kamu kok Istriku, haha...". Ucap Junot sembari tertawa kegirangan.
"Hem... Junot!". Ucapku kesal.
"Ahehe... Canda sayang".
"Hah?". Aku terdiam terpaku, Sayang ? apa baru saja Junot panggil aku sayang? apa aku gak salah dengar?
"Aku pesan Pasta sama Jus Melon yah!".
"Hem, baik ada lagi Mas, Mbak?". Ucap pelayan itu dengan wajah biasa saja dan nada bicara yang terkesan dingin.
"Udah dulu aja". Ucap Junot.
"Baik, di tunggu sebentar yah, permisi".
"Iyah, Makasih'. Ucapku.
Semenjak pelayan itu pergi tatapan Junot tidak pernah beralih sedikitpun menatapku.
"Kamu kenapa? Ada yang aneh di wajahku?"
"Iyah ada, masa iyah gak ada".
"Hah? apa? kenapa kamu gak bilang dari tadi?". Ucapku sembari segera meraih tas berusaha mencari cermin, tapi tanganku malah di pegang oleh Junot.
"Kamu diem deh! lihat aku?!". Ucap Junot.
"Ada apa sih?". Tanyaku agak sedikit kesal.
"Aku sedang melihat masa depan". Ucapnya sembari melihat mataku dengan lekat.
Next?
__ADS_1