Aksa

Aksa
part 14


__ADS_3

"Biar Kakak yang beresin, kamu bisa jagain Bunda untuk Kakak ?! dan tolong suruh Junot makan malam dulu?!"


"Ahh, Iyah boleh Ka". Aku segera masuk ke ruangan dan ku dapati Junot tengah memegangi punggung tangan Bunda dengan ekspresi penuh rasa bersalah.


"Ehm, maaf aku mengganggu, tapi... Ka Juwita meminta kamu untuk makan malam, sementara itu Bunda biar aku yang jaga"


"Gak usah, aku gak lapar"


"Hm, Ka Juwita juga bilang kalau kamu jawab gak lapar, tapi kamu harus tetap makan"


"Heh?". Dia mengernyitkan dahi nya terlihat dia begitu kesal, namun detik berikut nya dia menyuruh ku untuk duduk di tempat yang sebelum nya ia tempati.


"Kemari, Duduk !". Ku pikir di akan makan malam, ternyata dia berdiri tepat di sebelah ku.


"Bagaimana aku bisa makan di tengah kondisi Bunda yang seperti ini?". Ucap nya lirih.


"Tapi...". Lagi-lagi dia menyalip perkataan yang belum sempat ku ucapkan


"Aku akan makan jika memang perut ku lapar"


"Terserah kamu, aku tidak peduli". Jawabku ketus.


"Nana". Satu kalimat lirih itu berhasil mengalihkan pandangan aku dan Junot yang penuh dengan emosi.


"Bunda". Ucapku dan Junot bersamaan, terlihat tatapan Junot berkaca-kaca.


"Hm, makasih yah udah datang". Ucap Bunda sembari memegangi tangan ku, yang ku jawab dengan anggukan.


"Bun, anak Bunda itu aku!". Ucap Junot Ketus.


"Bunda tahu, Bunda gak lupa, Kakak kamu mana ?"


"Ada di ruang tunggu, tapi...". Kali ini ucapan nya di potong oleh Bunda.


"Suruh dia kesini!"


"Hm? Bunda yakin ?"


"Kenapa gak yakin? Juwita juga kan anak Bunda, sama seperti kamu Jun, dan kalau gak ada pasti Bunda tanyain"


"Iyah, tapi..."


"Panggil!". Ucap Bunda tidak mau di bantah.


"Hm, yaudah... tolong jagain Bunda ?!". Dia menatap ku sekilas

__ADS_1


"Hah? Iyah" Jawabku sedikit terkejut, tak di sangka bahwa dia akan menitipkan Bunda pada ku.


***


"Nana, Bunda mau bicara sesuatu sama kamu, Boleh?". Jujur saja aku sedikit bingung, apa yang mau di bicarakan? dari nada bicara nya seperti sesuatu yang serius.


"Boleh, tentang apa Bunda?". Ucapku penasaran.


"Tentang perjodohan kamu dengan Junot". Deg... aku lupa akan rencana dari kedua orang tua kita, dan kalau boleh jujur hingga detik ini hati ku masih menjadi milik Mas Ayden.


"Iyah, kenapa Bun?"


"Bunda mau pernikahan kamu di segerakan". Aku terdiam membisu atas apa yang baru saja Bunda tuturkan. Beruntung nya Ka Juwita dan Suami nya datang, sehingga aku tidak perlu menjawab apapun.


***


"Bunda, Maaf... Maaf". Suar Ka Juwita bergetar menahan tangis yang sudah menggenang di pelupuk mata.


"Bunda juga minta maaf". Dan kemudian keduanya saling berpelukan yang di susul oleh tangisan.


Hah, kalau melihat hal-hal begini aku jadi teringat akan Ibu dan Bapak, aku bukan anak yang sesempurna itu untuk tidak melukai hati mereka. Dulu saat aku mengenyam pendidikan sekolah menengah atas "SMA" aku sering kali berdebat dengan Ibu yang berujung tangis.


Dan kini tanpa ku sadari aku telah ikut menangis, aku segera berlari keluar ruangan yang ternyata di susul oleh Junot.


"Ehm, kenapa ?". Dia menatap ku dengan iba.


"Are you sure?". Aku tak mampu lagi berkata, hanya dapat mengangguk sebagai jawaban.


"Hah... Ikuti aku!". Dia menghela nafas panjang, sementara aku segera mengikuti nya dari belakang dan berusaha mengimbangi langkah kaki nya.


"Disini! Kamu bisa menangis sepuas nya yang kamu suka, bila perlu berteriak sekeras-keras nya". Aku melihat sekeliling, melihat langit yang sudah berubah warna menjadi gelap dan di penuhi oleh bintang-bintang.


"Aku gak bisa"


"kenapa? aku jamin gak akan ada orang yang melihat". Aku hampir saja melakukan apa yang ia tawarkan untuk menangis sejadi-jadi nya atau berteriak sekeras-keras nya.


"yah karna masih ada kamu disini"


"Ah, aku akan berpura-pura tidak melihat dan mendengar". Ucap nya kemudian


"Tetap saja, pada akhirnya kamu akan melihat dan mendengar"


"Jadi kamu mau aku pergi?". Aku hanya menjawab dengan anggukan.


"kamu yakin tidak akan terjadi hal di luar yang aku sarankan?"

__ADS_1


"Maksudmu? aku akan terjun bebas dari lantai sepuluh ini? Heh, tenang saja aku masih punya iman kok"


"Iyah, siapa tahu". Akhirnya dia pergi meninggalkan ku sendiri.


Hal-hal yang membuat aku merasa sangat bersalah kepada Ibu dan Bapak kembali bermunculan dan tangis yang sebelum nya aku tahan kini sudah keluar dengan bebas dan begitu deras tak terbendung lagi.


Apa aku turuti saja, apa yang menjadi ke inginan Ibu dan Bapak untuk menikah dengan Junot, laki-laki yang sama sekali tidak ku cinta, lagi pula sejauh ini dia memang baik. Apa mungkin ini yang terbaik untuk ku, dan bukankah pilihan orang tua tidak akan pernah salah?


Dalam tangis yang menjadi-jadi aku berdoa semoga pilihan ku kali ini tepat, aku segera menghapus air mata, ku tarik nafas dalam-dalam dan ku hembuskan perlahan "Nareta, kamu pasti bisa melakukan nya dengan ikhlas! anggap saja ini pengorbanan untuk bisa melihat Ibu dan Bapak bahagia". ucapku dalam hati, dan perlahan tangisan ku berhenti dengan sendiri nya.


Aku berdiri hendak ingin pergi, Namun langkah kaki ku terhenti, ku lihat sekitar tidak ada orang lain selain aku di sini, akhir nya aku turuti apa yang di sarankan Junot tadi.


"Good bye". Ku ucapkan dalam satu tarikan nafas sekeras mungkin, dan dalam hati kecil ku ucapkan nama yang selama tiga tahun ini aku cinta "Ayden".


Aku berjalan tertunduk dan ku dapati sebuah kantung kresek yang berisikan air mineral, tissu basah dan tissu kering, "siapa yang menaruh ini di sini? apa mungkin Junot?" tetapi aku tidak melihat keberadaan nya di sini.


***


Aku kembali ke ruangan Bunda, ku lihat keadaan sudah terlihat lebih baik dari sebelum nya, tak lupa aku dapati keberadaan Junot yang melihat ku dengan ragu-ragu. Mungkinkah dia mengkhawatirkan ke adaan ku?


"Kamu dari mana saja ?" tanya Ka Juwita khawatir.


"Hmm, aku dari toilet Ka"


"Ohh, yasudah sini?!". Ka Juwita meminta ku untuk duduk di pinggiran kasur yang Bunda tempati.


"Besok kamu kerja sayang?". Tanya Bunda


"Iyah Bunda, Hmm... Bunda istirahat jangan banyak pikiran, Nana mau sekalian pamit pulang"


"makasih yah udah mau datang". Ucap Ka Juwita dengan lembut


"Iya, sama-sama Ka"


"Na, udah malam kamu pulang nya di antar Junot yah!" . Kembali Bunda bersuara.


"Heh? Mmm... ga". Lagi-lagi ucapan ku selalu di potong oleh nya.


"Aku tunggu di luar!"


"Hmm... yaudah kamu hati-hati yah!". Ucap Bunda, yang kemudian di sambut oleh senyuman dan pelukan hangat begitupun dengan perlakuan Ka Juwita.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" Ucap ketiga nya bersamaan.

__ADS_1


Next?


__ADS_2