Aksa

Aksa
part 42


__ADS_3

Bunda sudah dipindahkan ke ruangan IGD dan masih butuh satu-dua Minggu pemulihan untuk mengetahui perkembangan yang lebih baik.


"Pengantin baru kok ada di sini?". Tanya bunda.


"Hah? kesehatan Bunda jauh lebih penting". Jawabku dengan tulus.


"Hem, Bunda jadi gak sabar ingin secepatnya sehat".


"Heh, Insyaallah Bunda akan segera sehat seperti biasanya".


"Aamiin". Ucap bunda dan kak Juwita.


Ayah, mas Marsel dan Junot sedang menunaikan sholat subuh berjamaah di masjid, aku dan kak Juwita bertugas menjaga bunda, tak berapa lama kini kita bergantian, setelah selesai aku dan Junot berpamitan untuk pulang. Iyah, aku apalagi Junot harus bekerja di hari Senin yang pastinya akan sangat sibuk.


Diperjalanan menuju rumah, aku perhatikan Junot tidak banyak bicara, hanya bicara seperlunya, sebenarnya aku tidak keberatan jika harus berdiam-diaman, tapi yang menjadi masalah adalah status aku yang kini merupakan istri dari pria yang ada di sebelahku ini.


Jika aku diam kan, aku takut bahwa keberadaan ku seperti tidak ada arti baginya, aku sangat yakin diam nya Junot pasti karena ada masalah yang mengusik pikirannya, mungkinkah itu ada kaitannya dengan dia yang tidak pulang ke rumah atau karena ucapan kak Juwita?


"Hem, Kamu kenapa?". Tanyaku.


"Heh? aku baik-baik saja". Jawabnya singkat, tanpa melirikku.


"Kalau ada masalah itu di selesai kan! bukannya di diam kan". Ujar ku.


"Heh, tahu apa kamu tentang ku?". Jawabnya sinis.


"Aku gak tahu apa-apa, makanya aku nanya?". Ucapku dengan santai.


"Gak usah ikut campur urusan ku bisa? kamu lakuin apa yang menjadi kewajiban kamu saja". Tuturnya, dengan kalimat yang membuatku tak percaya, Junot berucap hal demikian.


"Ok". Jawabku singkat yang sekaligus mengakhiri percakapan ku dengan Junot pagi ini.


***


Sudah sepuluh hari aku dengan Junot bersama, selama itu juga yang mengetahui aku adalah istri Junot atau pun sebaliknya, selain Kak Juwita dan Nadim masih tetap sama. Bukan karena aku menyembunyikannya akan tetapi orang-orang di sekitar ku tidak ada yang bertanya, dan lagi aku tipe orang yang tidak suka mengumbar-umbar dalam hal apa pun itu bentuknya.

__ADS_1


Meskipun begitu aku tahu batasan kok, aku tahu harus bagaimana menempatkan diri saat di luar rumah untuk bekerja di kantor sebagai wanita karir dan saat di dalam rumah sebagai seorang istri dan sejauh ini keduanya dapat aku lakukan dengan imbang.


***


Satu Minggu berlalu, keadaan bunda membaik dengan sangat pesat, lusa bunda sudah boleh pulang, itu artinya besok pagi Nadim akan pulang, selama Nadim di Jakarta aku sering meninggalkannya sendiri, karena bekerja belum lagi malamnya menginap di Rumah Sakit tidak lain menunggu dan menjaga bunda, meskipun kita sering gantian dengan kak Juwita akan tetapi aku dan Junot yang lebih sering, Jika mengingat satu Minggu ke belakang pastinya Nadim selalu merasa kesepian, maka dari itu malam ini aku berencana mengajak Nadim jalan-jalan, dan akan ku ciptakan momen yang tidak akan pernah terlupakan.


Butuh perjuangan yang sangat keras untukku membujuk Junot agar mau bergabung bersamaku dan Nadim, tapi proses tidak akan mengkhianati hasil, itu memang benar. Malam ini aku berasa seperti konglomerat yang di jaga oleh dua bodyguard super tampan, hal itu terbukti dengan lirikan wanita-wanita yang berkeliaran di mol pada malam ini, mereka semua pasti sangat iri, tapi bukan hal itu yang aku inginkan, aku hanya ingin orang-orang melihatku sebagai wanita beruntung, bersahaja juga ceria, dan aku sungguh bahagia.


Aku sedang memilah - milih beberapa pakaian santai untuk Junot dan Nadim, tak sengaja bertabrakan dengan seorang pria yang 5cm lebih tinggi dariku, dan itu semua salahku tapi aku sungguh-sungguh tak sengaja aku yang terkejut segera meminta maaf.


"Hah, Maaf... Maaf banget?!". Ucapku merasa bersalah. sementara itu pria di depanku segera mengambil kameranya yang terjatuh.


"Ya, gak apa-apa". Jawabnya dengan senyuman. Hah? di zaman sekarang ini bukannya marah malah senyum apa aku gak salah lihat?


"Heh, ada yang rusak gak kameranya? kalau ada apa-apa, Ah Mas bisa hubungi aja ke nomor ini". Pintaku sembari memberikan kartu nama.


"Oke". Jawabnya mengambil kartu namaku.


"Kalau begitu, saya permisi". Jawabku karena Nadim sudah memanggil.


(Kak, ayo!)


"Hem, iya".


Selesai berbelanja beberapa pakaian. Aku, Junot dan Nadim makan malam di sebuah restoran mewah, mungkin ini pertama kalinya untuk Nadim kunjungi, dan ini semua pilihan Junot katanya dia ingin memberikan kesan baik, untuk pertama kalinya sebagai Kakak ipar.


"Wow, tempat na meni mewah kieu Bang, teu salah ngajak abi? kudu na ieu mah jang duaan".


(wow, tempatnya mewah sekali Bang, gak salah bawa aku? seharusnya ini itu untuk berduaan).


"Heh, enggak... ini semua sengaja Abang buat untuk kamu".


"Naha?"


(kenapa?)

__ADS_1


"Karena sekarang kamu, adik Abang".


"Heh? tapi teu kudu kieu oge sih bang".


(heh? tapi tidak harus seperti ini sih bang).


"Hah? jadi kamu gak suka, apa kita ganti tempat aja?"


"Aduh aku udah lapar, gak apa-apa lah sekali-kali". Ucapku menengahi.


"Iyah, lagian besok kamu balik Bandung, Abang belum pernah ngasih apa-apa juga sama kamu, jangan di tolak yah?!".


"Hem, nya hatur nuhun atuh Bang".


(Hem, iya terima kasih kalau gitu Bang)


Perjalanan jalan-jalan kita tidak hanya sampai di situ, setelah makan malam yang super romantis dengan pengunjung tiga orang, yang membuat orang-orang sekitar heran. Kita bertiga kembali berbelanja, kali ini Junot yang memilih tempat dan jatuh pada toko sepatu dengan harga yang tidak main-main mulai dari jutaan sampai ratusan juta.


Aku dan Nadim bukanlah tipe orang yang suka aji mumpung, atau memanfaatkan situasi, buatku dan mungkin juga Nadim. Memakai sepatu seharga Rp 300.000,- atau Rp 30.000.000,- rasanya sama saja, keduanya sama-sama melindungi kaki dari benda tajam atau kotoran bukan?


Buatku kebahagiaan sejati bukan tentang seberapa banyak uang yang kita miliki, seberapa mewah rumah yang kita tempati, bukan tentang harta duniawi. Akan tetapi seberapa besar kita mengenal orang-orang terdekat kita dan akan selalu ada disaat suka maupun duka, itulah kebahagiaan sejati menurut pendapatku.


"Maaf Bang bukannya apa-apa, tapi Nadim lebih suka yang ini". Nadim menunjuk sepatu sneakers yang tidak biasa itu tapi harganya lebih masuk akal ketimbang sepatu pilihan Junot.


"Hah? yasudah kalau kamu lebih suka sepatu yang itu, kita ke kasir sekarang?".


"Iyah, makasih Bang!".


Setelah itu kita nonton Bioskop cerita nya sungguh mengharukan, seorang wanita cantik, baik, smart, harus menerima cintanya di duakan. Sebenarnya salah satu di antara kita tidak ada yang memilih film itu, tapi karena sebentar lagi film nya akan tayang maka kita asal membeli saja mengingat sekarang sudah terlalu larut malam pukul: 21.00 menonton satu jam dua puluh menit rasanya sudah cukup dan selepas itu kita pulang.


Alhamdulillah, agenda malam ini semuanya berjalan dengan lancar, semoga kedepannya kita akan selalu seperti ini, ibarat pohon banyak buahnya yang manis yaitu canda - tawa.


~Aamiin.


Next?

__ADS_1


__ADS_2