
Hobi ku masih tetap sama ; membaca, tapi kini tidak hanya sekedar membaca buku saja, akan tetapi bertambah membaca pikiran Junot juga, kegiatan yang paling menyenangkan yang akhir-akhir ini sering aku lakukan, walaupun hasilnya memang nihil, aku tidak tahu apa-apa yang sedang ia pikirkan.
"Na? Nareta? jangan tidur kaya gini!?". Ucap Junot lembut di samping telingaku.
"Aku gak tidur kok, hanya istirahat sebentar dari membaca". Ucapku mengejutkannya saat Junot mendekat dan ingin menggendongku.
"Aish, gak lucu tahu gak". Ucap Junot kesal dan mengurungkan niatnya.
"Hehe...".
"Aku mau pergi".
"Heh, kemana?"
"Kerja"
"Heh, di hari Minggu?". Ucapku sendu.
"Sebenarnya tidak sepenuhnya kerja, kamu mau ikut?".
"Apa? lalu?". Tanyaku penuh antusias.
"Kamu akan tahu nanti, jadi siap-siap gih?!". Perintah Junot.
"Oke". Tanpa bertele-tele aku segera berganti baju dan sedikit memoles wajahku dengan make-up.
"Udah siap". Ucapku pada Junot yang sedang menunggu di ruang televisi.
"Sudah? biar kulihat". Ucap Junot, lalu memandangiku tanpa berkedip, mengamati dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"kenapa? gak cocok yah? aneh yah?". Ucapku.
"Hem, jangan berdandan seperti ini tanpa ada aku! paham?".
"Heh? oke". Ucapku sedikit ragu, apa maksudnya? apa penampilanku norak, terlalu berlebihan atau apa? persoalannya aku sering berpenampilan seperti ini jika di kantor, yang membedakan hanyalah pakaian yang ku pakai, tapi rasanya Junot tidak pernah protes.
Saat di perjalanan Junot lebih banyak diam padahal aku berusaha untuk mencairkan suasana, seperti bercerita tentang hidupku tentang mimpi-mimpi ku yang sampai saat ini belum juga terwujud.
"Kalau mimpi kamu apa?". Tanyaku, sebab dari tadi aku lelah terus bercerita yang sepertinya tidak terlalu Junot dengarkan.
"Mimpi? aku tidak pernah bermimpi".
"Apa? yang benar saja? tidak apa kok bermimpi hal yang sederhana juga". Ucapku.
"Hem, sebentar lagi kita sampai, kamu tunggu di mobil sebentar! setelah itu kita pergi jalan-jalan". Aish Junot tidak menanggapi ku.
__ADS_1
"Hah? aku tidak boleh ikut denganmu?".
"Tidak!"
"Hah, yasudah aku akan menunggu sembari kembali membaca". Ucapku sedikit kecewa.
"Anak yang baik". Ucapnya sembari mengelus kepalaku, entahlah perlakuan Junot yang sederhana itu, selalu berhasil membuat aku bahagia luar biasa.
"Aku pergi dulu, jangan kemana-mana!". Ucapnya lagi dan aku hanya mengangguk, lalu Junot berlalu pergi.
Selepas Junot pergi tak lama dari itu seorang pria dengan perawakan persis seperti Junot tinggi dan berisi datang menghampiri dan mengetuk kaca mobil yang saat ini aku tumpangi, rasa takut sempat menghampiri pikiranku, tetapi semakin aku biarkan pria itu semakin kencang mengetuk kaca mobilnya, alhasil aku membuka kaca mobil itu.
"Maaf, ada keperluan apa?". Tanyaku dengan nada sopan.
"Apa benar ini mobil dari Pak Junot?"
"Iyah benar ada apa?".
"Hem, perkenalkan saya client yang saat ini akan bertemu dengan Pak Junot".
"Oh iyah, Junot sudah masuk kok". Ucapku sedikit lebih ramah
"Kenapa anda tidak ikut masuk?".
"Heh? tidak apa-apa saya di dalam mobil saja, tidak ingin mengganggu".
" Hah? saya rasa hal itu tidak sama sekali mengganggu, justru dengan ke hadiran anda, saya rasa suasana di dalam akan sedikit lebih menyenangkan dan tidak membosankan'.
"Ngomong-ngomong apa hubungan anda dengan Junot?".
"Heh? saya sepupunya".
"Sepupu? tidak ada hubungan lebih?".
"Tidak ada sama sekali".
"Syukurlah kalau begitu, saya permisi, mungkin Junot sudah menunggu saya di dalam".
"Iyah, silahkan".
***
"Maaf saya terlambat".
"It's okay, silahkan duduk!".
"Kita langsung ke poin nya saja, jadi bagaimana?".
__ADS_1
"Okey, apa Tuan berminat berinvestasi di perusahaan saya?".
"Tentu, penawaran yang anda tawarkan terakhir kali benar-benar membuat saya tertarik, maka dari itu saat ini saya ada di sini".
Satu jam berlalu setelah membahas bisnis, ketentuan, keuntungan dan yang lainnya satu sama lain saling menendatangani sebuah dokumen.
Hah, Nareta pasti merasa bosan dan kesal menungguku. aku segera menuntaskan bisnis yang sangat terpaksa harus terjadi di hari weekend ini.
Dengan terburu-buru aku menghampiri Nareta, dan apa kalian tahu apa yang dia kerjakan? menyimpan buku yang ia baca di wajahnya, kali ini dia benar-benar tertidur. Aku segera mengambil buku itu dari wajahnya. Beautiful, batinku.
Tak jauh dari tempat ini ada sebuah pantai, kira-kira satu atau dua jam perjalanan, aku berniat membawa Nareta ke sana, selagi dia masih tidur.
Sesekali ku pandangi wajahnya yang benar-benar ayu, seringkali saat berdua dengannya aku lepas kendali, seperti tadi aku mengelus kepalanya dan saat ini, untuk apa juga aku membawanya ke pantai? untuk membahagiakannya? atau justru sebaliknya.
Aku tidak ingin membohongi diriku sendiri, bahwa aku merasa nyaman berada di dekatnya. Tetapi aku tidak ingin terus menerus membohongi Nareta, bahwa aku telah memiliki seorang kekasih bernama Aqila.
Aku tahu hal itu menyakitkan untuknya, tapi tidak hanya untuknya, untukku juga. seperti yang sudah terjadi selama kurang lebih satu Minggu ini, Nareta banyak merubah hidupku, banyak kebiasaan baru yang menyenangkan dan tak inginku tinggalkan.
***
Tanpa keduanya ketahui, setiap pagi, siapa yang lebih dulu bangun pagi mereka pasti menyempatkan waktu 20 menit sebentar-bentar nya 10 menit untuk menatap wajah dari pasangannya, dengan hanya menatapnya tanpa kata hal itu sudah membuat keduanya merasa bahagia tak terkira.
Lalu jika pasangannya terasa terusik, maka kamu akan segera berpura-pura masih tertidur, kemudian sekarang giliran dari pasanganmu yang memandangi wajahmu, dan hal itu terjadi setiap hari, maka bagaimana kalian tidak saling jatuh cinta?
Yah, keduanya sama-sama sudah saling jatuh cinta tanpa mereka sadari, tetapi karena ego, ambisi dan gengsi, keduanya yang begitu besar, mengahalangi rasa cinta keduanya yang akan tumbuh membesar.
Karena jatuh cinta, mencintai atau dicintai adalah ilmu yang tidak pernah ada tempat untuk sekolahnya. Semuanya harus kita rasakan sendiri, seiring berjalannya waktu, tidak dapat di percepat atau di perlambat.
Dilain sisi, seseorang tengah mengamati Junot dan Nareta, dia benar-benar merasa cemburu.
"Kau pastikan bahwa mereka berdua benar-benar hanya sepupu!".
"Jika mereka bukan sepupu, maka aku akan menarik kembali investasi yang ku berikan hari ini".
"Baik Tuan".
"Kau terus pantau mereka".
"Siap laksanakan".
***
"Emmm". Aku menggeliat, dan rasanya sedari tadi seseorang terus mengamati ku tanpa henti, aku yang panik segera membuka mata.
"Heh? kamu kenapa?".
"Huh, aku pikir siapa, kenapa tidak membangunkanku?". Tanyaku tapi bukannya menjawab pertanyaan ku Junot kembali mengacuhkanku dengan berjalan keluar.
__ADS_1
Mataku terus mengikuti pergerakan Junot hingga aku baru tersadar kini kita berdua berada di pantai. Aku benar-benar senang aku segera keluar sembari berlari mendahului Junot.
Next?