
setelah ku dengar-dengar kembali, dia bukannya sedang bersenandung yang sesungguhnya, melainkan dia sedang berusaha mengusir rasa takutnya, semacam mantra-mantra. Dan tiba-tiba saja kalimat itu keluar.
"Are you okay?". Bukan tidak ada alasan aku menanyakan hal itu, saat ini ku lihat wajah nya pucat pasi dan keringat bercucuran dari dahi nya, padahal AC menyala.
"Hah? bisa pelankan kecepatannya?!". Lagi-lagi dia meminta menurunkan kecepatannya.
Tanpa berpikir panjang atau bertanya lagi, aku segera menuruti keinginannya, padahal aku paling anti di perintah apalagi oleh wanita yang baru aku kenal.
Setelah memperlambat kecepatan menjadi lebih stabil, dia mulai bersuara tanpa di minta.
"Aku punya trauma"
"Hm? Oke, aku gak akan ngebut lagi". Aku melihat wajah nya yang teduh, dan entah mengapa... aku merasa nyaman berada di dekatnya.
***
Sesampainya kita di RS aku segera membawanya ke ruangan ICU VIP tempat Bunda di rawat, sampai di sini terlihat jelas dia masih kebingungan dengan apa yang sebenar nya terjadi. Sementara itu aku melihat Juwita tengah terduduk lesu sembari menyenderkan kepala nya di bahu Marsel.
Tak lama kemudian keduanya menyadari akan kedatangan ku dan Nana, mereka segera berdiri kemudian berjalan menghampiri kami.
"Nana". Juwita tersenyum melihat kehadiran wanita yang ada di sampingku.
"Iyah?". Sementara itu Nana lebih kebingungan, dengan kehadiran Juwita dan Marsel.
"Ini Juwita Kakak ku". Aku mencoba menjelaskan, memang terasa tidak pas berkenalan di situasi seperti ini, tapi mau bagai mana lagi.
Juwita tersenyum sembari memegang kedua tangan Nana, yang kemudian di balas oleh senyuman yang menawan dari Nana . tak lama kemudian kedua mata nya beralih pada pria yang ada di sebelah Juwita.
"Dia suami nya, Mas Marsel". Ucapku, lalu dia tersenyum sembari mengangguk tanda mengerti.
"Hah?". Dia melirik ku dengan dahi berkerut.
"Syukurlah, kamu mau datang kesini". Tangan Juwita masih belum juga melepas tangan nya.
Sementara itu Mas Marsel segera menyuruh Nana untuk masuk ke dalam.
"Ayo, sebaiknya kamu segera masuk?!". Apa yang di ucapkan Mas Marsel ada benar nya juga. Aku sampai melupakan nya.
"siapa yang sakit ?" ucap nya dengan polos.
"Bunda" jawab Juwita sembari berjalan menghampiri pintu.
__ADS_1
"Bunda? kenapa ?". Saat mendengar kata Bunda, dia terlihat khawatir dengan sangat tulus.
"Iyah, Bunda jatuh dari toilet karena terkena serangan jantung ringan, sampai saat ini Bunda masih belum juga siuman, tapi sedari tadi Bunda terus memanggil nama kamu". Ucap Juwita kembali.
"Kalian langsung masuk aja!". Seru Mas Marsel.
"Kakak gak masuk?"
"Enggak, bukan nya gak mau, tapi gak boleh" jawab Juwita dengan lesu.
"Hah? kenapa? ". Kembali dia terlihat bingung oleh situasi saat ini, yang dimana keluarga sendiri terasa menjadi orang asing, sementara orang asing terasa seperti keluarga.
"Ayo, jangan banyak bertanya, masuk saja?!" jawabku berbisik di telinga nya. Aku kesal atas pertanyaan-pertanyaan polos dari nya, yang mengungkap situasi yang terjadi di keluarga kami, dan sial nya memang benar ada nya. Bisa di katakan keluarga kami tidak sebahagia itu.
Kali ini dia menuruti perintahku, tanpa banyak bertanya. dia masuk dan duduk di kursi samping kanan Bunda, dan aku berdiri di samping nya.
lima menit kami saling diam, melihat keadaan Bunda yang banyak sekali dipasangi alat medis. perlahan tangan nya menyentuh tangan Bunda.
"Assalamualaikum Bunda, ini aku Nana". Ucapnya lembut setengah berbisik.
"Kata Ka Juwita, Bunda terus manggil Nana yah? Ada apa Bunda? sekarang Nana ada di sini". Dia bersikap baik dan terus bertanya seolah sedang menghadapi orang yang tidak sakit.
"Apa yang mau Bunda ungkapkan?" Tanya nya kembali sembari mengelus punggung tangan Bunda.
Tapi tiba-tiba saja tangan kiri Bunda bergerak, aku yang melihat hal itu segera menekan bel darurat.
"Bunda? Bunda dengar aku kan?". Tak lama kemudian Dokter dan Suster datang memeriksa keadaan Bunda.
Sementara aku dan Nana di persilahkan untuk menunggu di luar, yang kemudian di sambut oleh pertanyaan beruntun dari Juwita.
"Apa yang terjadi? Bunda kenapa? Bunda baik-baik aja kan?". Dengan erat ia memegang tangan Nana.
"Iyah, Bunda baik-baik aja kok Ka". Dengan lembut dia memeluk serta mengelus-elus punggung Juwita.
Tangisan Juwita kembali pecah, pada dasar nya Juwita memang anak yang cengeng.
***
Kami semua menunggu dengan perasaan was-was yang terus berkelanjutan, karena sudah lebih dari 20 menit Dokter maupun Suster belum juga keluar.
Sementara Juwita masih terisak-isak, tapi kali ini dia tengah di tenangkan oleh suaminya. Detak jarum jam terus berputar hingga akhirnya Dokter pun keluar, aku segera berdiri dan menghampiri.
__ADS_1
"Dok, apa yang terjadi?". Aneh nya wajah Dokter itu terlihat tenang.
"Alhamdulillah, Ibu anda sudah jauh lebih baik, akan tetapi baru saja dia tertidur, setelah di masukan obat ke dalam infus.
"Oh, syukur alhamdulillah, terima kasih Dok". ungkap Junot dengan menghembuskan nafas lega.
"Dok, saya boleh masuk ke dalam?". Ucap Juwita.
"Hm, sebaiknya jangan dulu, biarkan Ibu anda beristirahat dengan cukup".
"Hmm, Baik Dok". Juwita kembali murung mendengar perkataan Dokter.
Dokter yang menangani bunda adalah Dokter yang juga menangani Ayah, kurang lebih Dokter tahu permasalah dan faktor atau pemicu atas sakitnya bunda ataupun ayah. Apalagi kalau bukan karena ulahku atau Juwita yang selalu menentang atas apa-apa yang di inginkan oleh orang tua pada umumnya.
Aku sadar betul, apa-apa yang menjadi ke keinginan orang tua pastinya hal yang baik, tapi... hal baik belum tentu menjadi kebahagiaan untuk kita yang menjalani.
***
Author
Flashback
satu jam sebelum terjadi peristiwa Bunda jatuh di toilet.
04:48 WIB, Juwita tiba di kediaman Bunda, pagi ini Juwita sangat bersemangat menjemput Bunda untuk latihan yoga yang sudah satu bulan ini mereka berdua tekuni.
"Assalamualaikum, Bunda? Bunda". Karena tidak ada juga sahutan, Juwita memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Bunda.
"Waalaikum'salam". Ternyata Bunda baru saja selesai menunaikan sholat subuh.
"Kamu masih ingat jalan pulang?". Jawab Bunda sinis.
"Heh? Bunda kenapa?". Juwita merasa aneh dengan sikap Bunda, beberapa hari yang lalu rasa nya baik-baik saja, Juwita pun merasa tidak membuat kesalahan apa pun.
"Gak usah pura-pura gak tahu deh"
"Aku gak pura-pura Bun, aku benar-benar tidak ngerti maksud Bunda apa?"
"Apa sih yang bisa Bunda banggain dari kamu Juwi? Heh?". Kini tatapan Bunda yang mulai sinis pada Juwita.
"Hah? A apaaa? Bunda kenapa sih ? kenapa tiba-tiba jadi marah gitu sama Juwi?" . Suara nya bergetar dan cairan bening itu sudah menggenang di pelupuk mata nya.
__ADS_1
Next ?