
Malam pun tiba, setelah seharian berkeliling mencari perlengkapan untuk melahirkan dan pakaian untuk bayi, akhirnya kita memutuskan untuk berbaring di atas ranjang, merilekskan badan yang terasa pegal, sembari saling bertatapan tanpa kedipan.
"Kenapa?". Tanyaku memberanikan diri. Jujur saja meskipun aku ini adalah istrinya, tapi aku merasa grogi. Sebab ini kali pertama untukku di tatap sedekat ini dengan intensitas tak terbatas.
"Hem? tidak apa-apa". Ucapnya dengan santai, masih setia menatapku dengan lekat.
"Lalu? kenapa menatapku seperti itu". Tanyaku lagi, kali ini aku agak sedikit bergerak mengganti posisi tidurku. Aku tak kuasa terus menerus di tatap oleh Junot seperti itu. Detak jantungku terasa berdebar tak menentu.
"Terima kasih". Ucap Junot tiba-tiba dengan tulus.
"Terima kasih untuk apa?" Tanyaku tak mengerti apa maksud dari ucapannya, sembari kembali menatapnya yang ternyata juga sudah berganti posisi dengan terlentang menatap langit-langit kamar.
"Untuk segalanya, untuk kehadiranmu di keluargaku".
"Hem, tidak usah berterima kasih, justru aku yang seharusnya berterima kasih dan sangat bersyukur, karena telah menjadi bagian dari keluargamu yang teramat baik".
"Aku gak tahu, apa jadinya aku tanpa kamu, mungkinkah saat ini aku bisa tersenyum? atau mungkin masih sibuk dengan rentetan berkas-berkas kantor yang tidak pernah aku minati".
"Heh? tidak kamu minati?".
"Iyah, aku tidak pernah memiliki keinginan untuk menjadi penerus dari perusahaan keluarga ini, dengan kata lain aku terpaksa melakukan ini semua hanya untuk menuruti semua keinginan kedua orang tua tidak lebih".
"Lalu, sebenarnya apa keinginanmu?".
"Menjadi seorang Dokter tapi semuanya sudah pupus".
"Kalau kamu ingin tahu, sebenarnya aku juga tidak berkeinginan menjadi seorang karyawan".
"Lalu?"
"Aku ingin menjadi seorang penulis".
"Wow, lalu kenapa tidak berusaha untuk mewujudkannya?".
"Sudah, tapi aku tidak memiliki dukungan dari siapapun atau mungkin salahku juga tidak berani menyuarakan apa yang sebenarnya menjadi keinginanku".
Malam itu kali kedua kita berbincang-bincang panjang dengan sangat terbuka, banyak hal yang kita bicarakan mengenai hari-hari sulit yang harus kita lalui seorang diri, mengenai persahabatan yang harus ternodai karena orang ketiga dan juga mencari nama yang akan kita sematkan pada anak kita.
"Alaksa". Ucap Junot tiba-tiba.
"Heh? artinya apa?".
"Entahlah, hanya saja sekelebat nama itu tiba-tiba muncul dalam benakku".
"Hah? seriously?"
"Hem, coba kita lihat di google".
__ADS_1
"ALAKSA". ucapnya dengan lantang.
"Karakter dan sifat, orang dengan nama Alaksa tergolong percaya diri, heh... itu yang aku harapkan". Ucapnya di tengah-tengah membaca.
"Ia cenderung memimpin dengan berwibawa dan selalu mencari petualangan". Ucapnya, kembali melanjutkan.
"Ia sangat tertarik dengan kehidupan dan memiliki sifat mandiri. Orang ini juga bicara apa adanya dan tertarik secara fisik pada orang lain, bagaimana menurut kamu?".
"Ahh, ada lagi, menurut studi numerologi, nama "Alaksa" mempunyai kepribadian Peduli sesama, dermawan, tidak mementingkan diri sendiri, patuh terhadap kewajiban, ekspresi, kreatif". Ucapnya lagi membaca sembari mencari-cari arti nama yang katanya tiba-tiba saja muncul dalam benaknya".
"Aku suka dengan nama itu". Ucapku sembari menatap layar handphone yang terus menerus Junot scroll.
"Heh? sungguh?".
"Iyah, Muhammad Alaska Abraham?".
"Hem, Iyah aku juga setuju".
***
empat belas hari kemudian
"Sayang, kamu beneran gak apa-apa aku tinggal sendiri?".
"Iyah, aku yakin. gak apa-apa. Aku bakalan baik-baik aja kok".
"Enggak usah deh sayang, aku enggak enak terus ngerepotin Bunda, lagian kamu bilang kan cuma dua hari aja".
"Iyah, tapikan dua hari bukan waktu yang sebentar".
"HM, kamu percayakan sama aku?". Tatap ku, entah kenapa aku merasa Junot tidak sepenuhnya mengkhawatirkan ku, tapi sepertinya dia masih menaruh rasa curiga terhadapku.
"Heh? tentu saja". Meskipun tidak sepenuhnya.
"Kamu hati-hati yah! kabarin aku kalau udah sampai?!". Tak berapa lama Alex datang, membawa koper yang hendak Junot bawa selama dua hari dalam perjalanan bisnisnya ke Bali.
"Kamu mau oleh-oleh apa nanti?".
"Heh? aku mau kamu cepat pulang dengan selamat! bisa?".
"Hah? tentu saja, baby boy tolong jaga Mamah untuk Ayah!?". Ucap Junot sembari mengelus-elus perutku.
"Okay, Ayah". Ucapku mewakili anak yang masih dalam kandunganku.
"Aku pergi, Assalamualaikum". Ucap Junot sembari mencium keningku.
"Waalaikumsalam". Ucapku setengah tertegun lagi-lagi aku di buat terkejut olehnya, ia akhir-akhir ini sikap dan perlakuannya padaku begitu manis meskipun terkadang terlalu berlebihan.
__ADS_1
Terkadang aku di buat mabuk kepayang oleh sikapnya yang menjadikanku bak seorang putri, aku tidak boleh kemana-mana cukup diam dan apa pun yang aku mau akan segera datang menghampiri.
Bahkan seharian aku tidak boleh beranjak dari atas ranjang cukup bilang sayang, maka Junot akan segera datang, dan hal yang lebih membuat aku terkejut lagi adalah ternyata Junot pandai memasak selama ini dia hanya berpura-pura tidak pernah ke dapur.
Dia amat sangat lihai mengiris sayuran, daging dengan pisau tajam di genggamannya, juga mencuci beras. Oh Tuhan, manusia apa yang kau kirimkan? dia terlalu sempurna jika di bilang manusia.
belum lama dari kepergian Junot suara bel pintu berbunyi.
"Hah? siapa yang bertamu di saat suamiku tidak ada, ya Tuhan kumohon jangan seorang pria". Batinku.
"Sebentar!". Ucapku setengah berteriak menuruni anak tangga dengan perlahan.
Aku segera membukakan pintu, kulihat seorang wanita tinggi semampai tengah membelakangi pintu rumahku.
"Kak Juwi?". Ucapku tak percaya, apa aku tengah bermimpi?
"Hai, sayang". Ucapnya dengan senyum lebar di kedua pipinya.
"Kamu kenapa? kok ngeliat Kakak kaya ngeliat hantu sih?". Ucapnya sedikit cemberut.
"Hah? ya ampun aku speechless, kenapa Kakak bisa ada di sini?". Tanyaku.
"Ayo Kak masuk!".
"Hem, menurut kamu? kenapa Kakak bisa ada di sini?". Ucapnya dengan puppy eyes.
"Hah? jangan bilang karena..."
"Iyah, Junot begitu mengkhawatirkan mu, dan apa kamu tahu? ini kali pertama Junot meminta bantuan Kakak, untuk menjaga kamu". Belum sempat aku menebak, Kak Juwi sudah lebih dulu mengiyakan.
"Terima kasih!". Ucap Kak Juwi dengan tulus.
"Hah? Terima kasih untuk apa Kak?".
"Sudah ada untuk Junot, kalau bukan karena kamu... Kakak gak pernah bayangkan hubungan Kakak dengan Junot bisa sedekat sekarang ini".
"Heh, aku juga ingin mengucapkan Terima kasih, karena sudah bersedia menjadi unnie untuk Nana, hehe...". Tanpa kita sadari kita saling berpelukan dengan mata berkaca-kaca.
Kita menghabiskan waktu bersama tanpa kita sadari matahari sudah meninggi, meredup kemudian terbenam hingga kembali terbit.
Aku tidak habis pikir aku bisa mendapatkan Kakak ipar sebaik ini, dia begitu menyayangiku, dia begitu tulus melakukan berbagai hal bersamaku. Aku adalah manusia yang beruntung memiliki keluarga baru yang teramat baik seperti ini. Sangat mencintaiku dengan tulus tanpa syarat, aku tidak tahu harus dengan cara apa aku membalasnya, hanya bisa bersyukur.
Next?
Hai, sebelum lebaran InsyaAllah Author Update lagi, edisi spesial, di tunggu yah!
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan :)