Aksa

Aksa
part 52


__ADS_3

Hari-hari berlalu Akram masih setia menemani Aqila sampai tiba waktu yang tepat untuk Junot memutuskan hubungannya, pasalnya saat ini Aqila tengah sibuk kuliah dengan berbagai macam tugas-tugasnya yang segudang, Akram tidak ingin pengakuan Junot bisa mempengaruhi segala hal yang saat ini tengah di kerjakan Aqila.


Sesuai permintaan Akram maka dari itu Junot masih merahasiakan kebenaran itu semua dari Aqila bahwa ia telah menikah, dan selama itu juga cinta yang sebelumnya tidak pernah ada perlahan tumbuh untuk Nareta semakin hari semakin bertambah, Junot tidak dapat melihat pria lain mendekati Nareta walaupun hanya sekedar menyapa.


Sementara itu Bagaskara masih berusaha untuk mengikhlaskan Nareta, mencoba menghapus rasa yang terlanjur ada tanpa pernah ia duga.


Sudah satu Minggu setelah pesta resepsi di gelar, tetapi selama itu juga Junot masih belum pernah menyentuh Nareta, tiap kali ia berdua dan hampir melakukan hubungan, pikirannya selalu di penuhi dengan rasa bersalah kepada Aqila.


"Kamu kenapa?".


"Emm, gak apa-apa kamu tidur duluan aja, aku mau ke kamar mandi dulu". Perintah Junot pada Nareta.


"Heh? Eum... okay". Meskipun sebenarnya Nareta sedikit kecewa, seperti malam-malam sebelumnya, malam ini pun hubungan intim itu sepertinya harus kembali tertunda, tetapi Nareta bisa apa? yah Nareta hanya bisa menghembuskan nafas berat dan berusaha untuk lebih bersabar lagi, menghadapi Junot yang sifatnya mudah berubah, sampai waktunya tiba Junot siap untuk memberikan kewajibannya sebagai seorang suami dari Nareta.


"Junot?"


"Yah?".


"Nanti aku pulang telat yah?".


"Mau ngapain?"


"Eum, nanti ada acara makam malam semua staf kantor".


"Ehm". Tidak ada jawaban apa pun, hanya dehaman yang ambigu.


"Lisda juga ada kok, bolehkan?".


"Pulang sebelum jam delapan malam!".


"Hah? Jadi boleh? tapi acaranya sampai pukul 22:00".


"Acara makan malam aja kan? gak lebih? satu jam aja harusnya udah cukup". Ucap Junot sembari memakan roti yang sudah di olesi selai kacang oleh Nareta.


"Iyah, cuma..."


"Pulang sebelum jam delapan malam atau tidak sama sekali?!". Ucap Junot telak.

__ADS_1


"Tapi Jun, jam malam anak SMA aja sekarang jam sembilan malam, masa aku...".


"Oke, dengan terpaksa aku gak izinin kamu untuk hadir di acara itu, aku pergi dulu yah!". Ucap Junot memotong pembicaraan Nareta.


"Hah? Tapi Jun, itu acara penting aku harus datang, Jun aku belum selesai bicara loh, kamu kok gitu sih main pergi aja?". Ucap Nareta kesal, sementara itu Junot yang tak ingin di bantah segera pergi menaiki mobil sportnya.


"Dasar egois". Ucap Nareta pelan sembari menatap mobil yang melaju dengan cepat.


"Pokoknya aku mau datang ke acara itu, masa iyah aku sekretarisnya tapi gak hadir sih, aku gak peduli jika nantinya Junot akan marah, toh palingan marahnya cuma sebentar nanti juga baik lagi". Entah kenapa, akhir-akhir ini sikap Junot memang lebih posesif.


Malam pun tiba, seperti biasa Nareta duduk di sebelah Ayden tentunya tanpa ada perasaan apa pun, yah kini hati Nareta sudah ditautkan kepada pria yang telah meminangnya, siapa lagi kalau bukan Junot, tetapi hal itu tidak berlaku untuk Ayden.


Sebab sampai detik ini seluruh hatinya masih menjadi milik Nareta, rumor bahwa Ayden dengan Tania memiliki hubungan khusus di luar kantor itu tidak benar, terbukti sampai saat ini Ayden masih sendiri, sementara Tania dikabarkan telah bertunangan dengan pria bernama Helmi.


Nareta benar-benar hanyut dalam acara itu, sampai-sampai ia tak menyadari akan jarum jam yang sudah menunjukan pukul 22:10 malam.


"Lis gua harus cabut". Ucap Nareta berbisik di telinga Lisda.


"Hem, baru juga, Hah? Iyah-iyah suami lu pasti udah nungguin lu di rumah, cepetan deh lu balik". Ucap Lisda yang sama paniknya dengan suara yang cukup keras.


Baru saja Nareta keluar restoran tanpa ia sadari, seseorang pria tinggi mengikutinya dari arah belakang.


"Heh? Pak Ayden, kok ada di sini?.


"Hem tadi aku abis dari toilet gak sengaja lihat kamu yang buru-buru pergi, aku khawatir makanya aku ikutin".


"Heh? Oh, Iyah sudah larut malam, saya harus pulang, Junot pasti udah nungguin saya".


"Hem, tunggu, biar saya antar!?".


"Hah? gak usah Pak, saya bisa pulang sendiri".


"Please, hanya untuk kali ini aja, jangan tolak tawaranku!".


"Hem, baiklah". Wajah Ayden terlihat tulus tidak ada maksud lain yang terselubung, maka dari itu akhirnya, aku mau menerima tawaran Ayden.


Di sepanjang perjalanan kita berdua banyak berbincang-bincang, mengenai berbagi kisah indah yang sayang untuk di lewatkan.

__ADS_1


"Eum, Mas tadi kamu lihat gak Lisda nyanyi lagu kasmaran?". Tanyaku setelah merasa lelah terus menerus tertawa.


"Heh? Mm, denger kok, kenapa?". Jawab Ayden berbohong, sebab sedari tadi di ruang karoke, mata Ayden tidak pernah sedetikpun berpaling dari Nareta, dan seluruh pikirannya hanya ada Nareta seorang.


"Suara Lisda bagus kan? apalagi dengan lagu kasmaran dan penjiwaannya begitu dalam, kerennya semakin bertambah-tambah". Ucap Nareta dengan tulus.


"UMM... kamu ingat gak dulu saat kita masih sama-sama, kita juga sering nyanyiin lagu itu". Ucap Ayden sembari menatap kedua bola mata Nareta.


"Hah? masa sih?". Entah kenapa tatapan Ayden terasa mencekam, Nareta yang menyadari perubahan sikap Ayden segera mengalihkan pandangannya, dan seketika suasana berubah menjadi canggung.


"Eum... udah sampai?!". Ucap Ayden.


"Hah? Ah makasih udah nganterin, aku masuk dulu yah?!". Ahh, tarik nafas dan hembusan nafas lega keluar dari mulut Nareta.


"Heh, kok lampu nya masih mati sih? apa Junot belum pulang yah?". Beruntungnya Nareta sudah mempunyai kunci cadangan, maka ia segera masuk ke dalam rumah.


Baru saja Nareta menghembuskan nafas lega, kini ketegangan sudah menantinya di depan mata, saat ia menyalakan lampu dan di hadapannya terdapat Junot yang tengah berdiri sembari tengah melipat kedua tangannya di atas dada.


"Heh, Junot kamu udah pulang?". Tanya Nareta masih dengan nada santai.


"Dari mana aja kamu?". Tanya Junot dengan nada bicara yang mengintimidasi.


"Heh? kan aku udah bilang ada acara...".


"Apa kamu lupa? aku izinin kamu untuk pergi asalkan pulang sebelum jam delapan malam, tapi jika tidak bisa, lebih baik tidak usah". Kini nada bicara Junot perlahan demi perlahan meninggi.


"I iyah aku minta maaf aku gak sadar kalau udah larut malam".


"Gak sadar? kamu minum? Hah?". Tanya Junot sembari mendekatkan tubuhnya ke tubuh Nareta, sembari mengendus.


"Hah, enggak kok, aku sadar. Lagian gak ada hal yang aneh-aneh, kita cuma makan malam biasa aja, tapi ada hiburan karaoke gitu". Ucap Nareta tanpa jeda.


"Cuma? kamu bilang itu cuma?". Kedua mata Junot mulai memindai tubuh Nareta dari ujung kepala hingga kaki.


"Kamu ngeliat apa?". Ucap Nareta dengan nada suara kecil, ada rasa takut tapi bukan karena hal-hal mistis, melainkan karena tatapan Junot yang melihat dirinya dengan tatapan yang tak biasa.


"Jun?".

__ADS_1


"Junot?". Junot tidak menyahut, tetapi tubuhnya perlahan semakin mendekat pada tubuh Nareta.


Next?


__ADS_2