Aksa

Aksa
part 58


__ADS_3

Aku benar-benar tidak tahu apa salahku kali ini, apa pun yang Junot mau sudah aku turuti, tapi sepertinya apa pun yang aku lakukan selalu saja salah di matanya.


"Jun kamu kenapa sih? di kantor lagi ada masalah yah?". Tanyaku hati-hati.


"Heh? enggak ada, kenapa?". Ucapnya santai, masih sibuk dengan handphone yang ada di genggamannya.


"Terus, kenapa akhir-akhir ini kamu sering pulang malam dan pergi kantor pagi-pagi banget?". Raut wajah Junot seketika berubah, terlihat gelisah dan ketakutan seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.


"Hah, maksud kamu apa?". Ucap Junot dengan nada yang tiba-tiba meninggi.


"Hem, gak ada maksud apa-apa, aku kan cuma nanya". Ucapku santai.


"Udah deh gak usah membalikan fakta". Ucapnya tanpa menatap kedua mataku, rasa-rasa nya ini kali pertama Junot marah tapi tidak mengintimidasi ku. Sepertinya ada sesuatu yang gak beres dengan Junot.


"Udah deh aku lelah, mau tidur!". Ucapnya berlalu pergi tanpa menatapku.


Ya Tuhan, kali ini ada apa lagi?


***


Semenjak kedatangan Aqila ke Jakarta semua waktu yang ku punya habis terkuras, yang seharusnya untuk Nareta kini dengan terpaksa harus beralih untuknya.


Berbelanja, makan di restoran mahal, ke salon, beli barang-barang yang buatku itu sesuatu yang tidak perlu, sudah ku turuti semua ke inginkan nya, tapi di matanya apa yang aku lakukan masih saja kurang, keinginannya tidak pernah habis, ada saja hal-hal yang ia inginkan di luar nalar, yang berhasil membuat aku kesal.


Beruntungnya Aqila bilang dia di Jakarta hanya satu Minggu maka dari itu aku berusaha untuk bersabar, aku tidak ingin mengecewakannya apalagi melukai hatinya.


Sudah tiga hari ini aku memang sering berangkat ke kantor lebih pagi, sehingga aku tidak sempat mengantar Nareta. Beruntungnya Nareta bukanlah wanita manja, dia sama sekali tidak mempermasalahkan akan hal itu. Tetapi untuk pulang malam sepertinya dia agak keberatan maka dari itu saat ini dia mencoba mempertanyakan.


"Maaf Nareta aku tidak bisa berkata yang sebenarnya". Batinku. Lantas aku segera berbaring dan memunggunginya.


"Jun, besok di kantor ku ada acara, mungkin aku akan pergi lebih pagi dan juga pulang agak malam, gak apa-apa kan?".


"Hem...". Ucapku kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi.


Sehabis pulang dari Masjid aku melihat Nareta tengah sibuk di dapur sementara itu aku kembali tidur, dan benar saja saat aku kembali bangun pukul 07:00 pagi aku tidak melihat akan keberadaannya dan tingkahnya yang menggemaskan, dan kini kebiasaan Nareta di pagi hari tengah terbayang-bayang di benakku.


Aku segera bergegas mandi dan sudah tersedia seperangkat baju kantorku kemeja berwarna biru muda lengkap beserta dasinya yang senada, pun saat aku kebawah di meja makan sudah tersedia sarapan kesukaan ku roti tawar dengan selai kacang serta water lemon.


Aku melakukan kegiatan seperti biasanya, melakukan beberapa meeting bersama klien penting dan baru bisa pulang ke rumah pukul delapan malam. Aku sudah membayangkan akan sambutan Nareta karena aku pulang lebih awal, tetapi apa yang aku dapat tidak sesuai ekspektasi.


Nareta masih belum juga pulang saat aku kembali melihat jarum jam yang sudah menunjukan pukul sembilan lewat 10 menit. Kulayangkan beberapa Panggilan tetapi tidak terhubung dan untuk kesekian kalinya ku coba menghubunginya kembali tetapi masih saja tidak dapat di hubungi.

__ADS_1


Jangan tanya perasaanku saat ini! seperti apa, tentu saja aku kesal nyaris marah dan ingin memakan apa saja yang ada di depan mata, beruntungnya hal itu tidak sampai terjadi sebab aku tertidur di sofa ruang tv.


***


Seharian ini di kantor ku mengadakan acara, aku sudah bilang pada Mas Ayden kalau aku mungkin akan pulang lebih awal dari karyawan lainnya dan ia mengiyakan.


Tetapi tetap saja pada akhirnya aku baru bisa pulang pukul sembilan malam, belum lagi Mas Ayden yang terus menerus memaksa untuk mengantarku pulang, dan pada akhirnya dengan sangat terpaksa aku menerima tawarannya.


Hah... dan sialnya lagi handphoneku mati, aku tidak bisa menghubungi Junot sekedar memberi kabar apalagi meminta tolong untuk di jumput atau meminta izin dari nya bahwa aku pulang di antar oleh Mas Ayden. Aku sudah sangat yakin kali ini saat aku pulang Junot akan benar-benar marah atau menuduhku yang tidak-tidak, aku sudah pasrah dan sangat siap akan hal itu.


Di sepanjang perjalanan aku tidak banyak berbicara, sebab kuya kini tidak ada persahabatan yang benar-benar murni, aku takut membuat Ayden merasa nyaman.


Akhirnya aku tiba juga di pekarangan rumah, tak lupa ku ucapkan terima kasih kepada Mas Ayden. Kemudian aku segera masuk kedalam rumah dengan mengucap salam.


"Assalamualaikum?". Ucapku pelan, dan apa yang terjadi? pemandangan yang tak biasa kini tengah aku lihat.


Benarkah itu Junot, suamiku? kenapa aku baru menyadarinya bahwasanya dia begitu tampan, wajahnya yang sungguh menawan nan rupawan bahkan nyaris sempurna bak dewa yunani, mungkinkah ini yang dinamakan bak malaikat yang turun dari surga?



"Aish ... Sadarlah Nareta!...". Batinku beruntungnya, aku segera tersadar dari lamunanku.


"Jam berapa sekarang?". Ucapnya sembari terduduk dan mengumpulkan nyawa, kemudian menatapku dengan tajam.


"Euh... pukul sepuluh malam". Ucapku tertunduk takut.


"Jangan pernah mengulanginya lagi?!". Ucapnya tegas tapi terdengar ketakutan tepat di telingaku, entah sejak kapan dia berdiri.


"Hem, Iyah". Rasanya aneh. Benar-benar aneh, aku melihat sisi lain pada diri Junot. Apa mungkin dia ketakutan akan kehilanganku? atau ini hanya perasaanku saja.


"Nareta?".


"Iyah?". Ucapku tertunduk lagi.


"Hanya untuk kali ini saja, aku sudah tidak bisa menahannya lagi". Ucap Junot sembari mendekatiku.


"Aku mengerjapkan kedua mataku". Apa Maksudnya? aku masih berusaha mencerna apa yang baru saja Junot katakan, dan tiba-tiba saja Junot menggendongku ala bridal style.


***


"Na, Nareta?". Teriakku, tapi tidak ada sahutan, akhirnya ku putuskan untuk menghubunginya.

__ADS_1


~Tut...tut....


"Halo? kamu lagi di mana sih? aku bangun kok kamu udah gak ada? Heh". Ucap Junot masih dengan suara bantal khas bangun tidur.


"Hem. . . Sorry ini gua bukan Nareta ". Ucap seorang pria yang ku yakini itu suaranya Ayden.


"Hah? Lalu kenapa handphonenya bisa ada di lu? gua yakin banget ini nomor handphone istri gua".


"Oh, Iyah maaf sebelumnya gua lancang mengangkat handphone Nareta, sepertinya handphone Nareta tertinggal saat semalam gua mengantarnya pulang".


"Semalam?". Ucap Junot dengan nada yang sedikit meninggi.


"Ehe, tapi gak ada hal lain, gua cuma ngasih tumpangan sampai depan rumah lu aja gak lebih".


"Okay, thank you!". Ucap Junot dengan nada kesal dan segera mematikan sambungan telponnya secara sepihak.


***


~Cekrekk...


"Assalamualaikum". Ucap Nareta dengan senyuman yang mengembang di kedua pipinya.


"Dari mana saja kamu?". Ucap Junot dingin.


"Heh? aku habis dari supermarket". Jawab Nareta bingung dengan perubahan sikap Junot.


"Harus berapa kali sih aku bilang, kalau aku gak suka kamu deket-deket dengan pria lain terutama Ayden". Ucap Junot dengan nada meninggi dan emosi yang meluap-luap.


"Hah? Maaf... tapi aku gak punya pilihan lain Jun". Ucap Nareta ketakutan.


"Gak punya pilihan lain? lalu kamu anggap aku apa? Hah".


"Handphoneku mati Jun, lalu Mas Ayden menawariku tumpangan, kupikir itu lebih aman ketimbang aku naik taxi, ataupun taxi online".


"Aku gak terima alasan apapun itu". Ucap Junot masih terlihat kesal tetapi emosinya sudah agak mereda dari sebelumnya.


"Iyah aku janji gak akan mengulanginya lagi!". Ucapku tulus dan sungguh-sungguh.


"Bagus, dan satu hal lagi, mulai sekarang kamu harus panggil aku suami!".


Next?

__ADS_1


__ADS_2