Aksa

Aksa
tujuh


__ADS_3

Menjadi orang baik tidaklah mudah, apalagi menjadi orang jahat lebih-lebih tidak mudah. Siang yang tidak dapat bersatu dengan malam. Begitu juga matahari yang tak dapat bersatu padu dengan bulan. Iyah ... begitulah kita.


~windowsyua


Adzan subuh berkumandang aku segera bangkit dari tidur yang sebenarnya tidak sama sekali tertidur, bagai mana bisa aku tidur di tengah gelisah yang melanda dan tak kunjung mereda.


aku segera mengambil air wudhu untuk menunaikan solat subuh, aku akui... aku belum menjadi manusia muslimah sejati, menaati semua perintah dan menjauhi larangan nya, aku hanya berusaha menunaikan lima rukun islam, baru sebatas itu tidak lebih, yang terkadang itu saja masih terasa sulit untuk ku jalani.


meskipun kata orang-orang aku adalah wanita terbaik, hanya saja masih belum mengenakan jilbab. aku sering menyangkal akan hal itu, yah mana mungkin orang TERBAIK tidak taat kepada tuhan nya?


Dalam sujud terakhir tiba-tiba saja, aku kembali teringat akan Mas Ayden... hatiku terasa tercubit "Assalamualaukum warohmatulah". Selesai menunaikan solat tak lupa aku berserah diri mengadu akan kesedihan ku yang terasa bertubi-tubi.


Apa mungkin ini adalah ujian ? ujian karena selama ini aku selalu di beri nikmat tapi tak pernah bersyukur malah sering kufur.


aku ingat-ingat apa yang telah aku lakukan, mungkin memang benar ini adalah teguran, asal kalian tahu mungkin dosa yang telah aku perbuat sangatlah banyak hanya saja Allah SWT selalu menutupi semua Aib ku dari kalian.


Aku mohon ampunan atas dosa yang telah ku perbuat baik itu di sengaja atau pun tidak, karena kita tidak pernah tahu, entah hati siapa yang pernah terluka oleh perbuatan kita, hingga berbalik hari ini kita yang di beri rasa luka.


***


selesai menyiapkan apa yang harus aku bawa ke kantor aku segera memesan ojol, sepuluh menit kemudian ojol yang aku pesan datang.


di sepanjang perjalanan pikiranku melayang-layang, hatiku kembali resah gelisah terbayang-bayang akan kejadian semalam, apa yang harus aku lakukan jika nanti aku bertemu dengan mereka berdua, apa aku harus berpura-pura baik-baik saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


20 menit kemudian aku sampai di depan kantor, aku segera melepaskan helm dan masuk kedalam, belum satu jam aku berpikir akan mereka berdua, pagi ini aku harus kembali menelan pil pahit kenyataan.


keduanya sedang asik berbincang-bincang di meja bar kantor, posisi Mas Ayden membelakangi ku, tapi Tania melihat kedatangan ku dan segera beranjak dari tempat duduk nya.


menyadari alasan Tania pergi karena kehadiran ku, Mas Ayden bangkit dari duduk nya dan sekilas melihat ke arah ku.


"Ada yang harus kita bicarakan, ikut aku !"


Suara nya dingin, seolah sedang marah dan aku lah penyebab dari kemarahan nya. Aku tak bertanya mengenai apa dan kemana, aku segera mengikuti langkah kaki nya. Sampailah kita di atas atap kantor tempat terbuka namun hanya ada aku dan dia.

__ADS_1


***


"Aku dan Tania tidak ada hubungan spesial apa pun, hanya sebatas rekan kerja. Sebaliknya aku tidak terima alasan apa pun saat kamu hadir di acara semalam".


sudah tiga tahun aku kerja di perusahaan ini, dan menjabat sebagai sekretaris nya, tapi baru kali ini aku mendengar kata-kata yang keluar dari mulut nya begitu kasar dan tak berwibawa.


"Hm, apa kamu ingat saat aku ambil cuti dan pulang ke Bandung?"


"Iyah" jawab nya ketus.


"Aku sudah bilang bahwa aku di jodohkan, dan malam itu Bapak memberi aku kesempatan, kalau saja besok nya kamu datang, mungkin kejadian tadi malam tidak akan pernah terjadi".


"jadi kamu menyalahkan aku? Oke, aku memang salah karena tidak datang saat Bapak kamu minta, tapi... kamu gak bisa tinggalin aku gitu aja".


nada bicara nya terdengar marah tapi ia masih berusaha menahan nya, kemudian di akhir kalimat, suaranya berubah menjadi sendu.


"Heh... lalu kamu mau apa?"


Mas Ayden terdiam, ada rasa hancur, marah dan kecewa, tapi aku tak tahu apa itu sungguh-sungguh atau hanya pura-pura, karena... ternyata masih banyak hal yang tidak aku tahu tentangnya.


"Iyah, aku pasti akan memperjuangkan kamu kok, tapi..."


ucapan ku terhenti, kembali kejadian semalam menghantui, dan tatapan Mas Ayden yang sebelumnya tampak sendu seketika berubah, ia kembali sumringah.


"...andai saja kejadian semalam tidak terjadi"


"Hah? aku dan..."


"Sudahlah Mas, tidak usah berdalih, aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri, bahwa kamu menikmati"


"Eng, enggak... aku"


"Semalam semuanya sangat terlihat jelas Mas, kamu menikmati setiap gerak-gerik, tindak-tanduk, tutur kata, bahkan sentuhan dari Tania".

__ADS_1


"Kamu salah..."


di saat suara dan sikap Mas Ayden yang mulai melemah, lelah serta pasrah, justru aku baru tersulut emosi, aku tidak dapat bersabar lagi, dan mungkin ini kali pertama aku menunjukan nya.


"KAMU PUNYA AKU..."


menyadari perubahan suara ku lebih keras dari biasanya, sejenak aku terdiam, dan saat ingin berbicara tone suara ku kembali ke nada semula.


"Tapi kenapa kamu malah ajak Tania ke pesta semalam? itu semua sudah membuktikan, bahwa kamu tidak menginginkan aku, bukan? "


Dia terdiam, wajahnya tertunduk lesu, mungkin karena semua tutur kata prasangkaku padanya memang benar, dia tidak berusaha menyangkal.


"Dan juga, semalam saat aku pergi... kamu tidak mencoba mengejar ku"


Jujur saja semalam saat pulang dari pesta itu aku berharap kamu mengejar ku, tapi karena marah aku malah menggerutu dalam hati, dan melafalkan kalimat "aku membenci mu, sangat membenci mu" tapi... bukan nya membaik, justru hati ku malah semakin dongkol, dan semalaman aku tidak dapat memejamkan mata karena memikirkan pria yang saat ini ada di depan ku.


"Aku memang salah, maaf !" ia kembali menunduk di depan ku.


Bukan, bukan... jawaban ini yang mau aku dengar dari mu, tapi... cobalah yakinkan aku.


"Kita akhiri saja" kalimat itu dengan mulus keluar dari mulut ku.


"APA? jadi... ini yang kamu mau?"


Dia terkejut atas penuturan dari ku, sebenar nya aku lebih terkejut... bagaimana bisa aku seberani itu.


"Baiklah, semoga kamu bahagia dengan dia..."


Dia terluka sudut matanya yang memerah tak bisa membohongi ku yang sudah tiga tahun bersama nya dalam suka mau pun duka, begitupun aku... setelah kepergian nya aku menangis sejadi-jadi nya.


"Bodoh ! kenapa aku membiarkan dia pergi begitu saja..."


tiga tahun bukanlah waktu yang mudah untuk melupakan ini semua, terlebih aku ingin di selamatkan oleh nya dari pernikahan yang tidak pernah secuilpun aku impikan.

__ADS_1


Next?


__ADS_2