
Waktu yang paling berharga adalah saat ini !
Aku tahu betul lambat laun semua kebohongan Junot akan terbongkar, aku hanya tinggal menunggu hari itu tiba dan saat hari itu tiba aku harus ikhlas melepaskan apa yang memang sedari awal tidak seharusnya aku dapatkan.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 20:30 dan sampai saat ini Junot masih belum juga pulang, pikirku mungkinkah malam ini Junot tidak akan pulang lagi.
Tepat saat aku mematikan lampu kamar, tiba-tiba ada sebuah tangan kekar menarik pergelangan tanganku, deru nafasnya memburu dia mendorong tubuhku hingga aku terjatuh di atas kasur.
Kedatangannya begitu tiba-tiba dan sangat tidak terduga, tapi aku sangat yakin itu pasti Junot, detik berikutnya dia mencoba membuka kancing bajuku satu persatu hingga akhirnya terlepas semua.
"Apa yang ingin kamu lakukan?". Tanyaku sedikit terkejut.
"Aku tahu apa yang ada di pikiranmu, tapi jangan harap aku akan menyetujuinya, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikanmu". Ucapnya dengan tegas.
Aku tidak habis pikir, kenapa dia berpikir seperti itu, sedikitpun tidak pernah terpikirkan olehku untuk meminta pisah dari nya, justru menurutku Junotlah yang akan menceraikanku.
"Kenapa kamu diam? apa yang aku bicarakan barusan benar bukan?". Ucapnya lagi sembari sejenak berhenti bergerak dari kegiatannya.
"A aku ...tidak akan meminta apapun, kecuali setiap tahun di saat Aksa bertambah usia kamu harus janji akan selalu ada merayakannya".
"Apa?".
"Iyah, selebihnya aku akan menerima apapun itu keinginanmu". Jawabku dengan serius.
"Termasuk jika aku meminta untuk menikah lagi?". Tanyanya hati-hati.
"Jika itu sudah menjadi keputusanmu dan kamu berjanji bisa berprilaku adil, aku akan menerimanya".
"Sungguh?".
"Iyah Mas". Ucapku sembari meneteskan air mata, sayangnya Junot tidak melihat itu semua karena kita sedang dalam kegelapan.
Aku sendiri sangat sadar akan apa yang telah aku ucapkan, tapi ... aku tidak tahu keputusan yang baru saja aku ambil itu benar atau salah.
Hanya saja untuk saat ini aku tidak sanggup harus hidup sebagai single mother terlebih Aksa baru saja bertambah usia.
Haruskah aku korbankan kebahagiaan Aksa yang masih balita karena keegoisanku yang tidak ingin berbagi cinta, kurasa tidak.
***
Malam tadi aku kembali tidur berdua dengan Junot dengan kewajiban dan ketaatan yang harus aku lakukan.
Pagi ini Junot berniat memberitahu Kak Juwita dan juga Bunda atas keinginannya untuk menikah lagi, walaupun sebenarnya dia dengan wanita bernama Aqila itu telah melangsungkan pernikahan sirih lima bulan yang lalu.
__ADS_1
Mas Junot juga berjanji akan menceritakan semua hal yang selama ini telah ia tutup-tutupi demi keberlangsungan kedepannya agar lebih baik tidak ada lagi kebohongan, semalam sebagian kisah sudah ia ceritakan padaku, walaupun sebebarnya kalau boleh jujur aku sama sekali tidak ingin mendengarnya.
Seperti biasa aku menyiapkan segala macam keperluannya, di mulai dari pakaian sampai makanannya sudah aku siapkan.
"Selamat Pagi sayang". Ucapnya dengan sumringah.
"Pagi Mas". Jawabku singkat dan tak lupa memberi senyuman di akhir kalimat.
"Aksa sudah bangun?". Tanyanya lagi.
"Sudah, tapi setelah makan tidur lagi".
"Oh, yaudah jangan lupa yah nanti aku jemput pukul 12:30 kamu harus udah siap kita kerumah Bunda". Ucapnya lagi kemudian mencium keningku.
"Mas kamu gak sarapan dulu?". Tanyaku agak sedikit bingung.
"Oh, aku sarapan di kantor aja yah".
"Hm, yaudah".
Heh, rasanya sakit tapi tidak berdarah, sejenak timbul rasa ragu menjalar di sekujur tubuhku apa ini jalan berbaik yang harus aku ambil, tidak bisakah aku hidup damai sendiri meskipun tanpa Junot akan kah aku bahagia dengan cinta nya yang harus di bagi.
Sebab belum apa-apa sikapnya seketika berubah, dia tidak menghargai aku ada, dia tidak memakan sedikitpun makanan yang telah aku buat sejak dini hari tadi. Bisakah Junot bersikap adil?
Namun belum apa-apa, tiba-tiba sebuah panggilan dari nomor bertuliskan Bapak berdering...
Ya Allah begitu kuat ikatan batin antara orang tua dengan anak, kenapa tiba-tiba Bapak meneleponku?
"Halo, Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam warohmatullah".
"Bapak, Ibu sehat?". Tanyaku dengan nada bahagia penuh ke palsuan.
"Alhamdulillah kami sehat, kamu sendiri Nak? Cucu Bapak sehatkan?".
"Syukur Alhamdulillah kalau Bapak, Ibu sehat, Nana juga sehat kok, Aksa apalagi kemarin baru ulang tahun kedua Kek, Kakek kapan mau nengokin Aksa?".
"Insyaallah secepatnya". Deg... jika hari-hari yang lalu aku sungguh-sungguh ingin sekali di tengok Ibu dan Bapak, tapi kali ini sebanarnya aku hanya basa-basi.
Mana mungkin aku ingin di tengok Ibu dan Bapak di situasi rumah tanggaku yang sedang ada masalah, akan lebih sulit untukku menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi jika orang tua ku berkunjung kesini.
"Heh, gak usah Pak, Nana tahu betul kesibukan Bapak sama Ibu, Biar Nana dan Aksa aja yah yang datang ke Bandung".
__ADS_1
"Oh ide bagus itu, sekali-kali Anakmu harus di beri udara segar pedesaan". Jawab Bapak antusias.
"Hm, iya Pak".
"Oh iyah Suamimu mana? sudah lama sejak enam bulan terakhir Bapak tidak pernah berbicara dengan Junot".
Iyah enam bulan terakhir Mas Junot beberapa kali berbagi kegiatan Aksa dan menghabiskan waktu dengan bercerita banyak hal bersama Bapak, meskipun pada saat itu hubunganku dengannya sama-sama tidak baik tapi aku sedikit lega karena dia masih peduli akan keluargaku meskipun pada diriku tidak.
"Oiya Pak, akhir-akhir ini Mas Junot lagi sibuk ada projek dengan orang Swiss". Jawabku apa adanya, setahuku dari Alex.
*Oh gitu yah, jadi kapan dong kamu ke Bandung nya Na?".
"Heh? Insyaallah secepatnya Pak".
"Yaudah kalau gitu Bapak tunggu yah".
"Pak punten itu Aya juragan ti Garut bade naroskeun tahu Sumedang na". Samar-samar terdengar suara dari pegawai Bapak.
"Oh muhun, kedap antosan! Na Atos hela atuh nya ke di sambung dai".
"Muhun Pak mangga".
"Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam". Jawabku berbarengan dengan hembusan nafas lega dan tak lama kemudian suara Aksa menangis terdengar begitu nyaring.
Begitulah kehidupan Ibu Rumah Tangga.
12:20
"Assalamualaikum, sayang kamu udah siap?" Seketika pandangan Junot berhenti di kedua mata Nareta tanpa berkedip
"Waalaikumsalam, udah kok Mas"
"Hm, apa pakaian kamu gak terlalu terbuka?".
"Kamu gak suka? yaudah aku ganti lagi baju deh".
"Heh, gak usah deh lagian kita mau kerumah Bunda gak akan ada cowok lain, selain aku". Jawabnya.
Bersambung...
__ADS_1